Membicarakan Cinta Lewat Segelas Cokelat dan Kopi

Perjalanan kali ini seperti ada sesuatu ¬†yang istimewah. Di bulan yang sama 10 tahun lalu, adalah kali pertama saya menjejakan kaki di tanah Sumatera, tepatnya di Jambi. Hari ini pun saya kembali ke tanah itu, meski di tempat yang berbeda, yakni di Lampung. Tujuan saya tidak jauh beda, berkaitan dengan tanaman perkebunan. Kalau dulu saya bersentuhan dengan pembibitan tanaman karet, kali ini lebih banyak ke produksi dan pascapanen kakao dan kopi. Sangat menarik menghadapi kultur dan aktivitas budidaya masyarakat di tempat yang berbeda. Dua hal yang selalu saya syukuri bahwa di tempat-tempat yang belum terpikirkan untuk saya jejaki ada orang-orang yang menerima kehadiran saya dengan baik. Selain itu, saya selalu bersyukur bahwa sesungguhnya saya ini begitu kecil dan tak berarti, sehingga saya harus belajar dan banyak belajar. Continue reading “Membicarakan Cinta Lewat Segelas Cokelat dan Kopi”

Advertisements

Kopi dan Hari Ini

Kopi pertama hari ini;
Tak ada agitasi, pula basa-basi, Yang ada afirmasi.
Bulatkan tekad sebagai energi asasi.
Jagat adalah ruang tanpa batas untuk berkontemplasi. Continue reading “Kopi dan Hari Ini”

Aku dan Kopi Hari Ini

Kopi Pertama hari ini, tambah susu biar sedikit konservatif.
Pagi ini hari cerah dan lebih kondusif.
Berharap aktivitas pun kian produktif.
Dengan begitu, memungkinkan untuk menemukan hal-hal yang inspiratif.

Kopi gelas kedua, sedikit lebih ringan.
Cukup imbang  dengan pikiran yang sejuta angan.
Jangan larut dalam khayalan.
Mungkin di akhir tahun penuh petualangan.

Kopi gelas ketiga, cukup melepas dahaga.
Biarkan semangat tetap terjaga.
Bayangkan saja di ujung senja ada jingga.
Gelas keempat di tepi dermaga.

Kopi gelas keempat, makan pun nyaris tak sempat.
Sementara waktu terasa berjalan begitu lambat.
Keseriusan masih terlihat di pada wajah-wajah sejawat.
Beruntung jauh dari kaum pengumpat hingga suasana tetap bersahabat.
Oh, kopi gelas kelima, semoga masih sempat.

 

Kendari, 23 Desember 2017