Tak Ada Lautan Awan Di Ahuawali

Puncak Ahuawali Sulawesi Tenggara.

Advertisements

Ahuawali adalah nama sebuah desa di Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe. Untuk mencapai Desa Ahuawali, kita bisa melalui dua rute dari Kota Kendari, yaitu melewati Unaaha, Ibukota Kabupaten Konawe atau melewati rute Motaha. Jalur tercepat adalah jalur Motaha sejauh 76 Km atau sekira dua jam berkendara.

DSC06007
Salah satu sisi eloknya Rawa Aopa

Ahuawali dalam Bahasa Tolaki berasal dari dua suku kata, yaitu Ahua (Sumur) dan Wali (berkaitan dengan Para Wali). Jadi secara harfiah, Uhuawali diartikan sebagai sumur Para Wali. Namun demikian, jangan berharap untuk menemukan sumur di bukit Ahuawali. Konon, di desa ini memang ada sumur tua yang hanya mampu dilihat oleh orang-orang tertentu saja. Atau mungkin saja, sumur yang dimaksud adalah Rawa Aopa yang luas dan memang merupakan sumur resapan alami yang mempertemukan tiga kabupaten, yaitu Konawe, Konawe Selatan, danĀ  Bombana. Wallahu a’lam bishawab. Continue reading “Tak Ada Lautan Awan Di Ahuawali”

Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas

*Bagian Kedua*

Paruh hari pun tiba. Dari susunan acara, waktunya untuk ishoma (istirahat, sholat [dalam KBBI dibakukan menjadi salat], dan mandi eh makan). Kak Vby mengambil alih acara. Peserta dan beberapa fasilitator disilakan untuk berdiri dan mengatur jarak serentangan tangan dalam tiga saf. Kemudian peserta diperintahkan untuk memejamkan mata. Fasilitator yang bertugas lalu menutup mata peserta dengan kain secara acak dan hanya menyisakan beberapa saja. Tiap empat peserta, satu diantaranya tidak dibalut dengan kain. Selanjutnya, seluruhnya disilakan untuk membuka mata tanpa harus melepaskan kain pemutup mata bagi yang dibalut. Kak Vby selanjutnya memberi arahan bahwa telah disiapkan makanan di ruang atas, silakan menuju ke tempat tempat itu lalu menikmati santap siangnya. Continue reading “Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas”

Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas

*Bagian Pertama*

Hawa dingin Malino menyambut kedatangan kami di waktu magrib. Jalan basah terlihat dari pantulan lampu kendaraan yang melintas, gerimis dan listrik padam turut serta. Kami pun memutuskan untuk terus ke kawasan pinus, dimana para pelancong maupun pendaki bisanya mampir, katanya untuk beraklimatisasi. Selain untuk menunaikan kewajiban sebagai muslim, di tempat inilah yang cenderung ramai, baik orang maupun jajanannya saat malam telah tiba. Continue reading “Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas”