Lembah Loe; Sebuah Perjalanan Antara Pelarian dan Pencarian.

Pada suatu malam, saya mendapatkan pesan lewat gawai saya yang berisi ajakan untuk ke suatu tempat. Kawan saya, yang sedang menjalani masa off-nya, meyebut Lembah Loe, menjadi tujuan. Saya sendiri butuh penyegaran, sekadar melihat rerumputan segar dengan bening embun di ujung daun kala pagi. Hampir sebulan ini, saya mengarungi lautan dengan biru laut dan langit, pada kegiatan Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa. Karena itu, saya pun menyatakan rindu pada gunung dan rimbun pepohonan. Tanpa tawar, saya iyakan ajakan tersebut.

Peralatan yang sudah lengkap membuat kami tak banyak mencari ini dan itu, tinggal melengkapi apa yang masih kurang. Komunikasi lewat gawai pun bisa menyelesaikan segalanya. Rencana awal, kami akan berangkat di Rabu pagi agar bisa di lokasi kemping sebelum magrib. Dua malam di lokasi adalah waktu yang ideal sehingga bukan pegal semata yang melekat di badan. Kami pun bersepakat untuk bertemu di Markas Besar Bajiki Store, sekaligus merapikan carrier masing-masing.

Kondisi cuaca di Makassar memang sedang kurang bersahabat beberapa hari terakhir. Tapi, kami sudah siap dengan konsekuensi tersebut. Tetap tenang dalam setiap kondisi. Dengan begitu, kita dapat menikmati suasana.

Melihat keseriusan kami menyiapkan peralatan, beberapa kawan mulai terpancing untuk ikut dalam perjalanan ini. Setelah memastikan mereka serius untuk ikut, keberangkatan pun kami tunda ke sore hari. Pada kenyataannya, karena salah satu dari kami berlima masih ada urusan, akhirnya kami baru berangkat sekira pukul 21.00 waktu sektor Bajiki. Karena belum ada yang makan malam, kami pun mampir di sebuah warung nasi goreng Jakarta di bilangan Letjend. Hertasning. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan mengendarai sepeda motor.

1547041783664424295180.jpg
Foto bersama sesaat sebelum berangkat di Markas Besar Bajiki.

Jalanan basah sepanjang yang kami lalui membuat kami harus berhati-hati. Di paruh jalan, kami sempat mendapat hadangan hujan sehingga kami harus menepi dan mengenakan pakaian anti hujan. Mendekati dusun terakhir, malam semakin pekat, udara malam mulai merasuki rongga dada. Lolongan anjing tak dapat dielakkan bahkan ada beberapa yang membuat kami harus tancap gas karena berupaya mengejar. Pukul 01.00 waktu setempat, kami pun tiba di Dusun Bawakaraeng, dusun terakhir dan sebagai titik awal pendakian.

Terdengar suara gesekan antara kusen dengan daun pintu. Seorang lelaki dengan tubuh kecil dan tidak tegap lagi, menyelendangkan sarung lalu mengarahkan sinar senter pada kami. Dia pun mendatangi kami seraya menanyakan tujuan kami. Salah satu dari kami menjawab pertanyaanya, “Iye Ta’, rencana mau naik ke Lembah Loe ini”. Tata’ (sebutan bapak di beberapa wilayah di Makassar) pun menawarkan kami untuk menginap saja, pagi baru mulai pendakian. Di antara kami ada yang mulai tergiur dengan tawaran itu. Setelah berunding dengan memperhatikan segala pertimbangan, kami pun memutuskan untuk menginap di kediaman Tata’. Toh, tak ada hal yang mesti kami kejar sehingga mengharuskan kami jalan malam. Sepeda motor pun kami parkir di bawah kolong rumah atas arahan Tata’, supaya lebih aman, katanya.

Setelah dipersilakan masuk, kami pun membongkar carrier masing-masing untuk mengeluarkan kantong tidur. Oleh Tata’ kami juga sudah digelarkan karpet dan disodorkan beberapa helai sarung serta bantal. Sebelum tidur, kami beberapa alarm sudah disetel pada pukul 05.00 WITA. Selepas salat subuh, kami sudah harus siap untuk jalan.

Rupanya sebelum alarm berbunyi, kami telah mendahuluinya untuk bangun. Tak lupa menunaikan kewajiban subuh, kami pun segera merapikan barang-barang, berikut tempat tidur kami. Tak lama berselang, kami pun disuguhkan gorengan dan kopi hitam oleh Mama’ (Istri Tata’). Beberapa cemilan pun kami sajikan bersamanya untuk memenuhi kebutuhan sarapan. Warna dedaunan pun mulai terlihat, sahutan ayam juga telah meredup berganti kicauan burung. Tali sepatu kami simpul lalu pamit untuk memulai pendakian. Tak lupa kami memberitahukan ulang tujuan dan rencana kepulangan kami. Sebenarnya ada pos lapor yang mengurus administrasi para pendaki, hanya saja kami terlalu pagi untuk berangkat. Belum ada petugas pos di waktu seperti itu.

Jarak pandang belum jauh, namun demikian kami tidak lagi mengenakan penerang. Semburat matahari pun belum tampak. Informasi yang kami dapatkan dari Tata’, bahwa beberapa hari ini selalu hujan saat sore di sekitar Danau Tanralili. Dari perhitungan waktu yang akan kami tempuh, sebelum sore, kami sudah sampai di lokasi kemping dan mendirikan tenda. Suara riak air yang memecah kesunyian menjadi simfoni yang syahdu mengiringi langkah demi langkah, jejak tertinggal.

img_20190204_072905_236123214617.jpg
Karunia Tuhan yang tak ternilai di pagi yang khidmat.

Selalu ada hikmah di setiap kejadian, tergantung dari sudut mana kita melihat, apakah itu angerah atau pelajaran. Melakukan perjalanan di waktu pagi setelah cukup istirahat membuat kami lebih bugar dan berenergi. Kami pun lebih leluasa melihat pijakan yang aman, mengingat jalur pendakian di sini banyak jalur basah dan batu lepas. Tatkala penting, pemandangan pagi yang memukau sepanjang jalur adalah sebuah keniscayaan. Warna daun dan bunga-bungaan yang kontras, curug kecil dan besar, aliran sungai, lebah dan kupu-kupu beterbangan, tarian dan kicauan burung, semuanya melantunkan tasbih atas kebesaran Penciptanya. Melihat semua itu, betapa kecil dan tak berartinya kita di mata Yang Maha Segala.

img_20190125_064701_919370151198.jpg
Sungai, lembah, dan hijau pepohonan adalah karunia Tuhan yang tak terdustakan.

Usai melewati sebuah tenjakan yang cukup menguras energi, sejenak kami singgah untuk mengatur napas, sembari menikmati puisi alam yang terhampar. Sebuah batu besar memuat dua orang dewasa untuk duduk berdampingan seperti sengaja disediakan oleh Tuhan untuk sepasang anak cucu Adam. Pandangan jauh ke ufuk timur melihat matahari datang dengan penuh kasih. Di lembahnya mengalir sungai yang mengantar kehidupan manusia di kota sana. Riaknya bak melodi yang mengiring bunga ilalang menari dengan riangnya. Saya membacakan sebuah puisi milik Sapardi Djoko Damono, “Kita berdua saja duduk. Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput. Kau entah memesan apa. Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras. Kau entah memesan apa. Tapi, kita berdua saja duduk.” Lamunan pun pecah, perjalanan harus kami lanjutkan.

p_20190110_070456-01223101961.jpeg
Pemandangan yang sangat mahal di pagi yang bersahaja.

Sepanjang jalan, secara bergantian mengabadikan momen-momen yang kelak menjadi cerita dari perjalanan kami. Saling menyemangati dengan segala cara juga tak kami lewatkan, termasuk menertawai jika ada yang sudah mulai kelelahan. Ada banyak cara untuk saling memberi motivasi, tergantung dengan siapa kita berinteraksi. Dalam situasi ini, saling menertawai adalah pukulan telak dan bisa membangkitkan semangat.

Dua jam berjalan santai, akhirnya kami tiba di Danau Tanralili. Dua tenda terlihat terpasang di site camp-nya. Beberapa orang di sekitar danau bergantian berpose. Kami melewatinya lalu menyeberangi muara sungai yang berujung di danau. Kami putuskan untuk sejenak beristirahat sembari menikmati cemilan. Dari titik ini, kami masih membutuhkan durasi yang sama untuk sampai di tujuan utama. Di depan, tanjakan curam dengan tipe jalur basah telah menanti. Start pertama yang tentunya menguras tenaga.

15575290199071303177157.jpg
Sejenak bersantai di Danau Tanralili.

Perjalanan pun kami lanjutkan. Melewati jalur ini, alas kaki yang basah tidak bisa dihindarkan, apalagi debit air memang sedang tinggi-tingginya. Lantunan tembang milik U’Camp menjadi penyemangat meninggalkan jejak demi jejak. ” Kita harus melangkah, jangan sampai mengalah lagi, setinggi apa pun rintang. Pandang tajam ke depan, tak perlu kita ragu lagi, karena hidup ini kita yang jalani sendiri. Terus sajalah melangkah.”

Setelah dua tanjakan yang memang menguji mental, kawan saya mulai bertanya-tanya, padahal itu baru bilangan 30 menit perjalanan. Artinya, masih ada 90 menit dengan langkah stabil untuk tiba di site camp. Jalur sebenarnya sudah tidak semenanjak dua tanjakan sebelumnya tapi cenderung naik dengan stabil. Vegetasi yang dilewati juga cenderung monoton, membuat jenuh.

Di sepanjang jalan, kepala saya penuh dengan tanya, “Mengapa ada penanaman pinus di sini? Ini sudah ada study kelayakan atau bagaimana? Apa tidak menjadi ancaman besar terhadap ketersediaan air di masa akan datang? Bukannya sepanjang zona lindung ini adalah kawasan penyangga yang menjadi sumber air untuk menghidupi beberapa kabupaten di bawah sana? Wah, gila ini.” Menanam dan menghijaukan memang adalah upaya yang baik untuk melestarikan bumi dengan segala kehidupan yang ada di atasnya. Tapi, menanam pun perlu memenuhi kaidah yang diawali dengan kajian agar kelak mendatangkan kebaikan, bukan kemudaratan. Entahlah, cukuplah saya memaki diri saya sendiri.

Saya kemudian berjalan di depan. sementara itu, tanya seperti tiada henti. Mungkin mereka sudah lelah. Benar saja, tatkala saya juga merasa cukup lelah, saya duduk di sebuah batu di tanah yang berselimut rumput hijau dan agak lapang. Beberapa ekor sapi menikmati makan siang mereka. Riak air dari kejauhan memanjakan telinga. Lama saya menunggu hingga sempat larut dalam tidur. Saya lantas dikagetkan oleh suara burung yang bermain di dekat saya, seketika suhu tubuh terasa berubah. Kejadian serupa pernah saya alami di Latimijong. Saat itu saya tertinggal oleh teman saya di depan sementara saya juga jauh dari rombongan di belakang, hanya burung yang selalu menemani saya, menuntun saya untuk tetap melangkah. Dari situ saya selalu yakin bahwa Tuhan selalu menjaga orang-orang yang melakukan perjalanan dalam belajar.

Saat saya tersadar, sejenak saya mengamati sekitar, mencoba mendengar ada atau tidak suara dari rekan seperjalanan saya. Tak ada suara yang terdengar. Jangan sampai niatan mereka untuk kembali ke Tanralili direalisasikan. Saya meletakkan carrrier yang tetap saya kenakan lalu berjalan mengikuti rute pulang. Rupanya mereka sedang menikmati lelap di atas sebuah batu. Ada juga yang selonjoran begitu saja di atas rumput. Setelah mereka terbangun, perjalanan pun kami lanjutkan. Perkiraan, setengah jam lagi, kami akan tiba di lokasi tujuan kami.

Akhirnya kami tiba pada sebuah telaga yang di tengahnya ada sebuah batu besar dengan rumput dan sebuah perdu. Di sisi lain telaga terlihat batu yang sepintas terlihat seperti kepala buaya yang hendak muncul di permukaan air. Di tepian telaga masih terlihat rumput menghijau dan kotoran sapi. Dipastikan bahwa telaga ini adalah telaga musiman. Mungkin di bagian terdalam selalu ada air sebab ada liran yang masuk di salah satu sisinya dan keluar di sisi lainnya, tapi luasannya tidak seberapa dibanding saat musim penghujan. Kami putuskan kalau air itu tidak layak dikonsumsi langsung. Jadi, untuk mengambil air kebutuhan konsumsi, baiknya dari aliran yang masuk ke telaga. Sebenarnya lokasi tujuan kami sudah tidak jauh lagi, sekira 200 meter lagi sampai, hanya terhalangi oleh bukit kecil. Dan kami pun bersepakat untuk membangun camp di dekat telaga. Kelebihannya, jika ada badai, kita bisa melipir ke shelter yang dibangun oleh petugas kehutanan, 30 meter dari tempat kami.

dsc05185-01240973860.jpeg
Site camp tempat kami mendirikan tenda.

Observasi pun selesai dilakukan, kondisi aman terkendali. Barang-barang lalu kami keluarkan dari carrier masing-masing. Kelengkapan bersama dikumpul berdasarkan kategorinya, seperti alat masak, bahan makanan belum jadi, bahan makanan jadi, cemilan, dan, bahan minuman. Untuk sementara, kami cukup memasang flysheet untuk antisipasi hujan orografi yang datang akibat kabut jenuh yang sifatnya temporer. Ada yang memasak dan ada yang menjadi peracik kopi. Setelah semuanya siap, kami pun menikmati santap siang yang cukup telat.

Tenda pun kami pasang. Kali ini kami membawa dua tenda. Satu tenda ukuran besar yang mampu menampung kami, lima orang. Tenda lainnya sengaja kami bawa untuk menyimpan peralatan agar kondisi ruang dalam tenda untuk istirahat lebih lapang dan tidak terkesan berantakan. Setelah semuanya rampung, kami pun beristirahat sejenak. Ada yang tidur dalam tenda, ada yang tidur di hammock, ada juga yang tidur di bawah flysheet beralaskan matras. Masing-masing dengan kondisi yang nyaman untuk membaurkan diri dengan alam sekitar.

img_20190115_061032_3681906841245.jpg
Pemandangan telaga dan site camp kami dari atas bukit.

Di sore hari, secara bergantian kabut berarak dari arah timur mengikuti lereng tebing puncak Bawakaraeng dengan bias sinar senja dari arah barat. Menikmati kopi sepertinya adalah tindakan yang tepat. Kali ini, kopi memang menjadi prioritas perbekalan kami. Baik kopi yang siap seduh maupun yang masih dalam bentuk biji sangrai. Tapi dengan alat sederhana yang ada, kami bisa menikmati kopi kapan saja kami inginkan. Bukankah setiap waktu adalah waktu untuk minum kopi? Kalau boleh membangun akronim, maka “kopi” saya panjangkan menjadi, “Kepuasan otentik pembangkit inspirasi”.

img_20190331_100755_380154244552.jpg
Kegiatan eksplorasi untuk melihat-lihat dan mencari temuan yang ada di sekitar.

Kami lalu memutuskan untuk mengeksplorasi beberapa tempat di sekitar, termasuk memastikan tempat yang menjadi tujuan awal kami. Sejenak saya terdiam tatkala memandangi hamparan hijauan yang luas dengan beberapa kali kecil yang airnya mengalir beriak. Beberapa ekor ayam hutan dengan bulu yang cantik bermain bebas. Sungguh karunia Tuhan yang tiada banding. Saya kemudian mengutip apa yang ditulis oleh Syahid Muhammad dalam buku Saddha pada halaman 162, “Hamparan lukisan Tuhan selalu bisa menjadi penyembuh. Alam adalah lautan buku yang berisi rindu-rindu dari Yang Maha Agung, pada hamba-hamba yang sibuk mengurusi isi hatinya. Alam adalah tempat langit doa-doa menggantung, berbuku-buku yang tidak akan pernah usai kita baca. Tempat kita semua belajar, perihal makna yang sering kita lupakan. Bahwa semua yang terjadi pada kita adalah ulah kita sendiri.” Sebuah perjalanan yang beda tipis antara pelarian dengan pencarian. Pelarian dari riuh dan bising kefanaan sekaligus pencarian akan hakikat diri.

img_20190116_001950_5701536755985.jpg
Menikmati keterasingan dalam sepi di Lembah Loe sembari mengucap syukur atas segala nikmat.

Sebelum magrib, kami pun sudah berada di site camp. Mempersiapkan peralatan peneranan lalu bersiap untuk bermunajat padaNya. Selanjutnya, kami kembali berkumpul di bawah flysheet untuk mempersiapkan makan malam. Perlengkapan yang mempertimbangkan rasio orang akan membuat segalanya menjadi lebih efektif dan efisien. Tak butuh waktu lama, nasi, sayur, lauk, dan kopi, nyaris tersaji hampir bersamaan. Selepas makan, kami masih bertahan di bawah shelter parasut sekadar menghabiskan malam hingga dingin menggerogoti tulang. Setelah beberapa porsi kopi ditandaskan dan segala cerita sepertinya sudah mengalami repetisi. Malam pun semakin pekat, tubuh perlu diistirahatkan. Perlengkapan segera kami bereskan lalu masuk dalam tenda.

Seperti hanya lelap sesaat, Terdengar suara dari arah telaga seperti unggas yang sedang bermain. Saya mencoba mengitip dengan membuka sedikit pintu tenda, tiga ekor belibis sedang bermain ditelaga. Tak ingin mengganggu kesenangan mereka atas kehadiran kami, saya biarkan saja hingga ketiganya pergi selepas puas berenang. Semalam, tenda peralatan kami juga sempat dirasuki anjing dan merusak ujung tenda untuk meraik apa yang bisa diraih. Beruntung salah seorang dari kami mendengar dan berusaha menghalaunya lalu memperbaiki susunan perlengkapan agar jauh dari sisi tenda.

Selepas menjalankan ibadah subuh, satu persatu kami mulai bangun. Cuci muka lalu menikmati suasana yang damai. Menggiling dan menyeduh kopi, menghirup kepulan asap dengan aroma yang khas. Pagi yang khidmat di antara lambaian dedaunan dan arakan awan. Bersama dengannya gemericik air dan sahutan ayam hutan. Saya lalu duduk di atas batu di tepi telaga dengan cangkir kopi di genggaman. Berkaca pada bening air. Oh manusia, berapa banyak kejahatan yang kau lihat dalam diri orang lain? Bukankah itu pantulan dari sifat-sifatmu yang terdapat dalam diri mereka? Dalam diri mereka, tampaklah semua dari dirimu; kemunafikan, kejahatan, dan kesombongan. Percayalah, kau tak akan pernah senang menyaksikan kejahatan dalam dirimu sendiri. Jika seperti itu, kau akan membenci dirimu dengan seluruh jiwamu. lalu apa alasanmu untuk tidak saling membaikkan?

1547278466620-011257414041.jpeg
Setiap waktu adalah waktu untuk minum kopi.

Arakan awan datang dengan cepat, setelah kami sarapan yang sekaligus makan siang, kami pun segera membenahi peralatan. Dalam pekatnya kabut, kami mulai berjalan untuk pulang. Sadar waktu salat Jumat tak terkejar, kami pun sempat singgah untuk berteduh sembari melewatkan hujan yang turun cukup deras. Perjalanan pulang terasa lebih santai dengan penurunan dan jalur yang sudah jelas. Sesekali kami hanya mampir untuk membuat video pendek atau sekadar berfoto.

img_20190115_061032_367289250628.jpg
Karena setiap momen penting untuk diabadikan.

Kami pun kembali menurunkan carrier lalu menikmati pemandangan yang tersaji di Danau Tanralili. Beberapa rombongan pendaki pun mulai berdatangan. Dalam Kabut kami melangkah dengan pasti, bertatap salam dengan siapa saja yang kami temui. Biasanya di akhir pekan, Danau Tanralili menjadi ramai dikunjungi. Bahkan setelah kami tiba di Dusun Bawakaraeng, masih banyak grup pendaki yang berdatangan. Kami yang dalam tawa menikmati racikan kopi di sebuah teras rumah merasa senang dan penuh syukur atas kemewahan yang kami dapatkan. Nuansa alam yang tenang dan damai melantunkan melodi yang harmonis.

img_20190204_072905_2381596625218.jpg
Pemandangan yang selalu memukau untuk berlama-lama menikmatinya.

Terima kasih kepada saudara saya, Uccy, Lenka, Syahrul dan Khaerul. Perjalanan yang sangat menyenangkan dan menenangkan. Perjalanan yang penuh tawa dan canda. Semoga masih ada kesempatan untuk hal serupa di perjalanan lain. Semoga kebaikan menjadi milik kita semua. Terima kasih kepada Tata’ dan keluarga yang telah menerima kami serta kepada petugas administrasi pendakian. Tak lupa kepada kawan-kawanku yang hendak ke tempat ini, bertanggungjawablah dengan segala yang kalian bawa dan lakukan. Bantulah bumi untuk senantiasa bersikap baik dengan kehidupan kita semua. Seperti kata Frank Lloyd Wright, “Pelajari alam, cintai alam, tetap dekat dengan alam. Ini tidak akan pernah mengecewakanmu”. Damailah bumi dengan segala isinya. Salam lestari!

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

12 thoughts on “Lembah Loe; Sebuah Perjalanan Antara Pelarian dan Pencarian.”

  1. Asiekk juga perjalanannya..kalau liat foto teman-teman pergi mendaki ,jadi pengen juga,,
    sayangNya saja baru 1 kali pergi beginian.. Saya lebih suka ke ke pantai, hehe
    Apa pun, Nikmatnya keindahan Alam..Biar ngak kerja-kerja terus, kadang kita juga perlu refreshing..

  2. Asyik sekali perjalanannya, bercumbu dengan alam, hal yang sangat saya sukai. Andai masih muda, ah sudahlah…hehehe
    Yuk, kita cintai alam agar demi masa depan bumi yang sehat

  3. Di lembahnya mengalir sungai yang mengantar kehidupan manusia di kota sana.

    Wow … Puitis ta’ Kak Enal 😍

    Dokumentasi perjalanan yang keren, Kak. As usual

  4. Wahh ternyata kalau mau ke lembah Loe lewati Tanralili yah kak, pdhl sy pnh ksna cma smpe di Tanralili, duh jd rindu moment itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s