Little Forest; Pertanian Campuran dan Ketahanan Pangan Keluarga

Kemarin, saya menonton sebuah film Korea yang berjudul “Little Forest”, yang rilis pada Februari 2018. Film ini dibintangi oleh Kim Tae Ri yang bertindak sebagai Hye Won. Film Little Forest yang berlatarkan sebuah pedesaan di Korea Selatan ini akan membawa kita memahami banyak hal, mulai dari ekplorasi makanan, alam, kesederhanaan, dan penemuan diri. Tontonan ini membantu kita menemukan kedamaian pikiran dan semangat untuk melanjutkan hidup. Semua tentang waktu dan kerelaan adalah cara terbaik dalam menemukan yang kita inginkan. Hal utama yang membuat saya tertarik untuk menyaksikan sinema ini adalah segala aktivitas dalam mengolah alam untuk menghasilkan bahan makanan hingga perosesnya menjadi makanan. Continue reading “Little Forest; Pertanian Campuran dan Ketahanan Pangan Keluarga”

Meramu Rasa Bersama Kopi dan Santan

Tanaman labu tumbuh subur di atas sisa pembakaran ranting dan brangkasan pohon. Buahnya beragam warna, bentuk, dan ukuran. Warna daging buahnya yang kuning menyala tercium ranum setelah dikukus oleh Ibu. Santan dari kelapa yang tidak terlalu tua dengan sedikit rasa asin khas garam dapur dituang di atas potongan labu itu. Rasanya yang manis, asin dan gurih dengan tekstur yang legit masih terngiang di kepala saya, bersantai bersama Bapak usai bekerja di kebun. Labu pun menjadi sayuran kesukaan saya. Apatah lagi jika dimasak bersama santan, dengan serai sebagai penguat aroma. Nasi bersama dendeng tuna, tak pernah cukup satu piring untuk saya.  Sayang waktu tak pernah bersedia untuk memutar ulang sebuah kisah. Continue reading “Meramu Rasa Bersama Kopi dan Santan”

Pertanian 4.0; Mau Dibawa Kemana Kita?

Pengembangan local resouces sebagai bagian dari sustainability membutuhkan input teknologi.

Sejak maraknya pembicaraan industri 4.0, semua lini mulai mengadopsi berbagai paket teknologi yang relevan. Dunia pertanian tidak mau ketinggalan untuk mencoba membangun semangat melalui otomatisasi yang terintegrasi, untuk meningkatkan standar mutu. Alasannya jelas karena pertambahan jumlah penduduk akan berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan sehingga perlu ada adopsi teknologi yang sesuai.

Alih fungsi lahan bukan lagi masalah yang hangat untuk diperbincangkan di meja kopi. Toh tidak mungkin mengembalikan permukiman menjadi lahan pertanian yang konon adalah lahan potensial pertanian. Teknologi semestinya hadir sebagai jawaban bukan sekadar wacana.

dsc00158-018694694295300290456.jpeg
Pemandangan persawahan di Ngawi, Jawa Timur.

Relevansi penerapan industri 4.0 dalam dunia pertanian meliputi tiga komponen. Pertama adalah  komponen on-farm yang dicirikan dengan penerapan pertanian secara persisi, mulai dari waktu, jenis benih dan bibit, air, pupuk hingga penanganan hama dan penyakit yang terkontrol, serta penanganan pascapanen. Komponen kedua adalah off-farm, yang tidak lagi berbicara pada agro industri yang cerdas, tapi harus dibarengi dengan transparansi aliran pasokan. Komponen yang ketiga adalah penerapan digital dalam pemasaran. Hal ini sangat mendukung terciptanya literasi pasar yang kondusif antara produsen dan konsumen. Pertanyaannya, sudah pada level mana pertanian kita?

dsc033478025721516857159075.jpg
Sayuran yang dikembangkan dengan input yang persisi.

Penerapan teknologi mutakhir dalam pertanian kita sangat mungkin dijalankan jika rangkaian masalah dari hulu ke hilir sudah ada titik terangnya. Angka statistik tentang penduduk umur 15 tahun keatas yang bekerja di sektor pertanian berdasarkan tingkat pendidikan menurut Badan Pusat Statistik (Statistik ketenagakerjaan sektor pertanian, Agustus 2019), hanya 1,51% yang berpredikat pendidikan tinggi. Sisanya, 14,11% pendidikan menengah dan masih didominasi oleh yang berpendidikan dasar, sebanyak 84,34%. Dari angka ini, adopsi teknologi hanya menyisakan kernyitan dahi. Maka dari itu, perlu upaya dan strategi yang jitu untuk menuju penerapan pertanian 4.0.

Bagaimana pun, kita harus melihat masalah sebagai peluang karena skeptis hanya membunuh harapan yang pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa. Tapi, secara sadar, kita harus harus mampu keluar dari masalah-masalah pertanian yang selama ini menurut saya adalah “jebakan batman”. Saya sebut demikian karena nyaris ditemuai di setiap daerah dan selalu belum ada solusi yang pas sebagai jalan keluar.

Dari sekelumit masalah yang teridentifikasi di desa atau sentra pertanian, ada beberapa yang selalu muncul, baik dari sisi lahan mau pun dari sisi pekerjanya (petani). Dari sisi lahan pertanian, masalah yang medominasi tidak jauh dari teknis budidaya yang belum baik, penggunaan varietas atau klon yang serampangan, serangan organisme pengganggu tanaman, dan kesuburan tanah yang semakin berkurang.

Tidak adanya regenerasi yang baik merupakan masalah tersendiri bagi petani. Masalah lain yang mengikut adalah kurangnya tenaga produktif yang bekerja di lahan pertanian, akses informasi yang terbatas berdampak peda pengetahuan budidaya yang terbatas. Akses permodalan yang terbatas juga berujung pada terbatasnya modal kerja dan sarana produksi pendukung dalam usaha tani.

Pemerintah, melalui kebijakan yang dihasilkan untuk mampu berpihak kepada petani untuk mendukung terciptanya iklim usaha tani yang baik. Intensifikasi dan diversifikasi adalah dua langkah kongkrit yang harus ditempuh dalam meningkatkan produktivitas. Peningkatan produktivitas juga harus ditunjang dengan rantai dagang yang sehat.

Tantangan yang dihadapi selanjutnya adalah bagaimana mengembangkan mekanisme yang efektif untuk menyalurkan pengetahuan dan teknologi yang sesuai pada level small holder sebagai produsen. Peran institusi Pendidikan sangat diperlukan dalam mengembangkan metodologi tersebut. Non Goverment Organization (NGO) pun harus tetap melakukan modifikasi praktik cerdas yang relevan untuk diaplikasikan, bagaimana mengembangkan local resources sebagai bagian dari sustainability dan secara perlahan menggandeng teknologi terbaru di dalamnya.

Pertanyaan selanjutnya, jika pada tataran hulu (on-farm) sudah mampu memenuhi nilai optimum, bagaimana dengan hilirnya (off-farm)? Seperti yang saya sampaikan di atas sebelumnya, di sini lah kebijakan harus berpihak pada yang terabaikan. Paling tidak, ada transparansi yang tersaji dalam rantai pasok dari hulu ke hilir dan sebaliknya. Transparansi inilah yang mendorong kepatutan untuk menciptakan kemakmuran. Oleh karena itu, kejujuran tetap menjadi skala prioritas. Jujur dalam artian selarasnya pikiran, ucapan dan tindakan. Bukankah itu adalah tujuan akhir  dari penerapan teknologi 4.0?