Perjalanan Terakhir

Fiksi, Merangkai Kata

Jauh malam hari, detak jam kian terasa di telinga. Malam ini memang begitu sunyi. Tak ada serangga atau pun merdu kenari seperti malam-malam lalu. Saya merasa terbawa pada masa yang sesungguhnya telah saya pendam di palung hati.
Seperti malam ini, lima tahun lalu, Jumat pukul 02.00 dini hari. Dalam hening, dering ponsel berbunyi. Di layar bertuliskan “Tapak Kuda” memanggil. Tapak kuda adalah nama lapangan sahabat saya, dia adopsi dari nama tumbuhan yang sudah akrab di kalangan pecinta alam. Tidak salah dia menyandang nama itu, anaknya kuat dan tangguh, tenaganya seperti kuda. Langkahnya yang cepat membuat siapa pun di belakangnya akan susah mengikutinya saat berjalan, terlebih mendaki. Continue reading “Perjalanan Terakhir”