Relawan Bakti Nusa; Pergi karena Cinta, Pulang karena Rindu

Beberapa hari sebelum keberangkatan, di grup Whatsapp keluarga saya mengabarkan bahwa akan berangkat ke Palu untuk menjadi relawan di sana. Adik bungsu saya membalas pesan saya, “Mama bilang tidak usah ke sana”. Saya kemudian menutup aplikasi tersebut tanpa membalas pesan adik saya. Adik saya yang lain pun menanyakan kepada saya, entah sudah kali keberapa dengan pertanyaan yang sama, “Kakak, betulan mau pergi?” Saya selalu menjawabnya dengan seyum dan baerkata “Iya, saya akan pergi”. Hingga sehari sebelum berangkat, saya kembali mendapat telepon dari adik saya, “Mama mau bicara”, katanya. Berbicaralah saya panjang lebar dengan ibu saya. Meyakinkan bahwa perjalanan kali ini telah memperhitungkan sistem keamanan yang standar. Jadi, jangan terlalu risau akan hal ini. Pembicaraan kami ditutup dengan pesan-pesan layaknya orang tua kepada anaknya. Cukuplah Tuhan yang menjadi penolong atas segala hal dan cukuplah doa dari orang tua yang memudahkan datangnya pertolongan Tuhan. Saya selalu yakin akan hal itu. Continue reading “Relawan Bakti Nusa; Pergi karena Cinta, Pulang karena Rindu”

Advertisements

Akhirnya Menghadap Ke Laut

Laut sebenarnya bukan hal yang baru buat saya karena sedari kecil, saya sudah akrab dengan kehidupan laut. Hanya saja, saya kurang fasih berenang, apalagi menyelam. Saya sendiri memiliki halusinasi yang tinggi saat berada di dalam air, terutama di laut. Perasaan saya seperti ada yang memanggil-manggil lalu melambai ke arah saya kala berada dalam air. Pernah suatu ketika di Leang Kareta, Selayar, saya mengikatkan tali di salah satu kaki sebagai penanda bahwa saya sudah terlampau jauh meninggalkan perahu. Setelah tali tersentak, saya pun berputar arah ke perahu. Seiring waktu berjalan, saya memang lebih banyak berkecimpung di kawasan sekitar hutan dan gunung. Bukan berarti saya harus melupakan laut karena saya sendiri hanya bisa menyantap ikan laut. Tenggorokan saya seperti tidak ramah terhadap aroma ikan air tawar. Continue reading “Akhirnya Menghadap Ke Laut”

Berkebun Di Mata Mereka

Apa kata mereka tentang berkebun? Pertanyaan ini sengaja saya lontarkan di grup LINE mau pun grup Facebook komunitas Makassar Berkebun. Dari 2.337 akun (LINE 97 akun dan Facebook 2240 akun), hanya 24 akun yang menanggapi, atau hanya 1,03% yang menaggapi dan memberi jawaban. Satu orang bisa saja tergabung dalam grup LINE dan grup Facebook, seperti saya. Continue reading “Berkebun Di Mata Mereka”