Apa Kabar La Iwoi, Si Orang Sungai ?

“Kita lupa, tuk menyayanginya.

Kita hanya ingat, menikmatinya.

Kita lupa, tuk memeliharanya.

Dan kita lupa, ia sahabat kita.

Hanya mengambil lupa untuk memberi.

Hanya menikmati lupa menjaga”

Semoga Hanya Lupa – Nosstress

Belakangan ini, saya sering melakukan perjalanan ke desa-desa yang ada pada tiga kabupaten di Sulawesi Tenggara. Konawe Selatan, Konawe dan Kolaka Timur adalah tiga kabupaten yang menjadi fokus pengembangan desa dan pendampingan masyarakat yang kami tangani. Tantangannya pun berbeda-beda di setiap lokasi yang kami tuju, mulai dari listrik yang belum ada, jaringan selular yang harus dibeli, jalanan yang berlumpur di musim penghujan hingga penuh debu di musim kemarau. Kondisi masyarakat yang beragam suku juga menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Kami harus tahu menempatkan diri dengan orang Tolaki, bersahabat dengan orang Bali, rukun dengan orang Jawa, toleran dengan orang Muna dan menyatu dengan orang Bugis.

Sejauh perjalanan yang saya tempuh hingga saat ini, saya pun tertarik dengan air yang ada di Suawesi Tenggara. Patut disyukuri bahwa Sultra memiliki musim hujan yang panjang. Dari data statistik yang saya peroleh dari Balai Wilayah Sungai (BWS), dalam lima tahun terakhir, hanya Bulan Oktober yang tidak ada hujan. Aksioma yang saya bangun adalah sultra tidak akan pernah kekurangan air.

Kesimpulan sementara  yang saya bangun sepertinya ada yang kurang sreg. Tatkala saya melakukan perjalanan ke beberapa kecamatan di Konawe Selatan, yang tampak adalah sungai-sungai semakin surut airnya bahkan kering. Sungai Laeya misalnya, luasnya yang sekira 20 meteran itu betul-betul surut. Padahal menurut berita, sungai ini pernah mengalami luapan dahyat di tahun 2013. Sungai Wolasi pun tidak jauh berbeda. Luasnya yang tidak kalah dengan sungai Laeya itu pun semakin surut airnya. Yang parah di Wanua Wolasi, sungainya betul-betul kering. Beberapa sungai di Punggaluku pun demikian, sungai yang sewajarnya adalah jalur lalu lintas air kini menjadi seperti jalanan yang bisa dilintasi kendaraan roda empat. Menurut pendapat salah seorang warga ketika saya mengikuti sosialisasi reforestasi di Kecamatan Ladono, Agustus lalu, air sudah mulai kurang di sumur dan banyak sungai mulai mengering.

konsel-sungai
Kondisi beberapa sungai yang ada di Konawe Selatan

Di Konawe saya tidak banyak melihat masalah seperti di Konawe Selatan. Pada penghujung September 2016, saya merasakan sejuknya air di Sungai Asinua dan Sungai Latoma. Meskipun kedalaman aliran airnya sepaha orang dewasa, air sungai yang berhulu di Sungai Komaweeha ini sangat jernih dan menyegarkan. Dalam aliran air yang jernih itu pula tampah kasat mata ikan-ikan kecil bergerak lincah. Namun demikian, seiring perjalanan waktu tentu akan sampai juga pada batas yang mengkhawatirkan jika tidak dilakukan upaya perlindungan terhadap daerah aliran sungai.

konawe-sungai
Kondisi Sungai di Konawe dan Kolaka Timur (kawasan yang bersebelahan).

Menyeberang ke Kolaka Timur, terutama di Kecamatan Uluiwoi dan Ueesii, tidak jauh beda dengan tetangganya yaitu Asinua dan Latoma. Kali Ueesii, Kali Uete, Kali Sanggonase, Kali Tawannga yang juga bermuara di Sungai Konaweeha ini masih mengalirkan air dalam kondisi jernih. Hanya saja air akan berubah warna menjadi kecokelatan di kala hujan turun. Alirannya pun sangat deras.

Saya kemudian teringat akan sebuah rencana besar yang ada di Kabupaten Konawe dan Kolaka Timur, yaitu pembangunan Bendungan Pelosika. Waduk ini akan membendung bagian hulu sungai yang melintasi  Kabupaten Kolaka Timur dan Konawe  lalu bermuara di Kota Kendari ini. Hari minggu, tanggal 2 Oktober 2016 kemarin, saya secara tidak sengaja menonton sebuah acara telivisi yang meneliti kehidupan liar yang ada di sungai, khususnya ikan. Acara itu juga merupakan dokumentasi ilmiah tentang perlawanan terhadap pembangunan waduk atau bendungan. Dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa bendungan akan merusak kehidupan ikan di sungai. Hambatan aliran air akan memutus migrasi ikan. Tidak adanya migrasi ikan akan membuat ikan-ikan besar yang mendiami relung-relung sungai akan kehilangan makanan lalu punah. Begitu seterusnya hingga sampai pada puncak piramida makanan yang ada pada ekosistem tersebut. tidak hanya itu, penelitinya memaparkan bahwa waduk akan mempengaruhi suhu air yang juga berdampak pada pola hidup makhluk hidup yang mendiami waduk nantinya.

Bayangkan jika berdungan berdimensi besar dibangun di wilayah hulu, bagaimana dengan hilirnya? Akankah Kendari tidak akan mengalami krisi air? Bagaimana dengan Pohara yang terkenal dengan sate pokeanya? (pokea = kerang sungai). Akankah Pohara yang katanya akronim dari pokea harapan rakyat akan tetap menjadi penghidupan orang-orang di sekitar sungai Konaweeha? Tentunya masih perlu penelitian dan kajian lebih mendalam untuk menjawab keresahan yang saya rasakan ini.

Saya juga pernah bertandang ke pemandian air panas di Konawe Utara, tepatnya di Kecamatan Lasolo, Desa Wawolesea. Kondisi objek wisata yang dinamai Wales (singkatan Wawolesea) saat ini hanya spot-spot mata air saja yang terisi. Dari beberapa titik mata air, hanya ada satu titik yang memiliki batas kolam dan sampai saat kemarau seperti ini masih bisa digunakan untuk berendam. Selebihnya hanya berupa sumur-sumur kecil. Vegetasi yang umum dijumpai adalah cemara laut, bakau jenis padada dan Barringtonia serta kelapa tentunya.

wales1
Kondisi air di Pemandian Air Panas Wawolesea (Wales), Lasolo – Konawe Utara.

Menurut Pak Jawastullah, warga Lemo Bajo (desa tetangga) yang kebetulan sedang menemani keluarganya yang datang dari Raha untuk sekadar merendam-rendam kaki (refleksi), bahwa momen terbaik untuk kunjungan adalah di Bulan Januari hingga April. Pada saat itu, debet air banyak sehingga seluruh tempat terlihat seperti kolam yang sangat luas dan tanpa batas. Bulan-bulan itu adalah puncak hujan. Pemandangan air berwarna biru sehingga elok dipandang mata, katanya. Logika saya tidak yakin kalau hanya pada rentang Januari hingga April bisa membentuk  sedimen seperti itu. Di pikiran saya hanya mengatakan kalau ada sesuatu yang telah berubah.

Pada hari pertama bulan Oktober 2016 ini, akhirnya kaki saya sampai di pemandian Air Terjun Moramo. Darii awal saya berpikir bahwa air terjun ini tidak jaug beda dengan air terjun yang pernah saya datangi di tempat lain. Akan tetapi, setelah saya memasuki taman yang berada dalam kawasan Hutan Suaka Alam Tanjung Peropa ini, ekspektasi saya berubah. Sambil berjalan, mata saya dimanjakan oleh aliran air yang beriak serta pepohonan yang tinggi menjulang. Beberapa pohon yang merupakan vegetasi alami kawasani ini diberi nama sehingga memudahkan saya untuk mengenalinya. Saking menikmati  pemandangan dan laboatorium bagi saya, tidak terasa perjalanan sejauh dua kilo meter untuk sampai di titik utama pemandiannya saya lewati.

Setelah menaiki anak tangga sejumlah 64, pandangan kita akan terhipnotis dengan keelokan air terjun bertingkat (cascade) di Moramo ini. Barang bawaan kami pun disimpan di gazebo yang telah disediakan pengelola dengan biaya sewa sebesar Rp. 50.000,-. Secara bergantian kami menjaga barang dan mengekplorasi sekitar air terjun yang konon adala pemandian para bidadari ini. Hanya beberapa jenis kupu-kupu yang menari-nari, serta beberapa kicauan burung yang terdengar. Mungkin memang lagi sunyi karena tumbuhan yang ada belum memasuki fase pembungaan.

moramoo
Kondisi perairan di Pemandian Alam Air Terjun Moramo, Konawe Selatan.

Tidak jauh melangkah, saya dikejutkan oleh pemandangan yang lumrah ditemukan pada era travelin pop ini, sampah. Padahal sepanjang jalan dan di beberapa spot dalam kawasan yang diresmikan tanggal 20 Desember 1989 oleh Soesilo Soedarman (kementrian pariwisata) kala itu, telah disiapkan tempat sampah. Ini kawasan suaka alam loh, ada spesies khusus yang sengaja dilindungi karena terancam kepunahan. Bagaimana jika spesies tersebut tercemari oleh kehadiran sampah tersebut? masih kah ia nyaman di rumahnya?

Rupanya kami yang secara bergantian menjaga barang, termasuk saya juga meluangkan waktu untuk berbicara dengan orang-orang sekitar. Dari pengelola yang merupakan orang sekitar tapi bukan penduduk pribumi, ia adalah orang Jawa yang ikut program transmigrasi. Banyak hal yang diceritakan, mulai dari kemistikan kawasan pemandian, keunikan batu kapur yang menyusun aliran air sehingga tidak licin dipijak,sampai pada keluhan-keluhannya ata pengunjung yang tidak meperhatikan keasrian lingkungan sekitar.

dsc04063
Salah satu spot sampah yang berserakan.

Kata Si Mbah, kami menyebutnya demikian karena beliau berasal dari Jawa dan tampilannya sudak kakek-kakek, dulunya pengujung sangat ramai. Kondisinya mulai berbalik sampai kejadian tahun lalu yang menelan korban. Cerita mistis tempat ini pun semakin kuat hingga pengunjung mulai sepi. Kalau dari sudut pandang yang saya gunakan, kondisi seperti itu justru menguntungkan karena akan membuat kawasan tidak melebihi batas daya tampung yang ujung-ujungnya merusak tatanan yang ada.

Mungkin memang sebaiknya di semua kawasan yang menjadi sasaran wisatawan populer perlu dikuatkan lagi kemistikannya. Kalau perlu, bagaimana membuat sebuah mitos yang seolah-olah memang lahir dan dipercayai oleh masyarakat sekitar. Terutama yang berkaitan dengan sampah, hampir semua tempat menjadi ancaman serius. Kalau sampah sudah menjadi ancaman, tidak hanya spesies endemik saja yang terancam di Moramo, kelangsungan ekosistem sungai pun akan terancam. Seperti penggalan lagu milik Nosstress di atas bahwa kita hanya menikmati dan lupa menjaga. Lalu bagaimana dengan La Iwoi (orang sungai)? Masihkah ada cerita indah dari mereka?

 

 

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s