Sunset to Sunrise; Garam Di Laut, Asam Di Gunung.

Siang itu, setelah tidur untuk kedua kalinya, menjadi Sabtu (22 Juni 2019) yang membuat saya malas beranjak. Pasalnya, beberapa rencana yang telah  tersusun hanya berujung pada sebuah ketikajelasan. Akan tetapi, rasa lapar selalu membuat segalanya berubah. Untuk bisa tetap berpikir logis, logistik memang perlu mendapat perhatian khusus.

Saya kemudian beranjak menuju dapur, mengeksplor setiap potensi logistik tersedia untuk dimanfaatkan. Jadilah saya membuat nasi goreng kepiting di waktu yang tak lazim lagi menikmati nasi goreng, pukul 14.00 Wita.

Hari terasa panas. Itu yang terlihat saat pandang dilempar ke luar jendela. Usai menikmati nasi goreng, saya masih membereskan segala peralatan masak dan makan lalu merapikannya. Demi kenyamanan bersama, sebaiknya memang seperti itu. Nasi yang masih sisa untuk dua porsi, saya rapikan di meja makan lalu menutupnya dengan tudung saji. Siapa tahu nanti ada yang lapar.

Sambil memainkan gawai, mengamati setiap lintasan di beranda lini masa, sebuah panggilan masuk. Kawan saya mengajak untuk ikut bertemu dengan seseorang, menggagas sebuah program,  di sebuah cafe daerah Makassar Barat. Sekalian dia mengajak saya untuk ikut renang, tapi saya kurang tertarik. Kami hanya janjian bertemu di tempat yang telah disepakati.

Saya pun bergegas menuju kamar mandi. Selanjutnya, dengan kaos warna biru navi, jeans abu-abu, tas biru navi berisi termos kopi dan dua pucuk buku, topi perpaduan abu-abu dan merah marun, dan sepatu hitam sedikit warna orange tua di bagian solnya, saya melangkah keluar markas. Yang saya maksud markas adalah Bajiki Store, tempat yang berada di tepi surga yang berisi kumpulan anak muda palsu, ada juga anak muda stok lama. Kira-kira, saya masuk pada kategori yang mana? Ape lu? Dengan sepeda motor, saya pun menuju wilayah Makassar Barat, tepatnya di bilangan Pantai Losari, pantai yang tak lagi berpasir.

Setelah memarkir kendaraan, dan bersenyum sapa gengan tukang parkirnya, saya pun berjalan menuju kapal pinisi yang ada di Anjungan Pantai Losari. Saya memang selalu berupaya untuk berinteraksi dengan petugas parkirnya. Paling tidak, dia kenal saya dan dan kendaraan saya sehingga ada jaminan keamanan lebih. Lebih dari itu, kita masih sama manusia, lahir sama telanjang lalu mati sama bertanah.

Sesampainya di kapal, serasa ada yang bergetar. Di sisi kapal terlihat ada gelembung dan ada suara menderu dari lambung kapal. Motor kapal memang sedang aktif. Sesaat kemudian orang-orang mulai berdatangan. Rupanya ada yang sedang menyewa kapal untuk trip sunset. Sebuah kebetulan yang indah. Lagian, kawan saya janjinya bertemu setelah magrib.

Untuk pelayaran seperti ini, ombak sangat bersahabat. Saya sendiri memilih tempat yang sedikit eksrtim, di ujung haluan kapal yang disebut anjong. Di sana saya bisa rebahan menikmati belaian sepoi angin laut. Maklum lah, jarang dibelai. Trip sunset biasanya hanya mengelilingi pulau Samalona, melewati Pulau Lae-Lae.

dsc09927-011995327082.jpeg
Sunset dari ajnong kapal di perairan Makassar.

Jelang matahari jatuh dalam pelukan malam, saya berpindah ke tiang agung kapal bagian belakang. Pandangan saya lebih luas di atas tiang. Membuat video durasi 14 detik adalah kesukaan saya belakangan ini. Saya sudah menyiapkan beberapa lagu tentang sunset sebagai musik pengiring dalam video tersebut.

Sunset pun berlalu  dan cakrawala tetap indah dengan lagit yang fusia. Saya kembali ke anjong dengan membawa termos kopi. Menikmati kopi dalam hembusan angin laut dan diiringi deburan ombak kecil yang terhempas pada dinding kapal. Seketika itu, kepala terasa terbebas dari segala peristiwa yang kurang positif, lalu menjadikan pikiran lebih ringan, lebih baik.

Tak terasa, kapal kembali berlabuh di peraduannya. Saat perjalanan pulang tadi, saya juga sudah mendapat konfirmasi kalau orang yang dijadwalkan untuk bertemu, tiba-tiba meminta untuk dialihkan ke lain hari, karena ada urusan mendadak yang tak kalah penting. Usai ibadah magrib, saya masih bersantai si atas kapal. Menghabiskan beberapa halaman buku, gawai saya begetar. Sebuah pesan masuk mengajak untuk makan. “Ngesobet yuk!”, begitu bahasa pesan singkatnya. Saya tidak menolak untuk ajakan ini. Selain enak, mudah menemukan rasa yang pas, yang saya istilahkan kalibrasi rasa, tempatnya juga tidak jauh dari posisi saya. Saya pun beranjak sekalian pamit pulang pada kawan-kawan saya di kapal.

p_20190616_210744-01315631454.jpeg
Soto Betawi yang tiada kata yang mewakili selain kepekaan lidah.

Semangkuk soto dengan isi berupa potongan daging pipi dan lidah serta perasan tiga potong jeruk nipis pun saya tuntaska bersama seporsi nasi putih. Berbincang sebentar dan kami harus beranjak untuk memberi kesempatan pengunjung lain. Setelah motor saya starter, saya menyadari kalau bohlam depan saya padam. Jam seperti ini, di malam minggu, sangat padat. Membahayakan diri dan pengguna jalan lainnya jika saya paksakan untuk lanjut. Saya putuskan kembali ke kapal sembari menunggu jalanan cukup lengang.

Seperempat jam menuju tengah malam, saya putuskan beranjak. Hammock saya gulung dan menaruhnya kembali di gudang. Saya pamit untuk kedua kalinya. Dengan temaram lampu jalan dan sinar bulan, saya melaju menuju Markas Besar Bajiki. Hanya Mas Jack yang sedang tak enak badan dan Awil yang tidur kelelahan pada malam itu. Perlu upaya berkali-kali agar salah satu dari mereka agar terbangun membukakan pintu.

Saya menaruh tas dan jaket di meja, menyalakan komputer, membuka channel youtube. Saya lanjut menyeduh kopi biar badan tetap hangat. Tak lama berselang,  terdengar ketukan pintu. Andry rupanya yang datang. Belum sempat duduk dan hanya menaruh kemeja flanelnya di sandaran kursi, saya mengajukan penawaran. “Ke Saukang deh!”, saya berseru. Seperti bedil yang siap kokang, tanpa basa basi dia menjawab, “Ayo, tapi saya pulang dulu ganti kostum”. “Kita berangkat seperti biasa, paling lambat jam tiga”, kata saya. “Oke, saya coba hubungi yang lain”, katanya. Andry pun pulang untuk bersiap-siap. Saya juga segera menyiapkan peralatan seperlunya.

Sebelum waktu yang disepakati untuk berkumpul, semua sudah siap. Sebenarnya, pada kondisi jalan yang sudah lengang, hanya butuh waktu paling lama 30 menit bersepeda motor untuk tiba di jalur pendakian. Hanya saja, kami mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi selama perjalanan. Kami berempat melaju menggunakan dua sepeda motor. Saya bersama Aklep dan Andry bersama Chai.

Selama perjalanan, nyaris tak ada rintangan. Hanya sedikit inseden lucu saat memasuki Desa Benteng Gajah. Sepertinya, deru kendaraan yang melaju dalam hening malam pedesaan membuat anjing kampung curiga dengan keberadaan kami. Atau jangan-jangan ajing itu melhat kami sebagai sesama anjing? hanya anjing yang tahu. Sulit menebak dalam samr, sepertinya ada tiga atau empat ekor anjing  yang mencoba mengejar kami. Laju kendaraan semakin dipicu. Hanya seekor dari mereka yang hampir menggapai kami. Untungnya, laju mesin masih mampu mengalahkan laju anjing. Anti kantuk yang mengejutkan. Mau coba?

Setelah kendaraan terparkir dengan baik, kami pun memastikan kembali segala kelengkapan pendakian, mulai dari kelengkapan individu, hingga kelengkapan tim. Posisi selama pendakian pun kami tentukan lalu berjalan dengan alat penerang masing-masing. Karena masih banyak waktu, ritme pendakian pun kami buat sesantai mungkin.

Di pos empat, kami mendapati beberapa tenda pendaki lain, beberapa yang nyenyak dalam ayunan parasut. Bara perapian meraka masih ada. Sepertinya, belum lama orang terakhir dari mereka urung diri dikalahkan oleh malam. Atau cerita mereka sudah berujung pada diam, entah. Kami hanya melewati dan mencari tempat istirahat sejenak di badian atas. Setelah melewati tangga bambu dan sebuah batu besar, suara azan menggema. Kami bembali beristirahat sembari membiarkan azan usai dikumandangkan. Setelah itu kami melanjutkan langkah yang semakin membutuhkan konsentrasi lebih untuk sampai di tujuan.

Bulu’ Saukang memang bukan gunung, hanya bukit. Tapi, layaknya tempat-tempat ketinggian lainnya, Saukang selalu menyajikan kerinduan untuk datang. Entah sebagai pencarian atau pelarian, atau entah-entah yang lainnya. Sunset dan sunrise di Bulu’ Saukang tidak kalah indahnya di tempat lain, namun demikian, kondisi cuaca juga memiliki peran penting di sini. Saat sunset, matahari jatuh di Laut Sulawesi menyajikan dendang anging mammiri. Saat matahari mulai menyembul medendangkan bulu’ alauna Tempe, garis kontur barisan pegunungan Lompobattang – Bawakaraeng terlihat begitu seksi. Kami pun tak memutuskan untuk sampai ke triangulasi. Kami sudah punya tempat sendiri yang kami anggap pas sebagai tujuan utama dalam perjalanan kali ini.

dsc09115-01168602970.jpeg
Nikmati sajalah.

Setelah sampai, dan meletakkan barang-barang, saya langsung mengganti pakaian yang basah keringat dengan pakaian yang kering. Angin terasa bertindak gigih untuk merasuk ke dalam rongga dada, mungkin hendak mengisi kehampaan. Ada-ada saja tingkah angin. Dalam tempo beberapa menit, saya lalu mengambil kain dan mencari tempat yang cukup datar untuk bersembah sujud padaNya, Yang Maha dari segala.

1561344953905-012079227088.jpeg
Matahari pagi di Saukang.

Sembari menunggu datangnya matahari, kami menyantap cemilan yang kami bawa, sedikit berbagi rezeki dengan semut. Hangat cokelat susu dalam termos tetap awet. Cerita dibuat sedemikian rupa untuk tetap bersambung dan memancing tawa. Toh, tak ada yang mesti dikeluhkan secara berlebih. Hidup kadang tak seserius dengan apa yang kita pikirkan. Sewajarnya sajalah.

dsc09265-011752955209.jpeg
Isi kepala kita memang berbeda. Tapi saya bisa memastikan kalau kita sepakat, ini indah, bukan Mawar atau Melati.

Penantian berujung sumringah. Matahari datang dengan wajah ceria dengan kilau keemasannya. Sang Raja menyapa kami dengan hangat. Kami pun seperti tak kehabisan energi meskipun belum ada yang sempat merasakan tidur sedari malam. Semua menikmati sunrise dengan caranya masing-masing. Mengabadikan beberapa moment untuk pajangan di beranda lini masa. Kopi pun menjadi pilihan untuk diseduh agar cerita semakin kuat.

dsc09235-0193416279.jpeg
Spot yang pas untuk sebuah pagi. Andry, Aklep dan Chay tampak menikmatinya.

Merasa cukup untuk berbagi pagi, kami putuskan untuk berkemas dan pulang sebelum kantuk betul-betul dalam situasi yang tak terkendali. Jalanan masih cukup lengang sehingga fokus masih terjaga.  Sesampai di markas, ketiga kawan saya memutuskan untuk beristirahat. Saya sendiri lanjut ke lapangan futsal. Paling tidak dari 120 menit, saya masih bisa berpeluang main dalam interval 85 menit setelah mengitung waktu tempuh. Toh pemanasan naik dan turun gunung pagiini sudah cukup. Makhluk macam apa saya ini, kata kawan saya setelah memberi keterangan atas keterlambatan yang tak biasanya di lapangan. Berlagak sok kuat, “Push your limit, man!”, kata saya.

dsc09310-0147604844.jpeg
Apalah pagi tanpa kopi, apalah aku tanpa, ah sudahlah.

Selepas main pun tak langsung membubarkan diri. Cerita panjang selalu lebih seru dari permainan mereka, menurut saya. Kebanyakan dari mereka terikat waktu yang melelahkan bekerja dalam sepekan. Tidak seperti saya yang sedikit kerja tapi banyak makannya. Suasana seperti ini mampu memberi hiburan tersendiri bagi kami, itu juga yang membuat jalinan silaturrahmi tetap terjaga dengan baik. Semoga akan terus begitu.

Cerita terus berlanjut dengan menikmati kelapa muda yang dibawa Hayat, kawan saya dari Sinjai. Golok ada dalam kendali tangan kiri saya. Tak cukup sampai di situ, cerita masih berlanjut sambil menyantap mie ayam. Kalau dipikir-pikir, futsal ini hanya alibi olah raga saja. Jumlah kalori yang masuk selalu lebih besar dari yang semestinya terbakar. Tapi itu jauh lebih positif dari pada hanya tinggal bermalasan di kasur menghabiskan jam libur.

Aktivitas yang panjang dan beragam. Bisa saya pastikan kalau saya melewati 24 jam sedari kemarin tidak tertidur. Menyaksikan matahari terbenam di laut lalu matahari terbit di gunung. Asam memang di gunung dan garam memang di laut tapi keringat dimana-mana terasa asin, ketek jadi asam. Whatever-lah, kelak akan menjadi cerita indah pengantar tidur Si Buyung. Terus, mamanya Si Buyung, siapa? Ya tanya sama Si Buyung saja, hehee.

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

10 thoughts on “Sunset to Sunrise; Garam Di Laut, Asam Di Gunung.”

  1. Keren tulisannya, Enal.
    Saya jadi larut seperti ikut dalam petualanganmu dalam 2 hari itu.
    Mulai dari bangun tidur di siang hari sampai minum es kelapa muda.

    Btw, kalo naik kapal di anjungan Pantai Losari untuk berkeliling saja itu bayarnya berapa ya?
    Jadi pengen juga rasaian lihat sunset sambil mengitari laut.

    1. Hehee, terima kasih Kak.
      Untuk trip sunset pinisi biasanya disewa secara berkelompok maksial 30 orang. Jatuhnya 2,5-3 juta rupiah dengan rute mengitari Samalona lalu statis di sunset point.

  2. Wah larut dengan cerita perjalanannya dari menikmati sunset hingga menatap sunrise. Dari mengitari pantai hingga mendaki gunung. Itu pun tanpa rencana sebelumnya. Ada ajakan langsung cuss. Enaknya ya klu hidup masih lajang gitu *eh

    Btw saya juga baru tahu nih di anjungan pantai losari ada kapal yang bisa digunakan untuk berkeliling dan menikmati sunset. Itu tarifnya berapaan ya?

    1. Haaha… lajang lalo, tembang atau katamba agau mairo kek Kak.

      Iye, pinisinya bisa dipakai. Untuk trip sekali jalan per 3 jam. Tarifnya 2,5-3 jutaan. Ringan untuk kelompok dengan maks 30 orang, Kak.

  3. Mantap mentong lihat sunset dari atas kapal,,Tapi belum pernah saya rasakan,,hehe
    baru liat fotonya ajha,apalagi kalau kenyataan mi,, Apa persyaratan biar bisa naik kapalnya bro Enal ..mauta mi juga ikut, 1 kali mho.. 🙂

    1. Harus ikut trip atau jadi bagian tim ekspedisi Daeng, kalau mau rasakan sensasi berlayar. Kalau Sekadar berkunjung, datang saja di Losari hehee

  4. enak memang tulisannya Enal, mengalir sampai tahu-tahu sudah tiba di ujung
    ckckck luar biasa

    dan lebih luar biasa lagi karena belum tidur sudah berani main futsal hahaha
    ampunga saya

    1. Itu karena seringka juga baca tulisanta Daeng, hehee.
      Untuk futsalnya, mauja lihat juga sampai dimana mataku baru berkunang-kunang. Tapi, nda mau ma kalau mau begitu lagi hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s