Akhirnya Menghadap Ke Laut

Laut sebenarnya bukan hal yang baru buat saya karena sedari kecil, saya sudah akrab dengan kehidupan laut. Hanya saja, saya kurang fasih berenang, apalagi menyelam. Saya sendiri memiliki halusinasi yang tinggi saat berada di dalam air, terutama di laut. Perasaan saya seperti ada yang memanggil-manggil lalu melambai ke arah saya kala berada dalam air. Pernah suatu ketika di Leang Kareta, Selayar, saya mengikatkan tali di salah satu kaki sebagai penanda bahwa saya sudah terlampau jauh meninggalkan perahu. Setelah tali tersentak, saya pun berputar arah ke perahu. Seiring waktu berjalan, saya memang lebih banyak berkecimpung di kawasan sekitar hutan dan gunung. Bukan berarti saya harus melupakan laut karena saya sendiri hanya bisa menyantap ikan laut. Tenggorokan saya seperti tidak ramah terhadap aroma ikan air tawar.

Sampai pada suatu hari, saya mendapat sentilan dari Abang Appi, “Sesekali ke laut lah”, katanya. Gayung bersambut, saya pun meringankan tarikan gas sepeda motor menuju Dermaga Kayu Bangkoa yang entah kapan terakhir kali saya menjejakkan kaki di sana. Lepas magrib saya tiba dan disana saya menemui beberapa orang, tiga di antaranya telah saya kenal. Selebihnya baru kali pertama jumpa. Hangatnya udara pesisir bersama deru ombak kecil yang menghantam pilar-pilar dermaga serta kelap-kelip cahaya lampu yang berpendar di permukaan air menjadi pengiring pembicaraan malam itu. Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa ada tiga item kegiatan yang berlangsung dari tanggal 17 hingga 19 Agustus 2018. Kegiatan tersebut secara berurut adalah upacara mengibaran Bendera Merah Putih secara bersamaan di bawah laut dan di atas kapal pinisi yang mengambil titik aktivitas di perairan Pulau Samalona. Hari kedua akan dilakukan temu bicara dengan Komunitas Pappalimbang (Indo: para penyeberang) di Pulau Lae-Lae. Puncak kegiatan di hari ketiga adalah kegiatan bersih pantai dan laut yang serentak dilaksanakan oleh tim pandu laut nusantara di 73 titik seluruh Indonesia yang dilanjutkan dengan seremoni menghadap ke laut secara serentak.

Gelombang pasang dan surut berganti, bulan muda Dzulhijjah masih malu di peraduannya sementara pertemuan semakin tinggi intensitasnya, mengingat hari menuju kegiatan kian mendekat. Mulanya saya hanya ingin terlibat di kegiatan bersih pantai, nyatanya saya menikmati keakraban  dari teman-teman yang terlibat. Apalagi ketika menemukan pesan di grup yang menanyakan kesediaan untuk ikut di kegiatan pengibaran bendera, segera saya menuliskan nama sebagai salah satu di antara peserta yang ada. Saking takut ketinggalan, saya pun tidak tidur semalam agar bisa tiba di anjungan Pantai Losari, hanggar kapal pinisi, sesuai jadwal. Usai subuh, saya pun segera mandi lalu menyetel lagu-lagu lawas di channel youtube. Tak lupa segelas kopi tubruk dengan kepulan wangi asapnya mengisyaratkan akan hari yang indah. “Tak pernah padam rinduku pada laut. Di sana dapat aku menyelam, kubuang kegetiran. Berenang bersama cumi-cumi, bicara dengan ombak. Tak pernah sirna cintaku pada gunung. Di sana dapat kurebahkan jiwa, menghirup kesegaran. Bernyanyi bersama daun-daun, bicara dengan embun.” Belum usai lagu Ebiet G. Ade ini, saya pun segera berangkat ke Losari. Sepanjang jalan yang masih lengang, terpatri di pikiran saya, apa iya kita bisa berenang dengan cumi-cumi. Mungkin bisa saja kalau laut kita bersih dan terawat.

Gladi resik berjalan dengan baik meskipun matahari seperti tanpa ampun menyengat mengalirkan butiran keringat di ujung kening. Setelah dua kali perulangan, sepertinya pertunjukan pra kegiatan ini dinyatakan selesai. Pinisi melaju pulang dan saya memilih tidur pulas di ruang perpustakaan. Empat jam cukup untuk menebus kantuk yang tak tertahankan. Tak terasa, biru langit merona merah bata di horizon barat. Saya mengambil peralatan kopi lalu membuat seporsi espresso sebagai teman membaca di kala senja. Hingga malam datang, saya diajak Abang Appi untuk ikut pertemuan di Lae-Lae sebagai persiapan temu bicara nanti. Sadar belum makan seharian, sembari menunggu yang lain datang di titik kumpul, saya mengajak Bang Hapri untuk menikmati nasi kuning di tepian pulau, di bawah tajuk nyiur, bercahaya temaram lampu dari tenaga diesel. Sama seperti tempat-tempat lain yang telah banyak menerima program, sikap skeptis dari masyarakat pun terlihat. Tapi, itulah tantangan seorang fasilitator. Kekuatan dari tim kali ini adalah tidak ada kepentingan khusus dan tidak ada ikatan politik. Tidak canggung-canggung, beberapa kawan ikut terlibat dalam latihan goyang Maumere bersama beberapa perempuan di pulau untuk persiapan lomba kemeriahan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah pelajaran yang saya catat dalam pertemuan itu adalah melawan kebijakan secara frontal adalah sebuah kehampaan. Keniscayaannya adalah dengan bergandengan tangan memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Dengan demikian, dukungan akan datang dengan sendirinya.

DSC06387
Suasana pertemuan dengan masyarakat Pulau Lae-Lae

Saya terbangun sebelum alarm berbunyi, itu membuat saya bangun lebih santai. Setelah ibadah subuh lanjut menyeduh kopi lalu bergegas mandi. Jam tidur kawan-kawan di Bajiki memang beragam. Kepada kawan yang masih terjaga dari panjangnya malam saya pamit dan memberi kode untuk mengunci kembali pintu. Sepeda motor saya pacu mengikuti jalan yang dipenuhi tamu dari Madagaskar,  Si Ketapang Kencana. Semoga Sawo Kecik, Damar, Keben, Nyamplung, Dengen, dan sebagainya tidak menjadi kenangan puspa bangsa. Setiba di dermaga, belum banyak yang datang tapi yang ada sudah mulai menyiapkan segala kelengkapan dan atribut untuk upacara. Beruntung ada kue “Buroncong” yang masih hangat. Kuputuskan untuk menyeduh kopi di dapur kapal sebagai pasangan kue. Di sisi tenggara kapal telah dimulai upacara oleh jajaran Pemerintah Kota Makassar. Tak berselang lama, pinisi pun melaju menuju perairan Samalona.

DSC06420
Suasana tim pengibaran bendera di atas kapal pinisi menuju Pulau Samalona

Setiba di Samalona, tim pun berbegas sesuai dengan tugas dan kapasitas mereka. Saya sendiri yang sebelumnya menjadi peserta upacara kini ditunjuk sebagai pelaksana upacara, bergabung dengan tim sepuluh penggerek bendera. Terakhir kali saya mengikuti upara tahun 2014 di Danau Tanralili bersama beberapa kawan, itu pun tidak seperti rangkaian upacara protokoler. Kami hanya mengibarkan bendera sembari menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Matahari Samalona sedang tidak lucu-lucunya dan kami pun tidak dibolehkan mengenakan topi. Seperti ada sokongan semangat baru hingga tidak lagi hirau atas sengatan raja siang. Upacara berlangsung sesuai rencana dan sebelum masuk waktu ibadah Jumat, pinisi sudah bersandar di Losari. Seusai ibadah jumat, bersama Abang Appi, Abang Akbar, dan Abang Dayat, kami mengikuti rapat koordinasi dengan tim pandu laut nusantara yang diwakili oleh Mbak Lia dan Kakak Putri, serta beberapa kesatuan yang siap terlibat dalam seremonial “Menghadap Ke Laut” di kantor Balai Karantina Ikan dan Pengembangan Mutu  Makassar. Dalam rapat kali ini sudah lebih detail mengulas kegiatan berdasarkan urutan waktu dan siapa yang bertanggung jawab pada setiap item dan zona.

“Hari berganti, angin tetap berhembus. Cuaca berubah, daun-daun tetap tumbuh”, kata Slank dalam salah satu lagunya. Final meet up pun dilaksanakan untuk melihat kesiapan panitia dan relawan secara internal.  Sadar akan sistem pendataan yang harus cepat dirampungkan, panitia internal di bawah naungan Yayasan Makassar Sikalia yang terdiri dari pengurus dan relawan membentuk tim kecil yang bertugas bersama koordinator zona yang sudah ditetapkan sebelumnya. Hasil rapat sebelumnya pun kembali dipaparkan untuk menyamakan persepsi terutama penggolongan jenis sampah dan bagaimana mengambil sampel serta pembobotannya. Rapat ditutup dengan menyanyikan secara bersama lagu theme song pandu laut Losari, karya Om Bob yang berjudul “Ke Laut Aja”. Liriknya seperti ini, “Hamparan air yang membentang luas, berjejer pulau-pulau Sangkarrang. Beragam kekayaan laut nusantara, tersimpan rapi dan mengagumkan. Perahu negeri berlayar mengikuti arus air laut yang bergoyang. Angin yang berhembus meniup laju layarku. Bawa aku ke pulau seberang. Yo yo yooo kita ke laut aja. Yo yo yooo snorkeling bareng bersama. Yo yo yooo hilangkan duka lara. Nikmati pantai yang indah dan terbenamnya sunset. Di laut lepas”.

Biru langit kian memerah lalu jingga dan perlahan menghitam. Cahaya matahari berganti pijar lampu membentuk bintang-bintang kecil bergoyang di permukaan air laut. Selepas magrib, bersama semua tim yang hadir menyeberang ke Lae-Lae. Di seberang telah menunggu masyarakat pulau yang tergabung dalam Komunitas Pappalimbang. Dalam pertemuan ini ada beberapa poin yang saya catat  bahwa sampah akan memengaruhi rejeki. Bisa diperhatikan setiap pengunjung terutama turis mancanegara yang hendak menyeberang ke pulau kadang mengurungkan niat hanya karena melimpahruahnya sampah di pantai Kayu Bangkoa. Hal itu kemudian menjadi masalah karena menimbulkan pemandangan sekaligus asumsi buruk bagi pengunjung akan eloknya Spermonde yang dalam istilah lain disebut “Sangkarrang”. Dermaga Kayu Bangkoa adalah salah satu gerbang menuju pulau-pulau indah Makassar, tentu akan menimbulkan daya tarik tersendiri jika terawat dan bersih. Secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap geliat ekonomi masyarakat yang mata pencahariannya berada di sekitar itu. Sampah sendiri bisa menjadi potensi ekonomi baru jika kita melihatnya sebagai sahabat. Sampah bisa menjadi barang seni, kompos, maupun barang timbangan yang bisa mendatangkan pundi-pundi perekonomian. Hal ini pun didukung oleh beberapa elemen seperti Bank Sampah dan beberapa pegiat seni untuk berdampingan dengan masyarakat. Intinya, selama masyarakat sendiri yang siap untuk melakukannya, pihak luar akan dengan sendirinya mencarikan jalan demi kemaslahatan bersama.

Langit Minggu pagi pegitu cerah, tak ada mega terlebih jelaga, entah kemana nimbus berarak. Biru langit sebiru jiwa-jiwa yang kasmaran dan menambah beban kerinduan bagi para pemuja hujan. Pukul delapan kurang lima menit, saya sudah berada di pinisi. Saya kemudian meyeduh kopi dan menyantap roti yang saya beli di mini market tadi. Rencana untuk sosialisasi kegiatan di car free day pun tidak terealisasikan. Kawan-kawan banyak yang baru tiba usai pelancong mingguan Losari bubar. Melalui koordinasi dengan Bang Appi, saya kemudian mengajak teman-teman yang ada menuju ke posko Kayu Bangkoa sembari menunggu aksi bersih pantai dimulai. Beberapa kawan pamit mencari sarapan dan saya sendiri menuju kedai kopi di Jalan Somba Opu. Di sana kawan ngopi saya sudah menunggu.

Udara panas pantai memberi sengatan tanpa toleransi dan sinari matahari baru condeng beberapa derajat ke barat. Suasana Dermaga Kayu Bangkoa masih tetap ramai, baik dari para peserta yang sudah tiba di lokasi atau pun para pelancong yang mengisi akhir pekan mereka ke pulau seberang. Satu per satu teman-teman yang mendapat tugas khusus beranjak menuju zona mereka masing-masing. Kakak Wallis dan Ade berada di zona 1 (mulai dari Masjid terapung hingga anjungan City of Makassar) bergabung bersama tim dari BKIPM (Balai Karantina  Ikan dan Pengembangan Mutu). Kakak Isma dan Safiq di zona 2 (mulai dari anjungan City of Makassar hingga Anjungan Mandar) bersama dengan tim dari PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) dan IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association). Di zona 3 (mulai dari anjungan Mandar sampai MGH hotel) diisi oleh kakak Dilla dan Idrus berkolaborasi dengan tim dari PIP (Pendidikan Ilmu Pelayaran) serta dari Polair polda Sulsel. Untuk zona 4 yang terbagi menjadi zona 4A (Kayu Bangkoa) dan Zona 4B (Dermaga Sari Laut, depan Benteng Rotterdam) berada dalam pantauan Kakak Kiki, Egha, Wahid dan saya sendiri sebagai koordinator zona  bersinergi dengan kawan-kawan dari TNI Angkatan Laut, Komunitas Pappalimbang, dan Yayasan makassar Sikalia, serta komunitas massa lainnya. Sementara itu, relawan yang mendaftar secara online menyebar ke zona-zona yang ada berbaur dengan tim yang sudah ada.

Sebagaimana hasil rapat-rapat sebelumnya bahwa koordinator zona diwajibkan untuk mengambil gambar zona mereka sebelum aksi bersih pantai dan laut dimulai. Saya pun mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa kutipan. Sejenak saya duduk terdiam menghadap ke laut mecoba merenungi setiap jengkal pantai yang tak lagi memperlihatkan butiran pasir. Sepenuhnya tertutupi oleh objek-objek yang kemudian dihinakan sebagian besar manusia lalu menyebutnya sebagai sampah. Benar bahwa laut adalah muara segala yang mengalir dari gunung lewat sungai-sungai. Tapi apakah laut dengan segala kekuatan yang dimilikinya bisa menerima semua itu? Faktanya, hari ini kita tak ubahnya menyantap sampah sendiri. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ikan-ikan dan makhluk konsumsi lainnya yang berasal dari laut kini mengandung plastik. Belum lagi limbah lainnya dari tambang dan pertanian yang tak ramah lingkungan. “Periculum in mora”, tidak bisa ditunggu lagi, bahaya semakin mengancam.

DSC06458
Kondisi Pantai di Zona 4 sebelum pembersihan
DSC06560
Pemilahan jenis sampah yang diambil dari pantai berdasarkan kategori untuk diboboti.

Berdasarkan hasil pantauan yang dilakukan oleh panitia, terdaftar sebanyak 1.528 orang yang terlibat dalam kegiatan yang diprakarsai oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ibu Susi Pudjiastuti ini. “Menghadap Ke Laut” sendiri dilaksanakan secara bersamaan pada 73 titik di seluruh Indonesia, sebagai rangkaian peringatan HUT Proklamasi RI ke-73. Sampah yang terkumpul di sepanjang Pantai Losari mencapai 8.081,8 kg yang terakumulasi dari empat zona. Secara berurut, terbanyak di zona 4 sebanyak 8.000 kg, menyusul di zona 3 sebanyak 55,7 kg, lalu di zona 2 sebesar 19 kg, dan terakhir di zona 1 sebanyak 7,1 kg. Adapun uraian berdasarkan jenisnya, sampah plastik sebanyak 5.646,2 kg, sampah kaca sebanyak 117 kg, sampah logam sebanyak 90,5 kg, sampah styrofoam sebanyak 263,7 kg, sementara sampah lainnya yang tidak teridenfikasi khusus mencapai 1.964,4 kg.

DSC06690
Kondisi pantai di zona 4 setelah dilakukan pembersihan.

Salut dengan Kaka Slank yang turut serta memberi semangat kepada khalayak yang ikut dalam aksi bersih pantai ini. Kaka pun tak canggung untuk turun ke lokasi pembersihan menyapa dan berfoto bersama dengan para hadirin. Rangkaian penutupan dilakukan dengan seremonial menghadap ke laut. Seluruh peserta saling berpegangan tangan dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Selanjutnya, dengan menggunakan kapal pinisi sebagai panggung, Om Bob membawakan lagu “Ke Laut Aja” dilanjutkan oleh Kaka Slank dengan tembang manisnya “Ku Tak Bisa Jauh”. Hari yang manis juga buat Daeng Ngalle yang menjadi pengiring musik bagi kedua seniman suara ini.

Apa yang telah dicapai pantas untuk dibanggakan, apa yang telah dilaksanakan patut untuk disyukuri. Tapi apa yang telah kita mulai kiranya harus dilanjutkan. Bumi semakin tua dan semakin berat beban yang diembankan kepadanya. Saatnya kita selaku manusia kembali ke fitrah sebagai khalifah yang menjaga segala kedamaian di muka bumi berikut segala isinya. Salam pandu laut!

 

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

3 thoughts on “Akhirnya Menghadap Ke Laut”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s