Mudik; Hiburan dan Liburan Bermakna

“Lebaran sebentar lagi. Berpuasa sekeluarga. Sehari penuh yang sudah besar, setengah hari yang masih kecil. Alangkah asyik pergi ke masjid, shalat tarawih bersama-sama.” Begitu kutipan lirik lagu dari Bimbo berjudul –Lebaran Sebentar Lagi,  lalu dipopulerkan lagi oleh Gigi band. Yang bisa saya tangkap dari kutipan tersebut, begitu dinanti-nantinya lebaran. Saking dinantinya, semangat puasa, tarawih dan amalan lainnya dikerjakan dengan sebaik mungkin untuk merayakan kemenangan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa lebaran adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tgl 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan (idulfitri) dan melekatkan lebaran haji pada iduladha. Belum ada referensi jelas yang menyebutkan asal kata lebaran. Orang Betawi sendiri lebih sering menggunakan kata lebaran yang menurut mereka berasal dari kata “lebar”. Jadi lebaran bagi mereka digambarkan sebagai keluasan atau kelapangan hati setelah melaksanakan amalan Ramadan selama sebulan serta kegembiraan menyambut kerabat dalam ikatan silaturrahmi.

Di kampung saya, Palopo, lebaran disebut dengan kata “mallappa” yang secara harfiah berarti “melepas”. Ini mungkin merujuk pada anggapan selama ini bahwa setelah perayaan idulfitri, kita akan terbebas dari segala dosa dan suci kembali seperti bayi yang baru lahir. Secara leksikal, Kata fitri berasal dari kata “afthara” (Arab), yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut idulfitri, karena hari raya ini dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa Ramadan. Tapi, bisa jadi “mallappa” secara gramatikal diartikan sebagai pelepasan masa puasa selama sebulan. Pelepasan bisa juga diartikan sebagai pembebasan penyakit hati sehingga antara satu dengan yang lain terjalin ikatan silaturrahmi seperti sedia kala.

Lebaran tidak lepas dari istilah mudik. Mudik sendiri adalah aktivitas pulang ke kampung halaman yang dilakukan oleh para perantau. Kata mudik sendiri merupakan akronim dari dari kata yang berasal dari bahasa Jawa, yaitu “muleh” dan “udik”. Muleh diartikan sebagai pulang sedangkan udik diartikan sebagai dusun atau kampung. Ada juga yang mengatakan bahwa mudik berasal dari kata “muleh dilik” yang berarti pulang sebentar. Jadi sebenarnya, kapan saja seorang perantau pulang ke kampung halamannya, berarti dia sudah mudik. Hanya saja, mudik di Indonesia sudah diidentikkan dengan tradisi tahunan keagamaan seperti lebaran. Ini juga erat kaitannya dengan mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim sehingga pulang kampung saat jelang lebaran terjadi lebih masif dari biasanya. Hal itu lumrah saja karena saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang terpisah oleh perantauan. Tentu berbeda ketika suatu tempat mayoritas nasrani. Toraja misalnya, tradisi mudik mereka tentu lebih terpusat saat perayaan natal.

Saking masifnya pemudik di Indonesia, data dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Perhubungan, Kementrian Perhubungan, menyebutkan bahwa sebanyak 25 juta orang akan melakukan mudik lebaran tahun ini. Prediksi tersebut mengalami penurunan sebanyak 2,54 % dibanding prediksi pemudik tahun 2015 yaitu sebanyak 26 juta orang, (http://www.dephub.go.id). Itulah mudik, saya sendiri menyebutnya sebagai seni pulang kampung.

Lebaran dan mudik tidak terlepas dari hiburan dan liburan. Saat lebaran, semua anggota keluarga yang masih hidup berkumpul dan berbagi cerita, berbagi tawa dan canda, tentulah amat menyenangkan. Bertemu jabat dengan kedua orang tua seraya memohon maaf, pastinya akan memberi ketenangan batin yang luar biasa. Saat para orang tua kedatangan anak dan cucunya, itulah hiburan yang sangat berharga bagi mereka. Maka tidak inginkah kita meluangkan waktu untuk mudik dalam rangka menghibur mereka yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang?

Perihal liburan, mudik adalah liburan yang penuh kesan. Destinasinya jelas, apalagi penginapan dan makanannya, sudah beragam jenis masakan yang hadir di meja prasmanan. Mungkin saja salah satu dari sajian itu adalah makanan favorit yang memang sengaja disediakan untuk kamu. Mudik juga secara tidak langsung memberi gambaran nyata kepada orang tua bahwa mereka selalu ada di hati kita. Mungkin kecanggihan teknologi sudak membuat jarak semakin tidak berarti tapi tetap saja kurang afdal jika tidak menjabat dan memeluk langsung orang tua kita. Lalu mengapa kamu masih diam membisu di sudut kamar?

Segeralah berkemas lalu pulang ke kampung halamanmu. Di sana sudah ada tangan yang terbuka menyambut pelukmu. Si sana sudah ada teman sepermainanmu menanti cerita petualanganmu untuk ia dengarkan. Di sana sudah cerita tentang sawah yang mereka garap musim barat dan hama tikus yang mewabah. Atau setidaknya tentang  meriam bambu yang tidak terdengar lagi di setiap penjuru desa. Tentang layang-layang yang putus talinya dan dikejar beramai-ramai. Mudik pun tidak menyaratkan banyak untuk kamu tunaikan. Hanya satu syaratnya, kamu harus punya kampung, itu saja.

Kalau pun dengan sesuatu dan lain hal kita tidak bisa mudik, jangan berkecil hati. Seperti kata Seurieus dalam lagunya –Lebaran Kita, Lebaran kita gak pulang kampung. Rindu saudara berkumpul bersama. Walupun kita gak pulang kampung, tetap berbagi jaga silaturahmi. Selalu berdoa terus berusaha, tetap bersyukur pada Yang Kuasa”.

 

 

 

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Mudik; Hiburan dan Liburan Bermakna”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s