Hanya Padamu Rindu Berpulang

Ada rindu;
Tahu kan bagaimana girangnya seorang pemain bola ketika berhasil mencetak gol ke gawang lawan pada menit-menit krusial dan sebagai penentu kemenangan timnya? Seperti itulah saat notifikasi gawaiku berdenting dan itu kamu.

Rindu;
Menjadi perkara yang sulit kau pahami jika tak pernah menjadi awan. Awan selalu berjarak tapi melindungimu dari sengat matahari langsung. Awan sesekali menghitam tapi selalu tercurah dalam jernih air hujan. Karenanya, bumi menjadi lembut, mengirimkan uap air.

Rindu (lagi);
Perkara rindu memang pelik karena nilainya tak terhingga, seperti jumlah angka di belakang koma antara nol dengan satu. Sepintas dekat, namun serasa jauh. Bersantai dengan kopi, buku, dan senja adalah cara menikmatinya.

Rindu (dan lagi);
Layaknya menanam pohon, rindu pun demikian. Sekali ia tumbuh dan menancapkan akar ke sanubarimu, tak peduli kerasnya karang di sana, maka badai hanya keniscayaan yang terlewatkan. Rawat saja, kelak akan berbunga dan menjadi penyejuk jiwamu. Dengan begitu, kau dianggap tak mati rasa.

Rindu (masih);
Kau takkan pernah tahu kala jumpa kita yang terakhir. Kau entah sibuk dengan apa dan aku seolah khusyuk membaca. Hingga akhirnya aku beranjak dan tak memalingkan wajah. Aku mengeluarkan peruncing pensil dari saku tas. Ku arahkan cerminnya pada posisi dudukmu. Matamamu mengikuti langhkah jauhku. Aku hanya tersenyum dan berlalu. Kelak kita bertemu, mungkin besok, lusa, entah.

Rindu (selalu ada);
Senja telah berlalu.
Gulita membenam fusia.
Kita masih menerka, siapa yang lebih dan paling rindu.
Kepada siapa rindu berlabuh, pada yang cepat atau yang tepat.

Hari Bumi Untuk Siapa?; Sebuah Refleksi

April kali ini memang berbeda, diawali dengan suhu panas perseteruan dua kubu calon presiden Indonsia. Lalu menjelang hari pencoblosan, yang semestinya menjadi masa tenang, justru heboh dengan sebuah tontonan. Sebenarnya masih banyak tontonan serupa yang memang cukup menyayat nurani dari sisi kemanusiaan. Tapi, begitulah film dokumenter bekerja dan memberi pengaruh. Bagaimana pun, pembuatnya juga manusia sama dengan kita yang punya sudut pandang tersendiri dalam melihat situasi. Kita pun sebagai khalayak memiliki cara pandang yang sama atau berbeda. Sah-sah saja. Setiap kita, pada suatu kondisi bisa menjadi pelaku dan korban secara bersamaan. Continue reading “Hari Bumi Untuk Siapa?; Sebuah Refleksi”

Refleksi Hari Air Dunia; Bambu Versus Pinus

Dalam satu dekade terakhir, perubahan iklim sangat jelas dirasakan dampaknya. Pergantian musim tidak hanya bergeser tapi juga sulit untuk diprediksi kedatangannya. Pada saat musim penghujan, jumlah debit air seperti berlebuh sehingga berdampak pada munculnya bencana banjir. Sebaliknya, saat musim kemarau, seolah air enggan lagi bersenyawa dengan tanah, sehingga sangat sulit mencari sumber-sumber air.
Kalau kita melihat bagaimana tsunami melanda Aceh tahun 2014 lalu, dikabarkan bahwa disaat tanaman yang lain hanyut bersama bangunan, maka bambu tetap berdiri merumpun. Beberapa sungai di Jawa juga sudah merasakan dampak dari bambu yang ditanam di sepanjang bantaran sungai. Bukan saja erosi sungai yang semakin terkendali, manfaat lain pun dirasakan.

Continue reading “Refleksi Hari Air Dunia; Bambu Versus Pinus”