Suporter mendaki; Bertandang Ke Mahameru

Awal Kisah

Langit sudah mulai menampakkan warna ceria tapi Lembana begitu dingin pagi itu. Tak ada kabut yang biasanya ramah menyapa pagi. Hanya desir-desir angin yang melambaikan kanopi-kanopi pinus atau kelap-kelip embun yang masih menempel di ujung-ujung daun semak. Beberapa kawan masih menikmati kebekuan dalam kepompong sleeping bag atau dengan jaket hangat. Ada juga yang duduk melingkar di atas matras dengan kompor yang sedang mendidihkan air sebagai porosnya. Continue reading “Suporter mendaki; Bertandang Ke Mahameru”

Advertisements

Membicarakan Cinta Lewat Segelas Cokelat dan Kopi

Perjalanan kali ini seperti ada sesuatu  yang istimewah. Di bulan yang sama 10 tahun lalu, adalah kali pertama saya menjejakan kaki di tanah Sumatera, tepatnya di Jambi. Hari ini pun saya kembali ke tanah itu, meski di tempat yang berbeda, yakni di Lampung. Tujuan saya tidak jauh beda, berkaitan dengan tanaman perkebunan. Kalau dulu saya bersentuhan dengan pembibitan tanaman karet, kali ini lebih banyak ke produksi dan pascapanen kakao dan kopi. Sangat menarik menghadapi kultur dan aktivitas budidaya masyarakat di tempat yang berbeda. Dua hal yang selalu saya syukuri bahwa di tempat-tempat yang belum terpikirkan untuk saya jejaki ada orang-orang yang menerima kehadiran saya dengan baik. Selain itu, saya selalu bersyukur bahwa sesungguhnya saya ini begitu kecil dan tak berarti, sehingga saya harus belajar dan banyak belajar. Continue reading “Membicarakan Cinta Lewat Segelas Cokelat dan Kopi”

Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa

Bagian Kedua,

Perjalanan Syukur

Menjelang paruh Hari Senin (27 Agustus 2018), paparan  matahari kian menyengat hingga telapak kaki seperti menginjak bara kala berjalan di geladak kapal. Jika tidak mengenakan kacamata, saking silaunya, kita perlu mengernyitkan alis untuk melihat lebih jauh. Segala peralatan telah dirapikan. Semua personil telah mengisi perut saat tugas pokok mereka selesai, kemudian bersantai sejenak menunggu pemberangkatan. sepotong semangka  yang warna merahnya begitu kontras dengan birunya laut menjadi pelepas dahaga yang pas. Sebenarnya, pisang juga sangat cocok tapi sepertinya tak ada pisang yang jadi buah meja. Nyaris semua jarum jam berkumpul di angka dua belas, sauh diangkat ke atas kapal. Rute yang selanjutnya menjadi tujuan pelayaran adalah Pulau Pannikiang yang masuk dalam wilayah Kabupaten Barru. Continue reading “Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa”