Dua Hari Mengesankan; Susah Senang Kita yang Rasa

Seperti hari-hari biasa, akhir pekan bukan lagi hal yang membuat saya harus mempersiapkan rencana sedemikian rupa. Sama saja dengan hari-hari lain, penuh kekosongan, kata jamaah penyinyiran. Tapi itu bukan masalah buat saya karena hidup memang sudah begitu. Kalau mau bermimpi, ada baiknya ke tempat tidur. Kalau mau menikmati, ya jalani dengan rasa syukur. Kalau kata kawan saya, Uccy, “Kunci bahagia itu gak perlu pusing dengan kehidupan orang lain, jalani hidupmu”.

Kunci hidup sehat terletak pada tiga perkara. Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa pola hidup sehat itu tergantung pada makanan, pikiran, dan aktivitas. Ketiga elemen ini sangat penting dan saling memengaruhi satu sama lain dalam sebuah siklus. Misalkan, saya salah makan maka sugesti negatif pun akan muncul dengan berbagai dugaan. Pada akhirnya, membuat aktivitas saya menjadi kacau.

Mendapati tubuh yang semakin bongsor, masuk dalam kelas 175 lb kategori WBA: Light heavyweight (Kelas berat), dalam dunia tinju, saya perlu aktivitas yang lebih banyak mengeluarkan keringat. Lari dalam waktu lama, bukan pilihan tepat dengan berat badan yang tidak seimbang. Untuk itu, perlu aktivitas lain yang sepadan dengan pembakaran kalori tinggi.

Daftar pertama adalah mengikuti kunjungan ke kebun Macora Garden yang ada di Sudiang. Mendengar kata Sudiang saja sepertinya sudah menguras banyak energi. Apatah lagi jika harus bertandang ke sana dengan terik matahari dan macet yang ah sudahlah. Saya pikir, ini adalah momen tepat paling tidak untuk menghindari tidur pagi yang nikmatnya hakiki. Selain itu, saya juga ada keperluan lain di sektor Tamalanrea. Jadi, setali tiga uang, kata pepatahnya.

dsc002403250115421052204527.jpg
Pamer hasil panen berupa kangkung dan bayam organik.

Sesampainya di sana, beberapa kawan dari Makassar Berkebun sudah tiba. Ada yang ngerumpi, ada yang mengamati tanaman, dan ada juga yang beraktivitas di kebun. Bayam dan kangkung yang ditanam pada wadah vertical pocket 21 hari lalu, siap panen. Kedua tanaman itu pun dicabut oleh teman-teman. Inti dari kegiatan berkebun ala kami, hanya ada dua, pertama berfoto dengan hasil panen dan yang kedua, makan-makan hasil panen.

dsc00267-012914284328506253207.jpeg
Infused water untuk mengatur keseimbangan cairan tubuh.

Di ruang tamu telah disediakan infused water dan vietnamese spring rolls. Ada juga potongan buah segar dan beberapa toples kacang. Yang terbilang baru buat saya adalah Vietnam roll ini. Namanya juga roll jadi sudah pasti bentuknya gulungan. Dalam gulungan rice paper, berisi potongan sayur dan buah. Umumnya diisi juga dengan udang rebus. Gulungan itu kemudian dicocol dalam saos sebelum dinikmati.  Rasanya, ramai di rongga mulut seperti teriakan suporter saat timnya berhasil mencetak gol dari sekian banyak percobaan serangan.

dsc00258-016010887122508515755.jpeg
Vietnamese Spring Rolls yang menggoyang lidah.

Situasi yang dinanti pun tiba, makan-makan olahan hasil panen. Kali ini, menunya adalah bubur Manado. Bubur yang berbahan dasar labu kuning, nasi, jagung manis dan sayuran hijau ini paling pas disantap bersama ikan kering dan ulekan tomat. Soal pedis atau tidak, kembali ke selera masing-masing. Kurang afdal rasanya kalau tidak nambah, mengingat jarak tempuh perjalanan pulang (alasan).

ags013116484765795653040261.jpg
Bubur Manado ala teman-teman Makassar Berkebun tapi plating by me dong.

Usai makan-makan maka terbitlah foto-foto. Runutan kegiatan yang klasik di belahan dunia sosial media. Itu adalah bagian dari eksistensialis, melebihi apa yang dibicarakan dan apa yang bisa dituliskan, untuk disampaikan ke khalayak agar lebih berfaedah. Benar saja, setelah foto bersama, saya pun pamit. Sebenarnya masih ada satu agenda lagi, hanya saja berpepatan dengan jadwal main PSM Makassar di Stadion Andi Mattalatta. Jadinya, saya harus balik lebih awal.

img-20190713-wa00395243780018853633081.jpg
Tak berfoto maka tak berkebun, itu sudah.

Sepertinya, saya juga sudah mulai terpengaruh dengan semboyang, Sudiang vs. everibady. Panas matahari yang cetar membahana bercampur dengan deru dan debu. Beberapa titik macet pun harus diterobos untuk sampai di markas, Bajiki Store. Tak butuh waktu lama, hanya sekadar mengganti kostum lalu menuju ke Stadion Mattoanging Bersama kawan-kawan yang telah menanti dari tadi.

Riuh dalam stadion sudah terdengar jauh sebelum pertandingan dimulai. Peluit tanda pertandingan dimulai. Awal yang menegangkan tatkala gawang PSM harus kebobolan lebih awal di kandang sendiri. Beruntung Tim Juku Eja mampu menyamakan kedudukan sebelum paruh pertandingan. Sorak sorai suporter dari segala penjuru semakin terdengar gaduh memenuhi segala sisi stadion. Luapan kesenangan pun semakin riuh saat pemain PSM mampu mencetak gol penentu kemenangan bagi Tim Ayam Jantan. Pastinya, suasana hati akan cenderung bersemangat dengan kemenangan yang diraih oleh tim yang didukung. Sebuah kebanggaan tersendiri menjadi pendukung sebuah tim. Hanya saja, yang namanya pendukung ya tugasnya memang adalah mendukung, tanpa memedulikan apakah tim menang atau pun kalah. Kalau mau mengatur lebih, silakan sekolah kepelatihan dulu.

img-20190714-wa0004-011739142598955281348.jpeg
Senyum tiga poin di kandang menjamu Bayangkara FC.

Kemenangan tim rupanya berdampak pada kualitas tidur. Sesampainya di Bajiki, saya tak menunggu waktu lama untuk mencari pembaringan. Setelah melakukan koordinasi lanjutan dengan teman-teman yang akan berangkat dini hari nanti, saya pun meletakkan gawai lalu menutup mata hingga terlelap. Paling tidak, lelap selama tiga jam sudah bisa beraktivitas penuh esok harinya.

Pendingin ruangan mulai terasa menjangkitkan dingin ke tubuh saya. Kaki saya rupanya tidak tertutup selimut. Saya meraih gawai di sebelah kiri saya, melepas sambungan listrik karena melihat indikator hijau sudah menyala, tanda baterai sudah penuh. Saya melihat jam, sudah lewat paruh malam sekira dua puluh menitan. Saya bangkit dari pembaringan lalu mengamati notifikasi di gawai saya. Beberapa pesan dan panggilan tak terjawab, semuanya dari teman-teman yang akan ikut trip ke Saukang. Setelah membalas semuanya, saya pun bergegas memilah kelengkapan yang akan saya bawa nantinya.

Satu per satu kawan saya mulai berdatangan. Ada yang ijin lelap sejenak paling tidak sejam. Ada juga yang duduk depan komputer menonton channel youtube. Karena semalam saya belum makan, tak lupa saya menitip makanan pada yang menuju ke titik kumpul. Setelah makan, saya memilih untuk mandi, keringat sepulang stadion masih terasa lengket di badan. Mandi di Jam dua malam memang lebih menyegarkan asal ada tidur cukup sebelumnya. Setelah itu baru memberi kode untuk segera bersiap-siap berangkat.

Perjalanan kali ini lebih enteng sebab tidak lagi merasakan dinginnya udara di dini hari. Kami juga tidak lagi berpacu adrenalin dengan kejaran anjing. Mungkin juga tidak lagi mengganggu lelap warga desa yang kami lalui akibat suara kendaraan yang banyak di sepinya malam. Kali ini kami mengendarai roda empat. Kecuali rombongan lain yang dipandu oleh Accing, sebanyak empat orang, mengendarai dua sepeda motor. Semua sepakat memberi kewenangan pada Aklep untuk menjadi joki. Kami hanya mampir di mini market untuk membeli perbekalan secukupnya. Mengendarai mobil memang sedikit membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. Semua ada kelebihan dan kelemahannya, yang parah jika kita tak bisa menikmati perjalanan tersebut.

Setiba di titik awal pendakian, kami segera menyiapkan peralatan, termasuk mengemas ulang perbekalan agar lebih enteng dibawa. Membawa banyak jinjingan justru terasa lebih berat dan mengganggu keseimbangan dalam pendakian. Briefing kecil dilakukan dalam bentuk lingkaran kecil yang terdiri dari sebelas orang. Semua menyatakan secara fisik sehat dan siap untuk pendakian. Alat penerang pun sudah lebih dari cukup. Salah satu dari kami, Abi Iccang, memimpin doa lalu mulai langkah pertama.

Sepuluh menit pertama, kami memacu langkah lebih cepat dari biasanya. Setelah melewati jalur berbatu lalu tiba di jalan yang lebih landai, kami berhenti sejenak. Rupanya dua kawan kami tertinggal. Setelah dipanggil dan tak ada respon, Aklep meletakkan bawaannya lalu menyusul. Hingga suara aklep seperti samar, ransel juga saya letakkan lalu menyusul. Benar saja, dua kawan kami jauh tertinggal di kaki bukit. Andri yang menemani sengaja tak bersuara agar ada yang menyusul untuk bisa menemani mengambil tindakan atas salah satu kawan yang trouble. Saat kami tiba di peristirahatannya, kawan kami ini mengeluh. Dugaan saya hanya masuk angin sebab tak berselang lama, dia mengeluarkan muntah yang sangat banyak. Saya suruh dia untuk membuka lebar jaketnya agar bisa bernapas dengan baik dan ada sirkulasi udara. Sementara itu, Aklep menutupi muntahnya dengan serasah daun jati.

Dalam sebuah perjalanan, sebut saja hiking atau pun tracking, penting untuk mengetahui kondisi cuaca tujuan dan pakaian yang akan dikenakan. Tidak selamanya kita harus menutup penuh badan dengan jaket pakaian yang tebal. Beda kondisi, beda tindakan. Demikian juga metabolisme tubuh salalu akan meyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada. Pada kondisi yang normal, saya malah memilih menggunakan celana pendek dan kaos tak berlengan. Jika terlalu panas, maka metabolisme tubuh saya cenderung cepat dan itu beresiko pada energi yang terkuras. Pada saat istirahat barulah saya mengenakan jaket, itu pun kondisional, jika terjadi respon lingkungan yang berubah drastis.

Setelah muntah, lalu minum air serta melonggarkan pakaian, berangsur kondisinya membaik. Saya beri sedikit angin surga untuk menyemangati. Saya katakan padanya, biasanya kalau sehabis muntah, kondisi sudah akan membaik.  Begitu yang dialami oleh salah seorang dari kami yang sudah berapa kali ke tempat ini, masih juga tetap muntah. Tapi setelah itu, benar, dia kembali bugar dan melanjutkan perjalanan. Sebuah pertanyaan terlotar darinya, “Apakah masih jauh?”. Dengan lugas kami menjawab, “Ya, masih jauh”. Kemudian ia menyatakan untuk siap melanjutkan perjalanan.

Dua puluh meter beranjak dari posisi awal, dia kembali mengalami keluhan. Katanya, dadanya kembali sakit dan asmanya mulai kambuh. Dia juga mengakui bahwa sebenanrnya perasaannya sudah mulai tidak enak sejak masih di atas motor, saat menuju titik nol pendakian. Sayangnya, dia tidak mengungkapkan perasaannya saat briefing. Mungkin dia takut tinggal sendiri atau juga masih punya harapan yang kuat sebelum betul-betul menyerah dengan jalur. Kali ini tak ada pilihan selain turun ke titik nol. Kami tak mau mengambil banyak risiko. Kami menghubungi kawan lainnya untuk lanjut saja, nanti kami menyusul.

Andri meletakkan ranselnya yang berisi dua semangka besar, lalu turun menemani. Saya dan Aklep duduk di sebuah batu yang cukup besar menunggu Andri. Tak lama, terdengar suara gerakan di antara tumpukan daun-daun kering. Mungkin sapi, anjing, kucing, monyet, srigala, harimau, ayam, cicak, cacing, ular, kuman, entah. Kami pun duduk berhadapan lalu meletakkan penerang di belakang kami masing-masing. Dalam kondisi siaga, sisi belakang lah yang selalu rawan, makanya penerangan lebih diutamakan ke arah belakang kami. Dengan begitu saya dapat mengamati arah belakang Aklep, demikian sebaliknya. Di sisi lain saya juga bisa memastikan apa yang misalnya dilihat oleh Aklep dari reaksi wajahnya, pun sebaliknya. Suara azan pun terdengar, biasanya kami sudah di puncak.

Andri akhirnya datang. Kami memberi sedikit waktu untuk mengatur napas, lalu memastikan apakah kawan yang diantar sudah diperlakukan sesuai prosedur sebelum ditinggalkan. Setelah semua dipastikan aman dan nyaman, kami pun menyusul kawan yang sudah lebih awal mendaki. Kali ini giliran Aklep yang harus menggendong ransel yang berisi semangka itu, senior mah bebas. Iya, senior, hehee.

Dengan langkah yang lebih cepat kami menyusul mereka. Alasan kami cukup kuat, nanti kesiangan dan semua peralatan ibadah saya ada dalam ransel saya yang lebih dulu dibawa oleh mereka tadi. Rupanya mereka sedikit ada masalah juga di jalur, mengambil rute kanan lalu terjebak di hutan bambu duri. Tapi mereka berhasil mengatasinya. Beberaa kawan yang kami lewati memilih beristirahat sejenak. Tri dan Chai yang membawa tas saya juga kewalahan sebelum tangga bambu. Saya akhirnya kembali memunggungkan ransel lalu melanjutkan perjalanan. Om Acil dan Abi Iccang lebih dulu menapaki jalur batu. Mereka sedang asik mendokumentasikan perjalanan. Saya memilih tetap lanjut ke lokasi yang kami sepakati sebelumnya untuk stay menanti matahari menyinari.

Ransel saya letakkan. Saya membiarkan suhu tubuh beradaptasi dengan lingkungan biar lebih seimbang. Memastikan tidak mengeluarkan keringat lagi, saya kemudian mengganti pakaian basah dengan pakaian kering. Angin juga bertiup sedikit lebih kencang, itu yang menjadi alasan pendaki lain, yang berpapasan dengan kami untuk turun, dingin katanya. Satu per satu rombongan kami pun tiba di titik kumpul. Setelah bertayammum, saya menunaikan ibadah dahulu, demikian juga yang lain. Setelah itu baru saling mencocokkan cerita.

Sarapan pagi penuh dusta, seperti sebuah judul buku dari Phutut EA, seakan menjadi tema yang diusung untuk menikmati sarapan yang memang tak biasa ini. Hidup seperti dalam sebuah mimpi, menikmati sarapan yang tak lumrah bagi sobat misquin seperti kami. Bayangkan saja, kami sengaja membawa burger, buah anggur, semangka merah dan kuning, pisang cavendish dan aneka ragam cemilan. Peralatan kopi juga sengaja dibawa untuk sekadar menikmati seporsi espresso di depan terbitnya matahari. Sementara itu, beberapa kawan kami masih belum bergabung. Menikmati perjalanan katanya. Nyatanya, kalau tidak disemangati oleh dua orang perempuan dari grup lain, dia mungkin tak sanggup lagi mengumpulkan tenaga untuk berkumpul dengan kami. Ya, begitulah keajaiban bekerja, semua telah diatur, entah bagaimana caranya.

p_20190714_060922-01653146188044508841.jpeg
Menu sarapan yang tak biasa untuk di gunung.

Semangka memang sangat baik dikonsumsi saat berkegiatan di alam terbuka. Selain vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya, buah ini banyak mengandung air sehingga mampu mencegah laju kehilangan air yang berlebihan. Buah pisang banyak mengandung karbohidrat, sementara buah anggur mengandung antioksidan. Kebutuhan yang sangat pas bersama segarnya udara pagi yang jauh dari polusi. Menatap langsung matahari yang membuka setiap kuncup daun mimosa, mengantarkan uap air melangit membentuk garis-garis samar yang mengagumkan.

dsc00331-016393894958946832176.jpeg
Pagi yang cerah di Saukang.

Tak terasa matahari mulai meninggi dan menyilaukan. Saatnya memberi ruang bebas bagi Sang Raja Siang untuk mengendalikan semesta. Saatnya juga kami harus berkemas untuk pulang. Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Teman-teman yang sudah terbiasa dengan medan yang ada di Saukang pun terasa menemukan arena untuk bermain parkour.

2019_0714_17595900-012616512035720385668.jpeg
Kopi selalu hadir dengan cerita yang berbeda.

Dalam perjalanan pulang, terlihat beberapa teman memanfaatkan waktunya untuk terlelap. Tak lupa kami mampir di Warung Bakso Mas Dodo. Tempat ini memang sudah tidak asing bagi kami. Kami selalu menyempatkan waktu untuk mampir mengisi lambung sepulang berkegiatan di alam terbuka di daerah Patallassang, Gowa. Saya sendiri selalu dengan bakso dan kawan saya selalu lebih banyak menyantap mie ayam. Saya bukan pecinta bakso, tapi dari sekian yang saya makan untuk wilayah Makassar, bakso milik Mas Dodo ini salah satu yang bisa saya rekomendasikan. Sekali waktu, kalian boleh mencobanya.

Sesampainya di Markas Besar Bajiki Store, teman-teman saya lanjut untuk istirahat sejenak. Saya sendiri masih ada agenda untuk bersilaturrahmi di lapangan futsal. Hanya mengambil peralatan yang sudah saya siapkan, lalu menggati isi ransel, saya pun melaju menuju Tamalanrea. Sekali lagi, ini bukan soal olah raga semata sebab dalam hitungan itu, pendakian sudah menjawabnya. Ada nilai yang tetap harus dijaga bersama agar tak luntur oleh kerasnya tuntutan zaman. Dari waktu dua kali enam puluh menit, saya masih mendapat sisa waktu empat puluh lima menit. Itu sudah lebih dari cukup menguras keringat untuk kedua kalinya di pagi ini.

Lagi dan lagi suasana setelah bermain masih lebih riuh. Bahkan inti dari permainan ini sebenarnya setelah bertanding di lapangan. Tidak selesai, lanjut lagi di tempat makan hingga akirnya saya pulang untuk terlelap. Dua hari yang mengesankan, menyajikan banyak kisah, banyak tawa, banyak haru, banyak makan, banyak keringat, banyak rejeki, dan semoga membuat saya selalu banyak bersyukur. Masa depan adalah keniscayaan, bukan untuk dipikirkan tapi untuk dijalani.

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Dua Hari Mengesankan; Susah Senang Kita yang Rasa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s