Pulang Bersama Kepakan Kupu-Kupu

Pagi itu, saya masih berada dalam balutan kepompong sleeping bag yang melekat sedari subuh di badan. Sangat berbeda dengan suhu saat menjelang tidur sekira pukul 23.00 waktu setempat yang begitu menggerahkan hingga saya harus tidur telanjang dada. Kondisi seperti ini sangat lumrah pada musim kemarau dimana pada siang hari, bumi akan menyerap panas dan melepas dalam jumlah yang banyak. Sehingga, sampai tengah malam udara suhu masih terasa panas dan sangat berbeda pada saat menjelang subuh sampai pagi. Namun demikian, kondisi seperti ini sangat penting bagi tumbuh-tumbuhan, terutama dalam hal reproduksi. Perbedaan suhu ekstrim siang dan malam itulah yang memicu pembungaan.

Rutinitas di lokasi kerja membuat tubuh serasa dipaksa melangkah menuju kamar mandi untuk bersentuhan dengan air. Setelah sarapan dan menikmati hangat kopi, saya bersama rekan kerja lainnya melaju ke lokasi pembibitan karet yang jaraknya sekira 20 km dari mess tempat kami tinggal. Dengan sweater hitam yang sudah mulai buram, kami melewati jalur yang masih berkabut. Sebagai penanggung jawab lokasi, kami harus lebih dahulu tiba di lokasi sebelum pekerja agar kami bisa mengecek kondisi kebun tetap kondusif.

Semalam kami sedikit telat beristirahat lantaran harus melayani pembayaran upah tenaga harian yang dibayarkan tiap dua pekan. Mess menjadi sangat ramai saat penggajian. Tapi tidak semua dari mereka yang datang harus puas dengan upah kerja mereka. Ada juga dari mereka yang harus kami tangguhkan pembayarannya karena ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang kami harapkan. Tak heran jika nada-nada sumbang yang kurang mengenakkan sering kami dengar. Ada juga dari mereka yang selalu memberi kami semangat, “Tidak usah didengarkan, orangnya memang begitu”, kata mereka yang cenderung bekerja sesuai dengan standar pekerjaan yang ditetapkan.

Sekira pukul sembilan waktu Muara Bulian, Jambi, saya putuskan untuk mengontrol pengisian polibag di Blok I. Satu diantara tujuh blok dengan rata-rata lima hektar tiap blok pembibitan yang kami tangani berempat. Saat itu saya masih menangani  Blok I dan II, sebelum direlokasi ke Blok IV dan V. Sesaat setelah mendekati pekerja yang sedang mengisi polibag, tiba-tiba seorang lelaki yang sedikit lebih tua dari saya, datang menghampiri. Sorotan matanya tajam dengan langkah kaki yang cepat dan tidak lagi melewati jalur sirkulasi antar bedengan. Urat wajahnya kelihatan tegang dengan parang bersarung terpasang di pinggang kirinya. Memotong jalur bedengan yang berisi 500 polibag membuatnya cepat sampai di depan saya.

Sekira dua meter sebelum betul-betul tiba di depan saya, lelaki itu berjalan lebih cepat seraya menghunuskan parang yang panjangnya lebih dari satu siku orang dewasa. Kondisi itu sontak membuat orang-orang yang sedang bekerja berhenti dan pandangannya tertuju pada kami. Dua orang karyawan bulanan saya pun segera melompat dan menengahi kami. Karyawan bulanan merupakan karyawan yang direkrut secara terbuka dengan kriteria tertentu untuk menangani petak-petak kecil dalam blok, mulai dari persiapan tanam hingga panen bibit.

Tempat saya semakin ramai. Sambil memegang parang, lelaki itu berkata, “Awas kalau sampai malam ini tidak gajian, jangan harap kalian bisa sampai di sini besok”, dengan logat melayunya. Saya mencoba menenangkan diri dan berkata, “Silakan bapak berkomunikasi dengan KR-nya (Ketua Regu), kami punya alasan mengapa pembayaran beberapa orang kami tangguhkan, termasuk bapak”. “Saya tidak mau tahu”, imbuhnya keras. “Coba lihat polibag-polibag yang bapak ini, semuanya miring dan tidak padat, baru semalam sudah acak-acakan. Bagaimana bisa bertahan enam bulan ke depan?” Nada sumbangnya kembali terlontar “Awas ya!”. Rekan kerjanya kemudian menariknya untuk kembali bekerja di posisinya, begitu pun yang lain.

Pengisian polibag dalam pembibitan bukan perkara sepele karena ini baru langkah awal. Polibag yang tidak diisi dengan padat dan tegak akan mudah roboh. Jangankan roboh, miring saja akan membuat bibit tumbuh tidak tegak lagi. Nantinya jika dipaksakan ditanami bibit, polibag yang banyak rongga akan terisi udara panas dan merusak akar. Lipatan yang terbentuk karena kepadatan kurang akan mengakibatkan patahan media saat bibit diangkat. Patahan itu tentunya turut serta mematahkan akar. Bibit belum sampai di lokasi penanaman sudah mengalami stres berat. Oleh karena itu, sejak pengisian polibag harus diperhatikan betul.

Matahari mulai meninggi, saya beristirahat di camp blok. KR pekerja yang marah tadi datang menghampiri, dari langkahnya sepertinya dia sudah tahu mengenai kejadian pagi tadi. Dengan sedikit canggung dia bertanya, “Pak Insinyur tidak apa-apa kan?”. Di sana, kami yang memegang posisi sebagai asisten afdeling, kerap disapa insinyur, padahal gelar pendidikan kami sudah format sarjana. Tapi itu saya anggap bagian dari penghargaan. Afdeling sendiri merupakan sebuah wilayah administratif pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang setingkat dengan kabupaten. Hanya saya, dalam konteks perkebunan digunakan sebagai pembagian administratif suatu kebun, biasanya dibatasi oleh blok.

Dengan tenang saya menjawab, “Tidak apa-apa pak, biasa itu dalam kerja lapangan.” “Saya minta maaf Pak Insinyur, karena belum sempat menyampaikan kepada anggota saya mengenai pekerjaan yang harus diperbaiki sebelum pembayaran. Tadi pagi saya ada urusan mendadak jadi tidak sempat ke sini dulu”, sahutnya sesaat setelah saya menjawab pertanyaannya tadi. Seolah tanpa memberi saya kesempatan bicara, dia melanjutkan, “Jadi, bagaimana Pak Insinyur, saya keluarkan saja anggota yang satu itu?”. Sambil memperbaiki posisi duduk dan menggoyang-goyangkan kedua telapak tangan, saya menjawab dengan nada sedikit lebih kencang, “Jangan, Pak”.

Sedikit bingung dengan jawaban saya, dia lalu duduk di samping saya, di bale-bale camp. “kenapa, pak?” Dengan tenang saya mencoba sedikit bijak padahal saya sebenarnya dalam posisi takut. “Begini pak, mungkin memang bapak itu lagi butuh uang sehingga terbawa emosi karena haknya ditangguhkan. Hanya saja, dia mungkin belum memahami apa kesepakatan kerja antara manajemen dengan KR (sambil menunjuk dengan ibu jari kepada KR).” “Jadi, tetap kerja pak?”, sanggahnya. “Iya, kalau polibagnya diperbaiki dan selesai sampai jam kerja habis, malam ini kami bayar. Akan sangat berisko jika kita memberhentikannya pada situasi seperti ini, dia bisa menjadi nekat dan itu yang kami hindari. Pokoknya, sekarang tugas bapak, bagaimana memberi pemahaman mengenai kesepakatan kerja kita pada setiap anggota bapak”, jawab saya seperti isyarat menutup pembicaraan. Pak KR pun mengerti lalu pamit dan berjalan menuju regu kerjanya beristirahat di bawah kanopi kayu karet hutan tepi kebun. Saya pun menuju camp utama untuk berkumpul dengan teman-teman lainnya.

Cerita ini kembali saya kenang ketika membuka sebuah majalah dalam pesawat saat pulang kampung lebaran kemarin. Malam itu (Jumat, 1 Juli 2016), saya akhirnya berkesempatan pulang kampung dengan menggunakan maskapai singa terbang. Setelah mendapatkan kursi yang sesuai degan tiket, saya pun duduk dan tak lupa mengenakan sabuk keselamatan. Di kantong kursi depan, saya melihat sebuah majalah. Di maskapai singa ini, majalahnya memang kadang ada, kadang juga tidak ada. Sekali pun saya sudah menyiapkan buku yang akan saya baca selama 50 menit  waktu terbang ke Makassar, saya mendahulukan untuk membuka-buka majalah tersebut.

Di lembaran-lembaran awal, jari saya kemudian berhenti membuka lembar selanjutnya. Sebuah artikel tentang istilah yang pertama kali dipakai oleh Edward Norton Lorenz dengan merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di belantara Brazil, secara teori akan menciptakan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Mungkin bukan hal yang awam lagi bagi pembaca, istilah tersebut adalah  Efek kupu-kupu (Butterfly effect). Sebuah istilah yang terdapat dalam “Teori Chaos” (Chaos Theory) yang berhubungan dengan “ketergantungan segala yang peka terhadap kondisi awal” (sensitive dependence on initial conditions), di mana perubahan kecil pada satu tempat dalam suatu sistem non-linear dapat mengakibatkan perubahan besar di kemudian hari.

Tahun lalu, ketika mengikuti sebuah tes untuk pekerjaan sebagai suvervisor dalam program pendampingan desa, ada soal yang menyuruh peserta untuk menuliskan pengalaman kerja yang tidak atau sulit dilupakan. Pada kolom jawaban saya menuliskan “Saya pernah ditodong dengan parang dan diancam untuk dibunuh oleh seorang pekerja.” Singkat cerita, saat wawancara, Sang Pewawancara hanya fokus pada jawaban saya di tes sebelumnya. Saya disuruh menjelaskan kejadian tersebut, saya pun menuangkannya seperti cerita yang tertulis di atas. Pewawancara lalu bertanya, “Apa yang kamu lakukan terhadap karyawan tersebut?” Dengan singkat saya menjawab, “Saya tidak memecatnya, hanya menyuruhnya untuk memperbaiki pekerjaannya. Memecatnya berarti menambah panjang masalah dan itu tidak aman untuk saya bekerja.” Saya pun akhirnya diterima sebagai supevisor untuk program pendampingan desa di Kabupaten Gowa dan Jeneponto.

Pikiran saya kembali pada peristiwa di penghujung tahun 2008 itu. Tentunya akan berbeda cerita jika waktu itu saya memberhentikan Si Penodong itu. Mungkin saya tidak akan pernah melintasi jalur menuju Uluiwoi di Kolaka Timur yang harus melintasi tiga sungai tanpa jembatan. Mungkin saya tidak akan pernah tahu kalau ada pertanaman kopi di Ujung Bulu yang diolah untuk menghasilkan kopi cita rasa madu. Mungkin saya tidak akan merasakan teriknya matahari Ngawi yang nyaris tanpa angin. Kemungkinan terburuknya adalah hanya nama saya yang pulang dari Tanah Palm Merah itu. Dalam hati saya berkata, “Terima kasih bapak yang telah mengancam saya dengan parang waktu itu”.

Terlepas dari kebenaran sebuah teori, pembaca juga bisa mengingat-ingat, apa kejadian yang pernah atau gagal dilakukan dan apa dampak yang dirasakan hingga saat ini. Segala sesuatu bukan lahir secara kebetulan, tentunya ada peristiwa lain sebagai kejadian awal. Dalam Al – Quran sendiri, Allah berfirman dalam Surah Al Zalzalah ayat 7 – 8, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Selayaknya, dalam menjalankan hidup, kita harus berhati-hati dalam mengambil tindakan dan mengerjakan sesuatu. Pastikan apa yang kita lakukan tidak lain adalah segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Apa yang kita lakukan pada hari ini akan berdampak terhadap apa yang kita rasakan kemudian, mungkin di dunia atau mungkin pula di akhirat. Kebaikan yang kita lakukan hari ini adalah kebaikan yang akan kita rasakan kelak. Sebagaimana kata pepatah, “Barang siapa yang menanam, maka dia akan menuai.” Pertanyaan saya, “Kebaikan apa yang telah kita lakukan hari ini?”

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s