Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa; Menyuji Pulau Surga Di Timur Indonesia

Selasa (12 Februari 2019), sekira pukul 15.02 WIT, KLM. Pinisi Pusaka Indonesia, melanjutkan ekspedisinya menuju titik timur Indonesia, di wilayah Papua. Sambil menunggu matahari menjadi lebih teduh, menikmati kopi sambil selonjoran di sisi kiri kapal adalah pilihan yang tepat. Sisi kiri kala itu menjadi sisi yang teduh dari paparan matahari yang mulai condong ke barat. Tatkala langit mulai menjingga, bersantai di bagian buritan adalah penggalauan sempurna. Sekadar duduk bersandar di bangku panjang atau mengikat tali hammock lalu rebahan adalah dua cara yang indah mengantar matahari untuk pulang.

p_20190212_183804_11213359552.jpg
Mas Gentur, Sailor dari Jogja, sedang menikmati senja di laut Halmahera.

Hari menjadi gelap dan selanjutnya tak banyak yang dilakukan selain makan dan istirahat. Hingga pagi datang menyapa, langit terlihat teduh dengan mega yang menggantung di laut Halmahera. Arah angin yang mendukung membuat kami membuka beberapa layar, kecuali kedua ‘tampasere’, semua ‘sombala’ dan ‘coccoro’ kami buka. Rute kali ini memang cenderung terlindung karena jalur diapit oleh pulau pesar Halmahera dan pulau-pulau kecilnya di sisi barat.

p_20190213_091004-01925189345.jpeg
Skipper Irdham masih terlihat tenang meski badai sudah di depan mata.

Kondisi kemudian berubah setelah memasuki paruh hari. Gerimis datang menyapa disertai angin yang kurang menguntungkan dalam posisi dan arah laju kapal. Saya kala itu sedang melangsungkan ibadah duhur pun hampir oleng dengan gerak tiba-tiba kapal. Terdengar dari suara megaphone untuk menurunkan layar. Hanya sempat memanjatkan doa sapu jagad, lepas sarung lalu lari ke bagian haluan kapal.

Bersama dengan kawan lainnya sudah dalam posisi masing-masing, kali ini saya pun berada di posisi paling ujung di depan (anjong) kapal. Gelombang yang tinggi membuat kapal menukik tajam lalu disusul dengan gaya balasan. Serasa menaiki rolling coaster. Kedua tangan saya eratkan pegangannya pada tali sling layar. Kedua kaki saya kaitkan di balok anjong. Sempat berteriak keras ketika kaki saya mulai menyentuh air laut.

Sesekali terdengar suara seperti retakan, suara seperti itu memang lumrah pada kapal kayu yang menggunakan pasak kayu sebagai penyambung tiap bagian. Saya akui, itulah situasi yang sangat menegangkan selama saya mengikuti pelayaran. Kalau pegangan tidak mencengkram kuat, bisa saja saya terlontar jauh dari kapal lalu ditelan ombak. Arah pandang juga perlu dikondisikan dalam situasi seperti ini. Bagaimana pun, kontrol selalu ada di kepala. Saat situasinya menukik ke bawah, lepaskan arah pandang ke atas dan segera balas kala situasinya berubah. Hal seperti itu akan membuat kita lebih fokus pada pegangan dan menghindari gaya tolak oleh tubuh secara refleks.

Badai pasti berlalu. Hari ini akan menjadi kenangan yang membuat tersipu kala secangkir kopi panas kau hidangkan kala di penghujung hari. Cuaca berubah, umpan popping raib oleh ikan apa, tak ada yang tahu, yang pasti bukan ikan kaleng. Perairan semakin hangat jelang asar, kail popping disambut ikan yang dari tarikannya cukup besar. Bang Ade dan Om Bob yang mengendalikan tarikan bekerjasama dengan juru mudi agar ikan mudah ditaklukkan. Semakin mendekat, kilauan hujau kekuningan terpancar dari kulit ikan. Lemadang yang cukup besar menunjukkan perlawanan. Dua kawan kami masih berjibaku dengan tarikannya. Sekira sepuluh meter lagi, jatuh di pelukan, eh lemadang memenangkan pertarungan, dia lepas. Lagi-lagi makan ikan enak tinggal di angan, belum jodoh, eh rezeki maksudnya.

Semakin sore, beberapa kerumunan burung laut kami lewati. Bagi para pemancing, kondisi seperti itula adalah situasi yang sangat menguntungkan. Kawanan burung laut yang bermain dan sesekali menukik masuk ke air adalah petanda banyak ikan yang sedang bermain di sekitarnya. Tentunya kondisi itu juga akan menarik ikan-ikan besar datang menyambung rantai makanan. Sayangnya, memancing adalah bukan bagian dari agenda ekspedisi kami. Setidaknya, itu menjadi catatan penting bagi saya bahwa memang besar potensi laut yang kita miliki, terutama di bagian timur Indonesia. Wajar saja jika kapal-kapal pencuri ikan dari luar banyak mengambil risiko untuk menagkap ikan di Indonesia. Termasuk kapal perampok ikan dunia, Andrey Dolgov, yang menutup jelajah liarnya di Indonesia setelah sepuluh tahun buron.

Malam berlalu dengan rinai berkepanjangan. Aktivitas pun hanya berkisar di ruang makan, ruang kemudi dan ruang tidur. Jika sudah begini, aktivitas yang menyenangkan adalah bernyanyi hingga rasa mengantuk menghampiri, atau bercerita apa saja asal bisa ketawa. Di penanggalan 14 Februari, pinisi sudah memasuki wilayah Raja Ampat. Banyangan akan pulau-pulau cantik, pasir putih, laut yang hijau hingga biru, kian membentang. Membayangkan buih-buih buritan membentuk jejak kapal seperti sujian benang emas membentuk gugus di antara pulau-pulau surga.

p_20190213_112343963068834.jpg
Seorang sailor sedang mengamati pulau-pulau yang dilewati dengan menggunakan teropong.

Usai menyeduh kopi, saya membawanya ke bagian ‘anjong’. Kala laut sedang teduh, duduk di bagian anjong memiliki kenikmatan tersendiri. Tubuh terasa diayun pelan sambil mendengarkan Kenny G. mengalunkan lagu dengan saxofone-nya. Tak perlu khawatir tubuh terlontar, biarkan saja mengikuti ritme, anggap saja sedang melatih kepekaan. Gelas kopi pun tak akan berheser dengan mudah jika diletakkan pada sudut yang pas, menyandar di balok ‘anjong’.

Dari jauh terlihat pulau-pulau kecil dengan pasir putih serta beberapa yang dilengkapi mercusuar. Ada juga beberapa kapal pinisi yang kami lewati, bersandari di pulau-pulau dengan resort-resort yang terlihat anggun. Alangkah senangnya jika kapal pinisi mampir di salah satu pulau, sekadar untuk menikmati sarapan. Sayangnya, kami juga harus berpacu dengan waktu karena ada kegiatan lain yang menunggu.

Pukul 10.49 WIT, pinisi akhirnya berlabuh di Pelabuhan Waisai, Raja Ampat. Beberapa kapal pinisi wisata juga terlihat melakukan lego jangkar di sekitar pelabuhan. Kapal cepat dari daratan utama Papua pun menurunkan penumpangnya. Banyak bule terlihat berjalan keluar pelabuhan menggendong tas carrier mereka.

p_20190214_104946_11978822181.jpg
Beberapa kapal pinisi wisata yang sedang lego jangkar.

Dari atas bukit terlihat awan berlapis menyelimuti punggungan perbukitan, semakin ke lereng semakin tipis kabutnya. Tapi, rinai masih saja enggan meninggalkan hari. Anehnya, sesaat setelah hujan berlalu, suhu udara mengalami peningkatan suhu yang signifikan. Panasnya menyengat.

dsc06297_11995904956.jpg
Pinisi Pusaka Indonesia bersandar di Waisai.

Sekadar mengembalikan kesetimbangan tubuh, saya pun mengajak seorang kawan untuk berjalan-jalan di sekitar. Beberapa kawan lainnya menyusul. Mereka sedang asik mendokumentasikan diri di depan land mark yang bertuliskan Raja Ampat. Ada juga yang sibuk menuliskan nama-nama titipan pada secarik kertas. Sementara itu, Skipper Irdham ditemani oleh seorang dari Iskindo menyelesaikan administrasi di kantor syahbandar.

p_20190214_124632357735717.jpg
Salah satu land mark Raja Ampat di Pelabuhan Waisai.

Sayangnya, kedatangan kami di Waisai terlambat sehari dari jadwal yang ada. Agenda yang direncanakan dilakukan di atas pinisi tetap dilangsungkan di tempat lain saat ‘lunas’ kapal kami masih membelah membelah lautan. Harapan melihat pulau-pulau yang menawan itu pun tandas.

Hari semakin terik, kami pun kembali ke kapal. Di Kapal masih ada ‘kaka’ yang sedari tadi menawarkan daun bungkus pada kami. Saya hanya tertawa ketika ditawari olehnya. Di dermaga juga sudah ada truk yang sedang memindahkan polibag-polibag hitam yang berisi sampah kering ke kapal. Karung plastik hitam tersebut berisi botol plastik bekas air mineral, bekas oli, serta kaleng alumunium bekas minuman. Setelah tertata, di geladak atas, bersama Briyan, kami memperbaiki ikatannya lalu menutup paling tidak bagian depannya agar terhindar dari terpaan angin saat kapal melaju. Ada sekira 52 polibag seperhitungan saya. Sampah ini akan kami bawa ke Sorong dan akan dijemput oleh Bank Sampah Sorong Raya, nantinya.

p_20190214_1337331297815935.jpg
Sampah kering dari Waisai akan dibawa oleh Pinisi Pusaka Indonesia ke Sorong.

Hari semakin gerah dan sedikit kecewa dengan kondisi yang ada. Dari pada berpikir yang kurang positif, lebih baik saya menuntaskan sup ikan yang tadi saya bikin khusus dengan tomat yang dominan. Rasa asam dan kandungan vitamin C dari tomat akan sangat membantu pengembalian kebugaran secara cepat.

p_20190214_114428_21785563290.jpg
Sup ikan tomat menjadi salah satu menu penyegar dalam pelayaran kali ini.
p_20190214_150518_11748047914.jpg
Mikel, Sailor dari Manado yang masih mahasiswa, mendokumentasikan diri di bagian anjong kapal.

Tepat pukul tiga sore waktu setempat kala mendung kembali membayangi, kami menggulung tali jangkar menuju Sorong. Kembali saya bersama tiga kawan lainnya, Gentur, Mikel, dan Briyan memilih duduk di haluan kapal. Sembari berseda gurau, mengabadikan momen, dan apa saja yang membuat kami terhibur. Mungkin ini adalah kode alam untuk bisa kembali di lain waktu. Sampai jumpa lagi, Raja Ampat. Hasta la vista, Labadios.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

24 thoughts on “Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa; Menyuji Pulau Surga Di Timur Indonesia”

  1. baru baca judul saja sudah dapat asupan pengetahuan baru. langsung buka kamu 🙂
    apalagi setelah baca semua isi postingan. kenyang.

  2. nda berhentinya bikin cemburu ini Enal dengan postingan travelingnya..

    kadang yg saya pikir eksotik itu bukan hanya soal tempat yang kita tuju, tapi “cara” mencapainya, dan yang paling eksotik adalah dengan melalui kapal layar. keren pokoke

  3. Kak, saya loh belum pernah naik kapal laut, apa nggak kasihan T.T Cuma pernah naik kapal ini pas di dermaga Losari, itupun seru dan masih mauuuu. Plislah saya diajak kalau mau ekspedisi2 macam nii

  4. Tak henti-hentinya saya terkagum-kagum melihat foto-foto serta membaca kisah ekspedisi pinisi bakti nusa ini. Kayak saya berada di dalam suasana itu juga. Keren sekali.

  5. Saya selalu tergelitik pertanyaan: bagaimana mengusir rasa sepi dalam pelayaran? berada berhari-hari di tengah lautan dengan sosialisasi terbatas butuh mental ekstra juga

  6. Asyiknya Fosenya Mas Gentur, yang duduk manis bak Model menikmati senja di Laut Halmahera..

    Sambil duduk atas kapal, Mantap yah..kita kodong bisa di Pantai Akarena ji tempat favorit liat sunset..

  7. Tegang juga baca pas bagian ada badai. Jadi kebayang aja sih pasti ombaknya kencang sekali ya syukur badainya segera berlalu dan kapal phinisinya bisa segera berlabuh di Pulau Raja Ampat. Btw saya kira akan singgah sebentar dan menikmati wisata alam di raja ampat ternyata singgahnya cuma sebentar ya dan lanjut ke Sorong

  8. Baca postingan ini jadi kangen naik kapal. Dulu itu sering sekali k’ naik kapal Pelni. Lebih sering dibanding naik pesawat.
    Alasannya ya karena bisa istirahat dulu. Ndak kayak naik pesawat, yang capek naik turun. Baru duduk sebentar, eh sampaimi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s