Aku dan Kopi Hari Ini

Kopi Pertama hari ini, tambah susu biar sedikit konservatif.

Pagi ini hari cerah dan lebih kondusif.

Berharap aktivitas pun kian produktif.

Dengan begitu, memungkinkan untuk menemukan hal-hal yang inspiratif.

 

Kopi gelas kedua, sedikit lebih ringan.

Cukup imbang  dengan pikiran yang sejuta angan.

Jangan larut dalam khayalan.

Mungkin di akhir tahun penuh petualangan.

 

Kopi gelas ketiga, cukup melepas dahaga.

Biarkan semangat tetap terjaga.

Bayangkan saja di ujung senja ada jingga.

Gelas keempat di tepi dermaga.

 

Kopi gelas keempat, makan pun nyaris tak sempat.

Sementara waktu terasa berjalan begitu lambat.

Keseriusan masih terlihat di pada wajah-wajah sejawat.

Beruntung jauh dari kaum pengumpat hingga suasana tetap bersahabat.

Oh, kopi gelas kelima, semoga masih sempat.

 

Kendari, 23 Desember 2017

Advertisements

Sulitnya Membangun Hutan

Suatu sore,  kala jam kantor telah usai, dengan beranjak melewati pintu yang berjarak tiga meter dari sisi kiri meja kerja saya. Melewati pintu, bersama segelas es kopi (siangnya saya membuat dua porsi, satu porsinya sengaja saya masukkan ke lemari pendingin biar dapat sensasi dingin di sore yang gerah), saya pun duduk menyeruput dua hingga tiga kali lalu meletakkan gelas di relief pondasi pagar. saya kemudian mengamati setiap jenis tanaman yang saya tanam di beranda belakang kantor. Ada jati, kayu kuku, sengon, akasia mangium, kale, turnip, mint, murbey, lemon, cabe, pakcoy, adas, strawbery, kaliandra, hingga ruruhi (sejenis jambu yang banyak di hutan Sulawesi Tenggara). Kegiatan ini menjadi rutinitas jika tidak sedang tugas lapangan. Continue reading “Sulitnya Membangun Hutan”

Aerial Seeding; Rehabilitasi Hutan dengan Murah

Teman-teman saya di Komunitas Makassar Berkebun sering mencampur benih bayam dengan tanah atau pasir lalu menaburnya. Dulu, saya juga sering melihat nenek menggesekkan bunga kering dari bayam dengan kedua telapak tangannya di atas tanah yang telah digemburkan. Selang waktu lima hari setelahnya, akan muncul anakan-anakan bayam  yang nantinya dipelihara untuk menjadi sayuran. Ketika kita berjalan-jalan ke pedesaan yang perekonomiannya bertumpu pada kegiatan bercocok tanam, sering kita temui petani menanam jagung dan kacang dengan cara tugal. Dapat juga ditemui  di area persawahan, seperti petani yang menabur benih langsung di semua lahannya sehingga tidak perlu lagi ada pemindahan bibit nantinya.  Tindakan tersebut dinamakan tabela (tanam benih langsung), dalam istilah rehabilitasi hutan disebut direct seeding (penaburan langsung).

Direct seeding disebut sebagai teknik penaburan benih langsung di lapangan tanpa melalui tahapan persemaian. Tindakan ini umum dilakukan karena pertimbangan tenaga yang kurang, biaya pembibitan mahal dan tentunya akses menuju lokasi penanaman yang sangat sulit untuk pengangkutan bibit. Keadaan ini pun bukan tanpa kekurangan karena sebelum melakukannya, juga diperlukan perhitungan yang matang terkait kontrol yang lebih intensif pada skala yang lebih luas, mengingat fase kritis pertama yang pertumbuhan tanaman berada pada fase kecambah. Continue reading “Aerial Seeding; Rehabilitasi Hutan dengan Murah”