5 Tanaman Multimanfaat dalam Berkebun Di Halaman

Pertanian perkotaan semakin marak digalakkan. Selain mengangkat isu ketahanan pangan, isu lingkungan juga seolah ikut menjadi paket dalam penerapan urban farming. Isu ketahanan pangan erat kaitannya dengan pemenuhan gizi rumah tangga, terutama sayur dan buah segar. Sedangkan isu lingkungan sendiri berkaitan dengan terbentuknya lingkungan baru yang asri serta adanya upaya pengurangan sampah rumah tangga yang diolah menjadi kompos.

Meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai makanan sehat menuntut sistem budidaya yang bebas dari residu yang berbahaya bagi tubuh. Upaya tersebut pun bisa terpenuhi melalui budidaya tanaman secara organik.

Saat ini, sudah banyak informasi yang menyajikan tata cara berkebun secara organik, baik pada lahan luas mau pun skala halaman. Tentu akan berbeda kondisinya ketika budidaya organik tersebut diterapkan di kebun yang luat mau pun di halaman. Berkebun organik di halaman menuntut kreativitas yang lebih tinggi. Selain untuk mendapatkan tanaman yang berkualitas, juga penting dalam memenuhi estetika.

Kondisi ruang terbatas itulah yang menjadi tantangan. Kita harus bisa membagi ruang antar tanaman yang kita butuhkan dalam penerapan pertanian organik. Okelah, pemenuhan kompos diperoleh dari pengolahan limbah dapur. Bagaimana dengan penanggulangan hama dan penyakitnya? Olehnya itu, sangat penting untuk menanam tanaman yang serba guna selain tanaman utama yang dikembangkan.

Tanaman yang menjadi alternatif bisa menjadi penghasil buah sekaligus obat, obat sekaligus pestisida nabati, dan sebagainya. Berikut ini saya sajikan lima tanaman yang bisa mendukung upaya penerapan budidaya organik skala rumah tangga.

Sirsak

Sirsak dapat ditanam di bagian pojok halaman atau bisa juga dibudidayakan dalam pot. Tumbuhan ini menghasilkan buah yang banyak mengandung air. Buah nona ini juga kaya akan vitamin, terutama vitamin C. Selain memanfaatkan buahnya yang sudah banyak dibuktikan mampu melawan sel kanker serta mampu meningkatlkan stamina tubuh, ada bagian lain yang bisa dimanfaatkan untuk bertani organik.

Daun sirsak juga dimanfaatkan sebagai obat herbal. Sejauh ini, daun sirsak sudah diolah menjadi teh yang dipercaya mampu mengatasi asam urat, diabetes, tekanan darah tinggi, dan sebagainya. Daunnya juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pestisida nabati. Senyawa aromatik yang ada dalam daun sirsak membuat hama enggan mendekat tanaman setelah dilakukan penyemprotan. Biji sirsak malahan lebih bersifat racun lagi. Itulah sebabnya biji sirsak tidak diikutsertakan saat membuat jus sirsak.

Sambiloto

Tumbuhan ini sudah lama dikenal sebagai tanaman obat tradisional karena banyak manfaatnya. Banyak ramuan herbal yang beredar di pasaran bebahan dasar daun sambiloto. Sejauh ini, sambiloto banyak dimanfaatkan sebagai herbal untuk diabetes, malaria, penawar rancun, penghilang flek hitam di wajah dan sebagainya.

Rasa daun sambiloto sangat pahit, tapi masih lebih pahit masa lalu yang memilukan. Tanaman ini mudah tumbuh pada daerah dengan kondisi yang cukup lembab. Dapat pula di tanam di pot dengan diameter 15 – 20 cm. Secara alami, tanaman ini selalu tumbuh subur  tanpa ada gangguan hama. Rasanya yang pahit inilah yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mencegah datangnya makhluk-makhluk yang tidak diundang itu.

Pepaya

Sama dengan pisang, pepaya merupakan tumbuhan penghasil buah yang erat kaitannya dengan kelancaran pembuangan. Selain banyak mengandung vitamin C, pepaya juga mengandung vitamin E yang baik untuk kesehatan rambut dan kulit. Kandungan vitamin K dalam pepaya juga membuat buah ini baik dikonsumsi untuk menjaga kekuatan tulang.

Selain buahnya, bunga dan daun pepayajuga bisa dimanfaatkan sebagai sayur. Getah pepaya sendiri digunakan sebagai pelunak daging atau bahan sabun kecantikan. Sama halnya dengan sambiloto, daun pepaya memiliki rasa yang pahit dengan getah yang sepat. Keunggulan itulah yang dimanfaatkan sebagai bahan pestisida nabati. Belalang dan ulat pun enggan menyantap daun tanaman yang telah di semprotkan ekstrak daun pepaya.

Menanam pepaya pun sangatlah mudah. Tanaman ini cukup bandel di antara tanaman lainnya. Selain ditanam langsung di tanah, saat ini pepaya juga sudah bisa dibudidayakan menggunakan pot.

Temu-Temuan

Suku temu-temuan diantaranya jahe, kunyit, lengkuas, dan kecombrang. Selain sebagai bumbu masak, jenis tanaman tersebut banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat, terutama gigitan serangga. Saya masih ingat waktu masih kecil, ketika saya digigit tungau, nenek saya selalu mengolesinya dengan kunyit.

Dalam penerapan pertanian organik, kunyit dapat dijadukan sebagai anti serangga, lengkuas dan kecombrang dimanfaatkan sebagai anti jamur alami. Tanaman ini pun dapat ditanam dengan mudah menggunakan aanakan atau rimpang yang telah ditunaskan. Menggunakan pot pun bukan masalah bagi mereka untuk tetap tumbuh dengan baik.

Asteraceae

Keluarga aster sangat banyak dan mudah kita jumpai. Mulai dari yang tumbuh secara liat hingga menjadi gulma, mau pu yang memang secara sengaja ditanam sebagai tanaman hias. Yang umum kita jumpai tumbuh liar adalah kipahit, yang hadir di pertanaman sebagai gulma seperti bandotan. Sementara bunga maatahari, krisan, gerbera, deasy, dahlia, tagetes, zinnia, dan aster sendiri dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Kenikir dan selada dimanfaatkan sebagai sayuran.

Selaim mempercantik kebun dengan bunganya, tanaman dari golongan aster ini cenderung menjadi menghalau datangnya beberapa serangga yang berpotensi menjadi hama. Sangat penting untuk mengombinasikan tanaman bunga-bungaan tersebut dengan pertanaman. Daun kipahit juga sangat ampuh mengatasi berbagai serangan hama serangga.

Serai

Serai sudah menjadi bumbu khas masakan Indonesia. Selain sebagai bumbu dapur, tanaman serai juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat, seperti  penurun kolesterol dan tekanan darah tinggi. Banyak minuman penyegar yang disediakan dengan berbahan serai. Mojito misalnya, perpaduan antara lemon, daun min dan serai membuat badan terasa lebih segar setelah meminumnya. Pikiran pun menjadi lebih rileks.

Tanaman ini dimanfaatkan sebagai anti jamur dan bakteri dalam budidaya tanaman organik. kehadiran serai di kebun juga mampu mengurangi populasi nyamuk di halaman. Hanya saja, tanaman ini kurang baik pertumbuhannya jika ditanam dalam pot.

Itulah lima tanaman yang multifungsi dalam berkebun, terutama untuk penerapan pertanian organik. Tentunya masih banayak tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Mari terus belajar dan semoga bermanfaat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam #Tantangan5 #KMKepo kelaskepo.org .

 

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s