Relawan Bakti Nusa; Pergi karena Cinta, Pulang karena Rindu

Beberapa hari sebelum keberangkatan, di grup Whatsapp keluarga saya mengabarkan bahwa akan berangkat ke Palu untuk menjadi relawan di sana. Adik bungsu saya membalas pesan saya, “Mama bilang tidak usah ke sana”. Saya kemudian menutup aplikasi tersebut tanpa membalas pesan adik saya. Adik saya yang lain pun menanyakan kepada saya, entah sudah kali keberapa dengan pertanyaan yang sama, “Kakak, betulan mau pergi?” Saya selalu menjawabnya dengan seyum dan baerkata “Iya, saya akan pergi”. Hingga sehari sebelum berangkat, saya kembali mendapat telepon dari adik saya, “Mama mau bicara”, katanya. Berbicaralah saya panjang lebar dengan ibu saya. Meyakinkan bahwa perjalanan kali ini telah memperhitungkan sistem keamanan yang standar. Jadi, jangan terlalu risau akan hal ini. Pembicaraan kami ditutup dengan pesan-pesan layaknya orang tua kepada anaknya. Cukuplah Tuhan yang menjadi penolong atas segala hal dan cukuplah doa dari orang tua yang memudahkan datangnya pertolongan Tuhan. Saya selalu yakin akan hal itu.

Perasaan yang bercampur aduk pun jelas saya rasakan. Ingin rasanya secepat mungkin hadir di lokasi bencana berbuat apa yang bisa saya perbuat untuk meringankan beban sesama. Semangat yang diperlihatkan teman-teman sejak awal juga pantas dipertahankan hingga misi dituntaskan. Di sisi lain, misi ini jelas bukan misi yang ringan. Selain memakan waktu yang lama melewati laut, aktivitas bumi yang masih labil juga akan membayangi. Saya sendiri sangat paham dan sadar bahwa ada keresahan dari orang-orang terdekat. Tapi, kita sesama manusia sudah sepantasnya untuk saling ulur tangan membantu. Cerita hari ini sangat mungkin akan berbeda dengan hari esok. Sepanjang dalam diri kita ada rasa untuk saling membantu dan saling menguatkan, Tuhan akan selalu tersenyum bersama kita.

Jumat, 5 Oktober 2018, pukul 10.00 Wita, sesuai arahan koordinator, saya merapat ke posko utama Relawan Bakti Nusa, di Jalan Dahlia. Aksi kemanusiaan yang terhimpun dalam Relawan Bakti Nusa ini diprakarsai oleh Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) yang bekerjasama dengan Yayasan Makassar Skalia (YMS). Saya sendiri menjadi salah satu dari empat orang yang mewakili tim YMS. Di sana sudah beberapa kawan sesama relawan telah hadir. Tak lama, kami berangkat menuju pelabuhan Lantamal Makassar, tempat kapal yang akan kami tumpangi berlabuh. Di sana telah banyak teman-teman yang menaikkan barang-barang bantuan ke atas kapal dan menyusunnya dengan baik dalam lambung kapal. Cuaca panas bukan alasan untuk mereka mengendorkan semangat. Rencana keberangkatan sepertinya bergeser dari jadwal yang ditetapkan melihat banyaknya bantuan yang belum dinaikkan ke kapal. Hanya beristirahat salat jumat dan makan siang, teman-teman kembali menaikkan barang. Benar saja, hingga pukul lima sore kala langit mulai meneduhkan teriknya, barulah semua barang rampung dinaikkan. Upacara pelepasan sebagai simbolis resminya pelayaran dilakukan. Kapten kapal pun tidak menyanggupi untuk berangkat malam karena beresiko pada kerusakan karang di sekitar pelabuhan mengingat kondisi air juga sedang lagi pasang surut.  Pilihan yang realistis adalah berangkat subuh. Berhubung administrasi dari syahbandar juga belum rampung, kapal tetap meninggalkan Lantamal setelah subuh dan berlabuh di Pelabuhan Paotere.  Beberapa kawan relawan memutuskan untuk menginap di kapal.

Tepat pukul 05.00 pagi, kapal menggulung  tali jangkar lalu bertolak menuju Pelabuhan Paotere. Administrasi yang sedikit rumit mengakibatkan keberangkatan kembali mengalami penundaan. Akhirnya setelah lewat paruh hari, kapal pun mendapatkan izin jalan dari perugas pelabuhan. Sebanyak 40 orang di atas kapal, termasuk kapten dan anak buah kapal. Berdasarkan hitungan yang ada, barang yang kami bawa dalam misi ini mencapai 65 ton. Kapal yang digunakan pun mampu memuat hingga 180 ton.  Barang yang kami bawa berupa sandang dan pangan.

DSC09444
Briefing pelepasan Relawan Bakti Nusa ke Palu-Donggala

Selepas dari dermaga, pinisi melaju dengan anggun membelah laut tenang. Saat memasuki perairan Kabupaten Pangkajene Kepulauan, suasana begitu khidmat  bersama temaram jingga di ujung hari. Satu per satu gugus bimasakti muncul menghias langit yang tanpa bulan. Laju kapal menurut hitungan GPS (Global Positioning System) aplikasi smartphone hanya maksimal 10.6 km per jam. Tak darat, tak laut, Barru memang rute panjang yang harus dilewati. Malam semakin larut, hanya beberapa dari kami yang terlihat beraktivitas. Ada baiknya saya mengambil alih berjaga-jaga saja sembari berharap-harap cemas menanti balasan pesan yang kadang kandas oleh signal yang tidak kompromi. Satu per satu bintang menghilang. Saat ada bintang yang jatuh, pinta yang sama selalu saya ucapkan, make a wish, kata orang-orang.  Angin malam mulai menyeruak, mencari celah benang untuk disusupi.  Gelombang laut sudah mulai terasa mengayunkan kapal.  Riaknya terasa saat menghempas di lambung kapal. Dari jauh, kilatan cahaya membuat langit berwarna. Informasi dari tim darat yang berkoordinasi, ada hujan di sekitar majene. Pelayaran kam i menuju ke sana. Di geladak depan, di atas sebuah gulungan tenda pleton. Kadang terkaget karena muka tiba-tiba basah oleh percikan air laut yang menerpa.

Pagi, 7 Oktober penanggalan masehi, kapal sudah masuk dalam perairan Majene, Sulawesi Barat. Tidak seperti pagi yang biasanya dengan ombak yang lembut. Kali ini pagi menyapa kami dengan cara berbeda.  Ombak tampak lebih tinggi dari sebelumnya, kapal pun menjadi terasa bergoyang. Seperti tak peduli dengan tarian yang dimaikan kapal, kawan-kawan pun masih sedang asik dalam posisi nyaman  melelapkan diri. Di bagian dek belakang yang juga difungsikan sebagai dapur, para juru masak mulai beraksi. Saya begitu kagum dengan mereka yang sudah bergerak di dapur kala yang lain masih menikmati tidur. Kondisi memasak pun tidak seperti di dapur pada umumnya. Kalau biduan bisa bernyanyi sambil berjoget, para juru masak di kapal malah memasak sambil berdansa. Sayangnya, hanya diiringi suara diesel. Sulit betul menjaga keseimbangan apalagi kapal melaju dengan berlenggak-lenggok. Dari pantauan GPS, sekira 4-5 jam lagi kapal merapat ke daratan Majene.

Langit mulai menjelaga, jam di tangan menunjukkan angka Pukul 11.03 Wita. Kumulonimbus semakin mendekat. Setengah jam kemudian, hujan pun turun, Tanah Mandar menyambut kami dengan penuh keberkahan. Tim relawan pun dengan sigap merapikan segala barang yang berpotensi basah hinga kondisi dalam kendali. Hanya sesaat, hujan pun berhenti tapi langit masih terlihat bermega.

DSC09490
Damainya Dermaga Palipi, Majene

Sebuah menara suar telah jelas terlihat, kapal pun kian menepi.  Pukul 13.17 Wita, kapal akhirnya bersandar di Pelabuhan Palipi, Majene. Sesuai dengan rencana perjalanan, di Palipi kapal mengambil muatan berupa barang untuk didonasikan di Palu-Donggala. Setelah semua barang dinaikkan, kami pun turun ke pelabuhan. Di sini, kami dijamu makan siang. Berdasarkan hitungan waktu yang ada, kami pun disilakan untuk bersih-bersih, baik mandi maupun mencuci pakaian. Pukul 15.50 penunjukan jam tangan saya,  kapal melanjutkan perjalanan. Seorang petugas keamanan berujar saat sauh dinaukkan de kapal, “Tetap hati-hati, setelah ini, ujian pelayaran kalian baru dimulai”. Saya kemudian mengingat bahwa sesaat lagi kami akan memasuki perairan Masalembo, perairan yang dikeramatkan dengan segudang mitos yang menjaganya.

Tak ada senja sore ini. Waktu berjalan lambat tapi kopi selalu menghangatkan. Usai  magrib, makan malam dari bekal di Palipi pun disantap bersama. Kapal seperti tak melaju, kata kawan hanya 2-4 kont yang tertera di layar GPS kapal. Selepas makan malam, teman-teman mengambil posisi yang nyaman untuk berbaring. Entah bermain dengan ponsel atau pun melelapkan diri dalam tidur, berharap pagi cepat datang. Tak ada bintang malam ini, Oregon kehilangan jati diri. Rinai hujan sesekali menyapa bersama desir angin yang mencoba menyeruak kedalam jaket.

Pagi (8 Oktober) yang dinanti pun datang bersama panas  matahari. Subuh tadi, langit begitu berbinar, seperti mata sepasang kekasih yang saling berpandang kala merindu. Posisi kapal masih berada di perairan Mamuju.  Teman-teman pun mulai beraktivitas. Di dapur, tim koki sudah siap dengan pisang rebus dan pisang goreng. Pisangnya dari tanah Mandar. Teh hangat menemani sarapan mereka sembali bercakap-cakap untuk tetap mengakrabkan diri satu dengan yang lain. Maklumlah, tim kami baru terbentuk dan di kapal lah kami baru saling bertatap muka dan berkenalan satu dengan yang lain. Beruntung, orang-orang yang tergabung dalam tim ini sangat bersahabat sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk saling berbaur. Saya sendiri tetap kukuh dengan kopi sebagai pembuka hari, grinder saya mainkan lalu tetes demi tetes cairan kopi mengali di metal filter. Aromanya membuncah melayangkan ingatan pada yang jauh di sana. “Bagaimana kabarmu?”, senandikaku.

DSC09518
Suasana pagi di atas kapal

Tidak  banyak aktivitas yang bisa dilakukan di atas kapal. Bangun, makan, dan tidur seperti menjadi siklus yang lumrah dilakukan. Entah sudah berapa kali saya terbangun dan tertidur dalam interval waktu  lima jam. Signal belum menghampiri perangkat komunikasi. Genset pengisi daya pun sangat lambat mengalirkan energi ke setiap unit handphone maupun power bank. Pelayaran begitu sangat lambat terasa. Ruang gerak semakin sempit terasa. Hanya beberapa lembar buku yang membawa ke petualangan lain lalu membuat mata terkantuk dan tidur kembali. Beberapa kawan terlihat memainkan permainan sulap kartu untuk menghidupkan suasana agar tetap riang. Ada juga yang berdisdiskusi, berbagi pengalaman atau sekadar berbagi tawa. Posisi kapal hingga pukul 10.23 Wita berada di perairan Topoyo, Sulawesi Barat.

Pukul 11.15  Wita, makan siang sudah tersaji, Sayur sup memberi nuansa baru pada menu siang ini. Secara bergantian teman-mengisi piring lalu mencari posisi duduk yg nyaman untuk makan. Lewat paruh hari, kapal mendapat kawanan lumba-lumba yang sedang asik bermain. Kawan-kawan pun tentu tak ingin kehilangan momentum untuk mengabadikan atraksi mamalia laut tersebut. Hari semakin siang, suasana menjadi lengang. Di atas hammock saya menyetel lagu-lagu yang sudah terformat di playlist saya.  Hingga sore datang, beberapa kawan terlihat sedang memeriksa perbekalan yang sifatnya basah seperti ikan yang ada dalam box. Ke dalam box ditambahkan es setelah airnya dibuang untuk memperpanjang kesegaran ikan, agar bisa bertahan pada waktu pemanfaatannya.

Malam kembali datang, masing-masing telah berada di posisi nyaman mereka. Setelah ada panggilan makan dari dapur, barulah satu persatu mengambil piring dan makan. Selanjutnya kembali ke posisi nyaman untuk sekadar menatap layar handphone, mumpung signal sedang bersahabat. Langit pun bertabur bintang, semoga selalu kondusif hingga tiba di lokasi tujuan. Namun demikian, dari jauh mega terlihat membayangi.

Selasa, 9 Oktober 2018, kala fajar menyingsing, kapal sudah masuk ke Teluk Palu. Sebelum pukul 07.00 Wita, kapal kemudian sandar di Pelabuhan Wani. Segera kawan-kawan mengemasi barang-barangnya. Beberapa melakukan sosialisasi dan negosiasi dengan orang-orang yang ada di dermaga. Terlihat  beberapa polisi yang berjaga-jaga di pelabuhan. Sekadar informasi bahwa tadi subuh, pas kapal yang kami tumpangi melintas di Teluk Palu, saat itu juga terjadi gempa yang dengan kekuatan 5,5 Skala Richter (SR). Mungkin karena kami di atas kapal sehinga tidak merasakan guncangannya. Setelah briefing yang dipi,pin langsung oleh Bang Ade,  kawan-kawan kembali ke aktivitasnya.

DSC09538
Kapal siap berlabuh di Dermaga Pelabuhan Wani, Donggala.

Muatan baru mulai diturunkan dari kapal setelah ada kejelasan penjemputan untuk menuju ke posko utama di Kota Palu. Jam menunjukkan angka pukul 10.00 Wita, Matahari di Sulawesi Tengah memang sangat berbeda. Teriknya membahana seperti matahari dekat dengan kepala. Namun demikian, semangat pantang mundur teman-teman terlihat jelas. Barang-barang mulai diturunkan dan dikelaskan berdasarkan tujuan dan jenis barangnya. Saya mengambil kesempatan berbincang dengan salah seorang anggota pengamanan yang bertugas di area pelabuhan. Menurut Pak Sugiono dari pengamanan TNI yang ditugaskan dari Samarinda, bahwa kondisi sudah mulai kondusif seiring banyaknya pengamanan yang dilakukan. Dari pengamatannya, dampak tsunami yang menerjang Donggala – Palu, berada pada radius 0,5-1 km dari garis pantai, yang parah memang yang ada di sekitar ujung teluk. Kondisi listrik sudah mulai menyala 50% terutama di bagian perkotaaan, imbuhnya. Informasi seperti ini sangat penting untuk diketahui kaitannya dengan kesiapan diri untuk memasuki suatu wilayah. Apakah kindisi kita siap untuk survive dengan kondisi yang ada. Kegiatan bongkar muatan berlangsung tanpa kenal panas dan lelah hingga masuk waktu magrib. Sebagian tim mengawal truk yang membawa barang ke Palu dan sebagian lagi masih menunggu di perahu karena masih banyak barang yang belum bisa dimuat. Rencananya, barang yang tersisa akan dimuat esok harinya.

DSC09552
Briefing persiapan bongkar muatan dari kapal.
DSC09606
Aktivitas menurunkan barang dari kapal.

Matahari begitu cepat datang di Rabu, 10 Oktober. Setelah menyeduh kopi dan menikmati ubi dan pisang rebus, kegiatan bongkar muat kembali dilakukan. Beruntung ada tambahan bantuan dari tim Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), sehingga kegiatan berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan. Hanya sekadar istirahat untuk makan, kegiatan pun dilanjutkan. Pukul 14.00 waktu setempay, muatan telah rampung dikeluarkan dari lambung kapal. Dua kali saya mengganti pakaian untuk membantu mengeluarkan barang dari dalam lambung kapal, semuanya basah dengan keringat.  Aktivitas melangsir barang pun berlangsung hingga pukul 16.00 Wita, dan masih terus berlangsung hingga selesai. Teman-teman  di bagian dapur juga segera membereskan dan mengemasi peralatan masak-memasak untuk dibawa ke posko di Palu.

DSC09652
Kegiatan penurunan barang dan loading ke truk.

Jelang magrib, ikan pun diturunkan dari kapal sementara sekoci dikembalikan ke atas kapal karena dianggap tidak ada kondisi yang mengharuskan penggunaannya untuk mobile. Usai salat magrib, bersama lima rekan relawan saya turut serta menuju Palu menggunakan mobil bak terbuka. Setelah menempuh perjalanan sekita sejam lamanya, kami pun sampai di posko. Tanpa menunggu jeda, kami  lanjut menurunkan barang-barang, lalu  makan malam. Nikmat yang sangat luar biasa kala perut memang sedang kosong-kosongnya dan telah disediakan makanan oleh teman-teman  yang sudah lebih dahulu berada di posko. Waktu yang dinanti-nanti pun tiba, undangan alam. Beruntung di posko dekat dengan sarana ibadah yang kebetulan memiki toilet yang memadai. Segera saya pergi menuntaskan hajatan serta membilas badan yang seharian hanya bermandikan keringat.  Itu pun harus megantri. Halah, truk datang lagi, bongkar muatan lagi dan mandi keringat lagi. Setelah rampung dilanjutkan dengan briefing untuk membahas rencana aksi hari besok. Sungguh tim yang tak kenal kata lelah.

Seperti baru saja memejamkan mata, bahkan terasa sebentar saja, hangat mentari sudah menyapa. Iabadah subuh pun terlaksana di waktu akhir. Hanya meminum seteguk air mineral saya kemudian menyeduh kopi, menikmatinya bersama beberapa teman sambil membicarakan persiapan aksi hari ini. Kawan-kawan yang lain seperti sudah tahu apa yang menjadi prioritas kerja mereka bersama tim-tim kecil mereka untuk menyalurkan bantuan ke lokasi terpilih. Saya sendiri mencoba melebur pada tim mana yang kiranya butuh tenaga. Setelah membantu memotong cabe, akhirnya bersama beberapa relawan kami memasang tenda di dapur umum. Mengambil posisi di bagian atas tenda, tentu butuh kehati-hatian yang ekstra. Kaki sempat terpeleset lalu besi membentur tulang kering, benjol deh. Selanjutnya kembali bersama tim dapur, saya membatu menyusun bungkusan makanan yang akan dibawa oleh teman-teman ke lokasi. Merasa perut dingin karena memang belum ada makanan turun, saya membuka kembali satu bungkusan untuk saya makan, beberapa teman kemudian menyusul. Usai istirahat siang sejenak, kembali melebur dengan tim lainnya. Jelang sore, bersama  dua belas orang rekan, kami bergeser ke Rumah Sakit Anutapura untuk membangun tenda pelayanan pasien. Dua unit tenda terpasang dengan cepat. Salut dengan kerjasama tim. Sebelum magrib, kami sudah berada di posko.

DSC09721
Mendirikan tenda pleton

Usai makan malam, kala teman-teman menikmati waktu senggang dengan layar segi empat mereka masing-masing, ada juga yang membentuk forum diskusi. Tiba-tiba, semua sudah berada di lapangan, ada getaran yang membuat teman-teman kaget. Rupanya, barusan memang telah terjadi gempa dengan kekuaran 5,4 SR. Wajar saja jika di sepanjang jalan saat kita berkeliling di sekitar lokasi bencana, meskipun rumahnya terlihat masih utuh, kebanyakan dari mereka lebih memilih mendirikan tenda di halaman rumah. Atau mungkin akan lain cerita jika masyarakat lebih memahami mitigasi bencana.

Pegal di badan masih terasa, pagi begitu cepat datang menjemput hari. Namun demikian, itu bukan alasan untuk menyurutkan semangat. Kembali ke tujuan awal keberangkatan.  Sirine dari megaphone berbunyi, tanda aktivitas dimulai, saya pun sudah siap dengan kopi di termos. Bersama beberapa kawan, kami kemudian mengemas ulang air mineral ke dalam kantong plastik untuk dibagikan pada warga yang datang ke posko untuk menerima paket sembako. Di dapur umum tetap padat karya untuk menyediakan makanan jadi baik bagi korban mau pun bagi para relawan. Di gudang juga demikian, yang bertugas di sana tetap sibuk memilih barang dan menyatukannya membentuk paket-paket agar terdistribusi secara merata. Hari ini saya juga ikut ke lokasi penyaluran donasi di Sigi lalu kembali ke posko untuk salat jumat dan lanjut ke Desa Lasuwani untuk mengantar paket donasi. Panas matahari palu seperti mendapat kekuatan  ganda, panasnya begitu membahana. Teman-teman yang lain juga demikian, bergerak ke lokasi-lokasi yang telah disepakati untuk penyaluran dengan tim-tim kecil yang ada. Hingga sore hari, posko telah dinyatakan tertutup, ditandai dengan bersihnya barang-barang di gedung serbaguna yang dijadikan gudang. Setelah ashar, sebahagian teman-teman menuju ke lokasi pemutaran film di tempat pengungsian. Sebagian lagi, termasuk saya memilih tinggal di posko membantu apa yang kiranya bisa dibereskan agar tempat yang sedianya bersih terlihat seperti itu sebelum ditinggalkan.

Sepulang acara pemutaran film untuk anak-anak di Lasuwani, tim segera melakukan briefing. Dari cerita kawan, acara tadi terbilang bagus, mampu menngankat tawa dari anak-anak yang ada di posko pengungsian. Hanya saja, ada sedikit insiden yang mengurangi khidmatnya penutupan. Ada maling yang kedapatan dan memicu keributan massa. Hal yang lumrah terjadi pada situasi seperti ini. Dalam teori sosial apa pun jelas menyebutkan tindakan kriminal selalu mengikuti rangkaian bencana besar. Tugas kita semestinya untuk saling memperingati satu dengan yang lain agar senantiasa sabar melewati masa-masa sulit dengan berbagi. Dalam briefing, Bang Ade mengemukakan bahwa ada beberapa pendekatan yang dilakukan dalam pemilihan lokasi penyaluran bantuan. Kriteria tersebut antara lain, lokasinya tidak jauh sekali dalam artian maksimal dua jam perjalanan menuju lokasi.  Kriteria berikutnya adalah bukan titik massa yang menampung ribuan pengungsi, kaitannya denga sumber daya yang dimiliki oleh tim Relawan Bakti Nusa. Selanjutnya, dengan mempertimbangkan informasi multilini  yang ditindaklanjuti dalam bentuk cek dan recek dengan tim relawan lainnya. Dari hasil itu, kemudian dilakukan survey untuk memvalidasi fakta lapangan. Ada juga lokasi yang ditetapkan karena komunitasnya lebih mudah dikontrol. Bagaimana pun, tujuan kita adalah mengantarkan bantuan, sebisa mungkin kita tetap mempertimbangkan aspek keselamatan diri dalam kegiatan tersebut.

DSC09755
Briefing penutupan

Dalam briefing ini, ada juga yang mengutarakan kesannya, bahwasanya sangat beruntung bisa bergabung dalam tim ini karena bisa mendapat banyak pelajaran dari kawan-kawan yang memang datang dari berbagai disiplin ilmu. Ada juga yang mengusulkan agar tim ini tidak hanya berhenti sampai pemulangan dilakukan. Tapi, kiranya bisa tertampung dalam wadah yang jelas untuk kemudian difasilitasi pelatihan yang memadai, sehingga lebih siap untuk diterjunkan mana kala ada kejadian serupa atau bencana lainnya. Ada juga yang bersedia jika ada pembentukan tim lain yang bergerak di bidang pendidikan pasca bencana terhadap usia sekolah. Ada juga yang bersedia jika dibentuk tim yang akan memberikan trauma healing berupa out bond.  Ada juga yang siap memfasilitasi untuk menghubungkan dengan organ lain agar tim bisa mendapatkan pelatihan yang berkaitan dengan mitigasi bencana. saya sendiri lebih menyoroti tindakan advokasi terhadap anak dan perempuan yang selalu menjadi komunitas yang rawan setelah bencana. Dari sudut pandang kelautan juga berbeda. Pak Nas lebih mengusulkan pada tindakan pemulihan wilayah pesisir, termasuk sosial dan ekonomi masyarakatnya, pemberian bantuan alat tangkap ikan misalnya. Secara keseluruhan, dampak bencana gempa dan tsunami Palu memang banyak menghilangkan mata pencaharian masyarakat.

Malam ini adalah malam terakhir kami di Kota Palu. Namun sebagian dari tim kami masih tinggal untuk beberapa hari. Ada juga yang telah pulang lebih awal karena sesuatu hal yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena sudah larut malam dan kami harus bergegas ke Pelabuhan Wani esok pagi, sepertinya tidur menjadi pilihan bijak. Hammock yang sebelumnya telah terkemas rapi dalam ransel kembali saya keluarkan dan menggantungnya pada dua pilar di teras rumah. Di waktu subuh, gempa kembali menggetarkan Palu meskipun kekuatannya tidak seperti yang sebelumnya.

Tak terasa, seminggu sudah kami meninggalkan  Makassar. Usai melaksanakan salat subuh yang cukup terlambat, saya langsung bergegas ke kamar mandi, mumpung antrian masih sepi. Lagi dan lagi gerinder dimainkan lalu kopi menjadi sahabat yang selalu hangat. Sekira pukul 08.00 Wita, barulah semua tim betul-betul siap. Beberapa peralatan dan perbekalan dinaikkan ke truk. Setelah berdoa bersama, kami pun menuju ke Pelabuhan Wani, tempat kapal yang kami gunakan berlabuh. Ketersediaan air bersih di kapal habis sehingga perlu dilakukan pengisian agar bisa digunakan hingga bersandar di Makassar. Akhirnya, pukul 15.00 Wita, buih buritan melepaskan kapal meninggalkan Pelabuhan Wani.

Perjalanan kembali menegangkan saat memasuki perairan Masalembo yang bertepatan malam hari. Kapal yang sudah tidak membawa beban berat cenderung sulit melaju dengan tenang. Tak sedikit kawan-kawan yang mulai kehilangan keseimbangan dan mabuk laut. Hammock saya pun basah dari hempasan  air yang menghujam kapal. Malam ini terasa begitu lama berlalu.

Pagi pun datang, bersama kopi kami duduk di geladak depan kapal. Berbagai cerita tercurah satu dengan yang lainnya. Banyak hal lucu terkuak atas apa yang dirasakan semalam. Menu di atas kapal mulai membosankan, hanya ada nasi, sarden, telur dan mie instan. Hanya kopi saat pagi dan sore hari sebagai penyeimbang. Hammock seperti menjadi istana tidur yang mewah di kapal. Sedikit saja ditinggalkan, yang lain akan menggantikan posisi tidur nyaman kita. Udara panas saat siang dan kuatnya terpaan angin kala malam membuat teman-teman dikondisikan untuk engan beranjak dari pembaringan. Ada juga yang memang sengaja mengkonsumsi obat anti mabuk agar untuk menghindari mabuk laut. Pukul 20.30 Wita, jelaga mendekat, kilatan cahaya dari balik mega mengantar hujan turun. Sepertinya tak ada malam yang bertabur bintang.  Di atas hammock, saya cuma mengikuti ritme goyangannya agar tidak membuat perut menjadi mual.

Sekira pukul 16.02 saat matahari mulai meneduh dan kawan-kawan menggelar tikar di geladak depan untuk ber-senja gurau, tiba-tiba ada seorang perempuan dari kami yang sempat kehilangan kesadaran karena mabuk laut. Dengan sigap tim medis pun menangani. Sayangnya salah seorang tim medis juga malah ikut mabuk. Beruntung semuanya cepat dalam kendali. Kopi terakhir dari sisa tadi pagi pun dituntaskan.

DSC09833
Ber-senja gurau di kala sore.

Kapten kapal, Pak Kaswadi (42 tahun), yang mulai akrab dengan kami bertutur bahwa sangat senang bisa mengantar kami untuk misi mulia ini. Dia sendiri adalah orang yang sedari kecil kehilangan orang tua dan harus banting tulang untuk tetap bertahan hidup. Saat saya tanya perkiraan kapal sandar, dia menjawab dengan santai bahwa  tidak sepertinya ombak seperti ini saat siang atau jelang sore. “Perkiraan saya, kita akan sandar di pelabuhan sekira pukul 21.00 Wita”, tutur pria yang muai ikut di  kapal sejak 1998, dan setahun kemudian sudah menjadi  juru kemudi. Cuaca memang sulit diperkirakan. Kecepatan yang semestinya stabil di 8 Knot harus kembali ke 5 Kont untuk kebaikan dan keselamatan bersama. Tapi ketika saya menanyakan siapa pemilik nama yang tertulis di punggung tangan kirinya, dia menjawab tersipu, “Ah, masa lalu itu”. Namun demikian, perjalanan kami masih mengikuti jadwal yang sudah disepakati, tiba di Makassar tanggal 15 Oktober 2018.

Pak Jauri, yang lebih akrab disapa Kakak Pertama juga sangat berkesan dalam misi kemanusiaan ini. “Tim ini dibentuk tidak lama dari berbagai sumber tapi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk saling mengakrabkan diri. Dengan demikian formasi tim menjadi lebih menarik dan tidak monoton”. “Semoga kita tetap dalam satu bingkai Relawan Bakti Nusa”, imbuhnya.

Sepaham dengan itu, bahwa dimanapun kita berada, selama kita tidak saling menutup diri maka di sana lah kita akan menemukan keluarga-keluarga baru yang tanpa pernah peduli dari apa dan dari mana kita berasal. Tujuan kita untuk berangkat adalah sama, yakni untuk meringankan beban sesama karena pada hari ini mungkin kita masih diberi kemujuran dan kenikmatan oleh Sang Pencipta. Kita berangkat atas nama cinta, cinta pada sesama manusia. Kita pun pulang atas nama rindu. Rindu dengan keluarga, rumah dan aktivitas keseharian kita. Rindu dengan segala hal yang pantas kita syukuri karena masih memilikinya. Terima kasih kepada semua tim Relawan Bakti Nusa, Yayasan Makassar Skalia, Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia, dan doa orang-orang tercinta.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Relawan Bakti Nusa; Pergi karena Cinta, Pulang karena Rindu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s