Komunitasku, Keluargaku

Kawan saya yang punya tanpang mirip dengan Ahmad Dhani, namanya Ihan, setahun ini telah telibat dalam sebuah perkumpulan orang yang senang dengan tanam-menanam. Dia mengaku ingin belajar dan ingin membesarkan perkumpulan tersebut.  Kawan saya yang lain, Tami namanya, mengaku kalau tertarik dengan isu yang dibawa oleh perkumpulan tersebut. Dengan isu itu, perempuan yang lebih lama empat tahun bergabung dari Ihan ini punya mimpi untuk selalu mengampanyekan lingkungan dan pertanian yang sehat.

Lain lagi dengan dinhosaurus yang suka makan sayur bernama Ardhesaurus. Hal membuatnya tertarik bergabung dalam perkumpulan itu karena dia suka menanam sayuran, tapi sering gagal. Jadi, tujuannya bergabung biar bisa belajar cara berkebun yang lebih baik. Hal yang ingin dilakukan setelah bergabung selama empat tahun pun sederhana. Dia hanya ingin lebih rajin ke kebun. Ketika saya bertanya tentang harapannya untuk perkumpulan yang ia tempati. Dia pun menjawab dengan lugas. Jawabannya seperti ini “Harapan untuk Makassar Berkebun, ke depannya lebih banyak mengedukasi masyarakat, punya lahan yg lebih banyak dan luas. Kalau tidak bisa diurus sendiri, mungkin bisa sebagai lahan binaan yang dikelola oleh penduduk sekitar. Lebih banyak lagi jenis sayuran yang ditanam  di kebun, tanaman obat juga. Punya lahan produksi biar bisa jualan bibit dan hasil panen. Lebih banyak lagi penggiat barunya dan penggiat lamanya kembali aktif ngebun.”

Yup, perkumpulan yanng dibahasakan di atas adalah Makassar Berkebun. Kalau kita merujuk pada yang tuangkan oleh Crow dan Allan tentang tiga komponen yang membentuk komunitas maka Makassar Berkebun bisa memenuhi ketiganya. Secara lokasi atau tempat, jelas bahwa perkumpulan ini berkedudukan di Kota Daeng. Dari tinjauan minat, tentunya mereka yang terlibat dalam perkumpulan tersebut berminat dalam hal tanam-menanam. Secara komuni, perkumpulan ini punya ide dasar yang senantiasa menjadi rule dalam menjalankan aktivitasnya. Ide dasar tersebut adalah edukasi, ekologi dan ekonomi yang dalam kalangan penggiatnya disingkat “3E”.

Saya sendiri sudah bergabung dalam komunitas ini sejak dideklarasikannya tanggal 11 Oktober 2011 lalu, lewat tanam perdana. Perjalanan hingga paruh dekade ini tentunya tidak serta merta berjalan sesuai dengan apa yang diimpikan oleh setip penggiatnya. Penggiat yang datang dan pergi adalah satu tantangan tersendiri dalam bekmunitas. Selisih pendapat juga kadang memicu konflik internal yang tentu berpengaruh pada stabilitas komunitas. Sejenak vakum lalu muncul semangat baru untuk kembali memulai merupakan dinamika dalam berkomunitas.

Rasa jenuh dalam berkomunitas pun tidak bisa dihindarkan, apa lagi jika berjalan monoton. Saya teringat pada ungkapan seorang Kakanda, namanya Sulenka, dia pernah mengungkapkan sebuah kaliamat seperti ini, “Kemana pun kalian pergi dan bagaimana pun kalian sekarang, ingatlah komunitas yang membesarkanmu.” Ungkapan itu dilontarkan dalam sebuah grup chat tatkala anggota komunitas tersebut sedang jenuh-jenuhnya. Kalau kita melirik pengertian komunitas secara umum, bahwa komunitas adalah kelompok sosial dari berbagai organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam kondisi seperti ini pun tetap diartikan sebuah komunitas, paling tidak komunitas penjenuh.

Hal yang rawan membuat pecahnya sebuah komunitas adalah “komuni”-nya. Jika ide dasar yang menggerakkan sebuah komunitas sudah berbeda, maka sekalipun orang-orang yang ada di dalamnya punya kesamaan minat atau hobi, komunitas tersebut tidak akan bertahan. Kondisi ini yang membuat sejumlah teman-teman akhirnya membuat nama Pajappa dan terpisah dari komunitas yang sebelumnya, sekalipun bergenre sama.

Komunitas yang berasal dari Bahasa Latin, “communitas” yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri menyebutkan bahwa komunitas merupakan kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban. Belakangan muncul istilah Komunal (Komunitas Pendukung Enal), abaikan kalimat ini.

Baik George Hillery Jr., Christensson dan Robinson, Fairi, dan Zakapedia menyebutkan teritori dalam pengetian komunitas yang mereka ungkapkan. Saya sedikit memperluas konteks teritori yang dibahasakan dalam pengertian tersebut. Teritori atau lokasi sesungguhnya adalah ruang atau wadah yang memungkinkan berlangsungnya interaksi. Kita tidak bisa lagi membatasi lokasi interaksi pada batasan geografis. Di dunia yang melek teknologi justru banyak membuka ruang-ruang interaksi sehingga segalanya terasa seperti “jauh di kaki, dekat di mata”.

Komunitas Blogger Anging Mammiri misalnya, komunitas ini tidak memungkinkan lagi membatasi  interaksi dalam ruang teritori. Komunitas yang saya kenal di bilangan 2012 ini pun menyeret saya untuk mulai menulis lewat blog. Dua momentum yang kemudian membuat saya mengenal dunia blogging. Pertama, di komunitas yang bergerak di isu urban farming, saya sering mendapatkan pertanyaan yang sama. Tentunya akan membosankan jika pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama selalu berulang di lini masa saya. Dengan menuliskannya di blog, saya tinggal menjawab melalui link tulisan yang saya sertakan. Kedua,  saat masih berada di Jalan-Jalan Seru Makassar, kami membuat kelas menulis yang dimentori langsung oleh Daeng Ipul (ketua AM, waktu itu).

Kita kembali ke ruang teritori dalam komunitas. Komunitas Blogger Anging Mammiri yang tinggal menghitung hari lagi memasuki umur satu dekade, penggiat atau para “paccarita”-nya pun sudah banyak yang berpencar. Daeng Rusle misalnya,  meskipun berada di Timur Tengah, interaksi tetap bisa dilangsungkan dalam sebuah grup LINE. Demikian pula Kaka Nunu yang menjadi ketua keempat Anging Mammiri yang tetap berinteraksi dengan kawan-kawan lainnya meskipun sekarang sedang berada di Negeri Paman Sam.

Longgarnya batasan teritori menjadi ruang atau akses informasi ini pula yang kemungkinan membuat semakin banyaknya komunitas-komunitas yang terbentuk. Berbagai kesamaan hobi disatukan lalu membentuk komuniitas. Kesamaan waktu lapar tengah malam pun sering ramai di media sosial disebut sebagai komunitas lapar tengah malam.

Faktanya bahwa tidak semua komunitas yang muncul mampu bertahan. Kadang hanya muncul sebagai reaksi terhadap momentum peristiwa, setelah itu entah kemana. Jadi intinya, komuni dalam komunitas memang memiliki peran yang sangat penting, bukan sekadar kesamaan. Komuni ini lah yang menurut saya mampu meransang loyalitas anggota sebuah komunitas. Apa pun kejadiannya, selisih pendapat yang tidak bisa dihindarkan, komuni yang tertanam dalam setiap individu selalu mampu mencairkan suasana.

Pada akhirnya saya berterima kasih kepada kawan-kawan di Makassar Berkebun yang telah menerima saya sebagai keluarga. Selamat ulang tahun yang kelima, semoga tetap konsisten dalam menghijaukan lahan-lahan yang terlantar dalam upaya pemenuhan pangan sehat keluarga. Untuk teman-teman sepegilaan saya di Pajappa, terima kasih selalu menjadi pencair suasana tatkala suntuk melanda. Selamat untuk pengurus baru dan semangat baru, yakin saja bahwa selama ada kata hidup maka pasti akan butuh hiburan dan liburan. Selamat “sampulo taung” untuk  Komunitas Blogger Anging Mammiri, selamat memperingati Hari Blogger Nasional yang kesembilan. Terima kasih sudah membuat saya menjadi bagian dari kakak-kakak Paccarita, tetap semangat dan mari menulis.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s