Nongkrong Bersama Bang Anas

Siang jam istirahat di kantor, seorang kawan kembali mengingatkan kalau siang ini ada pernemuan dengan Pak Anas. Di awal-awal perencanaan, saya pernah mendengar nama Anas dari deputi program. Waktu itu saya diarahkan untuk menemui seseorang yang ia sebut Bang Anas. Anas yang dimaksud memang sama, seorang akademisi dari salah satu universitas negeri yang ada di Sulawesi Tenggara. Nama lengkapnya adalah Dr.Ir. Anas Nikoyan, M.Si.

Saya merasa menarik untuk membuka ruang-ruang diskusi dengan orang-orang yang sudah lama berkecimpung di dunia pendampingan masyarakat. Apatah lagi orang yang akan saya temui ini banyak tahu tentang informasi-informasi yang belum muncul di permukaan. Sejauh ini, kami memang telah melakukan penelusuran data dan informasi, tapi semakin banyak bertemu dan berdiskusi tentu akan menambah informasi bagi kita. Terlepas apakah informasi itu relevan dengan kebutuhan kita atau tidak. Saya ingat apa yang pernah disampaikan oleh Daeng Nuntung saat mengisi materi di Kelas Menulis Kepo, bahwa dalam kerja-kerja pendampingan, sangat penting untuk membangun pertemanan (friendship building). Inilah salah satu jalan membangun pertemanan itu.

Satu jam berlalu, dering telepon kawan saya berdering. Tidak lama berselang, kawan saya berseru, “Ayo kita ke Bang Reza, Pak Anas sudah di sana.” Saya pun segera beranjak dari tempat duduk saya dan tidak lupa membawa buku catatan kecil, Kami pun menuju ke Teras Beken Bang Reza yang waktu tempuhnya tidak lebih dari lima menit dari kantor kami.

Siang itu, kedai masih terlihat sepi. Posisi duduk Bang Anas pun dapat dengan mudah kami temukan saat memasuki  kedai. Saat kami tiba, dia sedang asik menikmati santap siangnya. Kami pun mengambil posisi duduk di meja sebelahnya sebagai isyarat kepada Bang Anas agar tetap menuntaskan santapannya.

Seorang pramusaji pun datang menghampiri dengan menyodorkan daftar menu. Seperti biasa, ketika saya mampir di kedai yang memajang foto ukuran besar seorang ulama kharismatik dari Martapura, Kalimantan Selatan, bernama K.H. Muhammad Zaini Abdul Ghani ini, saya selalu memesan jahe rempah. Nahasnya, minuman berwarna merah dengan rempah yang beraroma kuat itu sedang habis. Saya pun akhirnya mengalihkan pilihan pada capucino dingin.

Seperti tidak ingin melewatkan waktu, Pak Anas pun memulai pembicaraan dengan menanyakan maksud dari pertemuan ini. Secara singkat, kami pun memaparkan konsep program secara keseluruhan terutama menyangkut agroforestri dan reforestasi. Pada prinsipnya, Pak Anas mendukung program yang kami lakukan, selama  tidak lepas dari konsep pemberdayaan.

Pemberdayaan yang dimaksudkan adalah bagaimana mencakup aspek ekonomi, ekologi dan sosial yang berimang dalam masyarakat. Dampak ekonomi tidak hanya diukur dari pendapatan yang diterima masayarakat setelah program tetapi termasuk juga nilai tambah pada desa. Nilai tambah yang dimaksud adalah inventarisasi alat atau bangunan fisik yang ditinggalkan setelah program.

Dampak ekologi, misalnya berupa luasan tutupan lahan dan peningktan jumlah karbon dan perbaikan tatanan hidrologi. Sementara dampak sosialnya berupa perbaikan tatanan pelayanan pemerintahan, kelembagaan dalam masyarakat, maupun peningkatan keterampilan masyarakat secara umum.

Bang Anas kemudian mengangkat sebuah contoh kasus. Katanya, pernah ada program penanganan kasus bom ikan. Konon, bantuan hanya tertuju pada satu titik saja dan mengabaikan sekitarnya. Program tersebut secara ekonomi menguntungkan masyarakat penerima bantuan.  Tetapi,  ternyata secara ekologi justru banyak karang yang rusak karena pengeboman dilakukan oleh desa-desa sekitar.  Desa yang lain menganggap bahwa harus mengebom dulu baru bisa dapat bantuan. Kasus seperti inilah yang secara sosial akan menimbulkan kesenjangan dalam masyarakat.

Pak Anas menyarankan sebisa mungkin mendorong kolaborasi dalam komunitas untuk menghindari intimidasi pihak-pihak tertentu. Kalau sudah ada intimidari dari salah satu pihak maka bisa dipastikan tujuan bersama tidak akan tercapai. Sementara itu, tujuan utama dari berkolaborasi tidak lain adalah memperluas bidang untuk mengelola pengetahuan, baik itu pengetahuan sains maupun pengetahuan praktis yang datang dari berbagai pengalaman. Kuncinya, kolaborasi menuntut terjadinya auto kritik. Dengan begitu, kolaborasi akan menghasilkan kesetaraan, berbagi risiko dan tentunya berbagi manfaat.

Untuk program-program yang berkaitan dengan komoditi, sangat penting untuk memberi jaminan pasar pada masyarakat, kata Pak Anas. Tidak adanya jamianan pasar hanya menambah luka dari harapan yang kita beri pada petani dan sudah banyak kasus seperti itu. Sehingga sangat penting dalam workshop untuk memberi porsi bagi pelaku-pelaku ekonomi seperti pedagang. Pemerintah sebagai penentu kebijakan juga perlu hadir, demikian juga para akademisi dan peneliti untuk melihat kelayakan dari sebuah program. Tidak kalah penting pelibatan masyarakat sebagai pelaku utama dari program. Tinggal bagaimana mengatur porsi dari berbagai pihak itu agar intimidasi yang dimaksudkan tadi bisa dihindari, terutama bagi para petani.

Olehnya itu, kami pun meminta saran dari Pak Anas kiranya ada akademisi yang bisa atau berkompoten di bidang agroforestri dan reforestasi ini untuk bisa dilibatkan dalam workshop yang direncanakan akhir Agustus ini. Pak Anas siap berkoordinasi dengan pihak kampus dan akan segera menginformasikan nama-nama yang bisa diajak berkolaborasi.

Dari pertemuan ini kami juga mendapatkan beberapa isu mengenai demplot tanaman bambu dari kehutanan seluas 10.000 ha, demplot tanaman lokal Sultra seluas 10.000 ha, industri pengolahan singkong gajah di Konsel yang sudah dikerjasamakan dengan pihak perbankan mengenai kredit usaha rakyatnya (KUR). Sebenarnya isu-isu ini penting terkait dengan kerjasama anatar insatansi yang bisa menunjang keberhasilan suatu program. Semakin banyak stakeholder yang terlibat dari sebuah program semakin memungkinkan keberlanjutannya.

Tidak tersa, pertemuang yang kami prediksi berlangsung sejam ini ternyata lanjut sampai dua jam. Belum lagi dukungan semesta dari tumpahan air dari langit membuat kami enggan beranjak dari tempat duduk. Sebagai pelengkap pembicaraan, kami pun saling tanya tentang asal usul dan sebagainya. Rupanya Bang Anas ini juga merupakan kawan dari senior saya di kampus dulu. Hal-hal seperti ini tentunya adalah sinyal baik untuk tetap saling mendukung. Sekali lagi, kita tidak akan pernah rugi dalam “membangun pertemanan”.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s