Aerial Seeding; Rehabilitasi Hutan dengan Murah

Teman-teman saya di Komunitas Makassar Berkebun sering mencampur benih bayam dengan tanah atau pasir lalu menaburnya. Dulu, saya juga sering melihat nenek menggesekkan bunga kering dari bayam dengan kedua telapak tangannya di atas tanah yang telah digemburkan. Selang waktu lima hari setelahnya, akan muncul anakan-anakan bayam  yang nantinya dipelihara untuk menjadi sayuran. Ketika kita berjalan-jalan ke pedesaan yang perekonomiannya bertumpu pada kegiatan bercocok tanam, sering kita temui petani menanam jagung dan kacang dengan cara tugal. Dapat juga ditemui  di area persawahan, seperti petani yang menabur benih langsung di semua lahannya sehingga tidak perlu lagi ada pemindahan bibit nantinya.  Tindakan tersebut dinamakan tabela (tanam benih langsung), dalam istilah rehabilitasi hutan disebut direct seeding (penaburan langsung).

Direct seeding disebut sebagai teknik penaburan benih langsung di lapangan tanpa melalui tahapan persemaian. Tindakan ini umum dilakukan karena pertimbangan tenaga yang kurang, biaya pembibitan mahal dan tentunya akses menuju lokasi penanaman yang sangat sulit untuk pengangkutan bibit. Keadaan ini pun bukan tanpa kekurangan karena sebelum melakukannya, juga diperlukan perhitungan yang matang terkait kontrol yang lebih intensif pada skala yang lebih luas, mengingat fase kritis pertama yang pertumbuhan tanaman berada pada fase kecambah.

Menurut pakar silvikultur Universitas Halu Oleo Kendari, Bapak Dr. Faisal Danu Tuheteru, dalam acara bimbingan teknis silvikultur (budidaya tanaman hutan), yang diselenggarakan oleh EQSI Project, menyatakan bahwa pemelihan jenis sangat berpengaruh terhadap keberhasilan direct seeding. Adapun kriteria jenis tersebut antara lain merupakan jenis asli setempat (endemik) atau tanaman yang secara ekologi sesuai dengan lokasi penaburan.  Syarat lain adalah cepat tumbuh dan dapat berasosiasi dengan mikroba tanah.  Satu lagi syarat yang penting yaitu tanaman dengan benih ortodoks (benih kering).

Dalam penerapannya, direct seeding sendiri bisa dilaksanakan melalui tiga metode, yaitu hand direct seeding, hydro seeding, dan aerial seeding. Cerita pembuka saya di atas adalah contoh penaburan dengan metode hand direct seeding, dimana benih ditabur langsung atau dengan sistem tugal, tergantung jenis tanamannya. Metode ini dipilih jika lokasi tidak terlalu luas dan masih mudah untuk dijangkau. Benih yang digunakan harus memiliki persen tumbuh yang tinggi. Dalam penerapannya di bidang kehutanan, umumnya dilakukan sistem tugal pada tanaman jati (Tectona grandis).

Hydro seeding sendiri merupakan suatu teknik atau metode penanaman dimana benih, air, pupuk, mulsa serat dicampur bersama dalam sebuah tangki dan selanjutnya ditaburkan (disemprotkan) ke areal penanaman. Metode ini dipilih karena area penanaman yang luas degan waktu yang singkat. Cara ini pun efektif untuk lokasi dengan kelerangan yang tinggi. Hanya saja, biaya pelaksanaannya tentu tergolong mahal.

Sedikit cerita menarik tentang rumput minjangan (Chromolaena odorata), dalam bahasa Makassar disebut jonga-jonga. Suatu hari ketika kawan saya, Magamo, usai pulang kampung, bercerita. Menurut orang tuanya yang tinggal di Libanon (Lingkungan Batunong), Enrekang, bahwa  jonga-jonga baru ditemukan tumbuh setelah pesawat lewat beberapa waktu sebelumnya. Diduga, tumbuhan tersebut ditabur oleh pesawat, makanya diberi nama “reu kappala” (reu = rumput, kappala = kapal atau pesawat).

Cerita lain datang dari Sambahule. Adalah Pak Hendrik, ketua kelompok tani hutan di kampung itu bercerita saat saya bermalam di rumahnya untuk kegiatan penaburan benih. Menurut Pak Hendrik, Sambahule dulunya adalah alang-alang dan sangat tandus untuk dijadikan perkampungan karena tumbuhan lain susah hidup pada kondisi seperti itu. Tidak lama setelah pesawat melintasi perkampungan di Kecamatan Baito, Konawe Selatan ini pada tahun 80-an awal, hadirlah “komba-komba”, sebutan lokal untuk rumput minjangan. Setelah itu, alang-alang kemudian tergantikan dan secara bertahap lahan menjadi subur.

Tumbuhan ini memang memiliki pertumbuhan yang cepat dan menghasilkan biomassa yang cukup besar. Beruntung ada lalat Argentina yang berperan dalam mengendalikan pertumbuhannya.   Kandungan Nitrogen dan Kalsiumnya malah lebih tinggi dibanding pupuk kandang dari kotoran sapi. Tumbuhan etno-farmakologis ini memang berkontribusi banyak dalam memperbaiki kesuburan tanah, terutama untuk sistem pertanian bero dan berpindah-pindah. Dari berbagai sumber disebutkan kalau tumbuhan ini berasal dari Amerika Tengah dan masuk ke Indonesia tahun 1912.

Jika pada dua kasus rumput menjangan di atas dilakukan dengan penaburan benih dari udara menggunakan pesawat atau helikopter, maka itulah yang disebut aerial seeding atau dalam istilah lain dikatakan air seeding. Metode ini menjadi pilihan yang tepat pada daerah dengan tingkat aksesibilitas yang rendah (sulit dijangkau) dan area yang sangat luas. Dalam pelaksanannya, metode ini banyak menggunakan benih.

Berdasarkan data yang disajikan oleh Pak Danu, air seeding sudah banyak dipraktikkan di USA, New Zealand, Canada, Australia, India, Indonesia, Nigeria, Vietnam dan China. Di Indonesia sendiri, praktik air seeding telah lama dilakukan, antara lain tahun 1973 di Balapulang (Jawa Tengah), dilporkan seluas 370 hektar  dengan menyebar  Sesbania grandiflora (turi), Leucaena leucocephala (lamtoro gung), Caliandra calothyrsus (kaliandra), Acacia auriculiformis (akasia) dan Dalbergia sp. (sonokeling). Hasil pengamatan permudaan setelah satu tahun tumbuh baik adalah lamtorogung dan kaliandra. Tahun 1973 di Lawu, Jawa Timur pada lokasi yang memiliki kemiringan lahan hingga 35°. Pada areal seluas 65 hektar ditaburkan akasia dan kaliandra sebanyak  53.000 biji per hektar.

Tahun 1988/1989 di Sumba Timur, NTT, seluas 400 hektar menggunakan jenis lamtoro. Saat monitoring, tanaman banyak ditemukan di lembah dan tepi kali, dan sangat sedikit sekali ditemukan di  punggung bukit dan padang terbuka. Dugaan bahwa benih hanyut saat terjadi hujan sehingga benih yang tumbuh cenderung berkumpul.

Keberhasilan air seeding memang sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan lokasi penaburan. Faktor alam seperti kecepatan angin atau cuaca buruk sangat berpengaruh pada penaburan.  Dalam posisi terbang, kemungkinan salah sasaran (jatuh di lokasi lain) bisa terjadi.  Biji tersangkut masih memungkinkan akan jatuh ke tanah bila terjadi hujan atau ada angin kencang. Faktor penentu yang tidak kalah penting adalah persentase  tumbuh atau daya tumbuh (viabilitas) benih. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan air seeding sebaiknya menggunakan benih ortodoks sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan kekeringan pasca penaburan. Menurut Dr. Ismayadi Samsoedin, konsultan reforestasi di EQSI Project, bahwa disarankan menggunakan benih ortodoks dalam air seeding karena kondisi cuaca sangat sulit diprediksi. Beruntung jika pasca penaburan terjadi hujan yang mampu memicu perkecambahan dan menunjang pertumbah tanaman. Kondisi sangat berbeda jika terjadi kekeringan. Pada benih ortodoks, cenderung memiliki daya tahan yang lama. Kalau pun benih tersebut tidak tumbuh di tahun pertama pasca penaburan, besar kemungkinan benih tersebut masih bisa berkecambah di tahun berikutnya.

Di Sulawesi Tenggara, EQSI Project melakukan rehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 7.000 hektar. Lokasi tersebut tersebar di tiga kabupaten, yaitu Konawe Selatan, Konawe dan Kolaka Timur. Dalam upaya tersebut, dilakukan dua pendekatan yaitu penanaman manual (1.500 ha) dan penanaman secara air seeding (5.500 ha).  Untuk menabur di lokasi tersebut diperlukan sebanyak 11.477 kg benih. Benih yang ditabur terdiri dari sengon laut, sengon buto, jati putih, kaliandra merah, kaliandra putih, dan akasia mangium. Penentuan benih yang ditabur juga melewati proses yang panjang, mulai dari usulan masyarakat melalui diskusi kelompok, hingga workshop di tingkat kabupaten dan provinsi. Pada kawasan hutan lindung hanya dilakukan penaburan benih kaliandra yang tidak berpotensi menghasilkan kayu.

Dalam pelaksanaan air seeding, diperlukan Helikopter Type BO – 105/Bolcow yang memiliki kemampuan bermanufer yang baik untuk mengikuti jalur terbang dan liukan poligon lokasi dibanding dengan tipe helikopter lainnya. Pada bagian belakang kursi pilot dipasang seed box yang telah dibuat secara persisi sehingga tidak mengganggu struktur pesawat serta tidak memengaruhi CoG (Central of Gravity) atau pusat gravitasi pesawat. Dengan berbagai perhitungan dari loading information (Informasi muatan), pada kondisi bahan bakar penuh di tangki, pesawat dapat memuat benih dengan bobot maksimal 250 kg. Saat beroperasi, helikopter hanya memuat dua orang, yaitu pilot dan co-pilot / mekanik.

DSC08193
Helikopter yang digunakan dalam kegiatan aerial seeding lengkap dengan seed box.

Selain air team (tim penerbang), ada juga ground team yang mengatur segala aktivitas di sekitar helipad. Ground team terdiri dari staf dan helper. Staf sendiri bertugas melakukan komunikasi dengan pilot terkait titik dan lama waktu penaburan. Helper menyiapkan benih dan memasukkannya ke dalam seed box dari sisi kiri dan kanan badan pesawat. Helper juga membantu mekanik dalam menyiapkan serta mengisi bahan bakar.

DSC07735
Salah satu aktivitas tim ground pada kegiatan aerial seeding.

Pada salah satu poligon di Lawulo, Konawe, dilakukan uji sebaran benih. Di lokasi tersebut dipasang perangkat penadah benih dari net berukuran 2 x 2 m dengan jarak antar net  jarak 50 x 50 m. Terdapat 44 titik amatan penaburan yang terpasang pada luasan poligon 11 ha. Dari 44 plot amatan tersebut, sebanyak 17 (39%) net yang kosong dan 27 (61%) net yang terisi benih. Total benih yang jatuh pada perangkap amatan sebanyak 4.857 biji, jika dirata-ratakan akan terdapat 110 biji per plot. Apabila  semua plot dijumlahkan, diperoleh luasan  176 meter persegi  atau 0,0176 ha. Melalui  persamaan sederhana pada luasan 11 ha maka diperoleh jumlah biji yang tertabur di poligon tersebut sebanyak 3.035.625 biji atau setara dengan 275.966 biji per hektar. Benih yang ditabur pada lokasi yang berstatus APL (Area Penggunaan Lain) atau tanah hak milik tersebut adalah benih akasia mangium.

DSCN5269
Pemasangan alat uji tabur dari kasa halus.

Aerial seeding tentunya bisa menjadi pilihan alternatif dalam melakukan rehabilitasi hutan dan lahan kritis yang luas. Selain mampu menjangkau tempat-tempat yang memang sulit diakses untuk melakukan penanaman bibit secara manual, juga sangat efisien dalam menggunakan waktu. Untuk menyelesaikan luasan sebesar 5.500 ha saja hanya butuh waktu 56 jam lewat 51 menit (bulatkan sajan 57 jam, itu pun sudah termasuk waktu perjalanan dari dan kembali ke Makassar selama lima jam. Itu berarti bahwa rata-rata dalam satu jam penerbangan, heli dapat menabur pada luasan 100 hektar. Dengan melihat alat dan bahan yang digunakan, sepintas air seeding ini sangat mahal. Kenyataannya, air seeding jauh lebih murah dibandingkan dengan penanaman manual. Dengan catatatn harus dilakukan pada lahan yang memang cukup luas.  Sebagai bahan informasi, menurut Ali Imran, leader reforestasi EQSI Project,  bahwa biaya yang digunakan untuk melakukan air seeding adalah Rp.  700.000,- per hektar. Sedangkan penanaman manual mencapai rata-rata Rp. 3.000.000,- per hektar.

DSC08033
Kondisi Lahan di wolasi terlihat dari helikopter yang akan ditaburi benih tanaman hutan.

Dalam penerapannya, sejauh ini saya melihat kelemahan air seeding masih bergantung pada tingginya pengalaman pilot dan mekanik dalam menangani kegiatan ini karena modelnya sangat situasional. Untuk poligon yang luas bisa memudahkan dengan mengikuti jalur terbang yang telah dibuat dengan jarak tertentu pada GPS (Global Positioning System) pada helikopter.  Pak Syahrir, pilot helikopter yang bertugas dalam operasi air seeding yang diselenggarakan oleh EQSI pun mengakui hal tersebut. Pak Kep, saya menyapanya seperti itu, mengatakan bahwa mengikuti rute terbang bisa dilakukan pada kondisi lokasi yang datar dan luas. Untuk poligon yang bentuknya berkelok-kelok dan poligon yang sempit,  hanya bisa dilakukan dengan pola daun semanggi dan spiral. Sangat berbeda melakukan misi terbang di air seeding. Kecepatan dan arah angin pun sangat menentukan waktu pembukaan seed box. Saat melakukan penaburan, tinggi jelajah helikopter berada pada kisaran 300 – 600  kaki atau 100 – 200 meter dari permukaan tanah, tergantung pada kondisi geografis lahan. Kemungkinan benih jatuh di luar lokasi tetap ada sehingga penaburan tidak dilaksanakan saat kondisi angin kurang bersahabat.

Seminggu setelah penaburan dilaksanakan, pada beberapa lokasi, seperti di Sambahule, Watumeeto, dan Aoreo, beberapa warga telah melaporkan sudah ditemukan kecambah dari sengon laut dan kaliandra yang tumbuh. Untuk mengetahui efektifitasnya, akan dilakukan monitoring terhadap lokasi-lokasi tersbut melalui pengamatan rutin terhadap titik sampel yang diambil secara acak. Namun demikian, ada tiga pola penyebaran kecambah yang akan tumbuh, bisa teratur, bisa acak, dan bisa berkelompok.  Pada daerah kelerengan akan cenderung berkelompok. Yang jadi masalah berikutnya adalah bagaimana kecambah bisa melewati fase kritisnya. Karakter lokasi tidak semua betul-betul terbuka atau sebaliknya, sementara yang kita ketahui bahwa ada tiga golongan tumbuhan  hutan berdasarkan ketahanannya terhadap naungan. Tiga golongan itu adalah toleran, intoleran dan netral. Dikatakan toleran jika tahan terhadap naungan, intoleran jika lebih senang kondisi terbuka .

Aerial seeding bukan sebuah teknologi yang baru namun belum ada panduan secara baku untuk dijadikan sebagai pedoman untuk semua kondisi geografis. Metode ini masih perlu pengkajian yang lebih mendalam sehinga siapa pun yang akan melakukannya, sudah ada rujukan yang mungkin saja bisa lebih efektif dan efisien. Selain dari sisi teknologi penaburan, bahan baku dalam penaburan, dalam hal ini benih juga perlu mendapat perhatian khusus, sebab tidak semua jenis tumbuhan bisa ditabur dimana saja. Okelah pada lokasi APL dan HP (hutan Produksi). Bagaimana dengan kawasan HL (Hutan Lindung), terlebih HSA (Hutan Suaka Alam) yang sifatnya perlindungan dan konservasi. Di sinilah pentingnya arboretum hadir. Proyeksinya, selain sebagai tempat koleksi dan penyelamatan jenis plasma nutfah, ada sumber benih yang jelas untuk dikembalikan pada kawasan-kawasan yang akan direhabilitasi.

Secara biaya dan waktu, air seeding sudah menjawab bahwa metode ini menjadi sangat efisien pada rehabilitasi hutan dan lahan kritis jika dibandingkan penanaman manual. Apakah kemudian metode ini juga bisa dikatakan efektif dalam menghijaukan kembali lahan tersebut? masih banyak proses yang harus dilakukan untuk menjawab itu. Saya kemudian membayangkan bahwa akan lebih efektif jika yang ditabur  atau dijatuhkan dari pesawat itu sudah dalam bentuk bibit (aerial seedling). Hanya saja, mungkin lebih mahal karena harus menggunakan pot khusus yang menyerupai roket agar bibit yang dijatuhkan dapat tertancap di tanah tanpa mengalami kerudakan media dan akar.

DSC05702
Berpose di samping helikopter.

Sebagai penutup, kerusakan dan rehabilitasi hutan tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah, mau pun masyarakat sekitar hutan saja. Tidak hanya pada hutan, apa pun kerusakan ekologi yang terjadi, dampak yang dihasilkan berlaku secara sistemik. Jadi, yang semestinya bertindak adalah kita. Bukan hanya saya, bukan hanya kamu, dan tidak cukup dengan mereka.

Referensi : Tuheteru FD. 2009. Pembenihan Langsung untuk Regenerasi Hutan. Tesis IPB.

 

 

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s