5 Latihan Penting yang Diperoleh saat Menjadi Pegiat Alam Terbuka

Mantan wakil presiden Amerika Serikat ke-38, Huubert H. Humprey, yang juga seorang apoteker, pernah berkata, “Tidak ada gunanya punya kaki kalau hanya digunakan untuk berdiri.” Terserah teman-teman memaknai ungkapan tersebut. Tapi saya coba memaknainya dengan ‘gunakanlah kaki kalian untuk melakukan perjalanan’. Salah satu yang sering melakukan perjalanan adalah pegiat alam terbuka.

Antara pegiat dengan penggiat, serupa tapi tak sama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pegiat diartikan sebagai seseorang atau orang yang giat (bekerja, bertindak, dan sebagainya); aktivis. Sedangkan penggiat, diartikan sebagai orang dan sebagainya yang membangkitkan kegiatan, semangat, kegairahan, dan sebagainya. Dalam tulisan ini, saya menggunakan kata pegiat karena cenderung menunjukkan aktivitas yang secara berulang dan terus-menerus dalam waktu yang lama. Seorang pegiat sudah pasti penggiat, tapi tidak sebaliknya.

Alam terbuka yang saya bahasakan di sini adalah ruang yang tidak dibatasi dinding buatan, melainkan  alam yang lebih luas dalam jangkauan saujana. Alam terbuka adalah alam yang hanya dibatasi oleh batas pengendalian diri.

Sebuah konsekuensi logis menjadi pegiat alam terbuka adalah ketahanan fisik. Tanpa dukungan ketahanan fisik, sebuah keniscayaan bagi seorang pegiat untuk bisa bertahan dalam kondisi lingkungan yang selalu berubah dan berdeda di setiap tempat. Olehnya itu, olahraga secara teratur sangat perlu dilakukan untuk meningkatkan ketahanan fisiknya.

Selain meningkatkan ketahanan fisik, menjadi seorang pegiat alam terbuka akan memungkinkan kita mempelajari banyak hal. Seperti yang dikatakan oleh Pico Iyer, seorang penulis berkebangsaan Inggris, “Awalnya, kita bepergian untuk menghilang, kemudian kita bepergian untuk menemukan diri kita. Kita bepergian untuk membuka hati dan mata kita serta belajar lebih banyak tentang dunia, lebih dari yang diberikan oleh surat-surat kabar kita.” Berikut saya sajikan lima hal yang dilatih saat seseorang menjadi pegiat  alam terbuka.

Melatih fokus

Bayangkan saat mendaki, membawa badan saja sudah membuat langkah semakin lama semakin berat. Belum lagi jika membawa beban perbekalan yang secara normal seperempat hingga sepertiga dari berat badan. Mata harus selalu seiya – sekata dengan ayunan kaki supaya pijakan tetap dalam kendali. Kehilangan fokus saat melangkah disertai dengan rasa lelah bisa saja membuat kaki tersandung batu atau akar kayu yang melintang di jalur. Ataukah salah memijak sehingga terpeleset. Dampaknya pun beragam, mulai dari cedera ringan seperti keseleo hingga cedera berat seperti patah tulang.

Itu baru mendaki. Bagaimana dengan memanjat tebing, arung jeram, atau seluncur salju. Maka tidak salah jika menjadi pegiat alam terbuka, membuat kita melatih diri untuk selalu fokus. Termasuk fokus dalam menjaga kelestarian alam sekitar yang juga menjadi tugas penting seorang pegiat alam.

Melatih manajemen

Seorang pegiat alam sebisa mungkin meminimalisir dampak eror. Oleh karena itu, sangat penting bagi mereka dalam mengatur waktu, tenaga dan perbekalan. Seorang pegiat alam harus tahu betul kapan waktu hewan liar mengalami musim kawin, sehingga keberadaan mereka tidak mengganggu waktu reproduksinya. Seorang pegiat alam seperti pendaki tidak dilihat dari kemampuannya melewati setiap kondisi terburuk. Tapi, bagaimana dia mampu mengatur kapan pendakian yang aman baik bagi diri mau pun bagi kelangsungan ekosistem sekitar.

Seorang yang tidak memiliki manajemen yang bagus akan sangat berantakan saat berkegiatan di alam terbuka. Mulai dari memepersiapkan alat, menatanya dalam ransel hingga ada-ada saja yang penting tapi lupa dibawa. Memang perlu waktu untuk bisa keluar dari persoalan tersebut, selama kita mau belajar.

Melatih kreativitas

Dalam situasi terburuk, seorang pegiat alam harus mampu mencari jalan keluar secepat mungkin. Ketika korek api tercecer misalnya, seorang pegiat alam harus mampu memunculkan titik api dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya. Entah menggunakan arus pendek batu baterai, percikan batu ataulah gesekan kayu. Dia harus memiliki kemampuan untuk memasak menggunakan bahan yang telah disediakan oleh alam seperti bambu dan kantung semar.

Dalam situasi jenuh, penting untuk mengidupkan suasana. Kejenuhan yang berlebih akan mempengaruhi mental dan berdapak pada penurunan ketahanan fisik secara cepat. Dalam kondisi seperti ini, diperlukan kreativitas sebagai seorang penghibur untuk membangkitkan suasana. Seorang leader dalam tim harus selalu mempu menjaga semangat tim dan itu membutuhkan trik-trik khusus serta berbagai pendekatan. Maka tidak heran jika seorang pegiat alam penih dengan kreativitas.

Melatih ketenangan

Pada suatu perjalanan, kita bertemu dengan binatang buas. Itu terlalu menakutkan untuk dipikirkan. Taruhlah kita tersesa tersesat, maka bersikap tenang adalah kunci menuju jalan pulang. Manakala pikiran sudah terlanjur kalut, tentu akan sulit untuk berpikir lebih jernih, kita pun nirdaya. Semakin tenang seseorang, maka akan semakin membuatnya mawas diri. Seiring waktu kita berkegiatan di alam terbuka, sedianya kita menjadi seseorang yang memiliki sikap yang tenang. Kata kunci yang selalu dipegang oleh seorang petualang (orang yang suka mencari pengalaman yang sulit-sulit. –KBBI), adalah tenang. Ingat kata Edmund Hillary, “Bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi diri sendiri.”

Melatih daya toleransi

Henry Miller (penulis dan pelukis) mengatakan bahwa destinasi seseorang bukanlah sebuah tempat, melainkan cara baru untuk melihat sesuatu. Nah, untuk bisa melihat sesuatu dengan cara baru itu, diperlukan toleransi. Kunci dari toleransi sendiri adalah keterbukaan. Seorang pegiat alam harus mampu menerima dan menghargai keberagaman. Dia harus tahu memposisikan diri dalam budaya atau tatanan masyarakat yang berlaku dimana dia berada.

Tidak hanya hubungan dengan manusia, seorang pegiat alam juga sangat penting memiliki sikap toleransi terhadap lingkungan. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam meningkatkan toleransi dengan lingkungan, mulai dari pemanfaatkan sumber daya alam secara bijak, hingga bagaimana menghargai kehadiran makhluk-makhluk lain yang juga menjadikan bumi sebagai ruang eksistensinya.

Demikianlah lima hal yang bisa kita pelajari saat menjadi seorang pegiat alam terbuka. Banyak hal yang bisa menjadi ruang belajar dan perenungan di alam terbuka, selama kita mau mengkajinya. Sebagai penutup, saya mengutip lagu Ebiet G. Ade –Senandung Pucuk-Pucuk Pinus– “Bila kita tak segan menyatu, lebih erat lagi. Kita akan segera percaya, betapa bersahajanya alam. Lumpur kering adalah pedoman untuk temukan jalan. Dan butir embun adalah lentera dalam segenap kegelapan.”

Tulisan ini diikutsertakan dalam #Tantangan5 #KMKepo kelaskepo.org .

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s