Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa; Ritual Injak Piring Di Sorong

Kamis 14 Februari 2019, pukul 20.20 WIT, KLM. Pinisi Pusaka Indonesia telah memasuki perairan Sorong, Papua Barat. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat membuat kami hanya lego jangkar di tempat yang lebih teduh. Beberapa kapal pun terlihat melakukan hal yang sama. Malam yang dingin dan hujan membuat aktivitas kami menjadi tak banyak. Sehubungan besok sudah ada agenda yang menanti, ada baiknya waktu kami manfaatkan untuk beristirahat. Namun demikian, tetap ada di antara kami yang berjaga.

Setelah matahari mulai terlihat dan sudah ada hubungan komunikasi dengan tim darat, sekira pukul enam pagi, Pinisi Bakti Nusa merapat ke dermaga perikanan Kota Sorong. Seperti biasa, sesampainya di sebuah dermaga, membersihkan kapal adalah kegiatan yang rutin termasuk merapikan segala ruang, terutama ruang tidur. Karena bisa saja ruang tidur akan jadi ruang kelas saat open ship dilakukan. Di sisi lain secara bergantian kami mandi, mahfum, hanya ada satu kamar mandi. Hinga akhirnya, panggilan pun tiba.

DSC06326
Tari penyambutan untuk menyambut kedatangan tim Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa.

Dengan kaos yang seragam, kami melangkah menelusuri dermaga di bawah terik matahari pagi Kota Sorong. Sekira 200 meter kami melangkah, kami pun tiba di sebuah gedung yang juga tampak seperti restoran. Namun sebelum memasuki gedung tersebut, kami pun disuguhi tarian penyambutan khas Papua Barat.  Prosesi penerimaan pun dilakukan dengan tradisi menginjak piring. Kami cukup diwakili oleh koordinator tim, yakni Bang Ade. Tradisi ini biasanya dilakukan pada seseorang yang lama baru datang. Tradisi ini dipercaya sebagai bentung penyucian jiwa dari roh-roh jahat yang dibawa dari luar. Tujuan tradisi ini adalah agar orang tersebut terhindar dari gangguan apapun yang bersifat mistis, serta tidak membawa pengaruh buruk atas kedatangannya.

DSC06345
Tradisi Injak Piring sebagai bentuk penyucian jiwa dari pengaruh roh jahat.

Sebuah spanduk bertemakan “Sosialisasi dan Dialog Masyarakat Kelautan dan Perikanan Papua Barat”, membentang di jendela arah matahari datang. Di bagian atas spanduk tersebut berjejer beberapa institusi yang dari kiri ke kanan adalah USAID, Iskindo, Yayasan Makassar Skalia, Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa, Pemerintah Kota Sorong, Pemerintah Papua Barat, dan Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Saat memasuki ruangan, kami pun langsung dipandu untuk mengambil tempat duduk bersama dengan para undangan lainnya. Sesaat setelah master of ceremony membuka acara, para hadirin pun disilakan berdiri. Seorang perempuan kemudian memandu kami menyayikan lagu Indonesia Raya. Lagi-lagi saya emosional menyanyikan lagu ini hingga suara seperti sedu sedan dan sempat menitihkan air mata. Gemetar seluruh badan saya kala itu. Sebuah kesyukuran bagi saya telah bisa sampai di Papua. Dengan demikian, tinggal Kalimantan yang belum menjadikan saya Indonesia seutuhnya.

DSC06365
Susana sesaat kegiatan sosialisasi dilangsungkan

Bapak Same Konjol, selaku Dewan Pimpinan Wilayah Iskindo Papua Barat, sekaligus mewakili pemerintah, dalam hal ini Dinas Perikanan Papua Barat, mengutarakan ucapan terima kasihnya atas persinggahan yang dilakukan oleh tim Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa ini. Semoga bisa memberi kontribusi positif bagi kelangsungan perikanan Papua Barat. Disambut oleh Pak Abdi dari Iskindo pusat sekaligus  ketua Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa, bahwa Sorong sudah menjadi titik ke-19 dengan rute mencapai 2.000 mil ini akan mencatat semua isu dan masukan dari berbagai daerah untuk dijadikan resume dan rekomendasi bagi pemerintah dalam hal ini presiden terpilih nantinya. Dari resume itu, pemerintah bisa lebih mudah dalam merumuskan masalah dan pemecahannya untuk menguatkan sektor maritim.

p_20190215_101413135398302.jpg
Bapak Same Konjol memberi sambutan dan menandai forum dimulai.

Anggota DPRD, Kota Sorong, Bapak Syamsuddin mengungkapkan bahwa kedatangannya dalam forum seperti mendapatkan energi tambahan untuk bergabung dalam mewujudkan kesatuan bangsa. Sebagai generasi penerus, kita harus berani mengambil alih masa depan bangsa dengan tanpa pandang bulu. Untuk itu, komitmen untuk menyatukan rantai-rantai  kesatuan negeri perlu ditinjau dari seberapa besar rasa peduli yang dimiliki anak bangsa.

Dalam sesi pertama, Tokoh Masyarakat Papua Barat yang juga duduk di Komisi IV DPRRI, Bapak Robert J. Kardinal, mulai bercerita bahwa, Sorong adalah kota yang dulunya dihuni oleh Belanda. Masih banyak peninggalan yang bisa ditemui. Berangkat dari potensi yang dimiliki, Papua sudah selayaknya memiliki bandara internasional. Dari segi maritim, potensi tuna yang diekspor dari Sorong mampu mencapai 100 container per tahun. Di sisi lain, sulitnya akses pengurusan izin perikanan hanya menghabiskan modal untuk melaut. Dari segi pariwisata dan lingkungan, sudah saatnya para pengelola pariwisata menyiapkan mooring bagi kapal yang mengangkut wisatawan. Lebih dari 17.000 wisatawan domestik dan macanegara yang datang ke Raja Ampat. Lebih kurang 200 kapal melakukan lego jangkar tiap bulannya, itu akan merusak berapa terumbu karang? Sementara itu, Sorong dan Waisai dinobatkan sebagai kota terkotor. Hal-hal seperti inilah yang masihharus diperjuangkan tindakan pemecahannya, pungkasnya.

Politeknik Ilmu Kelautan dan Perikanan Sorong melalui direkturnya, Ibu Endang, telah menyatakan sikap untuk “No Plastics” dalam lingkup kampus mereka. Hal ini dilandasi oleh banyaknya biota laut yang sudah mulai terkontaminasi dengan mikro plastik. Untuk itu, sangat diperlukan sebuah forum di Kota Sorong yang berkomitmen terhadap sampah plastik. Forum yang bukan sekadar seremonial tapi lebih ke forum yang sifatnya fungsional dan berkelanjutan.

Sebagaimana yang dibahasakan oleh Pak Abdi, bahwa 27% dari 9% penduduk miskin Indonesia berada di kawansan pesisir. Hal ini dilanjutkan oleh Pak Aris dari KKP bahwa sejauh ini, KKP mempunyai tiga visi utama, yaitu kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan. Langkah yang real dil;akukan sejauh ini adalah pembersihan kapal asing yang menangkap ikan di perairan Indonesia, melalui satgas 115. Terkait keberlanjutan dan kesejahteraan, KKP senantiasa melakukan pendataan alat tangkap yang cenderung digunakan masyarakat. Upaya perlindungan biota laut juga dituangkan dalam beberapa program seperti pembatasan ukuran tangkap. Program pemberdayaan juga dilakukan dalam bentuk bantuan kapal melalui koperasi. Masalah perizinan memang masih menjadi polemik karena ada beberapa nelayan yang masih tidak jujur dalam pelaporan.

Kris Rotinsulu, dari USAID, mengungkapkan bahwa perlu sebuah rekomendasi kepada pemerintah agar isu-isu kelautan lebih terkenal, terutama masalah sampah plastik. Kepada tiap kapal pun sebaiknya diberlakukan sebuah sistem yang mengatur agar sampah yang mereka hasilkan diturunkan di pelabuhan bersamaan dengan pelaporan dan sampahnya sudah terpilah. Perlu juga dilakukan penyuluhan yang lebih terkait tertib sampah.

Pembahasan sangat menarik dan para peserta semakin menikmati suguhan data dan wacana yang berkembang dalam forum. Hanya saja waktu jumat yang semakin mendekat sehingga forum untuk sesi pertama ditutup dan akan dilanjutkan untuk pembahasan topik yang berbeda setelah jumatan. Pada kesempatan ini juga dilakukan pelantikan pengurus DPW Iskindo Papua Barat.

Pada sesi kedua, pembahasan lebih difokuskan pada pengelolaan sampah. Bapak Heri Yusamandra, dari Misool Foundation, sekaligus inisiator Bank Sampah di Sorong menyebutkan bahwa, upaya pembentukan bank sampah tidak lain karena adanya pengaduan terhadap sampah yang ada di laut saat menyelam. Sorong sendiri berpopulasi 260.000 jiwa hanya memiliki 36 tempat pembuangan sampah. Bank sampah adalah rekayasa sosial untuk bentindak nyata dalam pemecahan masalah tersebut. Sejauh ini, sekora 5000 orang telah menjadi bagian dari Bank Sampah Sorong Raya. Secara ekonomi, bank sampah tidak bisa dipandang sebelah mata. Omset Bank Sampah Sorong Raya mampu mencapai 150 juta per bulan yang dikelola oleh 72 unit pengolahan sampah.

Pak Abdi melanjutkan bahwa sejauh ini kegiatan nasional aksi bersih sampah masih belum maksimal. Sampah sendiri kemudian menjadi hal yang potensial dalam membuka kerjasama dengan berbagai pihak untuk kelestarian lingkungan. Hanya saja, perlu edukasi yang lebih efektif kepada masayarakat sehingga mampu memahami apa yang menjadi dampak buruk terhadap sampah.

Terlepas dari predikat Sorong dan Waisai sebagai kota terkotor, Bang Ade mengatakan bahwa salah satu dampak buruk dari berkembangnya global tourism adalah sampah yang ditimbulkan. Paling tidak, di Sorong telah ada wadah yang siap menadah sampah meskipun masih spesifik. Tinggal bagaimana membangun koneksi dengan baik antara pengelola wisatawan dengan bank sampah. Lebih bagus lagi kalau pemerintah memberi dukungan penuh melalui kebijakan.

Secara keseluruhan, kita sudah bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa sampah memang menjadi masalah yang mau tidak mau harus diselesaikan bersama. Bukan pemerintah saja atau bukan bank sampah saja. Budaya positif untuk hidup bersih dan ramah lingkungan perlu digalakkan secara bersama untuk menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat. Kerjasama antar setiap stakeholder sangat diperlukan. Hanya itu yang bisa mengangkat dan mengilaukan kembali mutiara yang hilang.

DSC06497
Dengan pinisi, para relawan sampah menuju Pulau Buaya untuk aksi bersih pantai.

Saya kemudian teringat pada sistem yang dikembangkan oleh teman-teman yang akti di kajian water sensitive cities. Pelibatan stakeholder disebutkan dengan istilah pentahelix synergi. Jadi ada lima komponen yang secara bersama membangun sebuah sistem untuk mewujudkan tujuan bersama.  Kelima unsur tersebut adalah akademisi, pebisnis, pemerintah, komunitas, dan media.

Para akademisi tentunya dengan pendekatan ilmiah mampu membuat sebuah rumusan yang bisa diaplikasikan secara sederhana dan sifatnya local genius. Sementara itu, para pebisnis memiliki peran penting dalam membangun usaha yang sehat, kaitannya dengan sistem pengelolaan sampah. Pemerintah mengambil fungsi sebagai regulator sekaligus menyusun kebijakan yang sifatnya instruksional (top down). Sementara itu, komunitas mengambil bagian yang lebih dekat dengan masayarakat. Komunitas membangun sistem yang sifatnya bottom up. Madia yang kemudian melakukan blow up kepada masyarakat lebih luas akan perubahan dan dampak positif yang dihasilkan.

Kegiatan kami tidak sampai di forum saja. Keesokan harinya, Sabtu 16 Februari 2019, kami bersama mahasiswa dari beberapa kampus serta dari Bank Sampah Sorong Raya dan masyarakat Pulau Buaya,  melakukan aksi bersih pantai di Pulau Buaya. Dalam aksi tersebut, kami berhasil mengumpulkan 200 kg sampah plastik yang telah dipisashkan berdasarkan enam kategori. Enam kategori tersebut adalah plastik gelas, botol plastik bening, botol plastik warna, botol kemasan, kaleng, dan lain-lain. Kegiatan di Pulau Buaya diparalelkan dengan “Lokakarya dan Kampanye Pencegahan Destructive Fishing”.

DSC06687
Suasana Lokakarya dan Kampanye Pencegahan Destructive Fishing di Pulau Buaya.
DSC06557
Pak Abdi dari Iskindo Pusat juga turun tangan dalam kegiatan aksi bersih pantai.

Di penghujung waktu kami di Sorong, kami juga menyempatkan bertandang ke lokasi pengolahan sampah yang dikelola oleh Bank Sampah Sorong Raya. Gadis kelahiran Jakarta yang awalnya hanya ingin mengembara jauh dari rumahnya lah yang mendampingi kami dan menjelaskan setiap tahapan dari aktivitas yang ada di bank sampah. Anggun, menjelaskan bahwa target setiap minggunya adalah sebanyak 10 ton sampah plastik dikumpulkan dari seluruh unit. Pada jenis sampah tersebut akan diolah berdasarkan permintaan dari Surabaya. Setiap bulannya, Bank Sampah Sorong Raya mampu mengirim 1 – 2 container atau setara 20 –  40 ton. “Yah, harus diakui, bank sampah masih secara spesifik menerima sampah yang masuk. Untuk sampah organik, sejauh ini tetap diberikan penyuluhan pada masyarakat. Sampah anorgasnik pun belum sepenuhnya bisa ditangani, hanya sesuai dengan jenis yang diminta. Secara bertahaplah kita aka menuju ke sana”, kata perempuan cekatan yang doyang keluar masuk hutan ini.

DSC07039
Jenis sampah plastik yang dikelola oleh Bank Sampah Sorong Raya.
DSC07041
Para sailor terlihat interaktif dengan salah satu volunteer di Bank Sampah Sorong Raya.

Sepakat. Perubahan bukan hanya lahir dari kegiatan besar yang dilakukan secara perseorangan. Perubahan kadang lahir dari kegiatan kecil yang dilakukan secara komunal. Tindakan komunal akan memungkinkan dilakukan jika setiap individu memulainya dengan baik lalu memengaruhi orang-orang di sekitar untuk mengikutinya dan seterusnya. Mari menjadi bagian dari perubahan tersebut dengan membiasakan diri untuk menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian alam sekitar. Avignam jagad samagram.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

16 thoughts on “Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa; Ritual Injak Piring Di Sorong”

  1. entah kenapa yah, lagu Indonesia Raya itu, biar berkali-kali kita nyanyikan tetap saja mengundang haru dan hangat dada setiap menyanyikannya.. semoga ekspedisi ini terus berlanjut dan menyadarkan orang untuk menjaga kebersihan pantai.

  2. Menyanyikan lagu Indonesia, di tempat lain apalagi kalau jauh dari tempat tinggal, rasanya memang membuat emosional dan mendadak melancholy.
    Persoalan sampah memang telah menjadi masalah yg serius, setelah di darat, kini sampah jg bermigrasi ke laut. Mungkinkah di masa depan Indonesia juga mengambil langkah Zero waste seperti di Jepang?

  3. Dimana-mana sampah momok bagi negara dan masyarakatnya. Saya salut dengan kerja cerdas pak Dani Pomanto yang telah mendistribusikan sampah dari rumah ke tempat pembuangan akhir, namun saya belum tahu bagaiman proses pengolahannya. Semoga Sorong juga bisa mengatasi sampahnya.

    1. Sy suka dan dukung sekali kegiatannya dalam menjaga kebersihan lingkungan.

      Juga, setiap kali baca artikel di sini serasa baca novel tereliye. Kaka salah satu tereliye lovers yah? 😀

  4. … saya sepakat dengan kata2 ini di akhir tulisan:
    “Perubahan kadang lahir dari kegiatan kecil yang dilakukan secara komunal…”

    apalagi kalau dikerjakan secara konsisten, terus menerus, tentu dampaknya akan besar. Bukan saja membangun kepercayaan dan kebanggaan diri sendiri, tapi juga akan memberi efek positif ke masyarakat sekitar.

    makasih sharingnya Enal…. selalu cemburu saya setiap ke blog ini.

  5. Pantes ya di Waisai Raja Ampat berlabuhnya cuma sebentar ternyata penyambutannya di Kota Sorong ini toh..

    Ups. Baru tahu kota sorong terkenal sebagai kota Kotor tapi yah semoga dengan kehadiran Bank Sampah Raya ini sampah2 yang ada di Kota Sorong bisa dikelola dengan baik sehingga tidak dijuluki lagi sebagai kota kotor

  6. Mantapnya bisa dapat lihat langsung penari Papua depan mata. dari dulu kalau saya cuma pernah liat di TV ajha..
    Bikin terpesona tarian sambutan dari masyarakat di sana..Baru liat fotonya sudah Ok bnget..apalagi kalau bisa liat video ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s