Aku dan Kopi Hari Ini

Kopi Pertama hari ini, tambah susu biar sedikit konservatif.

Pagi ini hari cerah dan lebih kondusif.

Berharap aktivitas pun kian produktif.

Dengan begitu, memungkinkan untuk menemukan hal-hal yang inspiratif.

 

Kopi gelas kedua, sedikit lebih ringan.

Cukup imbang  dengan pikiran yang sejuta angan.

Jangan larut dalam khayalan.

Mungkin di akhir tahun penuh petualangan.

 

Kopi gelas ketiga, cukup melepas dahaga.

Biarkan semangat tetap terjaga.

Bayangkan saja di ujung senja ada jingga.

Gelas keempat di tepi dermaga.

 

Kopi gelas keempat, makan pun nyaris tak sempat.

Sementara waktu terasa berjalan begitu lambat.

Keseriusan masih terlihat di pada wajah-wajah sejawat.

Beruntung jauh dari kaum pengumpat hingga suasana tetap bersahabat.

Oh, kopi gelas kelima, semoga masih sempat.

 

Kendari, 23 Desember 2017

Advertisements

Kopi Hari Ini

Kopi gelas pertama hari ini.
Seperti kata Hari Mukti dalam lagunya, Satu Kata.
“Ada banyak kata ketika ingin bicara, tentang bara di dada cukup satu kata… Cinta !”. Lewat kopi pagi ini, luapkan tawa sisa tangis semalam.
Lewat kopi pagi ini, mari sama membuka diri. Dengan kopi pagi ini, mari sama berhadap diri. Continue reading “Kopi Hari Ini”

Kopi Madu dan Dinginnya Malam Ujung Bulu

“Kulayangkan pandangku, melalui kaca jendela. Dari tempatku bersandar, seiring lantun kereta. Membawaku melintasi tempat-tempat yang indah, membuat isi hidupku penuh riuh dan berwarna”, (Perjalanan Ini, Padi).

Seandainya saya berada dalam sebuah gerbong kereta, mungkin lirik lagu Padi Band ini sangat pas untuk didendangkan. Tapi itu hanya soal jenis transportasi saja. Justru dengan sepeda motor, saya lebih leluasa untuk memandang hamparan hijau yang memukau. Sesuka hati pun saya bisa singgah sejenak untuk melepaskan mata memandang, atau hanya sekadar menghela napas panjang menikmati segarnya udara pegunungan. Continue reading “Kopi Madu dan Dinginnya Malam Ujung Bulu”