Berkebun, Belajar, dan Berkeluarga dalam Komunitas

*Bagian Pertama*

Hawa dingin Malino menyambut kedatangan kami di waktu magrib. Jalan basah terlihat dari pantulan lampu kendaraan yang melintas, gerimis dan listrik padam turut serta. Kami pun memutuskan untuk terus ke kawasan pinus, dimana para pelancong maupun pendaki bisanya mampir, katanya untuk beraklimatisasi. Selain untuk menunaikan kewajiban sebagai muslim, di tempat inilah yang cenderung ramai, baik orang maupun jajanannya saat malam telah tiba.

Sejam tidak terasa, kalau menunggu cerita habis, itu nyaris tidak mungkin. Kami pun bergegas menuju kendaraan dan melanjutkan perjalanan menuju sebuah vila yang mengambil rute arah pemandian Air Terjun Takapala. Sekira 15 menit, kami akhirnya tiba di sebuah rumah dengan papan bertuliskan, Ballana Shafa. Sesaat setelah menaruh barang-barang, kami pun kembali berkumpul di ruang tengah untuk pembicaraan yang lebih serius, sembari saling berkoordinasi dengan tim yang berangkat setelah kami.

Kali ini kami membahas susunan acara dengan mengembangkan kerangka yang sebelumnya telah disiapkan oleh kakak-kakak fasilitator lainnya. Sedikit kaget juga ketika saya juga diharuskan memberi materi. Seperti kalimat yang tertulis di kaos Kak Tri, bahwa hidup itu butuh hiburan dan liburan. Dalam kata “hiburan” dan “liburan” ada kata “ibu”. Ibu Ida Amal adalah sosok ibu bagi saya pribadi, pun demikian dengan komunitas Indonesia Berkebun dan jejaringnya, termasuk Makassar Berkebun. Hiburan yang paling nyaman adalah berbagi cerita dengan ibu dan liburan yang mengesankan adalah pulang bertemu dengan ibu. Untuk ibu kandung saya di sana, Insya Allah, anakmu akan pulang di penghujung Ramadan nanti.

Segelas teh hangat tanpa gula buatan Kak Oka,  membuat diskusi kami tidak hanya tentang muatan pelatihan yang akan dilaksanakan besok. Entah teh atau kopi, sebaiknya memang dinikmati tanpa gula. “Jangan ada gula di antara kita”, begitu yang pernah saya baca di sebuah kedai kopi yang ada di Jogjakarta. Saya, Dandi, Tri, Oka dan Tami tentu tidak ingin melewatkan waktu begitu saja dengan Ibu Ida. Kami lebih awal menerima materi dari teman-teman yang lain. Mulai dari pengembangan visi Indonesia berkebun sampai kajian tentang konsep permakultur dan agroforestry kaitannya dengan konsep yang telah disajikan dalam Al Quran.

Permakultur sendiri dikenal sebagai cabang ilmu desain lingkungan yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan dan sistem pertanian swadaya yang mengacu pada ekosistem alaminya. Kajian permakultur cenderung pada kepedulian terhadap bumi yang sehat sebagai investasi manusia sejahtera. Kepedulian terhadap sesama manusia sebagai pemanfaat atas semua sumber daya alam yang dibutuhkan untuk hidup. Kepedulian terhadap energi yag hilang dari sistem pertanian, termasuk bagaimana mengembalikan limbah pertanian melalui rangkaian proses daur ulang. Metode sistematis “permaculture” sendiri pertama kali diciptakan oleh Bill Mollison dan David Holmgren yang mengacu pada “permanent agriculture” (Pertanian permanen).

Agroforestry merupakan salah satu praktik dalam permakultur.  Istilah lain dari agroforestry adalah wanatani. Istilah ini mengacu pada konsep yang memadukan antara pengelolaan hutan (kayu-kayuan) dengan tanaman jangka pendek atau tanaman pertanian. Sistem wanatani tidak terlepas dari perpaduan antara tanaman jangka penjang dengan jangka pendek, tanaman pangan utama dengan sampingan, tanaman dengan nilai ekonomi tinggi dengan pendampingnya berupa penaung. Semakin kompleks tingkatan tanaman dalam sebuah kawasan semakin berpeluang terjadinya sistem usaha tani yang berkelanjutan.

Buku yang bertajuk – Kebun Al quran; Jalan Menuju Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur -, yang ditulis oleh Muhaimin Iqbal, menjelaskan bahwa dalam konsep wanatani, setidaknya ada tujuh jenjang tanaman yang bedampingan pada suatu tapak. Sebagaimana dijelaskan dalam Quran Surah Ar Ra’d ayat 4, “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

kebun alquran
Agroforestry dalam Al Quran, gambar : (c) Presentasi ToT Makassar Berkebun

Gambar  di atas merupakan ilustrasi sederhana tentang kompleksitas tata tumbuhan dalam konsep agroforestry. Tanaman yang ada di nomor (1) adalah pohon berukuran besar berupa kurma, nomor (2) adalah pohon dengan ukuran lebih rendah berupa zaitun, delima dan tin. Pada posisi nomor (3) berupa perdu penghasil buah yang manis seperti buah berry dan chery. Nomor (4) berupa semak herbal, nomor (5) dari golongan rimpang-rimpangan seperti jahe dan keluarganya. Nomor (6) berupa rumput-rumputan dan tanaman penutup tanah lainnya, termasuk umbi-umbian. Nomor (7) diisi oleh tumbuhan merambat seperti anggur.

Dalam konteks pertanian perkotaan juga bisa diterapkan. Seperti yang Ibu Ida lakukan sendiri di rumahnya, secara keseluruhan meskipun tidak persis sama dengan yang disebutkan di atas telah mewakili konsep wanatani. Pohon besar diwakili oleh mangga, di bawahnya ada rambutan. Selanjutnya ada tin, ada chery, adan tanaman merambat berupa air mata pengantin,  berbagai sayuran penghasil buah, bunga, daun dan umbi, serta tanaman hias.  Tanpa disadari, komposisi tersebut membangun sistem yang secara alami antara tumbuhan dengan makhluk lainnya. Aktivitas mikroorganisme tanah secara terus menerus mendukung pemenuhan kebutuhan hidup tanaman disamping pemberian pupuk organik. Hama berupa kutu akan dimangsa oleh kumbang yang lebih besar yang entah dari mana datangnya. Burung-burung juga seperti menemukan kehidupan dari bunga dan serangga. Itu juga yang menurut Ibu Ida sangat mendukung hobinya dalam fotografi.

Tiga jam lebih dengan suasana tenang Vila Malino tidak terasa berlalu dengan perbincangan yang berkualitas. Terdengar suara kendaraan memasuki halaman vila, sepertinya teman-teman yang lain pun sudah tiba. Jam di tangan menunjukkan angka 23 di depannya. Masing-masing pun menurunkan barang bawaannya dari mobil. Kak Tri menginformasikan kalau yang laki-laki di kamar bawah sedangkan yang perempuan seluruhnya di kamar atau ruang atas. Vilanya memang berbentuk rumah panggung tapi kolongnya juga bisa digunakan beraktivitas, juga ada dua kamar tidur.

Terlihat wajah-wajah yang lelah, entah karena perjalanan. Beberapa di antara mereka juga melangsungkan ujian final semester. Tugas fasilitatorlah untuk menghidupkan suasana. Usai santap malam yang telat, bersantai sejenak dan sekadar saling sapa. Peserta pun diarahkan oleh fasilitator untuk beristirahat. Sementara itu, tim fasilitator masih harus berjuang melawan kantuk untuk menyamakan persepsi mengenai agenda yang telah disusun termasuk menentukan siapa penanggung jawab item-item yang disajikan dalam rangkaian Training of Trainer (ToT) Makassar Berkebun.

IMG_20170520_0045251a
Tim Fasilitator masih berjibaku untuk memantakan jalannya tangkaian pelatihan meskipun wajah tidak bohong menahan kantuk.

Pagi pun tiba, sesuai dengan jadwal, aktivitas dimulai pukul 08.00 waktu setempat. Rasa dingin pun seolah masih terselip di antara iga-iga meskipun telah mandi dan sarapan. Meneguk kopi, itu wajib. Usai melantunkan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh Kak Farah, dilanjutkan dengan perkenalan. Kakak Asriadi, selaku koordinator komunitas Makassar Berkebun pun membuka acara dengan resmi. Kak Dandi (Sapaan Kak Asriadi), memaparkan bahwa, “Saya sangat senang, akhirnya kegiatan ini terlaksana setelah terjadi beberapa kali perubahan waktu. Hari ini kita di sini, belajar bersama dengan para pemateri yang sudah datang dari jauh. Semoga kita bisa mengambil banyak manfaat dari mereka, terutama penggiat-penggiat yang baru bergabung di komunitas ini. Tantangan kedepannya semakin beragam. Dengan tim yang solid, semoga Makassar Berkebun bisa menangkap semua peluang-peluang yang ada.”

DSC09686
Sesi perkenalan yang dipimpin langsung oleh Koordinator Makassar Berkebun, Kak Asriadi.

Setelah disilakan oleh Kak Tami selaku pengarah acara, saya pun mengambil alih kegiatan dengan perkenalan Indonesia Berkebun dengan jejaringnya. Sekadar pengantar saja melalui serangkaian video tentang Indonesia Berkebun. Selebihnya adalah permaianan untuk mengambil alih konsentrasi peserta, termasuk beberapa tools tentang bagaimana menjadi seorang trainer (pelatih) lewat permainan lipatan kertas. Permaian lipatan kertas ini menggambarkan bahwa tidak mudah menjadi seorang pelatih. Belum tentu apa yang kita sampaikan bisa sama dengan apa yang diterima oleh peserta dan seterusnya. Harapannya semoga peserta bisa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pelatihan ini dengan baik.

Dalam beberapa kondisi, kadang kita sulit untuk mengungkapkan apa yang kita pikirkan, seolah ada sesuatu yang menghalangi saraf mengantarkan informasi untuk diucapkan. Dalam kondisi seperti itu, indera lain seperti tangan bisa melakukannya. Tirai tanya sering digunakan sebagai metode untuk mengetahui kemajuan peserta. Dimana setiap peserta menuliskan segala sesuatu yang ingin diketahuinya selama pelatihan. Fasilitator memang perlu lebih jeli untuk melihat dan memberi jawaban atas pertanyaan tersebut. Sementara itu, peserta akan memberi tanda pada soal yang mereka rasa sudah terjawab. Berbagai pertanyaan dijawab secara acak baik oleh saya maupun Ibu Ida dan teman-teman fasilitator lainnya.

IMG_7715
Tirai tanya, metode untuk mengumpulkan pertanyaan dari peserta sekaligus mengukur serapan materi pelatihan.

Selanjutnya giliran Ibu Ida. Di awal acara, peserta termasuk fasilitator ditugaskan untuk menuliskan tiga kata yang terlintas di pikiran mereka saat mendengar kata Makassar Berkebun. Setelah direkap oleh kakak-kakak fasilitator, diperoleh tiga kata yang dominan, yaitu berkebun, belajar dan keluarga. Beliau menjabarkan bahwa suatu kebanggaan yang dimiliki oleh Makassar Berkebun karena sejauh ini tetap menjadi salah satu kota jejaring yang konsisten dengan kegiatan berkebunnya. Dalam hal belajar, sejauh ini tim Makassar juga rutin melakukan akademi berkebun dan hari ini adalah ToT yang kedua, disamping serangkaian edukasi bersama masyarakat yang selama ini dilakukan. Hubungan emosional itu sangat penting, membangun keluarga dalam komunitas adalah kekuatan besar untuk tetap sejalan dengan visi yang ada. Tidak menutup kemungkinan, ada yang melanjutkan pasangan cabe Kak Rama dengan Kak Nyung (akrab disapa, Mambiz).

DSC09700
Suasana training tentang peran komunitas Indonesia Berkebun.

Kembali ke visi Indonesia Berkebun, Ibu Ida kembali menerangkan konsep “3E” yaitu ekologi, edukasi dan ekonomi. Dari segi ekologi kita mendorong dalam hal produktivitas lahan-lahan yang selama ini terbengkalai dengan input-input pertanian organik, termasuk pengolahan limbah organik untuk dikembalikan ke kebun. Edukasi seperti yang dilakukan saat ini, di ToT, maupun akademi berkebun serta kegiatan-kegiatan lainnya seperti pendampingan ke masyarakat dan sekolah. Dalam hal ekonomi, Ibu Ida memberi contoh sederhana.  Taruhlah konsumsi tomat dan cabai keluarga mencapai Rp. 5.000,- per hari, maka dalam setahun bisa menghemat 1,8 juta rupiah. Kalau uang sebanyak itu dilaihkan ke kebutuhan pendidikan anak? “Masuk akal?”

IMG_7727
Ibu Ida memaparkan perhitungan tentang kebutuhan sayuran dalam porsi makanan sehari-hari.

Pertanyaan yang kemudian muncul, bagaimana dengan petani sayuran  yang ada di sub urban jika warga kota masing-masing memroduksi sayuran untuk dikonsumsi? Coba kita kembali ke meja makan lalu melihat susunan menu di piring, berapa jumlah sayurannya? Kalau kita mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang sesuai Permenkes No. 41 Tahun 2014, diperlukan sebanyak 3-4 porsi sayur dan 2-3 porsi buah setiap hari atau setengah bagian piring berisi buah dan sayur (lebih banyak sayuran) setiap kali makan. Belum lagi berbicara tentang keragaman manfaat dari ragam warna sayuran. Ayo ngaku yang masih mengutamakan kuantitas karbonya. Di samping itu, kegiatan memproduksi sayuran sehat juga diharapkan mampu memberi motivasi pada masyarakat untuk kembali ke tata cara bercocok tanam yang ramah lingkungan.

Seiring dengan perkembangannya, Indonesia berkebun pun bergeser untuk menciptakan “sustainable future” melalui konsep “urban agriculture”. Selain tiga visi utama di atas, dikembangkan menjadi lima visi, ditambahkan sosial dan etika. Meskipun selama ini dua visi ini sudah termaktub dalam tida visi sebelumnya namun penting untuk memisahkannya sebagai nilai. Dalam hal sosial misalnya, selama ini hanya beroperasi pada bagi-bagi benih dan bibit. Kedepannya bisa menjadi sebuah program untuk menyuplai sayut ke panti asuhan, misalnya. Sementara dalam hal etika, cenderung mengarah pada tatanan yang mengatur hubungan secara vertikal dengan Sang Pencipta dan hubungan horizontal antara manusia dengan manusia, pun dengan alam.

Jadi, siapkah kita untuk menjadi “PecangCOOL Kece”? Kalau begitu kita bermain lagi. Seperti yang dikatakan oleh Kakak Hanifah, “Kesan pertama waktu dibilang mau diadakan ToT, langsung mikir pasti dikasih materi. Ternyata, memang benar dikasih materi terus. Tapi materi yang dikasih gak rumit dan gak berat untuk diterima. Walaupun banyak main dan bercandanya tapi ilmu yang didapet banyak banget. Selama ToT, gak cuma dapat ilmu, tapi juga kekeluargaannya bersama kakak-kakak lainnya. Kedepannya semoga ketika diadakannya lagi ToT, banyak peserta yang ikut, biar makin rame dan makin banyak silahturahmi yang terjalin”.

***bersambung***

 

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s