Hidup Sehat dengan Berkebun

Suatu ketika tatkala saya sedang memainkan gawai, melihat apa saja yang melintas di lini masa Facebook saya. Jari saya berhenti pada sebuah video, saya pun menontonnya. Sebuah animasi yang memarodikan kehidupan yang serba obesitas. Hanya ada satu dari sekian makhluk yang ada bisa bergerak terbang bebas. Seorang anak yang tak sengaja melihat burung tersebut, selalu mengamati aktivitasnya. Anak itu pun punya keinginan untuk terbang layaknya burung kecil tadi. Dia pun merancang sayap yang sepersisi sayap si burung. Hasilnya nihil. Hingga suatu ketika dia terus mengamati apa yang dimakan oleh si burung. Sehari-hari, si burung hanya memakan buah berry. Anak itu pun mengikuti tingkah si burung. Akhirnya, si anak pun bisa terbang dengan sayap buatannya setelah berat badannya menjadi normal. Orang-orang pun mengikutinya.

Continue reading “Hidup Sehat dengan Berkebun”

Refleksi Hari Air Dunia; Bambu Versus Pinus

Dalam satu dekade terakhir, perubahan iklim sangat jelas dirasakan dampaknya. Pergantian musim tidak hanya bergeser tapi juga sulit untuk diprediksi kedatangannya. Pada saat musim penghujan, jumlah debit air seperti berlebuh sehingga berdampak pada munculnya bencana banjir. Sebaliknya, saat musim kemarau, seolah air enggan lagi bersenyawa dengan tanah, sehingga sangat sulit mencari sumber-sumber air.
Kalau kita melihat bagaimana tsunami melanda Aceh tahun 2014 lalu, dikabarkan bahwa disaat tanaman yang lain hanyut bersama bangunan, maka bambu tetap berdiri merumpun. Beberapa sungai di Jawa juga sudah merasakan dampak dari bambu yang ditanam di sepanjang bantaran sungai. Bukan saja erosi sungai yang semakin terkendali, manfaat lain pun dirasakan.

Continue reading “Refleksi Hari Air Dunia; Bambu Versus Pinus”

Akhirnya Menghadap Ke Laut

Laut sebenarnya bukan hal yang baru buat saya karena sedari kecil, saya sudah akrab dengan kehidupan laut. Hanya saja, saya kurang fasih berenang, apalagi menyelam. Saya sendiri memiliki halusinasi yang tinggi saat berada di dalam air, terutama di laut. Perasaan saya seperti ada yang memanggil-manggil lalu melambai ke arah saya kala berada dalam air. Pernah suatu ketika di Leang Kareta, Selayar, saya mengikatkan tali di salah satu kaki sebagai penanda bahwa saya sudah terlampau jauh meninggalkan perahu. Setelah tali tersentak, saya pun berputar arah ke perahu. Seiring waktu berjalan, saya memang lebih banyak berkecimpung di kawasan sekitar hutan dan gunung. Bukan berarti saya harus melupakan laut karena saya sendiri hanya bisa menyantap ikan laut. Tenggorokan saya seperti tidak ramah terhadap aroma ikan air tawar. Continue reading “Akhirnya Menghadap Ke Laut”