Kegiatan Alam Terbuka; Kalian Senang dengan Tim Apa?

Kemana kita ngapain? Kalimat itu masih sering saya dengarkan sebelum wabah Covid-19 ini dinyatakan sebagai pandemi. Bagi sebagian orang, berkegiatan di alam terbuka, memang memiliki daya tarik tersendiri. Tak heran jika ada kesempatan, mereka pasti memasukkan kegiatan out door dalam daftar untuk tidak dilewatkan, bahkan menjadi prioritas.

Menggeluti dunia penggiat alam terbuka tentunya tidak lepas dari motivasi dan tujuan subjektif dari setiap individunya. Berbeda dengan dunia kepencintaalaman yang fokus pada misi lingkungan sebagai prioritas. Seorang pencinta alam sudah bisa dipastikan adalah penggiat alam terbuka, sedangkan seorang penggiat alam terbuka belum tentu seorang pencinta alam. Continue reading “Kegiatan Alam Terbuka; Kalian Senang dengan Tim Apa?”

Coto; Padamu Jua Saya Kembali

Suatu sore ketika mendengarkan lagu-lagu lawas lewat youtube, saya mencoba mencermati setiap liriknya. Syair lagu lawas tersusun begitu indah dan sarat makna. Sampai ketika, Obbie Messakh yang melantunkan lagunya yang berjudul ‘Bunyikan Suara Hati’, saya sejenak terdiam. Binar mata saya memandang jauh ke kampung halaman. Lirik lagunya seperti ini, “Kita semua anak rantau cari kawan. Mari nyanyikan rindu kampung halaman. Kita semua anak seberang susah senang. S’lalu berbagi rasa di tanah orang”. Jika kalian adalah perantau, mungkin rasa yang sama bisa kalian rasakan. Semoga pandemi ini segera berlalu dan saya bisa mudik untuk berlebaran, demikian perantau lainnya. Continue reading “Coto; Padamu Jua Saya Kembali”

Meramu Rasa Bersama Kopi dan Santan

Tanaman labu tumbuh subur di atas sisa pembakaran ranting dan brangkasan pohon. Buahnya beragam warna, bentuk, dan ukuran. Warna daging buahnya yang kuning menyala tercium ranum setelah dikukus oleh Ibu. Santan dari kelapa yang tidak terlalu tua dengan sedikit rasa asin khas garam dapur dituang di atas potongan labu itu. Rasanya yang manis, asin dan gurih dengan tekstur yang legit masih terngiang di kepala saya, bersantai bersama Bapak usai bekerja di kebun. Labu pun menjadi sayuran kesukaan saya. Apatah lagi jika dimasak bersama santan, dengan serai sebagai penguat aroma. Nasi bersama dendeng tuna, tak pernah cukup satu piring untuk saya.  Sayang waktu tak pernah bersedia untuk memutar ulang sebuah kisah. Continue reading “Meramu Rasa Bersama Kopi dan Santan”