Lima Pertimbangan Sebelum Menggunakan Barang Bekas untuk Menanam

Sebuah keniscayaan dari aktivitas manusia, entah di kota mau pun di desa adalah sampah. Tentu jumlahnya pun akan meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk pada suatu kawasan. Sampah menurut American Public Health Association diartikan sebagai sesuatu yang tidak digunakan, tdak terpakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Jadi, sekiranya Anda selama ini dicampakkan oleh seseorang, bisa jadi Anda adalah sampah. Selanjutnya terserah Anda.

Dilansir dari website liputan6.com (19 Februari 2016), Kota Makassar yang berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa mampu menghasilkan 700 – 800 ton sampah per hari. Jumlah tersebut meningkat drastis dibandingkan tahun  sebelumnya. Menurut Sakka Saleh, Kepala TPA (Taman Pembuangan Akhir) Tamangapa, jumlah sampah yang dihasilkan pada tahun 2015 sekira  400 ton per hari. Satu masalah jika tidak ada penanganan serius. Kita juga tidak bisa berharap hanya pada tindakan pemerintah saja, tapi setiap individu bisa berbuat.

Sampah padat yang secara awam disebut sampah saja merupakan salah satu limbah yang terdapat di lingkungan. Sampah padat yang tidak dikelola sebagaimana mestinya terbukti sering menyebabkan masalah lingkungan dan kesehatan bagi manusia. Masalah yang ditimbulkan antara lain, masalah estetika, tersumbatnya saluran air yang dapat menyebabkan banjir, bahaya kebakaran, terjadinya pencemaran lingkungan, hingga meningkatnya penyakit-penyakit yang ditularkan melalui vektor, (Sumantri, 2010)∗.

Kepedulian terhadap lingkungan semakin marak digalakkan bahkan menjadi gaya hidup, terutama bagi warga perkotaan. Penerapan budaya 3 R (Reuse, Reduce dan recycle) membawa trend positif bagi kelangsungan hidup di bumi. Setidaknya, budaya 3 R secara langsung mampu mengurangi secara kuantitas sampah yang masuk ke TPA.

Kaitannya dengan praktik pertanian perkotaan (urban farming), konsep 3 R ini sangat menarik. Mulai dari pemanfaatan barang bekas menjadi aneka macam wadah tanam kreatif, hingga sisa makanan yang menjadi kompos.

Kali ini saya akan menjelaskan mengenai penggunaan barang bekas sebagai wadah tanam. Paling tidak, ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam memanfaatkan sampah sebagai tempat untuk menumbuhkan tanaman.

  1. Jenis bahan

Jenis bahan yang saya bahasakan di sini seperti kayu, plastik, kaleng mau pun kertas.  Jenis bahan ini berkaitan langsung dengan daya tahan pemakaian. Dengan mengetahui lama pemakaian jenis sampah tersebut kita bisa menetukan jenis tanaman berdasarkan umur panen atau berdasarkan fase tertentu. Bahan kertas misalnya, dengan membuat lembaran kertas membentuk tabung lalu disusu rapih dan diisi dengan media tanam, cukup untuk menjadi wadah persemaian hingga dua minggu. Contoh lain adalah rak telur, dengan kondisi seperti itu, lebih menyerupai dengan trai semai. Rak telur dapat digunakan sebagai wadah persemaian.

Sedikit berbeda dengan kayu bekas yang lebih tahan (tergantung jenis kayunya), bisa digunakan untuk beberapa kali panen tanaman jangka pendek ataukah paling tidak untuk menanam jenis herbal yang umur peremajannya sama dengan usia kayu bekas tersebut.

14316902_10206751105525892_4737772429995319293_n
Wadah tanam dari kayu bekas, bisa tahan hingga enam bulan. (enal_18)
  1. Kandungan bahan

Namanya juga barang bekas atau sampah, sangat penting untuk mengetahui apa kandungan kimia yang terkandung pada bahan tersebut. Bisa juga mengetahui apa yang pernah tersimpan dalam wadah tersebut. Apakah setelah dilakukan pembersihan todak lagi meninggalkan residu yang nantinya justru akan mengotaminasi tanaman yang akan ditanam. Apatah lagi tanaman yang ditanam adalah untuk keperluan konsumsi.

Contoh pada bahan asbes, serat asbes berbahaya karena mengandung hidroksida magnesium silikat yang bersifat karsinogen (pemicu penyakit kanker). Belum lagi debu yang timbul saat membuat kotak tanam dari asbes yang secara serius akan memberi dampak buruk terhadap pernapasan.

Kandungan bahan juga bisa ditelusuri dengan mencari tahu asal-usul barang tersebut. selang infus misalnya, biasanya digunakan sebagai selang untuk irigasi tetes atau sistem fertigasi lainnya. Jangan sampai selang infus yang digunakan mengandung bibit penyakit, bukannya bermanfaat malah menjadi vektor.

  1. Ukuran Bahan

Ukuran yang dimaksudkan di sini adalah volume wadah. Ukuran wadah erat kaitannya dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Semakin lama umur tanaman semakin luas zona perakarannya, apa lagi kalau tanaman yang akan ditanam adalah jenis berumbi. Perkembangan akar tanaman yang baik akan menunjang pertumbuhan bagian atas tanaman. Idealnya, tinggi wadah adalah sepertiga dari tinggi tanaman. Kadang tanaman menjadi kerdil karena akar yang sudah saling berdesakan. Bonsai  yang notabenenya adalah tanaman yang sengaja dikerdilkan pun secara berkala dilakukan pemangkasan akar agar pertumbuhannya senantiasa prima.

14322190_10206751090405514_5301708966383102969_n
Kemangi dalam potongan paralon, terlihat sangat padat. (enal_18)
  1. Jenis budidaya yang digunakan

Poin ini erat kaitannya dengan tiga poin yang telah disebutkan di atas. Jenis budidaya yang dimaksudkan di sini adalah penaman secara konvensional dengan menggunakan media padat dan sistem hidroponik. Untuk wadah-wadah kecil seperti gelas platik bekas mungkin lebih cocok untuk digunakan sebagai wadah hidroponik pengganti net pot. Kalau pun akan digunakan untuk pertanamn konvensional, mungkin sekadar menjadi wadah semai saja. Wadah-wadah yang lebih besar seperti ember bekas cat bisa dimanfaatkan untuk menanam cabai atau terong, bahkan tabulampot (tanaman buah dalam pot).

14358768_10206751089725497_5027189527758167720_n
Wick Sistem hidroponik. (enal_18)
  1. Kreativitas tambahan

Kreativitas yang saya maksudkan di sini adalah bagaimana menambah nilai dari wadah bekas yang sekali lagi notabenenya adalah sampah tersebut. Sebenarnya, menggunakan barang bekas menjadi wadah tanam sudah bentuk kreativitas.  Tetapi, sedikit tambahan tambahan aksen pada wadah tersebut akan meningkatkan nilainya nilainya.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk memberi sentuhan pada sampah tersebut. salah satu contohnya adalah pengecatan. Warna-warni yang dikombinasikan dengan tanaman yang tumbuh di atasnya akan lebih elok dipandang  jika dibandingkan dengan berbagai merk dagang pada wadah aslinya.

13962775_523603104492762_2810022539724576539_n
Pengecatan mampu menambah aksen dal lebih menarik. (foto:google)

Contoh lainya melalui pembentukan atau petanaan. Pada ban bekas misalnya, ban dapat dibuat menjadi pot menarik dengan keahlian tertentu. Ditata dengan disusun bertingkat pun akan lebih menarik dan menciptakan gradasi wadah seperti terasering.

ban_bekas6
Penataan atau penyusunan ban sebagai pot tanam. (foto: Google)

Itulah lima hal yang mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi  Anda saat memilih barang bekas menjadi media tanam. Tentu masih banyak pertimbangan-pertimbangan yang bisa dijadikan alasan untuk menjadikan sampah sebagai bagaian yang bernilai guna sebelum nantinya akan benar-benar menjadi sampah. Paling tidak, dengan menambah nilai guna suatu barang tentu akan lebih berfaedah ketimbang bertumpuk begitu saja di TPA.

∗Sumantri, Arif : 2010. Kesehatan Lingkungan. Kencana, Jakarta

 

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s