Tiga Alasan Film Uang Panai Layak Anda Tonton

Pernikahan seyogyanya adalah perkara yang dimudahkan. Namun pada kenyataannya, bergesernya nilai-nilai budaya yang ada di kalangan Suku Bugis Makassar, membuat pernikahan kini menjadi sebaliknya. Fenomena uang panai adalah salah satu yang menjadi latar belakang peliknya sebuah pernikahan. Inilah kondisi yang kemudian diangkat menjadi cerita layar lebar oleh Makkita Cinema.

Saya teringat kata Rama yang lebih akrab disapa Papbiz, ketika baru bergabung dalam penggarapan film ini. Dia betul-betul ingin yang lain dari film “Uang Panai” dan teman-teman yang tergabung dalam rumah produksi itu memang punya komitmen besar untuk mewujudkan mimpi mereka. Hasilnya memang luar biasa, sampai pada hari kelima penanyangannya, masih juga memperlihatkan antrian panjang di setiap loket-loket bioskop.

Saya sendiri yang saat ini berdomisili di Kendari, harus menunggu sampai hari keempat untuk bisa mendapatkan kursi di Hollywood Kendari. Itupun hanya mengisi spot-spot yang kasong di antara rombongan yang sudah lebih dahulu membooking tiket. Kami yang bertiga niatnya duduk bersebelahan akhirnya terpisah-pisah. Tiket yang kami peroleh pun untuk penayangan midnight. Bisa dibayangkan antusiasme penonton yang datang untuk menonton film ini. Setelah hari pertama hanya membuka satu layar, selanjutnya hari kedua menjadi dua layar dan hari ketiga ditambah lagi layar untuk midnight.

Setelah menonton film yang disutradarai oleh Asril Sani dan Halim Gani Safia yang bergenre komedi romatik ini, saya mengatakan bahwa film ini sangat layak untuk ditonton. Paling tidak, ada tiga hal kenapa film Uang Panai layak untuk Anda tonton.

 

Mengangkat isu sosial budaya

Isu uang panai memang menjadi polemik di kalangan masyarakat Bugis Makassar. Memang secara budaya, panaik lahir dari bentuk perlindungan wanita-wanita Bugis Makassar terhadap kesewenangan penjajah kala itu.  Panai lalu berkembang menjadi sebuah bentuk penghargaan mempelai pria kepada keluarga mempelai wanita, itu masih dalam batas yang wajar. Hanya saja, banyak yang menjadikan budaya ini menjadi sebauh ajang gengsi melodi (melo diaceng). Dalam Bahasa Indonesia, melo diaceng atau melo riaseng bisa diartikan ingin diperhatikan atau ingin diperbincangkan.

Hemat saya, budaya adalah kontrol sosial setelah agama. Agama sendiri menyebutkan bahwa pernikahan adalah filter terhadap zina, maka tidak ada alasan untuk membatalkan pernikahan lantaran panai yang mahal. Agama sendiri memberi larangan untuk tidak berlebih-lebihan, sementara panai yang nilainya sungguh fantastis dan kadang melampaui nalar itu juga bagian dari berlebih-lebihan. Nilai tertinggi yang sebelumnya dipegang oleh Bulukumba, yakni Rp. 500 juta rupah. Nilai itu terpatahkan oleh Pinrang sebesar Rp. 599 juta rupiah. Toh itu bukan jaminan langgengnya sebuah bahtera rumah tangga.

S__15179794
Adegan ketika Ancha “mammanu-manu” ke rumah Risna. Foro by Makkita Cinema

Film Uang Panai berhasil mengangkat isu ini. Meskipun penggarapan isunya terlalu dramatis dengan mengangkat kasus utang dari keluarga Risna yang mana kasus-kasus seperti ini sangat jarang terjadi, tapi secara keseluruhan tidak mengurangi nilainya. Adanya nasihat-nasihat akan sebuah pernikahan justru menjadi informasi publik yang bisa saja menjadi paradigma baru dalam masyrakat, terkait mahalnya panai.

 

Menjadi tempat belajar logat Makassar

Sejauh ini, hanya Rina Hasyim yang sering menggunakan logat Makassar saat bermain film. Selain itu, Zainuddin yang diperankan oleh Hejunot Ali dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck juga sempat menggunakan logat Makassar, namun terkesan sangat kaku. Dalam film Uang Panai ini, hampir semua pemainnya menggunakan logat Makassar.

Melalui film ini, orang-orang dari luar Makassar, sulawesi umumnya,  bisa belajar logat Makassar karena pada layar juga ditampilkan subtitle percakapan dalan teks Bahasa Indonesia. Sementara untuk kalantan warga Makassar sendiri, kondisi ini justru membuat film ini lebih dekat dengan penonton.

 

Jangan lupa bahagia

Jika tertawa adalah salah satu indikator bahagia maka tidak salah kalau kita akan bahagia setelah menonton film ini. Dari menit pertama hingga menit 119, secara keseluruhan riuh tawa penonton yang ada dalam studio terdengar. Tumming dan Abu sukses menjadi pewarna yang cerah dalam film Uang Panai. Ketika saya menanyakan alasan kepada seorang anak yang ikut menonton, alasannya sederhana, mau nonton Tumming dan Abu.

S__15179795
Adegan Ketika Tumming dan Abu menjadi Spy dalam Fim Uang Panai. Foto by Makkita Cinema

 

Sebagaimana Sule dengan Sundanya, Sebagaimana Soimah dengan Jawanya, sebagaimana Benyamin dengan Betawinya. Tidak menutup kemungkinan Tumming dan Abu akan melegenda dengan Makassarnya. Kenapa tidak?

Secara keseluruhan filmnya sangat layak untuk ditonton bersama keluarga, kalau perlu bersama calon mertua. Ide ceritanya mampu memikat penonton meskipun tidak diimbuhi oleh keindahan-keindahan alam Sulawesi Selatan. Banyak pesan-pesan moral yang bisa dipetik dari film ini, baik dari aspek keluarga, pertemanan, maupun dari sudut pandang pekerjaan.

Saya bukan pengamat film tapi saya berhak berkata bahwa film Uang Panai, humornya dapat, pesannya sampai. Seperti kata Katon Bagaskara dalam adegannya “Cukup kopi yang pahit, hidupmu jangan”. Jangki’ lupa bahagia.

 

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Tiga Alasan Film Uang Panai Layak Anda Tonton”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s