Mencari Jodoh Di Tamborasi

Tamborasi tidak lain adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Nama Tamborasi pun melekat menjadi nama sungainya. Perjalanan dari kota Kolaka yang mendaulat dirinya sebagai cocoa city memakan waktu dua jam. Itu berarti waktu yang dibutuhkan dari kota Kendari sebanyak enam jam. Waktu tempuh yang sama ketika saya pulang kampung dari Makassar ke Palopo.

Perjalanan saya ke Tamborasi sendiri bukan tujuan utamanya. Kebetulan saja saya dan beberapa teman kantor sedang menghadiri sebuah acara di Kolaka. Kebetulannya lagi, dari lokasi kunjungan kami, tinggal menghabiskan waktu tempuh selama satu jam, kami sudah sampai di Desa Tamborasi. Saya sendiri masih berpikir kalau hanya ingin melihat sungai nomor dua terpendek di dunia setelah Sungai Reprua yang ada di Georgia (18 meter) itu harus menghabiskan waktu selama enam jam. pikiran saya terhadap daerah wisata populer selalu dihantui oleh sampah dan sampah serta pengunjung yang di atas daya tampungnya.

Setelah kendaraan kami terparkir dengan baik, saya pun bertanya dalam hati, “Kok kelihatan sepi ya?” Baru saya sadari kalau ternyata kami bertandang di waktu weekday. Pelancong seperti saya ini kan cuman mengandalkan akhir pekan, istilah anak muda sekarang “weekend warrior”. Hanya dua kendaraan roda empat yang terparkir, termasuk yang kami tumpangi.

Di gerbang masuk kawasan pantai sudah ada petugas yang berdiri menyambut kami. Suasana di parkiran yang teduh oleh rimbun tajuk trembesi membuat udara lebih segar. Sepeti yang tertulis pada papan yang dipasang di salah satu tiang gerbang, kita harus merogoh kocek sebesar Rp. 5.000,- untuk memasuki kawasan wisata Tamborasi. Menurut saya, nilai itu tidaklah mahal untuk menikmati wisata kombo, pantai dan mata air tawar.

dsc04527
Tarif masuk kawasan pantai dan sungai Tamborasi.

Sesaat memasuki kawasan wisata ini, saya dikagumkan oleh pohon keben (Barringtonia asiatica) yang berukuran besar. Tumbuhan kategori pohon yang juga disebut putat laut ini termasuk tumbuhan asli pantai-pantai wilayah tropika. Dulunya, pohon keben yang berukuran besar digunakan sebagai bahan membuat kano atau perahu.

brt
Barringtonia asiatica, terdapat dua pohon ukuran besar dalam kawasan wisata pantai dan sungai Tamborasi.

Faslitas seperti gazebo dan toilet serta jasa sewa ban juga terlihat sepanjang jalur sirkulasi yang terbuat dari paving block. Ombak yang membelai pantai berpasir putih seolah melambaikan tangan dan merayu agar saya menceburkan diri ke laut. Yang membuat mata saya cukup terganggu adalah titik-titik pembakaran yang ada di sepanjang jalur pedestrian. Mungkin lebih baik kiranya dibuatkan satu titik saja untuk aktivitas bakar membakar . Bagusnya lagi jika sekalian disediakan jasa pembakaran atau alat pembakaran yang bisa menampung sisa pembakaran sehingga tidak meninggalkan bekas hitam di atas putihnya pasir.

Mendekati hulu sungai, sudah ada sekelompok pengunjung yang tengah asik menikmati santap siang mereka. Masih terlihat kepulan asap tipis dari bekas pembakaran mereka. Di bawah teduh Barringtonia, mereka makan sambil memandang lepas ke pantai, dibelai semilir angin laut.

dsc04500a
Sekelompok pengunjung yang tengah asik menikmati pasir putih yang membatasi laut dengan sungai Tamborasi.

Lebih dekat ke arah hulu sungai di ujung jalan paving, hati kembali serasa diremas tatkala melihat sisa makanan yang berserakan, campuran sisa nasi dan tulang ikan. Ini yang mengkhawatirkan, di saat dunia jalan-jalan menjadi gaya hidup, kok tidak diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga kelestarian alam itu sendiri. Lalu apa yang bisa diwariskan ke generasi selanjutnya jika untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam saja tidak mampu dilakukan?

Di tepi sungai, ujung setapak, sebelah kanan, terdapat pohon beringin yang menempel di dinding tebing batu yang membentuk hulu sungai. Tajuknya rimbun dengan akar akar yang menjuntai sehingga memberi kesan mistis pada pohon yang di mata orang Indonesia umumnya dikenal angker tersebut.

dsc04452a
Hulu sungai Tamborasi, terlihat aliran air yang mengalir dari dasar tebing batu.
dsc04506a
Hilir sungai Tamborasi yang menjadi pertemuan air sungai dan air laut.

Pandangan saya tertarik oleh ragam warna yang ada di akar beringin tersebut. Warna – warni tali itu terikat dengan simpul mati bukan tanpa maksud. Sebenarnya saya sudah menduga karena ini bukan kali pertama saya mendapati tali yang disimpulkan ke akar beringin. Kepada teman yang mengantar kami ke tempat ini, saya coba mengkonfimasi alasannya. Kata Indra, teman saya, “Kalau kita mengikat tali di akar beringin tersebut, kita bisa cepat dapat jodoh atau hubungan bisa awet”. Dugaan saya benar, sama dengan di temapat-tempat lainnya yang menjadi sumber mata air. Di pemandian air panas Lejja, Soppeng misalnya, banyak juga pengunjung yang mengikatkan sesuatu ke akar-akar yang ada di sekitar sumber air sebagai bentuk harapan untuk mendapatkan jodoh.

dsc04459a
Simpul-Simpul tali tyang terikat di akar beringin sebagai bentuk harapan mendapatkan jodoh dan awet dalam hubungan. Berminat?

Saya kemudian merenungi apa yang menjadi garis hubung antara jodoh dengan ikatan tali pada akar pohon? Atau mereka hanya malas saja membawa sampahnya pulang ya? Sehinga mereka cukup mengikatkannya ke akar-akar pohon.

Menurut nalar saya, bukan tali-tali di akar itu yang membuat kita bisa enteng jodoh atau awet dengan pasangan. Semakin sering kita mendatangi tempat-tempat yang airnya bersih dan tempatnya nyaman, tentunya kita akan semakin sering membersihkan raga dan pikiran. Mandi dengan air yang keluar langsung dari mata air dan masih mengalir membuat tubuh menjadi relaks, demikian juga pikiran. Kondisi itulah yang membuat tubuh kita memancarkan aura positif sehingga tentunya akan menarik bagi lawan jenis. Kan berbeda jika kita sudah malas mandi, pikiran pun penuh dengan masalah. Soal jodoh, serahkan saja pada Yang Maha Kuasa. Cozy Republik dan Yuni Shara saja bilang dalam lagunya, “Kalau jodoh tak lari kemana”.

Sayangnya saya tidak membawa pakaian ganti sehingga tidak sempat merasakan air segarnya. Menurut beberapa teman yang sudah pernah merasakan air sungai yang panjangnya 20 – 25 meter tergantung tinggi air pasang ini sangat dingin. Saya hanya bisa membilas-bilas tangan dan merasakan sejuk airnya di tepian sungai bumi Mekongga. Untuk lokasi di dataran rendah yang bersentuhan langsung dengan laut, airnya memang lebih dingin dari tempat lain dengan ketinggian yang sama. Air yang keluar dari batu sebagai hulunya sangat jernih. Saking jernihnya, kita dapat melihat dasar sungai dan ikan-ikan yang berenang di dalamnya.

dsc04437a
Air sungai Tamborasi yang sangat jernih dengan dasar sungai yang masih tampak dari permukaan.

Alam Indonesia begitu kaya dengan segala ragam budaya dan keindahan, termasuk di Tanah Anoa Sulawesi Tenggara ini. Saya belum move on dengan keindahan Moramo, saya langsung diperhapakan dengan keunikan Tamborasi. Akankah kejutan berikutnya adalah Puncak Garuda? Entah lah. Tidak jauh dari Tamborasi juga terdapat telaga biru yang dikenal juga sebagai telaga jodoh.

dsc04463a
Semoga ada kesempatan lain untuk merasakan kesegaran air Tamborasi, Oke.

Semoga kelestarian Tamborasi tetap terjaga. Semoga saya masih diberi kesempan untuk bertandang ke Sungai terpendek di Asia ini. Pastinya bukan untuk mencari jodonh dengan mengikatkan tali di akar pohon tapi untuk menceburkan diri ke sungainya.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s