Bakti Tani; Hobi dalam Balutan Pengabdian

Mega hitam berarak hingga bergelayutan di langit selatan Kota Makassar pada jumat pagi (26 Maret 2021). Meskipun Deddy Dorres dalam lagunya mengatakan bahwa, mendung tak berarti hujan, beberapa informasi yang saya kumpulkan membawa saya pada kesimpulan, kalau akan terjadi hujan pada daerah yang saya tuju selepas paruh hari. Itu pula yang membuat saya berinisiatif untuk berangkat lebih awal dari rencana saya sebelumnya, hingga lupa mengabari seorang kawan yang mulanya ingin berangkat bersama. Jika pada jumat sebelumnya, saat menyusuri arah selatan Makassar dengan cuaca yang terik, kali ini lebih teduh sepanjang jalan. Saya malah berpikir untuk mampir di suatu tempat dengan saujana hijau membentang untuk menikmati bekal saya.

Setelah mencapai patung kuda Kota Jeneponto, kendaraan saya belokkan ke arah kiri menuju Kecamatan Rumbia. Tujuan akhir saya adalah Desa Bontomanai. Mungkin saja saya sering melewati desa itu beberapa tahun lalu, saat banyak berkeliaran di Kelara hingga Malakaji. Tetapi dari seorang kawan yang akamsi (anak kampung sini), sebut saja Fathul, saya banyak menggali informasi termasuk kondisi cuaca harian belakangan ini. Dari informasi itu saya bisa mengatur apa yang mesti saya bawa dan apa yang tidak perlu. Perlengkapan tidur misalnya, saya tidak perlu membawa sleeping bag, cukup cotton liner agar tidak kegerahan.

Kelokan Sungai Kelara di Tolo Utara, Jeneponto.
Continue reading “Bakti Tani; Hobi dalam Balutan Pengabdian”

Menikmati Bantaeng Dari 0 sampai 1200 mdpl

Perjalanan akan selalu membuat kita bertemu dengan hal-hal yang meninggalkan jejak, entah itu dalam bentuk pelajaran atau pun kebahagiaan. Kita hanya perlu menerima diri kita sendiri untuk bisa menerima orang lain. Sadar atau tidak, sebagian dari hidup kita bergantung pada yang lain.

Jumat siang, (19 maret 2021), matahari begitu terik membuat diri enggan untuk kemana-mana jika tidak ada urusan yang begitu penting. Bersama seorang kawan, kami menyusuri Jalan Tamalate untuk mencari lauk untuk santap siang. Iccang yang memang janjian untuk ketemu di Bajiki tiba beberapa detik sebelum kami pulang mencari lauk. Dalam ruang dengan sebuah sofa merah dan beberapa bangku kayu, di bawah terpaan angin kipas, kami menuntaskan hidangan bersama dengan tiga kawan lainnya.  Keringat yang terkucur seperti penanda bahwa kami memang lahap menyantap makanan.

Sekira dua puluh menit kemudian, saya mengambil ransel yang sebelumnya sudah diisi dengan pakaian ganti, kain blanket etnik, jaket, dan kelengkapan mandi. Hari ini, kami akan melakukan perjalanan ke arah selatan Kota Makassar, yaitu Bantaeng. Sejak diisukan seminggu sebelumnya, hanya empat orang, termasuk saya yang kemudian bisa ikut. Saya dan Iccang berangkat bersama dari Bajiki. Tri menunggu kami di Gowa, sementara Tyson akan meluncur dari Malakaji saat memberi kode supaya bisa tiba dalam waktu yang bersamaan di tujuan.

Continue reading “Menikmati Bantaeng Dari 0 sampai 1200 mdpl”

Lembah Loe; Mencipta Bahagia dalam Sunyi Semesta

Tuhan selalu bersama orang-orang yang menciptakan kebahagiannya. Bahagia dalam sunyi semesta.

Perisapan yang dramatis

Rumbia hari itu bercuaca galau. Mendung menyelimuti namun suhu udara terasa lebih gerah. Saat bercengkerama dengan beberapa kawan di beranda depan sebuah rumah panggung, usai santap siang bersama, notifikasi gawai saya berdenting. Pesan Whatsapp dari sepupu saya mengingatkan kalau dirinya sudah menyelesaikan praktik laboratoriumnya. Itu artinya, dia menagih janji untuk melakukan petualangan bersama.

Dalam sela perbincangan dengan kawan-kawan saya, jemari juga ikut berkomunikasi pada layar gawai. Jika pada komunikasi sebelumnya telah menemukan titik sepakat untuk ke Lembah Loe, maka kali ini, negosisasi waktu dilakukan. Bagaimanapun, persiapan dan pembacaan kondisi tujuan perlu dilakukan, termasuk persiapan fisik. Kami pun menjatuhkan kesepakatan di tanggal 6-8 April 2021.

Continue reading “Lembah Loe; Mencipta Bahagia dalam Sunyi Semesta”