Tentang Hutan; Rehabilitasi atau Tinggal Kenangan

Hari libur, kita beramai-ramai menikmati suasana pegunungan. Melihat persawahan yang hijau permai, tersusun bertingkat. Bunga-bunga yang warna-warni melepaskan pesona keelokan dan harum kuntumnya menggoda para kumbang datang merayunya.  Saat mendaki ke puncak-puncak gunung, kita akan merasakan berada seperti di “negeri di atas awan”. Sungguh indah terlihat saujana yang membentang. Saking indahnya, hanya kalimat ini yang sering terucap, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”.

fdffgff
Kabut yang membentuk awan di antara lembah-lembah pegunungan di Kolaka Timur.

Pohon-pohon yang menjulang dengan rindang teduhannya. Jika luas permukaan daun pohon tersebut disusun menghampar, tentu akan menghasilkan angka di luar kuasa kita. Dedaunan itu secara terus-menerus menghasilkan oksigen yang kita gunakan untuk bernapas. Daun-daun itu juga yang menjadi dapur bagi tumbuhan sehingga kita bisa menikmati warna-warni kuntum bunga, buah-buahan dengan aneka bentuk dan rasa.

Air yang diikat oleh akar-akar pohon secara tidak langsung menjaga daya tampung air untuk digunakan sepanjang tahun. Air itu mengalir ke sungai-sungai, mengairi sawah dan ladang, digunakan di pemukiman dan tentunya sebagai bahan untuk minum serta kebutuhan sehari-hari lainnya. Saya masih ingat ungkapan Pak Ismayadi, seorang peneliti di bidang kehutanan, saat berkunjung ke sebuah kelompok pengelola hutan di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Beliau menyebutkan bahwa satu pohon beringin dewasa dapat mengamankan  air sejauh dua kilometer dari tegakannya.

Mungkin ada dari kalian yang juga merasakan betapa panasnya cuaca di musim panas dan betapa basahnya di musim penghujan. Di beberapa tempat, termasuk kampung saya, di Palopo, air yang keluar dari sumur bor sudah terasa asin. Berapa lama pun kita menggosok badan, sabun yang digunakan hanya sedikit menghasilkan busa. Apa yang kita rasakan tersebut, tidak lepas dari rusaknya hutan kita.

Kerusakan hutan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu secara alamiah melalui bencana alam dan yang paling sering terjadi adalah keteledoran manusia dalam mengelola alam. Banyak hutan yang dulunya  hijau dan rimbun kini telantar dan bahkan tandus. Hutan banyak dibuka dan ditebang untuk dijadikan ladang, kebun dan tempat pemukiman tanpa memerdulikan aspek keberlanjutannya.

DSC043451
Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian.

Menurut Forest Watch Indonesia (FWI), pada tahun 2023, Jawa sudah tidak memiliki tutupan hutan alam, sementara Bali dan Nusa Tenggara menyusul di tahun 2043, demikian juga Sumatera. Laju deforestasi yang tinggi telah berdampak besar terhadap ketahanan air, energi, pangan, penghidupan hingga pengaturan iklim. Lebih lanjut, deforestasi mengancam kehidupan serta integritas budaya dari masyarakat yang bergantung pada hutan dan persediaan hasil hutan kayu dan non-kayu untuk generasi mendatang. Perubahan penutupan dari hutan menjadi bukan hutan membawa dampak terhadap  perubahan lingkungan secara global, (Tim Forest Watch Indonesia, 2014).

Deforestasi bruto terjadi di dalam kawasan hutan sebesar 453,9 ribu ha/th (tahun) atau 79,9 % dari total deforestasi bruto 568,0 ribu ha/th, sedangkan di luar kawasan hutan sebesar 114,1 ribu ha/th (20,1%). Angka deforestasi bruto di dalam kawasan hutan paling tinggi terjadi di fungsi kawasan Hutan Produksi Tetap (HPT) yaitu sebesar 308,6 ribu ha/th (54,3%). Perubahan tutupan hutan menjadi tidak berhutan juga terjadi pada kawasan yang memiliki fungsi lindung bahkan konservasi, walaupun angka deforestasinya tidak sebesar yang terjadi di hutan produksi yaitu di kawasan konservasi sebesar 20,1 ribu ha/th (3,5%) dan hutan lindung sebesar 29,1 ribu ha/th (5,1%), (Deforestasi Indonesia Tahun 2013 – 2014, Kementrian Lingkungan Hidup, 2015).

Menurut Pak Ismayadi, kerusakan hutan yang terjadi disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat, ketergantungan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan terhadap kawasan hutan. Meningkatnya penebangan legal yang berlebih serta penebangan illegal.  Peningkatan jumlah penduduk dan  kurangnya lahan sebagai tempat tinggal juga turut andil. Masih bayak masyarakat belum mengetahui secara benar tentang fungsi dan manfaat hutan. Kecenderungan  alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, kawasan pertambangan, dan perkebunan, serta bencana alam juga memengaruhi perubahan tutupan hutan. Hal ini menyebabkan fungsi hutan banyak hilang.

Workshop Konsultasi Publik Indikatif Areal Perhutanan Sosial (PIAPS) dan Percepatan Perhutanan Sosial, yang dilaksanakan di Palu 9 – 11 Nopember 2015 yang dilangsir dari situs resmi Kementrian Lingkungan Hidup (www.menlhk.go.id), merupakan salah satu upaya untuk menyosialisasikan perhutanan sosial ke khalayak. Disebutkan bahwa pemerintah Indonesia menargetkan areal pengelolaan hutan oleh masyarakat melalui program perhutanan sosial seluas 12,7 juta ha dengan skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa (HD), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Adat dan Kemitraan Kehutanan.  Target perhutanan sosial ini merupakan komitmen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang tercantum dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2015-2019 dan mendukung Nawacita 7 (tujuh) yaitu  mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo yang waktu itu hadir, memberikan arahan agar program perhutanan sosial ini dilakukan tepat sasaran, yaitu dialokasikan untuk masyarakat yang tinggal di pinggir-pinggir hutan yang kehidupannya tergantung pada sumberdaya hutan dan kelestarian hutan, yang berlahan sempit atau tidak memiliki lahan dan masyarakat miskin.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa konservasi lingkungan yang berdasar maksud baik saja terbukti lemah, bahkan berbahaya.  Konsep seperti itu cenderung mengabaikan pemahaman kritis baik terhadap alam maupun sisi ekonomis dari penggunaan alam. Saya sependapat dengan itu. Contoh kecil, kita menanam karena hanya mengetahui tanaman tersebut mudah tumbuh, padahal jenisnya invasif. Seiring waktu, kawasan tersebut akan dikuasai dan mengancam penghuni alamiahnya. Itu yang terjadi di Oro-Oro Ombo yang telah didominasi seluas 20 hektar oleh si violet cantik bernama Verbena brasiliensis.

DSC097701
Akasia mangium merupakan salah satu jenis pohon yang bersifat invasif.

Tentunya bukan langkah mudah dalam melakukan rehabilitasi hutan dan lahan kritis. Namun demikian, berbagai upaya bisa dilakukan, mulai dari pembacaan citra satelit hingga survei langsung ke lapangan. Yang paling penting adalah bagaimana kesiapan masyarakat terhadap keberlanjutannya. Butuh komitmen yang kuat sehingga masyarakat tidak hanya berfokus pada nilai kayunya kelak. Peran stakeholder termasuk dinas kehutanan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), pemerhati lingkungan, serta masayarakat melalui kelompok pengelola hutan, sangat penting di sini. Semakin kuat pengkajian yang dilakukan stakeholder tersebut semakin besar peluang terjadinya sistem pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Tantangan yang dihadapi juga bukan hal yang kecil sebab pengelolaan hutan tidak seperti mengelola kebun kangkung, hanya butuh 40 hari sejak pembersihan lahannya sudah bisa dinikmati hasilnya.

DSC064511
Bersama masyarakat dan pemerintah dalam membangun hutan.

Model atau pola rehaibilitasi harus sesuai dengan tingkat degradasi hutan, jarak dari batas kawasan, kondisi tanah dan sosial budaya masyarakat. Hal yang tidak kalah penting adalah status kawasan karena itu akan terkait dengan pola-pola yang akan diterapkan, termasuk selektivitas tehadap jenis. Rehabilitasi tidak lepas dari pencapaian tiga aspek, yaitu ekologi, ekonomi, dan sosial. Aspek ekologi tidak perlu dijelaskan panjang lebar karena selalu ada upaya perbaikan kualitas lingkungan di balik kegiatan penanaman, minimal udara segar. Saya tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Dr. Danu Tuheteru (dosen kehutanan Universitas Halu Oleo) dalam pelatihan silvikultur (budidaya tanaman hutan), bahwa hasil akhir dari sebuah silvikultur selain ekologi adalah ekonomi dan sosial. Secara tidak langsung, peningkatan pendapatan masyarakat dalam mengelola hutan akan berimplikasi pada perbaikan tatanan sosial. Misalnya, melalui hasil dari pengelohan hutan, masyarakat bisa menyekolahkan anak-anaknya atau paling tidak rumahnya bisa menjadi lebih baik. Triangulasi aspek tersebut saling berkaitan.

Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Gularaya, Ir. H. Fajar Sudrajat, dalam beberapa pertemuan selalu menganalogikan KPH seperti puskesmas dalam jajaran dinas kesehatan. Jadi, tugas utama KPH adalah bagaimana menanagani hutan yang sakit untuk lebih produktif. Produktivitas hutan juga selalu bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Saatnya mengubah mindset bahwa hutan adalah arena kejar-kejaran antara pelaku illegal logging dengan pihak kehutanan. Melalui  Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dan kemitraan pemerintah membuka jalan bagi masyarakat untuk mengelola hutan dengan baik dan diakui secara undang-undang.

DSC063401
Pola rehabilitasi sistem agroforestry.

Pada akhirnya, kerusakan alam adalah keniscayaan aktivitas manusia. Sebagai manuasia yang peduli dengan alam sebagai rumah, kita bisa melakukan banyak hal dalam memimimalisir dampak kerusakan tersebut. Penanaman adalah bentuk nyata dari tindakan penanggulangan dampak kerusakan lingkungan. Paling tidak, udara yang dihasilkan dari tanaman yang kita tanam bisa menjadi amalan jariah yang terus mengalir selama ia berfotosintesis. Selama upaya kita menanam dibarengi dengan keikhlasan, itulah kerja ibadah kita sebagai khalifah di bumi. Jadi, tentang hutan, rehabilitasi atau tinggal kenangan?

DSC099941
Mari menanam.
Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

3 thoughts on “Tentang Hutan; Rehabilitasi atau Tinggal Kenangan”

  1. Alam diciptakan bhukan ut dirusak tp ut dipelihara. Faktor alasan ekonomis dan banyak nafsu yg membuat alam rusak. Maju terus, saya selalu dukung apapun gerakan pelestarian alam. Allah juga selalu bersama hamba2Nya yg berniat mulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s