Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas

*Bagian Kedua*

Paruh hari pun tiba. Dari susunan acara, waktunya untuk ishoma (istirahat, sholat [dalam KBBI dibakukan menjadi salat], dan mandi eh makan). Kak Vby mengambil alih acara. Peserta dan beberapa fasilitator disilakan untuk berdiri dan mengatur jarak serentangan tangan dalam tiga saf. Kemudian peserta diperintahkan untuk memejamkan mata. Fasilitator yang bertugas lalu menutup mata peserta dengan kain secara acak dan hanya menyisakan beberapa saja. Tiap empat peserta, satu diantaranya tidak dibalut dengan kain. Selanjutnya, seluruhnya disilakan untuk membuka mata tanpa harus melepaskan kain pemutup mata bagi yang dibalut. Kak Vby selanjutnya memberi arahan bahwa telah disiapkan makanan di ruang atas, silakan menuju ke tempat tempat itu lalu menikmati santap siangnya.

Permainan ini bertujuan untuk membangun empati dan kepercayaan. Awalnya, peserta kelihatan bingung mau bikin apa. Akhirnya, peserta yang tetap melihat, menuntun rekan-rekannya menaiki tangga hingga mengatur tempat duduk mereka di depan menu santapan. Mereka juga menuntunya untuk mengetahui posisi dari nasi, lauk, sayur dan sambal yang ada di hidangan mereka. Setelah makanan hampir habis, mereka pun disilakan oleh fasilitator untuk membuka mata dan tetap melanjutkan santapannya.

DSC09715
Permainan membangun empati dan kepercayaan. Kak Ain dan Kak Tari juga merasakan makan dengan mata tertutup.

Musik pun mengalun dari ruang belajar, itu petanda kelas kembali dimulai. Kak Vby mengawali kelas dengan melakukan evaluasi terhadap permainan tadi. Ada dua jawaban dari peserta yang membuat saya terdiam, seraya bersyukur atas nikmat yang masih saya miliki, yaitu penglihatan yang baik. Jawaban pertama dari Kak Ikhsan, “Kondisi ini membuat saya betul-betul menikmati makanan sebab harus mengetahui apa yang saya suap kedalam mulut. Apakah saya menyuap nasi atau jangan-jangan sambal yang pedas.” Jawaban kedua dari Kak Ichsan, namanya mirip meskipun orangnya tidak mirip. “Kondisi ini membuat saya bisa merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh orang-orang dengan penglihatan yang terbatas. Ini baru urusan makan”, ungkap Kak Ichsan.

Ibu Ida kembali mengambil alih kelas.  Dalam sesi ini, kelas lebih banyak membahas tentang kepemimpinan dan modal seorang pelatih di komunitas Indonesia Berkebun. Bagaimanapun, sajian tentang kepemimpinan sangat penting dalam rangka regenerasi. Persiapan generasi yang matang menjadi sebuah kekuatan besar dalam membuat roda organisasi terus berputar. Konsep patah dan tumbuh, hilang berganti sebagaimana suksesi alam berlangsung membutuhkan waktu yang lama. Untuk itu perlu upaya rehabilitasi dengan menyiapkan bibit-bibit unggul yang siap berkompeten untuk melakukan perubahan.  Kata Ibu Ida, “Kalian ini masih muda, punya banyak kesempatan untuk belajar dan belajar karena kalian adalah agent of changes”. Sontak terdengar teriakan “Hidup mahasiswa !”, di antara peserta.

Peserta dan beberapa fasilitator kemudian dipisahkan dalam empat kelompok. Masing-masing kelompok menyusun materi presentasi berdasarkan kelompok masyarakat berbeda yang akan diedukasi  dalam tempo 15 menit. Ada kelompok yang cukup memisahkan diri dengan kelompok lain dalam kelas, ada juga yang memilih saung yang ada di sekitaran vila untuk menyelesaikan tugasnya. Suasana yang tenang dan sejuk dalam sebuah pelatihan memang mendukung untuk terserapnya materi ke peserta. Akan sangat berbeda jika pelatihan menggunakan ruang tertutup dengan udara yang juga tidak segar.

Tiap-tiap kelompok pun secara bergantian mempresentasikan hasil diskusi mereka. Kelompok satu memilih masyarakat umum, kelompok dua berfokus pada anak kos, sementara kelompok tiga dan empat berkonsentrasi pada pelajar. Saat satu kelompok melakukan presentasi, kelompok yang lain menyimak dan memberi penilaian. Begitu seterusnya hingga semua kelompok usai memaparkan hasil karyanya. Penilaian tertinggi diperoleh oleh kelompok empat. Saya sendiri terkesan dengan cara mereka menyusun presentasi dengan menggunakan lipatan kertas plano. Kelompok dengan nilai tertinggi pun berhak mendapatkan apresiasi berupa cake untuk dinikmati bersama. Karena bertepatan dengan waktu asar, kelas pun rehat sejenak.

kelp
Suasana penyusunan materi presentasi kelompok di Training of Trainer Makassar Berkebun.

Dari arah kelas kembali menyuarakan sebuah lagu. Sepengamatan saya, lagu-lagu yang diputar bertemakan lingkungan dan kemanusiaan, mulai dari Relung Senja, Efek Rumah Kaca, Musikimia, Dialog Dini Hari, Naif, Nugie dan Nosstress. Suasana yang ada selalu membuat saya larut menikmati lantunan syair yang diiringi musik tersebut. Kali ini, giliran Kak Ian untuk memberi pengantar tentang “Design thinking”. Kak Ian sendiri adalah teman kelas saya bersama Kak Tari, Kak Tami, Kak Mambiz dan Kak Dandi di Kelas Menulis Kepo. Entah kapan saya terakhir bertemu dengannya, akhirnya dipertemukan juga di acara ToT Makassar Berkebun ini.

DSC09903
Kak Ian memaparkan materi tentang Design Thinking di hadapan peserta ToT Makassar Berkebun.

Design thinking adalah metodologi desain yang memberikan solusi berbasis pendekatan untuk memecahkan masalah. Metodologi sangat berguna dalam mengatasi masalah kompleks yang tidak jelas atau tidak diketahui.  Memahami kebutuhan manusia yang terlibat lalu membingkai ulang masalah dengan cara yang berpusat pada manusia. Design thinking menciptakan banyak gagasan dalam sesi brainstorming.  Melalui adopsi pendekatan langsung dalam bentuk prototipe dan uji coba.  Memahami kelima tahap Design thinking (empathise, define, ideate, prototype, and test)  ini akan memberdayakan seseorang untuk menerapkannya dalam memecahkan masalah kompleks yang terjadi di sekitar kita, di perusahaan, negara, dan bahkan planet kita, (www.interaction-design.org).

Terlihat teman-teman banyak yang penasaran dengan Desain Thinking, Kak Ian pun mencoba memberi simulasi salah satu tahapannya berupa wawancara mendalam. Saya dan Kak Tari menjadi narasumber untuk diwawancarai oleh teman-teman lainnya. Saya sebagai petani jagung yang selalu menjual langsung hasil panen ke pengumpul, sedangkan Kak Tari adalah petani strawbery yang terkendala di pemasaran. Kak Ian sendiri memandu jalannya materi, mengatakan bahwa hari ini dengan waktu yang singkat, kita hanya mengenalkan saja. Kak Ian juga menawarkan workshop kepada teman-teman jika ingin mengkaji lebih dalam seperti apa Design Thinking itu. Saya kira ini merupakan hal yang penting untuk ditindaklanjuti oleh teman-teman, terutama yang masih mahasiswa dan tidak lama lagi akan menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Alat pemecahan masalah seperti ini sangat penting dalam menyusun program kerja yang tepat guna dan tepat sasaran.

Tidak terasa, seharian belajar bersama, banyak pelajaran dan pengalaman baru yang bisa kita dapatkan. “Belajar, berkebun, dan keluarga, tiga kata yg menggambarkan Makassar Berkebun. Ini pula yg saya dapatkan di ToT kali ini. Teman-teman baru yang sama-sama ingin belajar berkebun lalu kemudian membentuk sebuah keluarga karena keterikatan emosional yang kuat. Lelah terbayarkan ketika melihat peserta, fasilitator, serta pemateri menikmati setiap momen yang diciptakan. Sangat berkesan! Semoga apa yang kita lakukan hari itu berguna di kemudian hari. Saya akui ToT kali ini jauh lebih baik, tapi itu tak lepas dari hasil gemblengan ToT sebelumnya (2014). Seperti itulah harusnya komunitas, mampu bertransformasi ke arah yg lebih baik“, tutur Kak Vby.

Sedari sore, satu per satu dari peserta memberi file presentasinya ke Kak Tri. Seminggu bahkan dua minggu sebelum kegiatan ini jatuh tempo, teman-teman fasilitator juga sudah memberitahukan ke calon peserta agar membuat presentase dengan tempo tiga menit. Selepas makan malam, kembali musik dimainkan. Saya ingat betul, lagu yang terputar adalah -Tentang Rumahku-, milik Dalog Dini Hari. Dia atas ayunan hammock saya mengikuti lantunan meski suara fals seperti Giant dalam kartun Doraemon, nikmati sajalah. “Adakah yang lebih indah dari semua ini, rumah mungil dan cerita cinta yang megah. Bermandi cahaya di padang bintang. Aku bahagia”.

Setelah sebahagian besar peserta berkumpul, saya pun menanggalkan hammock, bergabung dengan yang lainnya. Kali ini adalah sesi presentase individu. Ibu Ida mengarahkan jalannya kegiatan, sementara Kak Ain, Kak Vby, Kak Dandi, Kak Tami, juga saya ditugaskan sebagai tim penilai. Bukan hanya teman-teman penggiat yang baru gabung saja yang dibebankan untuk presentase. Kakak-Kakak penggiat lama pun demikian, seperti Kak Ardhe, Kak Oka, Kak Tri, Kak Tari dan Kak Aan, semua mendapat giliran. Bahkan tim penilai seperti Kak Ain, Kak Vby, Kak Dandi jga Kak Tami pun tidak terlewatkan. Saya cukup kaget dengan hasil presentase teman-teman, baik secara visual maupun pembawaannya, sudah sejauh itu. Hanya saja memang masih kurang dalam hal teknis berkebun, kecuali Kak Ardhe dan Kak Aan, tapi itu bisa dipelajari seiring waktu, terlebih kalau rajin mempraktikkannya. Kak Ardhe pun keluar dengan angka tertinggi, disusul oleh Kak Fadiah dan Kak Noe.

DSC09982
Kak Ardhe menpresentasikan tata cara membuat pupuk organik cair dan terpilih sebagai presentator terbaik.

Semoga keaktifan dan krestivitas adik- adik yang sempat membuat saya –jleb- (jleb itu kalau saya artikan mungkin setara dengan kata tercengang),  tidak berhenti di ToT. Semoga mereka bisa menempatkan diri di setiap kegiatan Makassar Berkebun. Intinya, mereka lebih berperan aktif.”, tutur Kak Tri. Kak Oka sendiri berpendapat, “Awalnya saya berpikir bakal diajari tata cara bercocok tanam, ternyata tidak. ToT kali ini semacam seminar motivasi untuk lebih percaya diri tampil di depan umum. Presentase dari teman-teman peserta secara tidak langsung mengajarkan kita tentang berkebun dengan segala manfaatnya”.

Desir angin pun kian terasa bersama malam yang semakin meninggi. Kak Rama dan Mambiz pun datang menambah suasana yang akrab di antara penggiat. Papbiz (sapaan Kak Rama) sedikit bercerita tentang awal mula komunitas ini terbentuk hingga kedekatannya dengan Mambiz. Salut dengan kedua kakak ini, yang masih setia mendampingi perjalanan komunitas Makassar Berkebun. Semoga semangat berkebun, semangat belajar teman-teman tertap terjaga dalam nuansa kekeluargaan. Terima kasih teman-teman penggiat Makassar Berkebun atas ruang bahagia dalam kegiatan ini. Mengutip penggalan lagu Endah n Rehsa “Menyeduh kisah sajikan cinta, menata ruang bahagia. Menuang rindu padukan rasa, karena kita keluarga”.

Selama ToT, sangat menyenangkan buat saya. Tidak disangka,akhirnya bisa terlaksana,  meski dengan beberapa kendala yang sulit dihindari. Alhamdulillah, sepanjang kegiatan ToT, saya bahagia  melihat peserta aktif ambil bagian dalam setiap materi. Para pemateri yang handal tentu saja jadi pemeran utama dalam menghidupkan suasana ToT, kalian luar biasa. Harapannya, buat adik-adik, semoga bisa terus melanjutkan tongkat estafet Makassar Berkebun dan terus semangat menyebarkan virus-virus  berkebun dalam kehidupan sehari-hari.”, ujar Kak Ain, selaku kakak pembina di Komunitas Makassar Berkebun.

Berikut video buatan Kak Tri tentang kegiatan selama Training of Trainer Makassar Berkebun. https://youtu.be/EBFtgkfz3mQ

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s