Meramu Rasa Bersama Kopi dan Santan

Tanaman labu tumbuh subur di atas sisa pembakaran ranting dan brangkasan pohon. Buahnya beragam warna, bentuk, dan ukuran. Warna daging buahnya yang kuning menyala tercium ranum setelah dikukus oleh Ibu. Santan dari kelapa yang tidak terlalu tua dengan sedikit rasa asin khas garam dapur dituang di atas potongan labu itu. Rasanya yang manis, asin dan gurih dengan tekstur yang legit masih terngiang di kepala saya, bersantai bersama Bapak usai bekerja di kebun. Labu pun menjadi sayuran kesukaan saya. Apatah lagi jika dimasak bersama santan, dengan serai sebagai penguat aroma. Nasi bersama dendeng tuna, tak pernah cukup satu piring untuk saya. ¬†Sayang waktu tak pernah bersedia untuk memutar ulang sebuah kisah. Continue reading “Meramu Rasa Bersama Kopi dan Santan”

Sembilan Pertimbangan Sebelum Kamping Di Musim Penghujan

Manusia adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan alam semesta. Hanya saja, ada golongan manusia yang merasa menjadi bagian pengendali dari alam semesta. Selebihnya, ada pula manusia yang tetap menjadikan semesta sebagai poros inti. Mereka memesisikan diri sejajar dengan elemen lain yang membentuk tatanan kehidupan di bumi. Masing-masing elemen mempunyai peran dan kedudukan yang esensial dalam mengelola kehidupan. Saya berharap kita semua berada pada golongan kedua sebab dengan itu, Hasrat untuk saling menguasai akan tereleminasi. Dalam bahasa lain, kita mengenal istilah kemakmuran. Continue reading “Sembilan Pertimbangan Sebelum Kamping Di Musim Penghujan”

Hidup Sehat dengan Berkebun

Suatu ketika tatkala saya sedang memainkan gawai, melihat apa saja yang melintas di lini masa Facebook saya. Jari saya berhenti pada sebuah video, saya pun menontonnya. Sebuah animasi yang memarodikan kehidupan yang serba obesitas. Hanya ada satu dari sekian makhluk yang ada bisa bergerak terbang bebas. Seorang anak yang tak sengaja melihat burung tersebut, selalu mengamati aktivitasnya. Anak itu pun punya keinginan untuk terbang layaknya burung kecil tadi. Dia pun merancang sayap yang sepersisi sayap si burung. Hasilnya nihil. Hingga suatu ketika dia terus mengamati apa yang dimakan oleh si burung. Sehari-hari, si burung hanya memakan buah berry. Anak itu pun mengikuti tingkah si burung. Akhirnya, si anak pun bisa terbang dengan sayap buatannya setelah berat badannya menjadi normal. Orang-orang pun mengikutinya.

Continue reading “Hidup Sehat dengan Berkebun”