Bertukar Kado Di Bisseang Labboro

Bulan Ramadan sudah di depan mata, sebagai bulan yang datangnya sekali setahun, selayaknyalah kita selaku umat muslim untuk mempersiapkan diri menyambutnya. Banyak keutamaan di Bulan Ramadan yang menjadikannya bulan yang dirindukan kedatangannya, terutama malam lailatul qadar. Bahkan di akhir-akhir Ramadan, banyak di antara kita yang meminta doa agar diberi kesempatan untuk bertemu dengan Ramadan berikutnya.

Dalam rangka menyambut bulan suci bagi umat Islam itu, di beberapa tempat dilakukan kegiatan yang sudah menjadi tradisi di daerah tersebut. Sebut saja “meuramin” di Aceh. Meuramin sendiri dalam bahasa Aceh diartikan berkumpul dan makan bersama keluarga untuk menghabiskan waktu, biasanya di tempat-tempat wisata. Lain lagi di daerah Boyolali dan Klaten, masyarakatnya cenderung memilih mandi-mandi atau berendam di daerah mata air yang dikeramatkan. Mereka melakukan “padusan” untuk membersihkan jiwa dan raga secara lahir dan batin.

Di kampung saya sendiri, biasanya menyambut datangnya Ramadan dengan acara “kumande-mande”. Kumande-mande dalam bahasa Indonesia berarti makan-makan tentunya yang dilakukan adalah makan bersama. Untuk menikmati makan bersama tersebut, sering dilakukan sambil berekreasi dengan keluarga. Pada prinsipnya sama saja dengan meuramin dan padusan.

Pajappa yang memang merupakan komunitas yang dekat dengan acara jalan-jalan, tidak mau kalah. Mereka mengadakan jalan sehari bersama Pajappa di Bisseang Labboro, yang lebih sering disebut Bislab. Saya yang sedang cuti kerja dan sedang berada di Makassar waktu itu merasa rugi kalau tidak ikut di piknik bersama itu. Syarat untuk ikut sebagai peserta pun sangatlah mudah. Kita hanya dibebankan membawa kado atau bingkisan yang nilainya di bawah sepuluh ribu rupiah. Syarat yang lain adalah harus membawa bekal untuk makan siang selama di lokasi trip.

Hal yang menurut saya menarik di trip kali ini adalah acara tukar kado. Pajappa sendiri sudah beberapa kali mengadakan acara tukar kado namun tidak di tempat trip. Dalam tradisi masyarakat Betawi, mereka mengenal istilah “nyorog”.  Tradisi ini dilakukan dengan membagi-bagikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga sebagai pengingat datangnya Ramadan. Nyorog juga dipandang sebagai pengikat tali silahturahmi sesama sanak keluarga.

Mentari pagi di Hari Sabtu mulai membiaskan cahanya lewat cela-cela jendela. Rasa-rasanya baru saja mata terpejam, rupanya jam tangan yang saya letakkan di dekat kepala sudah menampilkan angka delapan di layarnya. Tidak sempat saya perkatikan lagi angka hitungan menitnya. Saya pun bergegas menuju kamar mandi, sekadar gosok gigi dan cuci muka lalu mengemas perlengkapan secukupnya.

13263944_663448990470447_5410475797024999086_n
eflyr jalan sehari. foto: Doc. Paappa

Kado sebagai syarat peserta trip belum saya siapkan. Beruntung di ring bag saya ada sebatang cokelat. Dengan menggunakan kertas buram yang biasanya saya gunakan untuk menguji daya kecambah benih, saya pakai sebagai pembungkus kado. Day pack sudah saya punggungkan, dengan sepeda motor saya menuju meeting point di Lapangan Hertasning.

Jangankan menyeduh kopi, mandi pun saya abaikan. Toh yang dituju adalah sungai jadi mandinya di Bislab saja. Kali ini cukuplah kopi instan yang menemani perjalanan melewati rumpun bambu dan pesawahan di Kecamatan Tanralili, Maros. Kami memang memilih rute yang lebih aman dari macet kota. Meskipun rutenya terasa lebih jauh tapi pemandangan dan sejuknya udara menjadi garansi yang pas.

Sadar diri tidak membawa bekal, sesampainya di lokasi penitipan kendaraan, saya membeli empat butir telur asin dan sepuluh batang gogos. Sebanyak itu sudah cukup untuk saya sendiri dan dibagi dengan teman meskipun mereka sudah membawa bekal masing-masing tentunya. Cuaca sedikit berbeda dengan Makassar tadi pagi. Cuaca di Pattunuang terlihat mendung dan sepertinya sesaat lagi hujan akan turun.

Benar saja, saat berjalan mengikuti walking track, hujan pun turun cukup deras. Beruntung saya selalu membawa rain coat saat berkegiatan di alam terbuka sehingga saya terus berjalan hingga mencapai rock shelter yang ada dalam kawasan taman “perahu karam” itu. Sementara yang lain singgah berteduh di gazebo-gazebo yang sudah disediakan untuk berteduh.

Siang itu hujan berlangsung dengan ritme yang berubah-ubah. Kadang deras, kadang gerimis, kadang juga berhenti. Setelah semuanya tiba di spot yang ditunjukkan oleh Trip Manager (TM), segera dilakukan perkenalan dari masing-masing peserta. Hari itu memang ada beberapa orang yang baru kali pertama ikut trip Pajappa.

Acara yang dinanti pun tiba, Kakak Achi (pak TM) pun mengarahkan kami agar mengumpulkan kado-kado yang dibawa di tempat yang sudah disediakan. Kehormatan diberikan kepada presidium Pajappa yang ikut trip, Kak Ari, untuk mengambil kado pertama dan menyerahkannya ke pada seseorang yang ia berikan. Syaratnya adalah tidak boleh mengambil lalu memberikan kado yang kita bawa sendiri. Kepada orang yang hendak diberi kado juga tidak boleh menerima kado dari bingkisannya sendiri. Orang yang diberi kado oleh Kak Ari akan mengambil kado dan memberikannya kepada yang lain. Begitu seterusnya hingga kado habis dan semua orang mendapatkan kado. Selanjutnya, kado dibuka secara bersamaan. Macam-macam juga isi kadonya, mulai dari makanan, mainan, tusuk gigi, gogos beserta telurnya, bunga yang dilengkapi puisi, ada juga yang berupa buku.

cxz
Bertukar kado. Foto: Doc. Paajappa

Perut tidak bisa bohong, sedari pagi hanya sepotong biskuit wafer dan kopi instan yang mengisi lambung. Sementara Kak Arfan memasak air dengan trangia untuk menyeduh kopi, yang lain juga mulai mengeluarkan bekal masing-masing, termasuk saya. Dua butir telur asin dan empat batang gogos pun habis dalam sekejap. Sesama peserta terlihat tidak canggung untuk berbagi bekal. Kami semua menikmati makan siang dalam irama riak air yang mengalir di antara bebatuan. Dari dalam hutan terdengat sahut-sahutan burung dan primata.

cxz1
Menikmati suasana di bislab. Foto: Doc. Pajappa

Perut kenyang, hati pun senang. Waktunya bermain air. Ada yang berenang, ada yang memanjakan diri memanfaatkan arus air sebagai pemijat. Ada yang cukup merendam-rendam kaki, ada juga yang cukup menikmati suasana dari atas tepi sungai. Masing-masing punya cara untuk melewati hari dengan indahnya. Bukankah memang seperti itu yang diharapkan? Menciptakan kebersamaan dari keberagaman.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Bertukar Kado Di Bisseang Labboro”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s