Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa

Bagian Pertama;

Semalam di Pulau Bontosua

Pukul 21.00 waktu Lampuara, nama kampung saya,  adalah angka yang ditunjukkan di jam tangan yang saya kenakan. Tidak biasanya kendaraan jemputan datang terlambat. Wajah Ibu seperti belum siap melepas putera lajangnya kembali ke rutinitas tak jelasnya. Pasalnya, rencana kepulangan saya lebih cepat sehari dari yang saya rencanakan. Sementara itu, saya hanya pulang di saat lebaran, dua kali setahun. Pagi tadi, saya mendapat ajakan untuk ikut berpetualang menggunakan perahu pinisi, tanggal 26 hingga 30 Agustus 2018. Tanpa ragu, saya pun mengiyakan. Menjelang pukul sepuluh malam, jemputan datang. Saya pun pamit dengan memeluk dan mencium tangan Ibu lalu beranjak keluar rumah, menuju Makassar.

Saya menempuh jarak sekira 350 km dengan laju kendaraan yang saya kira cukup kencang malam itu. Bersama  dengan  lagu-lagu bertema perjalanan dan sebuah pesan singkat dari seseorang bertuliskan, “Hati-hatiki di jalan nah, Kak”, mengantarkan saya dalam lamunan.  Saya pun tiba di Kota Daeng saat jamaah salat subuh beriringan langkah ke masjid sekitar. Setelah membongkar isi tas carrier lalu menggantinya dengan perlengkapan lapangan, saya tak lupa melaksanakan kewajiban subuh kaum muslimin. Setelah itu, di pagi yang masih buta, bersama kawan yang bertepatan melewati rute Pantai Losari, saya pun mengikut. Car Free Day membuat saya harus berjalan kaki menggendong  carrier dan menjinjng tas slempang. Beberapa pelancong melihat aneh karena ada sosok dengan setelan gunung berjalan di pesisir. Setelah menyimpan tas di pinisi, saya kemudian mencari sarapan serta belanja kebutuhan obat-obat dasar serta cemilan di mini market.

Dari jadwal pemberangkatan pukul 08.00 wita akhirnya molor karena urusan administrasi dan pemeriksaan pelayaran dari syahbandar belum selesai. Tim yang datang satu per satu lalu menyiapkan peralatan sesuai dengan job deskripsi masing-masing. Saya memanfaatkan sedikit waktu untuk terlelap di lambung kapal yang sudah ditata sedemikian rupa untuk mengakomodasi kepentingan istirahat.

Lewat paruh hari, kabar baik pun datang, briefing keberangkatan pun dimulai. Abang Sapril Akhmady dari Yayasan Makassar Sikalia (YMS) yang memimpin briefing mengungkapkan bahwa tujuan perjalanan yang disebut sebagai Sailing Trial Expedition ini bertujuan untuk menemukenali rencana ekspedisi panjang yang kemudian disebut Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa dalam bentuk simulasi. Kegiatan ini menjadi acuan pencatatan dan pembekalan kegiatan ekspedisi yang direncanakan Oktober nanti. Dilanjutkan oleh Pak Kamaruddin Azis yang lebih akrab disapa Daeng Nuntung atau Om Denun, mewakili ISKINDO (Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia), mengemukakan bahwa bagaimana misi  ini bisa menjadi contoh terutama yang berkaitan dengan pendokumentasian hal-hal yang menyangkut misi kelautan. Pak Akbar yang lebih akrab disapa Abang melanjutkan briefing dengan materi induksi pinisi yang membawa pelayaran selama lima hari ke depan. Hal ini sangat penting karena menyangkut hal teknis yang mendukung keamanan individu, tim, maupun ragam peralatan yang digunakan. Tidak lama berselang, pemeriksaan oleh pihak syahbandar pun selesai. Setelah mengecek ulang nama-nama peserta, pinisi pun secara resmi memulai petualangannya.

DSC06848
Briefing persiapan keberangkatan.

Haluan memecahkan gelombang dan buih di buritan melepaskan kapal tepat pukul 13.40 wita, meninggalkan anjungan Pantai Losari. Tujuan pertama adalah Pulau Barrang Caddi. Empat puluh menit waktu yang dibutuhkan pinisi hingga merapat di perairan Barrang Caddi. Kondisi yang tidak memungkinkan pinisi bersandar ke dermaga membuat sekeliling pinisi ramai oleh perahu-perahu motor nelayan. Melalui perwakilan nelayan, Om Bob dari Sekolah Laut Sangkarrang memberi bantuan berupa alat tangkap ikan. Tampak senang di raut wajah nelayan atas persinggahan kami. terbilang tiga puluh menit di pulau ini, kapal pun melaju ke Pulau Bontosua, melewati Barrang Lompo, Badi’, dan beberapa pulau lainnya.

DSC06875
Penyerahan bantuan alat tangkap ikan kepada nelayan di Pulau Barrang Caddi.

Matahari mulai condong berat ke barat. Saya melihat jam untuk memastikan waktu sembari menyiapkan peralatan yang kiranya saya perlukan. Jam menunjukkan pukul 16.28 waktu setempat. Pinisi tak juga bisa bersandar ke dermaga sebab khawatir kuatnya arus laut. Setelah mendapat posisi yang pas di sebelah timur pulau untuk menjatuhkan jangkar, mesin kemudian dimatikan. Datanglah perahu nelayan menjemput . Beberapa dari kami, termasuk saya ikut menyeberang ke pulau. Saat perahu menyentuh pasir pantai, terdengar suara iringan musik tradisional begitu ramai di telinga. Senandika tercurah, “wah asik juga disambut seperti ini.” Kenyataannya, kedatangan kami memang bertepatan dengan adanya upacara pernikahan dari adik Bapak Rusdi, Kepala Desa Mattiro Bone. Kami pun disilakan untuk naik ke rumah kepala desa.  Di atas rumah (disebut demikian karena rumah panggung) telah tersaji kue-kue tradisional seperti baruasa, sikaporo, barongko, roko-roko dan tidak ketinggalan kue biji nangka yang menurut Bang Ade, rasanya paling pas. Serasa ingin menikah, eh ingin memakan semuanya, tapi itu bukan tujuan kami. Tujuan utama kami adalah untuk meminta izin kepada pemerintah setempat kiranya memberi dukungan untuk beberapa aktivitas yang akan kami lakukan di Pulau Bontosua. agenda di pulau ini cukup banyak, mulai dari riset darat, riset bawah laut, pemutaran film dan panggung hiburan. Karena bertepatan dengan acara pesta maka tim ekspedisi mengambil waktu setelahnya untuk pemutaran film dan panggung hiburan.

DSC06906
Penyambutan oleh Kepala Desa Mattiro Bone

Hari semakin senja, langit mengeluarkan semburat jingga seperti pengantar lagu-lagu romantis. Tanpa membuang waktu, kami membagi tim kecil. Bang Appi, Bang Akbar, dan Bang Ade kemudian menyusuri arah menuju lapangan untuk melihat kondisi lokasi yang akan dijadikan sebagai pusat keramaian nanti malam. Bersama Om Denun dan Om Dayat, saya menyusuri setapak-setapak dalam pulau, memberi senyum, salam, dan sapa kepada siapa saja yang kami temui. Om Denun sangat lihai dalam hal ini. Beliau bisa saja menimbulkan pertanyaan dari sesuatu yang dilihatnya dan tanpa disadari lawan diskusinya diantar pada masalah yang sesungguhnya ingin kami kaji, yaitu sejarah desa atau pulau, fokus mata pencaharian dan sumber makanan masyarakat. Hingga tak terasa azan magrib berkumandang, kami memutuskan untuk salat berjamaah di masjid pulau. Air wudu di pulau ini terasa asin, beda tipis dengan air laut. kebutuhan air tawar untuk keperluan konsumsi didatangkan dari Paotere, Makassar.  setelahnya, kami melanjutkan tugas masing-masing, mencari apa yang dicari. Setelah semuanya dianggap cukup, kami kembali ke titik kumpul yang disepakati sebelumnya untuk menyusun langkah teknis kegiatan.

DSC06931
Salah satu potensi laut Bontosua

Pada sebuah meja bundar di tepi pantai di bawah teduh tajuk waru, bulan yang hampir sempurna mulai mengambang di atas permukaan laut, menggantung di langit Bima Sakti. Deru ombak menyapa pasir bersama desiran bayu menyeruak ke dalam sela-sela benang pembalut badan. Semua tim telah berkumpul lalu memperbincangkan hal-hal yang sangat teknis. Tak lama, ada panggilan makan dari Pak Desa. Sungguh penghormatan besar bagi kami yang telah disambut baik hingga disuguhkan makan malam. Seusai makan malam, kami kembali ke meja bundar untuk selanjutnya menuju lapangan. Antusiasme masyarakat ditunjukkan dengan kehadiran mereka di lapangan, mulai dari kalangan anak-anak, remaja hingga orang tua. Bontosua yang menggunakan listrik tenaga diesel yang secara reguler beroperasi selama enam jam per hari ini bisa kami manfaatkan untuk mendukung peralatan elektronik yang kami bawa. Penayangan film yang bertajuk ekspedisi pinisi serta diselingi dengan diskusi membuat malam lebih bermakna. Dua lagu dari om Bob menutup kegiatan malam kami. Hanya saja, ombak yang tidak tenang membuat kami harus menginap di rumah salah satu warga yang telah ditunjuk pak desa untuk beristirahat menunggu pagi.

DSC07007
Kegiatan FGD bersama masyarakat Bontosua

Setelah mentari pagi mengguratkan cahayanya, bulan pun masih enggan beranjak, salat subuh pun telat. Kami kemudian kembali ke pinisi untuk persiapan kegiatan selanjutnya. Kali ini tim tetap terbagi menjadi dua bagian, tim darat dan tim bawah laut. Tim bawah laut akan melakukan pengamatan di perairan Bontosua. Sementara itu, tim darat melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bersama warga berdasarkan temuan-temuan yang telah kami dapati melalui observasi dan wawancara kemarin. Dalam FGD ini, warga diajak untuk melihat seperti apa masa lampau dari pulau, bagaimana dengan sekarang dan apa yang perlu dipersiapkan untuk masa yang akan datang. Lagi-lagi saya mendapat pelajaran penting di sini. Dalam menyusun kerangka penyelesaian masalah, ada empat tindakan yang bisa dilakukan. Pertama adalah dengan melihat kondisi lapangan. Kedua, bagaimana menemukan masalah. Ketiga, bagaimana perasaan terhadap situasi. Keempat, bagaimana menyiapkan masa depan. FGD ditutup dengan testimoni dari pemerintah desa yang diwakili oleh Pak Dusun, bahwa mereka sangat berterima kasih dengan adanya kunjungan ini. Melalui kunjungan ini, masyarakat diantar untuk betul-betul merasakan dan memiliki pulau yang telah lama mereka diami, mulai dari aspek kesehatan, pendidikan, dan perekonomian. Dalam testimoninya, beliau juga menyatakan dukungan terhadap kegiatan Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa.

DSC07035
Wajah antusias warga mengikuti FGD

Perasaan senang tentunya kami rasakan. Begitu juga yang terlihat dari wajah-wajah tim penyelam setelah melakukan pengamatan di bawah laut Bontosua. “Di bawah banyak cumi-cumi”, kata Bang Appi. Setelah tim lengkap di pinisi, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Pa’nikiang, menuju arah Kabupaten Barru. …bersambung…

DSC07852
Transaksi masyarakat Bontosua terhadap kebutuhan makanan dan perabotan.
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s