Meramu Rasa Bersama Kopi dan Santan

Tanaman labu tumbuh subur di atas sisa pembakaran ranting dan brangkasan pohon. Buahnya beragam warna, bentuk, dan ukuran. Warna daging buahnya yang kuning menyala tercium ranum setelah dikukus oleh Ibu. Santan dari kelapa yang tidak terlalu tua dengan sedikit rasa asin khas garam dapur dituang di atas potongan labu itu. Rasanya yang manis, asin dan gurih dengan tekstur yang legit masih terngiang di kepala saya, bersantai bersama Bapak usai bekerja di kebun. Labu pun menjadi sayuran kesukaan saya. Apatah lagi jika dimasak bersama santan, dengan serai sebagai penguat aroma. Nasi bersama dendeng tuna, tak pernah cukup satu piring untuk saya. ¬†Sayang waktu tak pernah bersedia untuk memutar ulang sebuah kisah. Continue reading “Meramu Rasa Bersama Kopi dan Santan”

Membicarakan Cinta Lewat Segelas Cokelat dan Kopi

Perjalanan kali ini seperti ada sesuatu  yang istimewah. Di bulan yang sama 10 tahun lalu, adalah kali pertama saya menjejakan kaki di tanah Sumatera, tepatnya di Jambi. Hari ini pun saya kembali ke tanah itu, meski di tempat yang berbeda, yakni di Lampung.

Tujuan saya tidak jauh beda, berkaitan dengan tanaman perkebunan. Kalau dulu saya bersentuhan dengan pembibitan tanaman karet, kali ini lebih banyak ke produksi dan pascapanen kakao dan kopi. Sangat menarik menghadapi kultur dan aktivitas budidaya masyarakat di tempat yang berbeda. Dua hal yang selalu saya syukuri bahwa di tempat-tempat yang belum terpikirkan untuk saya jejaki, ada orang-orang yang menerima kehadiran saya dengan baik. Selain itu, saya selalu bersyukur bahwa sesungguhnya saya ini begitu kecil dan tak berarti, sehingga saya harus belajar dan banyak belajar. Continue reading “Membicarakan Cinta Lewat Segelas Cokelat dan Kopi”