Dua Hari Mengesankan; Susah Senang Kita yang Rasa

Seperti hari-hari biasa, akhir pekan bukan lagi hal yang membuat saya harus mempersiapkan rencana sedemikian rupa. Sama saja dengan hari-hari lain, penuh kekosongan, kata jamaah penyinyiran. Tapi itu bukan masalah buat saya karena hidup memang sudah begitu. Kalau mau bermimpi, ada baiknya ke tempat tidur. Kalau mau menikmati, ya jalani dengan rasa syukur. Kalau kata kawan saya, Uccy, “Kunci bahagia itu gak perlu pusing dengan kehidupan orang lain, jalani hidupmu”.

Kunci hidup sehat terletak pada tiga perkara. Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa pola hidup sehat itu tergantung pada makanan, pikiran, dan aktivitas. Ketiga elemen ini sangat penting dan saling memengaruhi satu sama lain dalam sebuah siklus. Misalkan, saya salah makan maka sugesti negatif pun akan muncul dengan berbagai dugaan. Pada akhirnya, membuat aktivitas saya menjadi kacau. Continue reading “Dua Hari Mengesankan; Susah Senang Kita yang Rasa”

Advertisements

Sunset to Sunrise; Garam Di Laut, Asam Di Gunung.

Siang itu, setelah tidur untuk kedua kalinya, menjadi Sabtu (22 Juni 2019) yang membuat saya malas beranjak. Pasalnya, beberapa rencana yang telah  tersusun hanya berujung pada sebuah ketikajelasan. Akan tetapi, rasa lapar selalu membuat segalanya berubah. Untuk bisa tetap berpikir logis, logistik memang perlu mendapat perhatian khusus.

Saya kemudian beranjak menuju dapur, mengeksplor setiap potensi logistik tersedia untuk dimanfaatkan. Jadilah saya membuat nasi goreng kepiting di waktu yang tak lazim lagi menikmati nasi goreng, pukul 14.00 Wita. Continue reading “Sunset to Sunrise; Garam Di Laut, Asam Di Gunung.”

Jalan Sehari Di Pucak

Jalan Sehari

Kepulan uap seduhan kopi Gayo, Aceh,  buah tangan dari teman, seperti menghipnotis. Suara gemercik ketika saya menuangkannya ke dalam termos laksana lirih aliran di sungai berbatu. Dari kamar yang berjarak sekitar 20 meter dengan tempat saya berpijak, mengalun lagu “Fajar Pagi” yang dilantunkan oleh Boomerang. Harmoni pagi yang sungguh indah.

“Seperti fajar pagi kau ku resapi, menyengat namun itu yang memang ku harap. Ada resah memang resah tapi aku suka. Fajar pagi kau ku resapi.” Saya ikut bernyanyi. Meski suara fals, yang penting “Rock ‘n Roll, tawwa.” Continue reading “Jalan Sehari Di Pucak”