Hanya Padamu Rindu Berpulang

Ada rindu;
Tahu kan bagaimana girangnya seorang pemain bola ketika berhasil mencetak gol ke gawang lawan pada menit-menit krusial dan sebagai penentu kemenangan timnya? Seperti itulah saat notifikasi gawaiku berdenting dan itu kamu.

Rindu;
Menjadi perkara yang sulit kau pahami jika tak pernah menjadi awan. Awan selalu berjarak tapi melindungimu dari sengat matahari langsung. Awan sesekali menghitam tapi selalu tercurah dalam jernih air hujan. Karenanya, bumi menjadi lembut, mengirimkan uap air.

Rindu (lagi);
Perkara rindu memang pelik karena nilainya tak terhingga, seperti jumlah angka di belakang koma antara nol dengan satu. Sepintas dekat, namun serasa jauh. Bersantai dengan kopi, buku, dan senja adalah cara menikmatinya.

Rindu (dan lagi);
Layaknya menanam pohon, rindu pun demikian. Sekali ia tumbuh dan menancapkan akar ke sanubarimu, tak peduli kerasnya karang di sana, maka badai hanya keniscayaan yang terlewatkan. Rawat saja, kelak akan berbunga dan menjadi penyejuk jiwamu. Dengan begitu, kau dianggap tak mati rasa.

Rindu (masih);
Kau takkan pernah tahu kala jumpa kita yang terakhir. Kau entah sibuk dengan apa dan aku seolah khusyuk membaca. Hingga akhirnya aku beranjak dan tak memalingkan wajah. Aku mengeluarkan peruncing pensil dari saku tas. Ku arahkan cerminnya pada posisi dudukmu. Matamamu mengikuti langhkah jauhku. Aku hanya tersenyum dan berlalu. Kelak kita bertemu, mungkin besok, lusa, entah.

Rindu (selalu ada);
Senja telah berlalu.
Gulita membenam fusia.
Kita masih menerka, siapa yang lebih dan paling rindu.
Kepada siapa rindu berlabuh, pada yang cepat atau yang tepat.

Advertisements

Hidup Sehat dengan Berkebun

Suatu ketika tatkala saya sedang memainkan gawai, melihat apa saja yang melintas di lini masa Facebook saya. Jari saya berhenti pada sebuah video, saya pun menontonnya. Sebuah animasi yang memarodikan kehidupan yang serba obesitas. Hanya ada satu dari sekian makhluk yang ada bisa bergerak terbang bebas. Seorang anak yang tak sengaja melihat burung tersebut, selalu mengamati aktivitasnya. Anak itu pun punya keinginan untuk terbang layaknya burung kecil tadi. Dia pun merancang sayap yang sepersisi sayap si burung. Hasilnya nihil. Hingga suatu ketika dia terus mengamati apa yang dimakan oleh si burung. Sehari-hari, si burung hanya memakan buah berry. Anak itu pun mengikuti tingkah si burung. Akhirnya, si anak pun bisa terbang dengan sayap buatannya setelah berat badannya menjadi normal. Orang-orang pun mengikutinya.

Continue reading “Hidup Sehat dengan Berkebun”

Lembah Loe; Sebuah Perjalanan Antara Pelarian dan Pencarian.

Pada suatu malam, saya mendapatkan pesan lewat gawai saya yang berisi ajakan untuk ke suatu tempat. Kawan saya, yang sedang menjalani masa off-nya, meyebut Lembah Loe, menjadi tujuan. Saya sendiri butuh penyegaran, sekadar melihat rerumputan segar dengan bening embun di ujung daun kala pagi. Hampir sebulan ini, saya mengarungi lautan dengan biru laut dan langit, pada kegiatan Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa. Karena itu, saya pun menyatakan rindu pada gunung dan rimbun pepohonan. Tanpa tawar, saya iyakan ajakan tersebut.

Continue reading “Lembah Loe; Sebuah Perjalanan Antara Pelarian dan Pencarian.”