Hidup Sehat dengan Berkebun

Suatu ketika tatkala saya sedang memainkan gawai, melihat apa saja yang melintas di lini masa Facebook saya. Jari saya berhenti pada sebuah video, saya pun menontonnya. Sebuah animasi yang memarodikan kehidupan yang serba obesitas. Hanya ada satu dari sekian makhluk yang ada bisa bergerak terbang bebas. Seorang anak yang tak sengaja melihat burung tersebut, selalu mengamati aktivitasnya. Anak itu pun punya keinginan untuk terbang layaknya burung kecil tadi. Dia pun merancang sayap yang sepersisi sayap si burung. Hasilnya nihil. Hingga suatu ketika dia terus mengamati apa yang dimakan oleh si burung. Sehari-hari, si burung hanya memakan buah berry. Anak itu pun mengikuti tingkah si burung. Akhirnya, si anak pun bisa terbang dengan sayap buatannya setelah berat badannya menjadi normal. Orang-orang pun mengikutinya.

Dalam konteks kekinian, kita sering diperhadapkan pada kondisi dimana mata lebih cepat merasakan lapar dibanding perut. Cobalah perhatikan saat mendekati waktu berbuka puasa, bagaimana setiap orang menyiapkan menu berbukanya. Atau kecenderungan orang-orang untuk makan di cafe atau restoran yang kadang rasa tak sejalan dengan harga yang harus dibayar. Tapi semua itu pilihan, tiap individu berhak dan bertanggung jawab atas keputusannya sendiri.

Menyadari kondisi tersebut, sebahagian kalangan pun memili jalan berbeda untuk tetap berada pada koridor hidup sehat. Bagi “sobat miskin” seperti saya, sadar akan mahalnya biaya rumah sakit, menjaga kebugaran tubuh adalah pilihan mutlak. Lingkungan dan gaya hidup dalam lingkup pergaulan juga memiliki peran yang besar. Satu-satunya pertahanan terbaik adalah dengan menanamkan dalam diri bahwa sakit itu mahal.

Menurut hemat saya, gaya hidup sehat itu dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni; makanan, pikiran, dan aktivitas. Kita ketahui bersama bahwa makanan lah yang menjadi sumber energi bagi tubuh untuk beraktivitas. Tanpa makan, tubuh akan menjadi lemah dan bahkan mengancam kematian. Segala unsur yang diperlukan oleh sel tubuh untuk tumbuh dan berkembang bersumber dari apa yang masuk dalam mulut kita. Kebutuhan makanan jelas dipengaruhi oleh umur dan aktivitas.

Makanan yang sehat bukan melulu soal berapa nilai rupiah yang terkandung di dalamnya, melainkan bahan apa yang terkandung di dalamnya. Nilai gizi yang berimbang dan tidak adanya kandungan zat berbahaya dalam makanan lah yang sebetulnya mahal. Dari kecil pun kita sudah didoktrin makanan yang empat sehat, lima sempurna. Namun demikian, lidah adalah letak kadar enaknya makanan secara subjektif dan enak bukan berarti sehat.

Bagi saya, makanan yang mahal adalah makanan yang bisa kita siapkan sendiri. Alasannya sederhana, tidak ada orang lain yang bisa melakukannya selain diri kita sendiri. Menyediakan makanan sendiri, kita dapat lebih persisi memilih bahan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan. Mulai dari pemilihan warna bahan makanan, sampai cara memasaknya pun akan menjadi penentu bahwa apa yang kita masak dan makan nantinya dikategorikan sehat.

Pikiran juga menjadi faktor penting dalam bergaya hidup sehat. Seseorang yang cenderung berpikir positif akan terlihat lebih menarik ketimbang yang cenderung berpikir negatif. Berpikir positif terhadap makanan adalah hal uang paling sederhana. Jauh lebih sederhana dibanding memikirkan pekerjaan yang pas atau rupa jodoh kita. Setelah segalanya masuk dalam tubuh kita, pikiran pun mengendalikan siapa kita.

Saya kemudian menduga bahwa salah satu dampak buruk yang ditimbulkan oleh makanan terjadi karena pikiran buruk kita sendiri pada makanan tersebut. Hal yang paling sering kita temui adalah bagaimana orang-orang mengambinghitamkan kambing sebagai sumber kolesterol. Secara rasional, mana mungkin kambing menjadi binatang sembelih saat akikah jika yang didatangkan adalah kemudaratan? Jadi, marilah berprasangka baik terhadap makanan. Apa pun yang kita makan jika tidak sesuai kadarnya lagi makan akan menjadi tidak baik.

Coba lihat kecenderungan orang-orang yang senantiasa menanti datangnya akhir pekan yang kemudian mereka sebut sebagai week end. Tak heran jika waktu itu sangat mereka impikan datangnya di setiap pekan. Atau mari kita perhatikan kebiasaan mahasiswa yang galau skripsi, mereka cenderung menghabiskan waktu di alam terbuka. Alasannya sederhana, refreshing alias penyegaran. Penyegaran yang dimaksudkan di sini tentunya adalah pengendalian atau pemulihan pikiran.

Faktor selanjutnya adalah aktivitas. Coba bayangkan, kita adalah seorang pekerja kantoran yang sepanjang hari duduk di depan komputer lalu pulang dan tidur karena kecapekan. Coba bayangkan, kita adalah seorang mahasisawa yang sehariang di kampus kuliah, lanjut praktikum, dan pulang masih harus mengerjakan laporan hingga larut malam. Apa yang kita rasakan sampai pada jangka waktu tertentu? Kita mungkin akan memiliki nasib seperti bom waktu yang tinggal menunggu untuk meledak. Maka dari itu, sangat penting untuk membagi waktu kita antara bekerja, beristirahat, berolah raga, dan yang penting beribadah. Jika keempat aktivitas tersebut mampu kita tunaikan dengan baik maka ada potensi untuk hidup sehat. Tak heran jika banyak ditemui komunitas-komunitas olah raga sebagai bagian dari upaya hidup sehat.

dsc05480-011685919260.jpeg
Kebun menjadi sarana untuk menenangkan pikiran dengan ragam warna yang ditampilkan.

Sebuah diskusi dengan seorang kawan saya, sambil menimati kopi, membawa kami pada kesimpulan bahwa untuk hidup sehat tidak cukup dengan menjalankan satu faktor saja. Sehat tidak cukup dengan makanan yang sehat dan bergizi saja tanpa mengendalikan pikiran dan tidak pernah berolah raga. Atau berolah raga saja tanpa memerhatikan makanannya. Ketiganya harus berjalan seirama.

dsc03349-011299350664.jpeg
Bahan makanan yang akan kita makan lebih diketahui asal-usulnya.

Lalu apa hubungannya antara berkebun dengan pola hidup sehat? Berkebun dapat mencakup ketiga faktor yang telah dibahas di atas. Melalui berkebun, kita dapat mendekatkan pasar dengan dapur kita. Itu artinya, kesegaran bahan sudah tentu terjamin dan tidak perlu mengeluarkan uang. Berkebun membuat kita mengetahui dengan pasti asal-usul makanan yang kita konsumsi, artinya bahwa kualitas lebih terjamin. Kualitas bahan yang baik sudah pasti berdampakpadaterciptanya makanan yang sehat dan bergizi.

img_20180602_175309-01689047912.jpeg
Seorang pekebun dengan hasil panennya yang segar dan beragam warna.

Berkebun adalah sterss healing yang efektif. Melihat tanaman tumbuh dan berkembang lalu berbunga dan berbuah adalah hal yang membuat pikiran menjadi lebih positif. Melihat aktivitas binatang yang hadir seperti kupu-kupu dan mendengar suara yang lahir dari kicauan burung atau bahkan nyanyian katak adalah penyembuh yang mujarab. Berkebun akan menciptakan lingkungan sekitar menjadi indah dan tenang. Kondisi ini tentunya membuat pikiran kita cenderung menjadi santai dan menyenangkan.

dsc05977-011921854644.jpeg
Seorang pekebun terlihat sumringah di antara mekarnya bunga matahari yang bersinar tanpa menyengat.

Para pakar dari berbagai sumber, telah menyebutkan bahwa berkebun selama satu jam mampu membakar kalori sampai 380, itu setara dengan berhubungan seks selama tiga jam. Setara juga dengan lari selama 30 menit sejauh 2,5 Kilo meter. Jadi, bisa dikatakan bahwa kegiatan berkebun dapat sekaligus menjadi bagian dari olah raga. Dengan demikian, berkebun mampu menyediakan makanan yang sehat, berkebun dapat membuat pikiran lebih positif, dan berkebun dapat menjadi sarana olah raga yang produktif. Jadi, mariki’ berkebun.

dsc01953-01521585979.jpeg
Seorang pekebun yang sedang melakukan perawatan tanaman dengan menyiram. Bayangkan berapa kalori terbakar untuk 20 gembor yang ia tumpahkan.

Sebagai penutup, saya hanya mengajak teman-teman untuk senantiasa membaikkan karena sekali lagi, sehat itu pilihan dan sakit itu mahal. Salah satu pilihan bijak untuk tetap sehat adalah dengan berkebun. Seperti kata, Lindley Karstens, “Berkebun adalah tentang menikmati bau dari sesuatu yang tumbuh di tanah, menjadi kotor tanpa merasa bersalah, dan pada dasarnya meluangkan waktu untuk menyerap sedikit kedamaian dan ketenangan.” Berikut apa yang dikatakan oleh Allan Armitage, “Berkebun benar-benar tidak memungkinkan seseorang untuk menjadi tua secara mental, karena terlalu banyak harapan dan impian yang belum terwujud.”

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Hidup Sehat dengan Berkebun”

  1. Langsung saya ingat kampung baca tulisanta ini kak,,klau di kampung pengen masak sayur sisa petik di samping atau belakang rumah..jarang beli sayur kerna berkebun,,walau ngak luas tapi lumayanlah untuk hemat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s