Hari Bumi Untuk Siapa?; Sebuah Refleksi

April kali ini memang berbeda, diawali dengan suhu panas perseteruan dua kubu calon presiden Indonsia. Lalu menjelang hari pencoblosan, yang semestinya menjadi masa tenang, justru heboh dengan sebuah tontonan. Sebenarnya masih banyak tontonan serupa yang memang cukup menyayat nurani dari sisi kemanusiaan. Tapi, begitulah film dokumenter bekerja dan memberi pengaruh. Bagaimana pun, pembuatnya juga manusia sama dengan kita yang punya sudut pandang tersendiri dalam melihat situasi. Kita pun sebagai khalayak memiliki cara pandang yang sama atau berbeda. Sah-sah saja. Setiap kita, pada suatu kondisi bisa menjadi pelaku dan korban secara bersamaan.

Sudah pada nonton Sexy Killers dan Asimetris? Lupakan sejenak siapa yang ada di belakang cerita itu. Kenyataannya, semakin kesini, kita semakin pandai membicarakan hal-hal besar sehingga kita abai membicarakan hal-hal kecil, nurani kita sendiri. Pertanyaannya, masih kah kita merasa sebagai makhluk bumi? Lalu pentingkah hari bumi untuk diagendakan sebagai ritual tahunan?

Surah Ar-Rum ayat 41, Allah SWT., telah menjelaskan tentang kerusakan di muka bumi ini. Baik kerusakan di daratan maupun di lautan yang terjadi karena ulah tangan manusia.  “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”, (Q.S. Ar-Ruum : 41).

Ayat di atas membawa kita pada kondisi sadar bahwa  kerusakan di bumi adalah konsekuensi logis atas kehadiran manusia di bumi. Karena itu, tak lantas Tuhan membebaskan manusia dari segala tugas untuk menjadi bagian dalam mengendalikan bumi untuk dimanfaatkan. Sayangnya, manusia dengan segala ambisi dan nafsunya, banyak yang lalai akan hal itu. Mungkin saya, salah satunya.

Sedikit melihat ke belakang. Sejak Nelson menyuarakan pidatonya pada tahun 1969, Hari Bumi kemudian dirayakan tahun berikutnya. Waktu yang bertepatan terjadinya musim gugur di belahan bumi utara dan musim semi di belahan bumi selatan, yang jatuh tanggal 22 April, ditetapkan sebagai Hari Bumi. Namun demikian, PBB tetap memiliki waktu yang berbeda, dalam memeringati Hari Bumi.

Delapan tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1962, buku “Silent Spring” karya Rachel Carson, telah banyak menggugah khalayak untuk menunjukkan kepeduliannya pada lingkungan hidup. Setahun menuju usia emas peringatan Hari Bumi, sejauh ini, apa yang kita rasakan? Seperti apa perlakukan kita pada bumi? Apa yang kita berikan pada bumi?

Kalau dipikir-pikir, apa sih pentingnya menjaga bumi saat yang kita hadapi adalah ironi yang kian menoreh pilu di hati? Berimbangkah apa yang kita lakukan dengan tulus ke bumi ini, sementara keberpihakan tak kunjung bersama kita. Perjuangan dalam melestarikan hutan malah sering berbenturan dengan hajat hidup orang-orang di sekitar hutan yang memang seperti tak punya pilihan selain mengandalkan hutan sebagai sumber penghidupan.

Bayangkan saja kebakaran hutan yang selama ini terjadi, yang oleh masyarakat hutan saja belum pernah mengalami sepanjang peradaban yang mereka bangun. Dengan pembakaran, sebanyak 36 juta rupiah per hektar bisa dihemat untuk biaya pembebasan lahan dan pembersihan lahan.  Sementara itu, teror kebakaran membuat masyarakat sekitar hutan kian terusik. Kebakaran hutan memusnahkan apa saja, baik tumbuhan atau pun binatang yang ada di dalamnya. Karet alam, rotan, dan bambu, musnah. Keadaan masyarakat kian terhimpit dan mau tidak mau merelakan tanah mereka.

Dalam beberapa kasus pun, upaya membaikkan bumi hanya sebatas cerita di hari seremonialnya. Di Indonesia misalnya, sudah berapa tahun upaya penanaman pohon dilakukan, bahkan diperingati sebagai hari menanam pohon, lantas bagaimana hasil dari penanaman itu? Hampir setiap pelaksana sekadar bekerja menggugurkan kewajiban sebagai tumbal dari kata efektivitas dan efisiensi. Nyaris semuanya hanya mengejar nilai-nilai baik yang tertera pada sebuah laporan akhir.

Belum lagi kita berbicara dengan kondisi laut yang selama ini begitu sabar menampung segala sampah dari aktivitas konsumtif manusia. Belum lagi kita mengurai seperti apa rupa udara yang kita hirup. Belum lagi air yang merupakan bagian terbesar dari sel kita, menjadi sesuatu yang berbayar.

Terus, apa yang bisa kita rencanakan untuk peringatan Hari Bumi nanti? Apa kita tak kuasa lagi melawan ketidakberdayaan kita sendiri? Toh kita hidup hanya menunggu kematian yang entah apa yang menjadi penyebabnya. Makanan yang kita makan adalah kontaminasi pestisida yang menumpuk menjadi residu dalam tubuh. Kita makan ikan dan hewan-hewan lainnya yang dalam tubuhnya menumpuk senyawa mikro plastik. Kita bernapas dengan udara yang membawa particulate matter (PM. 2,5) yang tetap bisa menembus masker dan dapat berbentuk gas.

Cerita pilu datang dari kawanku di Temanggung. Kawanku yang seorang perempuan, menggunakan nama latin dari Edelweis Jawa sebagai identitas dunia mayanya ini, memang banyak menghabiskan masa kecilnya di Gunung Prau dan sekitarnya. Jujur saja, Prau memang merupakan tempat yang memanjakan untuk menikmati sunset dan sunrise. Akses menuju puncak prau memang tidaklah sulit sehingga ini menjadi faktor kedua orang-orang ramai menjamahnya. Selain itu, pilihan wisata di kawasan Dieng menjadi setali tiga uang jika memilih Prau untuk menghabiskan waktu.

Suatu waktu, kawanku sedang melakukan perjalanan ke wilayah lereng timur Prau yang memang dekat dari kediamannya, saya menitip untuk difotokan bunga daisy jika sedang bermekaran. “Jangan tanyakan bunga itu”, jawabnya spontan. Perlahan kawan saya meluapkan kegundahannya dengan konsdisi Prau yang sekarang. Campsite semakin merambah ke savana yang merupakan habitat asli bunga daisy serta bunga-bunga lainnya. Tegakan pohon semakin berkurang, semak seolah menjadi ruang langka untuk merayakan hak demokratis yang sesungguhnya. Beruntung habitat jenis yang saya kira tak perlu saya beberkan di sini, masih aman. Tapi, mungkin hanya menunggu waktu saja untuk mengikuti daisy. Sampai pada hari ini, dari pembahasan yang alot, Prau hanya memiliki masa rehat hanya antara Januari hingga Maret, itu pun masih ada yang melanggar untuk menaikkan pendaki. Waktu selama itu pun sebenarnya masih sangat kurang, belum lagi dihadapkan pada kondisi fisik lapangan, apa ada hujan atau tidak. Tapi, begitulah tabiat manusia, tak pernah merasa cukup.

Jadi, bagaimana wahai sahabat miskinku? Masih kah kita memedulikan pemanasan global saat para penguasa tetap asik dengan suhu sejuk dari air conditioner? Tapi, kalau kita tidak berbuat, kita bisa apa sahabat miskinku? Setidaknya, kita telah memiliki catatan-catatan untuk kita suarakan pada yang kelak memimpin negara tercinta ini.

Kalau kita renungkan, alam raya ini sesungguhnya bisa menampung dan memenuhi segala kebutuhan manusia. Kuncinya hanya pada kata “cukup”. Bukankah tindakan yang digalakkan oleh penggiat permakultur adalah tiruan atas apa yang ada di hutan rimba? Bukankah aktivitas bercocok tanam secara polikultur mampu menekan risiko kehilangan hasil pada suatu lahan? Bukankah peningkatan produksi pada suatu lahan pertanian, juga diikuti oleh penggunaan biaya tambahan yang lebih, sehingga pada hasil akhir pembukuan tidak ada juga peningkatan yang signifikan?

Lalu bagaimana kita mengambil peran wahai sahabat miskin ku? Apakah cukup berpangku tangan menyaksikan yang ada sambil menunggu waktu untuk mati? Jangan sampai. Bukankah sebaik-baik dari kita adalah yang punya manfaat? “Sesungguhnya Allah beserta  orang-orang yang bertaqwa  dan  orang-orang    yang berbuat kebaikan”,    (Q.S. Al-Nahl 16:128). Kita tak punya banyak harta untuk disedekahkan. Membaikkan bumi pun merupakan jalan untuk kita bersedekah. Menanam pohon yang kemudian menghasilkan oksigen, juga adalah jalan sedekah. Tinggal bagaimana mengambil peran di dalamnya.

Paling tidak, kita masih bisa melihat orang Boti di Nusa Tenggara sana dengan rambut berkilau dari minyak kelapa. Paling tidak honje masih bisa ditemukan dengan mudah sehingga orang Badui Dalam juga tidak pusing untuk membeli sampo jika hendak mencuci rambut. Ataukah habitat sagu tetap terpelihara di Merauke sana sehingga masyarakat Suku Malind tidak perlu pusing dengan urusan nasi di meja saji. Toh, pangan tak melulu soal beras.

Negara sebenarnya telah mengatur sedemikian rupa melalui undang-undang. Dalam Pasal 5 UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, disebutkan hak masyarakat antara lain. (1) Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. (2) Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. (3) Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 6 menyebutkan tentang kewajiban terhadap lingkungan, : (1) Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan. (2) Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup.

Sampai pada urusan perekonomian pun tidak lepas dari wawasan lingkungan. ”Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional” (UUD 1945 Pasal 33 Ayat 4).

Saya kira tak ada yang sia-sia sebagai upaya dalam membaikkan bumi. Terlepas dari rangkaian kejadian yang seolah masa bodoh dengan kita. Tapi, kita juga bisa bertindak masa bodoh untuk terus berupaya membaikkan bumi di saat yang lain terpasung dalam pahaman yang skeptis. Sebagian mungkin menyebutka bahwa “every day is earth day”, itu sah-sah saja karena memang sehari-hari kita adalah kebumian meskipun kadang pikiran begitu melangit. Tapi kadang kita butuh sebuah momentum dan tak ada salahnya melihat itu di  tanggal 22 April, tiap tahunnya.

Hari Bumi bukan untuk siapa-siapa tapi untuk kita. Membaikkan bumi adalah tugas kekhalifaan kita. Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

10 thoughts on “Hari Bumi Untuk Siapa?; Sebuah Refleksi”

      1. Dlm buku panduan umat islam telah disebutkan bahwa manusia memang akan berbuat kerusakan di muka bumi, trbukti dgn kerusakan2 lingkungan yg kita jumpai saat ini,
        waktux bergerak untuk mereka yg peduli trhp lingk, dan waktux untuk menepuk pundak mereka yg terlupa kepada lingk.

  1. Hari bumi memang untuk manusia. Karena bumi bisa memperbaiki dirinya sendiri (dengan seisin-Nya tentu saja) tanpa bantuan manusia. Yang masalahnya dalam proses memperbaiki dirinya itu, apa kita manusia bisa tetap ada? 😊

  2. Tulisan yang menginspirasi sekali kak sekaligus menyentil pembaca untuk sadar akan tugas kekhalifaannya menjaga bumi. Tentu ini menjadi refleksi kita bersama.
    Jleb banget dengan quote penutupnya “hari Bumi bukan untuk siapa-siapa tapi untuk kita. Membaikkan bumi adalah tugas kekhalifaan kita”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s