Catatan Kuliah; Water Sensitive Cities

Mengutip sunting lirik lagu Lobow, “Lama sudah tak kuliah, bagaimana skripsiku. Kadang ingat kadang tidak, siapa pembimbingku”. Tulisan ini saya buat karena sudah lama tidak kuliah. Pas kuliah, eh tidak lama.

Di negara sakura, Jepang, yang memiliki empat musim ini, sangat banyak kebudayaan positif yang bisa diadopsi. Kebudayaan positif sangat berpengaruh dalam tatanan masyarakat, termasuk perkembangan kota. Secara spesifik pada ekosistem perkotaan.  Menurut Prof. Hadi Susilo Arifin yang membawakan materi “Water Sensitive City” dalam kuliah umum (18-10-2018), bahwa kita cenderung mengabaikan perkataan sebagai bagian dari doa. Orang-orang di Jepang selalu berpandangan positif terhadap perubahan musim yang terjadi dan itu menjadi kebiasaan, lalu membentuk sebuah kebudayaan.  Bagaimana mereka begitu antusias menanti pergantian musim. Dibanding di negara kita, masyarakat kita cenderung berprasangka buruk terhadap perubahan musim. Jelang musim penghujan misalnya, yang muncul di pikiran kita bahwa akan terjadi lagi banjir dimana-mana. Demikian juga saat musim kemarau, keluhan kekeringan dan debu pun menjadi hal yang lumrah. Beruntung kita hanya memiliki dua musim, jika empat musim seperti Jepang, maka penuh lah hari-hari kita dengan keluhan Continue reading “Catatan Kuliah; Water Sensitive Cities”

Advertisements

Sulitnya Membangun Hutan

Suatu sore,  kala jam kantor telah usai, dengan beranjak melewati pintu yang berjarak tiga meter dari sisi kiri meja kerja saya. Melewati pintu, bersama segelas es kopi (siangnya saya membuat dua porsi, satu porsinya sengaja saya masukkan ke lemari pendingin biar dapat sensasi dingin di sore yang gerah), saya pun duduk menyeruput dua hingga tiga kali lalu meletakkan gelas di relief pondasi pagar. saya kemudian mengamati setiap jenis tanaman yang saya tanam di beranda belakang kantor. Ada jati, kayu kuku, sengon, akasia mangium, kale, turnip, mint, murbey, lemon, cabe, pakcoy, adas, strawbery, kaliandra, hingga ruruhi (sejenis jambu yang banyak di hutan Sulawesi Tenggara). Kegiatan ini menjadi rutinitas jika tidak sedang tugas lapangan. Continue reading “Sulitnya Membangun Hutan”

Aerial Seeding; Rehabilitasi Hutan dengan Murah

Teman-teman saya di Komunitas Makassar Berkebun sering mencampur benih bayam dengan tanah atau pasir lalu menaburnya. Dulu, saya juga sering melihat nenek menggesekkan bunga kering dari bayam dengan kedua telapak tangannya di atas tanah yang telah digemburkan. Selang waktu lima hari setelahnya, akan muncul anakan-anakan bayam  yang nantinya dipelihara untuk menjadi sayuran. Ketika kita berjalan-jalan ke pedesaan yang perekonomiannya bertumpu pada kegiatan bercocok tanam, sering kita temui petani menanam jagung dan kacang dengan cara tugal. Dapat juga ditemui  di area persawahan, seperti petani yang menabur benih langsung di semua lahannya sehingga tidak perlu lagi ada pemindahan bibit nantinya.  Tindakan tersebut dinamakan tabela (tanam benih langsung), dalam istilah rehabilitasi hutan disebut direct seeding (penaburan langsung).

Direct seeding disebut sebagai teknik penaburan benih langsung di lapangan tanpa melalui tahapan persemaian. Tindakan ini umum dilakukan karena pertimbangan tenaga yang kurang, biaya pembibitan mahal dan tentunya akses menuju lokasi penanaman yang sangat sulit untuk pengangkutan bibit. Keadaan ini pun bukan tanpa kekurangan karena sebelum melakukannya, juga diperlukan perhitungan yang matang terkait kontrol yang lebih intensif pada skala yang lebih luas, mengingat fase kritis pertama yang pertumbuhan tanaman berada pada fase kecambah. Continue reading “Aerial Seeding; Rehabilitasi Hutan dengan Murah”