Catatan Kuliah; Water Sensitive Cities

Mengutip sunting lirik lagu Lobow, “Lama sudah tak kuliah, bagaimana skripsiku. Kadang ingat kadang tidak, siapa pembimbingku”. Tulisan ini saya buat karena sudah lama tidak kuliah. Pas kuliah, eh tidak lama.

Di negara sakura, Jepang, yang memiliki empat musim ini, sangat banyak kebudayaan positif yang bisa diadopsi. Kebudayaan positif sangat berpengaruh dalam tatanan masyarakat, termasuk perkembangan kota. Secara spesifik pada ekosistem perkotaan.¬† Menurut Prof. Hadi Susilo Arifin yang membawakan materi “Water Sensitive City” dalam kuliah umum (18-10-2018), bahwa kita cenderung mengabaikan perkataan sebagai bagian dari doa. Orang-orang di Jepang selalu berpandangan positif terhadap perubahan musim yang terjadi dan itu menjadi kebiasaan, lalu membentuk sebuah kebudayaan. ¬†Bagaimana mereka begitu antusias menanti pergantian musim. Dibanding di negara kita, masyarakat kita cenderung berprasangka buruk terhadap perubahan musim. Jelang musim penghujan misalnya, yang muncul di pikiran kita bahwa akan terjadi lagi banjir dimana-mana. Demikian juga saat musim kemarau, keluhan kekeringan dan debu pun menjadi hal yang lumrah. Beruntung kita hanya memiliki dua musim, jika empat musim seperti Jepang, maka penuh lah hari-hari kita dengan keluhan Continue reading “Catatan Kuliah; Water Sensitive Cities”

Advertisements