Sulitnya Membangun Hutan

Suatu sore,  kala jam kantor telah usai, dengan beranjak melewati pintu yang berjarak tiga meter dari sisi kiri meja kerja saya. Melewati pintu, bersama segelas es kopi (siangnya saya membuat dua porsi, satu porsinya sengaja saya masukkan ke lemari pendingin biar dapat sensasi dingin di sore yang gerah), saya pun duduk menyeruput dua hingga tiga kali lalu meletakkan gelas di relief pondasi pagar. saya kemudian mengamati setiap jenis tanaman yang saya tanam di beranda belakang kantor. Ada jati, kayu kuku, sengon, akasia mangium, kale, turnip, mint, murbey, lemon, cabe, pakcoy, adas, strawbery, kaliandra, hingga ruruhi (sejenis jambu yang banyak di hutan Sulawesi Tenggara). Kegiatan ini menjadi rutinitas jika tidak sedang tugas lapangan.

Tidak lama berselang, tangan saya masih membelai tiap helaian daun mencari OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang menyelinap di antara rimbun daun. Atasan saya kemudian menyusul lalu menyapa, “Tanam apa Pak Enal?”. “Banyak macam Pak, mulai dari tanaman hutan hingga sayuran yang bisa dikonsumsi”, jawab saya. Beliau kemudian menceritakan sosok yang ada di Kalimantan. Katanya, sosok tersebut tidak pernah bersekolah, dia pun adalah perantau dari Jawa. Dia kemudian membeli lahan seluas dua hektar lalu menanam apa saja di dalamnya. Tidak ada pertimbangan pilihan komoditi mau pun pertimbangan jarak tanam. Segala jenis tumbuhan yang berhasiat sebagai teh ditanam. Tentunya juga kopi diselipkan dalam tapak tersebut. Dari apa yang dipaparkan oleh Pak Rochmat, dipikiran saya bahwa lahan tersebut dikelola dengan pendekatan permakultur, yaitu cabang ilmu desain ekologis, teknik ekologis, dan desain lingkungan yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam.

Singkat cerita, selang berapa tahun kemudian, lahan tersebut menjadi ramai pengunjung bahkan menjadi objek penelitian. Berbahai teh dan kopi yang dihasilkan bahkan tidak mampu memenuhi permintaan peminatnya. Untuk menikmati teh atau kopi masih perlu daftar tunggu. Yang mencengangkan lagi, lahan tersebut ditawari senilai tiga milyar rupiah oleh pemerintah, dan si empunya pun menolak. Katanya, dia sudah terlanjur sayang dengan lahannya dan seperti ada sesuatu yang membisikkan agar lahan tersebut tetap dalam kendalinya. Mungkin seperti inilah yang dikatakan sebagai spiritual ekologi. Michelangelo (1475-1564), seorang pelukis dan arsitek berkebangsaan Italia, pernah mengatakan bahwa  jiwaku tidak dapat menemukan tangga ke Surga kecuali melalui keindahan bumi. Seperti ada garis relasi yang menghubungkan antara keindahan bumi dengan pintu surga.

Atasan saya kemudian menyarankan saya untuk mengikuti jejaknya dengan pengetahuan yang saya miliki. Sebenarnya, mimpi saya adalah memiliki sebuah agroekowisata dengan konsep seperti arboretum. Arboretum tidak lain adalah kebun botani dengan ragam tumbuhan yang diberi keterangan mengenai tumbuhan tersebut sehingga menjadi informasi tambahan bagi pengunjung, termasuk perpustakaan dan herbarium. Entah kapan akan kesampaian, tapi mimpi tetap harus disuarakan.

Contoh lain adalah Bapak Gusti Putu Sukadana, ketua Kelompok Tani Hutan Wana Giri Lestari yang ada di Landono, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Uapaya Pak Putu untuk membeli tanah dan menanam beragam pohon beringin bukan suatu langkah yang mudah. Tidak dari masyarakat umum saja, dari dalam keluarganya sendiri pun menuai kritikan karena dianggap membangun perumahan untuk makhluk kasat mata. Beringin yang ditanam di atas lahan seluas tiga hektar bukan dilakukan tanpa pertimbangan. Kesadaran ekologi yang tinggi tentu adalah pemantik api yang mengobarkan semangatnya untuk memulai.  Saat ini, Pak Putu berhasil menepis kritikan tersebut. Hadirnya mata air di sekitar lahannya menjadi sebuah keberkahan sebab yang namanya makhluk hidup, tidak lepas dari air sebagai komponen terbanyak dalam setiap selnya. Secara bertahap terjadi perubahan pola interaksi dalam ekologi. Beberapa binatang yang dulunya mulai langka ditemui, kini kembali datang entah dari mana asalnya. Saya masih ingat kata Pak Putu saat menjadi pemandu dalam pelatihan silvikultur yang diadakan oleh EQSI (Ecomomi Quality and Sustainability Improvment), bahwa “Beringin sangat penting dalam mengamankan ketersediaan air. Kalau pun dikatakan sebagai perumahan makhluk gaib, itu bukan masalah. Lebih baik makhluk gaib itu bersemayam di pohon dari pada dalam diri kita”. Namun demikian, Pak Putu masih mengaku kalah dengan Mbah Sadiman di Wonogiri yang telah 20 tahun mengabdikan diri untuk menanam dan kini airnya bisa menghidupi  sedikitnya 3.000 jiwa yang bersumber dari Gunung Gendol.

DSC07884
Salah satu sudut lahan milik Pak Putu. Kolam dibuat untuk menampung air yang bersumber dari mata air yang tercipta oleh hadirnya beringin.

Saya kemudian teringat pembicaraan saat pulang ke Kendari usai memberikan bimbingan teknis bagi calon pemandu pelatihan silvikultur di Punggaluku pada desa-desa yang kami dampingi. Aksioma yang terbangun pada malam itu kala melewati liukan jalan antara Anduna dan Wolasi bahwa membangun hutan itu sangat sulit. Desakan ekonomi tentu menjadi alasan utama berubahnya alih fungsi hutan. Subjektivitas saya mengatakan bahwa memang masih rendah perhatian kita terhadap sektor pertanian dan kehutanan padahal dampak buruk dari kedua sektor ini jika salah urus, sifatnya sistemik. Contoh dekat adalah dampak kebakaran hutan terhadap dunia yang sering kita lihat di berbagai pemberitaan.

hutan indonesia dalam angka-01
Hutan Indonesia Dalam Angka. Dibuat oleh @dgipul

Sudah menjadi rahasia umum kalau dari hari ke hari, hutan kita mengalami penurunan baik secara kuantitas di luasan mau pun kualitas pada penutupan. Kita juga tahu bahwa setiap tahunnya, pemerintah kita mencanangkan kegiatan penghutanan kembali atau reforestasi dengan target capaian yang tak selebar daun kayu manis. Semestinya, kita tetap optimis dengan upaya tersebut. fakta di lapangan yang kadang membuat kita miris. Tahun ini saja, kementrian kehutanan (Kemenhut) menargetkan satu milyar pohon pada luasan 500 – 600 hektar (ha). Menurut Pak Sahrul, seorang konsultan pembagangunan hutan dengan pola kemitraan, untuk program reboisasi  pemerintah melalui 1,1 juta ha per tahun sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan menurunnya luasan hutan sebab tiap tahunnya, setengah dari lahan yang mestinya dihijaukan sudah tertanami. Bahkan, kegiatan reboisasi ini telah digalakkan dari tahun 80-an. Seharusnya, kita sudah bisa lagi melihat adanya lahan terbuka atau kritis.

Harus diakui bahwa selama ini, progran reboisasi yang dicanangkan hanya cenderung fokus pada penanaman saja. Upaya pengelolaan dan pemeliharaan cenderung jadi faktor yang abai. Pelibatan masyarakat sekitar hutan dalam kegiatan reboisasi hanya mengambil peran sebagai buruh tanam. Kejadian yang cenderung muncul adalah tertumpuknya bibit di halaman belakang hingga mati dan danya menyisakan kantong hitam usang. Yang ditanam pun cenderung seadanya karena buruh tanam tentunya mengejar kuantitasnya. Belum lagi pemilihan jenis yang tidak sesuai hingga gangguan ternak dan binatang liar.

Sekali lagi, membangun hutan bukan perkara yang mudah. Paling tidak, ada enam tahapan yang terjadi dalam pembentukan hutan. Tahapan suksesi tersebut berlangsung lama dan terus menerus serta saling memengaruhi setiap tahapannya. Tahap pertama adalah invasi tumbuhan. Pada tahapan ini terjadi migrasi, eksesif dan kompetisi diantara organisme yang dipengaruhi oleh waktu dan tempat. Pada tahapan ini akan didominasi oleh pohon-pohon yang sifatnya pionir. Selanjutnya, tumbuhan tersebut mengalami adaptasi di tahap kedua dan pada tahap ketiga terjadi agregasi (penambahan jumlah vegetasi), baik pada satu spesies atau pada spesies campuran. Pada tahap berikutnya terjadi persaingan penguasaan sehingga interaksi menjadi semakin kompleks untuk menghasilkan spesies atau populasi yang lebih unggul. Sebagai bentuk penguasaan, maka akan terjadi reaksi terhadap habitat. Di tahapan kelima ini, para spesies dominan akan melakukan perubahan-perubahan untuk mencapai kondisi yang ideal, termasuk dengan mengubah reaksi dan sifat tanah serta memodifikasi iklim. Pada kondisi yang ideal akan terjadi stabilisasi komunitas (tahap enam)  yang diikuti oleh klimaks. Namun demikian, sering batasan klimaks menjadi sulit tersedeksi karena adanya perubahan secara terus menerus dan dinamis pada komunitas dan lingkungan.

DSC05161
Pemandangan Pagi Di Desa Aukora, Kolaka Timur

Kondisi di atas semestinya bisa dipangkas dengan perencanaan pembangunan hutan yang lebih matang. Pemilihan jenis yang adaptif terhadap lingkungan yang ada bisa memotong empat tahapan suksesi, seperti hutan buatan. Pendekatan silvikultur (budidaya tanaman hutan) dan agroforestri (perpaduan tanaman hutan dan tanaman pertanian) tentu sangat efektif dalam mencegah terjadinya alih fungsi lahan dari hutan ke ladang. Justru akan berlaku sebaliknya, sistem agroforestry pada lahan milik akan menambah luasan penutupan lahan oleh kanopi pohon, baik pohon pelindung mau pun pohon produksi.

kayuuu
Beberapa jenis kayu hutan alam yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Kolaka Timur.

Tantangan tersbesar yang dihadapi dalam membangun hutan pada aspek ekonomi. Tidak mudah menjadi sosok yang saya ceritakan dalam pembuka tulisan ini. Sedikit berandai-andai, jika pendapatan masyarakat perkotaan sama dengan masyarakat di sekitar hutan, maka nyaris akan sulit menemukan gangguan oleh manusia yang berdampak pada kerusakan hutan. Jika kita bisa membangun persepsi bahwa gedung perkantoran dan mall selevel dengan aktivitas ekonomi yang ada di sekitar hutan, maka dipastikan kita tidak menemukan titik api di hutan.  Jangankan antara masyarakat kota dengan masyarakat sekitar hutan, antara masyarakat sekitar hutan dengan kaum petani ladang pun terlihat perbedaan. Karena perbedaan itulah, masyarakat pun akhirnya berlomba membuka lahan untuk jadi lahan pertanian. Tentunya pola ini akan berbeda dengan yang dilakukan pada masyarakat adat. Semakin tinggi kesadaran ekologi yang dimiliki komunitas semakin mudah untuk melakukan pendekatan dalam membangun hutan. Hutan tidak bisa dilihat sebagai organ tunggal tapi merupakan satu kesatuan dengan lingkungan hidup. Dengan begitu, setiap individu akan memiliki kesadaran terhadap pentingnya keberadaan hutan. Semoga kita adalah salah satu bagian dari komunitas yang sada akan pentingnya kelestarian lingkungan dan hutan.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

7 thoughts on “Sulitnya Membangun Hutan”

  1. Weits.. ada infografisku dipasang hahaha.
    Ah jadi kangen lagi mengenang masa kerja dua tahun lebih yang salah satunya akrab dengan isu hutan. Saya bangga pernah jadi bagian pekerjaan itu, berkenalan dengan banyak orang yang tidak kenal lelah selalu menjaga hutan kita.
    Salam lestari!

  2. sungguh sulit membangun kembali hutan tapi begitu mudah kira mengubahnya sesuai dengan nafsu kita. atas nama pembangunan. pffft.

  3. Baca ini saya jadi baper tentang hitan kak , soalnya di indonesia banyak terjadi illegal logging yang menyababkan kita kehilangan hutan, padahal kalau dipikir lg hutan manfaatnya banyak sekali , salah satunya menahan air hujan ketika harus hujan lebat berhari-hari, sekarang jadi rawan banjir karena hutan-hutan kita mulai gundul 😦

  4. saya jd ingat masa2 jd mahasiswa dan pekerja geologi yg rutinitasnya keluar-masuk hutan untuk nyari data.. enaknya karena hutan masih menawarkan udara yg sejuk untuk kita bernapas..

  5. Belum pernah nih ke Kolaka Timur pdhl ad keluarga dsna 😁
    Kdng ada oemberitaan sy dgr klu ada penebangan hutan liar, sedih rasanya. Pdhl untuk satu pohon saja btuh waktu.
    Mdh2an kesadaran menjaga hutan smkin meningkat 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s