Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa; Buton Rekomendasikan Perkuat Kemaritiman

Hari (Kamis, 27 Desember 2018) yang terik tapi ombak tetap dengan teduhnya mengiringi kemolekan Pinisi Bakti Nusa melanjutkan ekspedisinya. Dua jam lebih setelah kami bertolak dari Buton Tengah dan di paruh jalan kami dihibur oleh kawanan lumba-lumba, kami pun tiba di Kota Baubau, Ibukota Buton. Setelah sandar di sebuah pelabuhan perikanan dengan kondisi srus yang kuat, kami pun diarahkan pindah ke pelabuhan lainnya di sekitaran Pelabuhan Murhum. Kapal kami disandarkan di samping sebuah kapal kayu besar.

Usai olah raga rutin, hujan menyambut kami di awal malam. Oh iya, yang saya maksud olah raga rutin di sini adalah kegiatan membersihkan kapal. Kegiatan ini dilakukan kalau kapal merapat di sebuah pelabuhan, selain menjadi bagian perawatan kapal agar tetap bersih, kegiatan ini memang cukup membuat otot bergerak sehingga memicu keringat untuk keluar. Setelah itu, barulah kami secara bergantian mandi, jika ingin mandi. Menurut Mas Sobet, “Mandi hanya untuk orang-orang yang tidak bersih”, terserah kalian lah bagaimana memaknainya. Namun pada prinsipnya, mandi di kapal memang harus dengan perhitungan kebutuhan dan ketersediaan air. Continue reading “Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa; Buton Rekomendasikan Perkuat Kemaritiman”

Advertisements

Suporter mendaki; Bertandang Ke Mahameru

Awal Kisah

Langit sudah mulai menampakkan warna ceria tapi Lembana begitu dingin pagi itu. Tak ada kabut yang biasanya ramah menyapa pagi. Hanya desir-desir angin yang melambaikan kanopi-kanopi pinus atau kelap-kelip embun yang masih menempel di ujung-ujung daun semak. Beberapa kawan masih menikmati kebekuan dalam kepompong sleeping bag atau dengan jaket hangat. Ada juga yang duduk melingkar di atas matras dengan kompor yang sedang mendidihkan air sebagai porosnya. Continue reading “Suporter mendaki; Bertandang Ke Mahameru”

Membicarakan Cinta Lewat Segelas Cokelat dan Kopi

Perjalanan kali ini seperti ada sesuatu ¬†yang istimewah. Di bulan yang sama 10 tahun lalu, adalah kali pertama saya menjejakan kaki di tanah Sumatera, tepatnya di Jambi. Hari ini pun saya kembali ke tanah itu, meski di tempat yang berbeda, yakni di Lampung. Tujuan saya tidak jauh beda, berkaitan dengan tanaman perkebunan. Kalau dulu saya bersentuhan dengan pembibitan tanaman karet, kali ini lebih banyak ke produksi dan pascapanen kakao dan kopi. Sangat menarik menghadapi kultur dan aktivitas budidaya masyarakat di tempat yang berbeda. Dua hal yang selalu saya syukuri bahwa di tempat-tempat yang belum terpikirkan untuk saya jejaki ada orang-orang yang menerima kehadiran saya dengan baik. Selain itu, saya selalu bersyukur bahwa sesungguhnya saya ini begitu kecil dan tak berarti, sehingga saya harus belajar dan banyak belajar. Continue reading “Membicarakan Cinta Lewat Segelas Cokelat dan Kopi”