Hidup Sehat dengan Berkebun

Suatu ketika tatkala saya sedang memainkan gawai, melihat apa saja yang melintas di lini masa Facebook saya. Jari saya berhenti pada sebuah video, saya pun menontonnya. Sebuah animasi yang memarodikan kehidupan yang serba obesitas. Hanya ada satu dari sekian makhluk yang ada bisa bergerak terbang bebas. Seorang anak yang tak sengaja melihat burung tersebut, selalu mengamati aktivitasnya. Anak itu pun punya keinginan untuk terbang layaknya burung kecil tadi. Dia pun merancang sayap yang sepersisi sayap si burung. Hasilnya nihil. Hingga suatu ketika dia terus mengamati apa yang dimakan oleh si burung. Sehari-hari, si burung hanya memakan buah berry. Anak itu pun mengikuti tingkah si burung. Akhirnya, si anak pun bisa terbang dengan sayap buatannya setelah berat badannya menjadi normal. Orang-orang pun mengikutinya.

Continue reading “Hidup Sehat dengan Berkebun”

Catatan Kuliah; Water Sensitive Cities

Mengutip sunting lirik lagu Lobow, “Lama sudah tak kuliah, bagaimana skripsiku. Kadang ingat kadang tidak, siapa pembimbingku”. Tulisan ini saya buat karena sudah lama tidak kuliah. Pas kuliah, eh tidak lama.

Di negara sakura, Jepang, yang memiliki empat musim ini, sangat banyak kebudayaan positif yang bisa diadopsi. Kebudayaan positif sangat berpengaruh dalam tatanan masyarakat, termasuk perkembangan kota. Secara spesifik pada ekosistem perkotaan.  Menurut Prof. Hadi Susilo Arifin yang membawakan materi “Water Sensitive City” dalam kuliah umum (18-10-2018), bahwa kita cenderung mengabaikan perkataan sebagai bagian dari doa. Orang-orang di Jepang selalu berpandangan positif terhadap perubahan musim yang terjadi dan itu menjadi kebiasaan, lalu membentuk sebuah kebudayaan.  Bagaimana mereka begitu antusias menanti pergantian musim. Dibanding di negara kita, masyarakat kita cenderung berprasangka buruk terhadap perubahan musim. Jelang musim penghujan misalnya, yang muncul di pikiran kita bahwa akan terjadi lagi banjir dimana-mana. Demikian juga saat musim kemarau, keluhan kekeringan dan debu pun menjadi hal yang lumrah. Beruntung kita hanya memiliki dua musim, jika empat musim seperti Jepang, maka penuh lah hari-hari kita dengan keluhan Continue reading “Catatan Kuliah; Water Sensitive Cities”

Sulitnya Membangun Hutan

Suatu sore,  kala jam kantor telah usai, dengan beranjak melewati pintu yang berjarak tiga meter dari sisi kiri meja kerja saya. Melewati pintu, bersama segelas es kopi (siangnya saya membuat dua porsi, satu porsinya sengaja saya masukkan ke lemari pendingin biar dapat sensasi dingin di sore yang gerah), saya pun duduk menyeruput dua hingga tiga kali lalu meletakkan gelas di relief pondasi pagar. saya kemudian mengamati setiap jenis tanaman yang saya tanam di beranda belakang kantor. Ada jati, kayu kuku, sengon, akasia mangium, kale, turnip, mint, murbey, lemon, cabe, pakcoy, adas, strawbery, kaliandra, hingga ruruhi (sejenis jambu yang banyak di hutan Sulawesi Tenggara). Kegiatan ini menjadi rutinitas jika tidak sedang tugas lapangan. Continue reading “Sulitnya Membangun Hutan”