Catatan Perjalanan; Lompobattang Bukan Untuk Lompobattang

Tetap tenang dalam segala kondisi, waspada dan mawas diri tanpa kehilangan nurani.

Sejak mengenal dunia pendakian, saya memang belum pernah menjejakkan kaki di punggung Lompobattang. Perjalanan yang cukup jauh dan jalanan yang terbilang sulit dilalui kendaraan membuat saya berpikir bahwa sekali ke Lompobattang harus mengambil rute lintas ke Bawakaraeng. Mampir di Sungai Cerekang minum sarabba (bandrek) dan makan gorengan, pasti lebih nikmat. Eh, ini ceritanya kemana ya?

Continue reading “Catatan Perjalanan; Lompobattang Bukan Untuk Lompobattang”

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

Are you new to blogging, and do you want step-by-step guidance on how to publish and grow your blog? Learn more about our new Blogging for Beginners course and get 50% off through December 10th.

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Membangun Spirit Ekologi dalam Mengadopsi Hutan

Berjalan menikmati alam terbuka selalu saya luangkan di waktu-waktu senggang, bersama teman-teman. Entah itu sekadar menanti detik-detik kemunculan matahari pagi, sambil membuat kopi dan sarapan lalu menikmatinya. Kami juga biasa meluangkan waktu khusus untuk kamping. Alam terbuka  membuat saya merasa bisa menemukan segala sesuatu yang tidak dibuat-buat. Sekali pun kita sering mendatangi suatu tempat, tak pernah ada suasana yang betul-betul sama, selalu ada kejutan. Continue reading “Membangun Spirit Ekologi dalam Mengadopsi Hutan”

Menikmati Magisnya Kawah Nirwana Di Empat Waktu.

Kami telah tiga kali merencanakan untuk berkunjung Way Kambas, sejak menginjakkan kaki di Bandar Lampung. Kunjungan itu tentunya sekali mendayung baru semeter melaju, eh dua, tiga pulau terlampaui. Tapi, semuanya belum sempat terselenggara hingga akhirnya pembatasan mobilisasi akibat pandemi pun diberlakukan. Mobilitas kami terbatas antara Pahoman dengan Way Laga. Selama fase pembatasan itu, hanya sekali kami melakukan perjalanan ke luar kota untuk menguatkan opini, bahwa musim panen kakao memang mengalami kemunduran dari tahun sebelumnya. Continue reading “Menikmati Magisnya Kawah Nirwana Di Empat Waktu.”