Aerial Seeding; Rehabilitasi Hutan dengan Murah

Teman-teman saya di Komunitas Makassar Berkebun sering mencampur benih bayam dengan tanah atau pasir lalu menaburnya. Dulu, saya juga sering melihat nenek menggesekkan bunga kering dari bayam dengan kedua telapak tangannya di atas tanah yang telah digemburkan. Selang waktu lima hari setelahnya, akan muncul anakan-anakan bayam  yang nantinya dipelihara untuk menjadi sayuran. Ketika kita berjalan-jalan ke pedesaan yang perekonomiannya bertumpu pada kegiatan bercocok tanam, sering kita temui petani menanam jagung dan kacang dengan cara tugal. Dapat juga ditemui  di area persawahan, seperti petani yang menabur benih langsung di semua lahannya sehingga tidak perlu lagi ada pemindahan bibit nantinya.  Tindakan tersebut dinamakan tabela (tanam benih langsung), dalam istilah rehabilitasi hutan disebut direct seeding (penaburan langsung).

Direct seeding disebut sebagai teknik penaburan benih langsung di lapangan tanpa melalui tahapan persemaian. Tindakan ini umum dilakukan karena pertimbangan tenaga yang kurang, biaya pembibitan mahal dan tentunya akses menuju lokasi penanaman yang sangat sulit untuk pengangkutan bibit. Keadaan ini pun bukan tanpa kekurangan karena sebelum melakukannya, juga diperlukan perhitungan yang matang terkait kontrol yang lebih intensif pada skala yang lebih luas, mengingat fase kritis pertama yang pertumbuhan tanaman berada pada fase kecambah. Continue reading “Aerial Seeding; Rehabilitasi Hutan dengan Murah”

Advertisements

Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas

*Bagian Kedua*

Paruh hari pun tiba. Dari susunan acara, waktunya untuk ishoma (istirahat, sholat [dalam KBBI dibakukan menjadi salat], dan mandi eh makan). Kak Vby mengambil alih acara. Peserta dan beberapa fasilitator disilakan untuk berdiri dan mengatur jarak serentangan tangan dalam tiga saf. Kemudian peserta diperintahkan untuk memejamkan mata. Fasilitator yang bertugas lalu menutup mata peserta dengan kain secara acak dan hanya menyisakan beberapa saja. Tiap empat peserta, satu diantaranya tidak dibalut dengan kain. Selanjutnya, seluruhnya disilakan untuk membuka mata tanpa harus melepaskan kain pemutup mata bagi yang dibalut. Kak Vby selanjutnya memberi arahan bahwa telah disiapkan makanan di ruang atas, silakan menuju ke tempat tempat itu lalu menikmati santap siangnya. Continue reading “Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas”

Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas

*Bagian Pertama*

Hawa dingin Malino menyambut kedatangan kami di waktu magrib. Jalan basah terlihat dari pantulan lampu kendaraan yang melintas, gerimis dan listrik padam turut serta. Kami pun memutuskan untuk terus ke kawasan pinus, dimana para pelancong maupun pendaki bisanya mampir, katanya untuk beraklimatisasi. Selain untuk menunaikan kewajiban sebagai muslim, di tempat inilah yang cenderung ramai, baik orang maupun jajanannya saat malam telah tiba. Continue reading “Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas”