5 Destinasi Wisata yang Ada Di Kendari dan Sekitarnya

Kendari adalah ibukota dari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan, hanya memakan waktu 55 menit via jalur udara, setara dengan naik pete-pete (angkot) ke Tugu Bambu, Paris (Pangkajene pinggir sungai).

Tidak perlu bingung soal penginapan di kota dengan land mark ‘Tugu Religi Sultra’ yang dulinya disebut ‘Tugu Persatuan’. Dua tempat yang mudah ditemukan di Kota Lulo (julukan Kota Kendari. Lulo sendiri adalah tarian dengan simbol persahabatan, juga sebagai ajang perkenalan, mencari jodoh, dan mempererat tali persaudaraan) ini adalah hotel dan rumah bernyanyi. Konon, padatnya populasi kedua tempat itu dipengaruhi oleh pertambangan yang sempat menjadi primadona di Sultra umumnya. Berbeda dengan Makassar yang dibanjiri minimarket.

13047807_10205720067470585_6161007384221344243_o
Tugu Religi adalah salah satu land mark Kota Kendari

Sejauh ini, pariwisata Sultra yang terkenal adalah Taman Nasional Wakatobi, Keraton Buton dan yang teranyar  adalah Pulau Labengki yang dijuluki Raja Ampatnya Sultra. Untuk menjangkau tempat-tempat tersebut, kita perlu menyiapkan waktu yang relatif panjang. Kecuali jika kalian punya kantong yang cukup tebal untuk menempuh jalur udara, bisa sedikit mengefisienkan waktu.

Bagi kalian yang tidak punya banyak waktu libur atau ingin lebih banyak mengunjungi objek-objek wisata yang ada di sekitar Kota Kendari, tidak perlu khawatir. Berikut saya sajikan lima tujuan wisata yang dekat dari Kota Kendari.

Tracking Mangrove Pulau Bungkutoko

Di atas peta, Pulau Bungkutoko terletak di mulut Teluk Kendari. Kelurahan Bungkutoko sendiri secara administratif berada di Kecamatan Abeli, Kota Kendari. Dari pusat kota, Tugu Religi, setara waktu menikmati secangkir americano untuk sampai di lokasi Tracking Mangrove. Ekowisata adalah menu yang disajikan di tempat ini.

dsc05961a
Gerbang Tracking Mangrove Bungkutoko.

Pada luasan 1,5 hektar inilah dibuat perlintasan yang dijadikan jalur tracking. Warna-warni perlintasan inilah yang menjadi daya tarik bagi pengunjung karena kontras dengan hijaunya mangrove. Cukup dengan Rp. 2.000,- tiket masuk ditambah dengan jasa parkir (Rp. 2.000,- untuk sepeda motor dan Rp. 5.000,- untuk mobil), kita sudah bisa berkeliling sambil mencari spot berfoto sesuai selera. Tidak perlu khawatir untuk berlama-lama menikmati teduhnya tajuk mangrove, dalam kawasan juga telah disediakan fasilitas toilet umum.

dsc05854a
Perlintasa yang warna warni menjadi daya pikat bagi wisatawan.

Hanya saja, sebagai tempat wisata yang menyajikan menu ekowisata, masih perlu dibenahi. Hanya beberapa jenis mangrove saja yang memiliki name tag, masih banyak yang belum. Pemandangan kontras juga diperlihatkan di sisi kiri dan kanan lokasi yang sudah mulai terbuka. Mungkin perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pengelola.

Pantai Nambo

Dari Bungkutoko, belum habis satu batang es mambo, kita sudah sampai di Pantai Nambo. Pantai pasir putih yang panjangnya sekira 300 meter dengan gazebo serta invasi Brazil (pohon trembesi) yang membentang sepanjang pantainya. Letaknya yang menghadap ke timur membuat pantai ini lebih cocok untuk menikmati sunrise.

nambo1
Salah satu spot di Pantai Nambo. Foto : Tody Heryanto

Bagi yang ingin berenang, pantai ini juga cukup baik karena berpasir. Hanya saja, penting untuk mengetahui waktu pasang surut air. Kondisi air pasang adalah waktu yang tepat untuk berenang atau sekadar berenda di Pantai Nambo. Hanya saja, banyak fasilitas yang terlihat seperti kurang terurus di kawasan wisata pantai ini. Retribusi masuk senilai Rp. 5.000,- per orang mungkin tidak maksimal pengelolaannya.

Air Terjun Moramo

Sejauh ini, inilah tempat rekreasi alam yang menurut saya sangat direkomendasikan untuk dikunjungi. Bukan karena fasilitasnya karena di tempat ini minim fasilitas, kecuali kamar ganti dan gazebo yang seadanya untuk menaruh barang agar tidak terkena air kala hujan.

Untuk sampai di air terjun yang masuk dalam kawasan Hutan Suaka Alam Tanjung Peropa, Konawe Selatan  ini, kita cukup menghabiskan waktu pling lama dua jam dari Kendari. Dari tempat parkir kendaraan (setelah membayar karcis masuk Rp. 5.000,- per orang), kita masih perlu berjalan kaki menuju air terjun utamanya. Lama perjalanan pun relatif. Jika hanya sekadar berjalan samapai di air terjun, hanya perlu sekira 15 menit. Tapi saya yakin, jika memasuki kawasan, akan lebih banyak waktu digunakan untuk singgah berfoto. Kondisi ekosistem sungai yang masih terjaga membuat tempat ini model cantik yang berjalan anggun di atas catwalk.

dsc04054a
Sisi utama aari terjun Moramo

Riak air mengalir bersama lantunan serangga membuat langkah demi langkah terasa khidmat. Ragam pepohonan terlihat kokoh menjulang dengan ragam ukuran lengkap dengan papan pengenalnya membuat kita seperti belajar botani hutan.

dsc04155a
Salah satu spot di sisi tengah tingkatan air terjun Moramo

Setelah menaiki anak tangga sejumlah 64, pandangan kita akan terhipnotis dengan keelokan air terjun bertingkat (cascade) di Moramo ini. Uniknya lagi, kita tidak perlu khawatir untuk tergelincir, batuan yang menyusun air terjun tidak licin meski secara terus menerus dialiri air. Kupu-kupu dengan beragam warna sayap menari sehingga menambah daya pikat (yang konon) pemandian bidadari ini.

Pulau Bokori

Dari Konawe Selatan kita bergeser ke Konawe. Ya, pulau Bokori secara administratif masuk dalam wilayah pemerintahan Konawe. Sebelum pesawat mendarat di Bandara Halu Oleo, kita biasanya melihat tampakan Pulau Bokori. Uniknya, jika terjadi pasang, akan terlihat dua pulau. Tapi, jika air surut, hanya terlihat satu pulau saja.

dsc05309a
Penampakan Pulau Bokori dari pesawat sebelum landing.

Butuh sekira satu seperempat jam dari kendari, menyusuri kota lama hingga sampai ke lokasi penyeberangan di Tanjung Soropia, Konawe. Di sepanjang jalan perkampungan Suku Bajo, terpajang papan-papan yang menyediakan jasa penyeberangan ke Bokori. Dengan perahu motor kita akan sampai di dermaga sekira 15 menit dengan tarif Rp. 35.000,- per orang untuk pergi dan pulang.

dsc05361a
Tampilan depan Pulau Bokori

Di Bokori juga disediakan vila dan gazebo yang disewakan untuk pengunjung. Namun bagi pelancong seperti saya yang hanya mengandalkan hammock atau kasur angin, di bawah rindang nyiur dan cemara sudah lebih dari cukup. Menikmati pantai pasir putih dengan suguhan es kelapa muda sambil menunggu jingga menjemput malam,  adalah nuansa yang tidak pantas untuk dilewatkan di pulau ini.

dsc05449a
Menikmati suasana di bawah rindang kelapa dan cemara.

Pantai Toronipa

Masih dalam gugus tanjung Soropia, jika kita melanjutkan perjalanan sepuluh menit lebih lama, kita akan menikmati eloknya pantai Toronipa. Dengan membayar retribusi senilai Rp. 10.000,- per orang, kita akan menikmati pantai pasir putih yang ditumbuhi kelapa dan cemara sebagai pohon peneduh. Pantai ini sangat panjang, mencapai empat kilometer sehingga kita bebas memili spot yang kita sukai.

dsc05711a
Salah satu Spot di Pantai Toronipa

Bagi pengunjung seperti saya, saya memilih titik yang paling jauh. Selain lebih sunyi dari pengunjung lainnya, di sisi terjauh ini terdapat tebing karang yang pastinya menjadi sasaran untuk menggantung hammock. Pantainya sangat landai sehingga aman bagi aktivitas anak yang masih butuh pengawasan ekstra dari orang tuanya.

dsc05775a
Pantai pasir putih yang landai di Toronipa.

Waktu berkunjung yang paling pas menurut saya adalah saat menjelang air surut. Saat air surut, nelayan akan memanen ikan di perangkap (bagang tancap). Saat itu kita bisa ikur serta memanen lalu membeli dan menikmati ikan bakar segar tentunya.

Demikianlah lima tempat wisata yang bisa dikunjungi di Kendari dan sekitarnya. Masih banyak tentunya yang bisa dikunjungi seperti Pulau Hari, Pulau Senja, Pantai Penyu Bintang Samudera, Puncak Amarilis dan sebagainya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat dan jangan lupa untuk selalu mengabarkan yang baik tentang negeri ini, Indonesia.

Tulisan ini diikutsertakan di #Tantangan5 #KMKepo kelaskepo.org .

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “5 Destinasi Wisata yang Ada Di Kendari dan Sekitarnya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s