Rasakan Enam Manfaat Dari Kebun Di Rumah Anda

Praktik pertanian perkotaan kian marak digalakkan dalam beberapa bulan terakhir. Secara tidak langsung, saya bisa melihatnya dari postingan saya sebelumnya, tentang hal-hal yang harus diperhatikan sebelum berkebun. Topik tersebut memiliki kunjungan yang selalu di atas, dibanding topik lainnya. Asumsinya, faktor yang mendasari adalah perlunya aktivitas yang memebunuh kebosanan selama kondisi yang menuntut kita untuk tetap di rumah saja. Selain itu, adanya dorongan survival terhadap kemungkinan buruk yang terjadi akan memicu kita untuk menyiapkan makanan sendiri. Harapannya, dalam jangka panjang, semoga berkebun dapat dijadikan sebagai gaya hidup sehat. Continue reading “Rasakan Enam Manfaat Dari Kebun Di Rumah Anda”

Hidup Sehat dengan Berkebun

Suatu ketika tatkala saya sedang memainkan gawai, melihat apa saja yang melintas di lini masa Facebook saya. Jari saya berhenti pada sebuah video, saya pun menontonnya. Sebuah animasi yang memarodikan kehidupan yang serba obesitas. Hanya ada satu dari sekian makhluk yang ada bisa bergerak terbang bebas. Seorang anak yang tak sengaja melihat burung tersebut, selalu mengamati aktivitasnya. Anak itu pun punya keinginan untuk terbang layaknya burung kecil tadi. Dia pun merancang sayap yang sepersisi sayap si burung. Hasilnya nihil. Hingga suatu ketika dia terus mengamati apa yang dimakan oleh si burung. Sehari-hari, si burung hanya memakan buah berry. Anak itu pun mengikuti tingkah si burung. Akhirnya, si anak pun bisa terbang dengan sayap buatannya setelah berat badannya menjadi normal. Orang-orang pun mengikutinya.

Continue reading “Hidup Sehat dengan Berkebun”

Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas

*Bagian Kedua*

Paruh hari pun tiba. Dari susunan acara, waktunya untuk ishoma (istirahat, sholat [dalam KBBI dibakukan menjadi salat], dan mandi eh makan). Kak Vby mengambil alih acara. Peserta dan beberapa fasilitator disilakan untuk berdiri dan mengatur jarak serentangan tangan dalam tiga saf. Kemudian peserta diperintahkan untuk memejamkan mata. Fasilitator yang bertugas lalu menutup mata peserta dengan kain secara acak dan hanya menyisakan beberapa saja. Tiap empat peserta, satu diantaranya tidak dibalut dengan kain. Selanjutnya, seluruhnya disilakan untuk membuka mata tanpa harus melepaskan kain pemutup mata bagi yang dibalut. Kak Vby selanjutnya memberi arahan bahwa telah disiapkan makanan di ruang atas, silakan menuju ke tempat tempat itu lalu menikmati santap siangnya. Continue reading “Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas”