Membeli Signal Di Sanggona

Mendengar nama Sanggona, mungkin masih banyak di antara kita yang belum tahu, terutama di luar Sulawesi Tenggara. Perhitungan jari, saya baru empat kali menginjakkan kaki di pinggiran Kali Konaweha ini. Untuk sampai di kelurahan yang menjadi ibu kota Kecamatan Uluiwoi ini, paling tidak dibutuhkan waktu lima jam dari Kendari dengan jarak tempuh lebih kurang 150 km. Jika dibandingkan dengan Pare-Pare dan Makassar yang memiliki jarak yang sama hanya butuh waktu tiga jam perjalanan. Tidak semua tipe kendaraan pun dapat melalui jalan menuju Sanggona,  baik melewati rute Abuki (Konawe) atau pun Mauwewe (Kolaka Timur).

 

Kunjungan saya kali ini lebih lama dari biasanya. Kalau sebelumnya hanya menginap satu malam, kali ini dalam hitungan satu minggu. Ada tiga agenda utama yang harus kami selesaikan dalam sepekan ke depan, yaitu pelatihan manajemen pembibitan tanaman kakao, pelatihan manajemen pembibitan tanaman hutan dan Focus Group Discussion (FGD) mengenai pola-pola yang akan diterapkan dalam aktivitas penghijauan, termasuk jenis tanaman apa yang akan ditanam nantinya. Kedua jenis pelatihan dilaksanakan di satu tempat, sementara FGD harus dari desa ke desa berikutnya.

 

Di hari pertama, kedua dan ketiga masih aman, komunikasi dengan manajemen di Kendari masih berlangsung, terutama di waktu setelah berbuka. Mungkin karena bertepatan dengan safari Ramadan pemerintah kabupaten Kolaka Timur di Sanggona dan sekitarnya. Kegiatan yang berlangsung paralel membuat kami harus  membagi aktivitas. Perubahan selalu membawa dampak terhadap kejadian di depannya, besar dampaknya tergantung tekanan perubahan tersebut. Hari keempat dan kelima pun sudah tidak ada lagi hubungan komunikasi dengan kantor di Kendari.

 

Sebenarnya, bukan menjadi masalah jika tidak ada lagi hubungan komunikasi ke kantor karena pada mulanya semua rencana telah disusun sedemikian rupa. Malah dengan kondisi ini, beberapa di antara kami lebih menikmati suasana kampung meskipun berstatus kelurahan ini. Sebelumnya juga sudah terjalin komunikasi dengan orang-orang terdekat bahwa di lokasi, kehadiran signal menjadi barang langka.

 

Saya sendiri, saat ada signal, mungkin akan lebih banyak bersentuhan dengan gadget. Di suasana tidak ada signal seperti ini, saya malah menikmati ibadah-ibadah Ramadan. Selama saya datang di Sanggona, belum ada tarawih yang saya lewatkan berjemaah di masjid.

 

Di sela-sela waktu istirahat, saya mempunyai banyak waktu untuk membuka lembar demi lembar novel yang menjadikan Jeneponto sebagai latar ceritanya. Kenangan demi kenangan yang terjalin dalam Natisha karya Khrisna Pabichara, yang lebih akrab kami sapa Daeng Marewa seolah membuka tabir sejarah. Bukan sekadar perkara rindu dan kecewa, atau pun cinta dan benci yang memang hanya dibatasi oleh membran yang tipis. Natisha membawa kita pada penggalan-penggalan waktu yang penting untuk kita ketahui sebagai bangsa yang menghormati dan menghargai sejarahnya. Bahkan saat sepulang tarawih pun saya menyempatkan membuka lembar demi lembar dalam redup sinar pijar bohlam. Penggambaran suasana yang dekat dengan masyarakat Sulawesi, khususnya Sulsel membuat novel ini renyah dibaca.

 

Tibalah kami pada sebuah masalah tatkala terjadi perubahan strategi. Agenda yang kami susun sebelumnya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pagi di hari keenam saat matahari mulai menguasai siang. Besok masih ada satu pelatihan dan pematerinya masih di Kendari. Mustahil mobil yang ada di lokasi harus menjemputnya  karena di waktu yang bersamaan masih ada FGD di desa yang jaraknya sekira 15 km.

 

Sepulang dari Porabua, nama desa terakhir kami melakukan FGD, teman saya semakin gelisah karena tidak ada kabar pasti apakah pemateri untuk pelatihan besok sudah jalan atau tidak. Apakah materi dan kelengkapannya sudah diperbanyak.  Salah seorang field facilitator (FF) pun bersuara, “Bagaimana kalau kita isi bahan bakar gensetnya saja, Kak?” Dengan cepat teman saya merespon dengan logat Pangkep-nya, “Pergimi pale ee, berapa liter kah dibutuhkan?”. Si fasilitator pun menjawab dengan gaya bahasa Kendari-nya, “Dua liter mi saja Kak, cukup mi itu”.

 

Selang seperempat jam kemudian, ponsel pun seolah menemukan fungsi penciptaannya. Segera, saya menghubungi teman di Kendari mengenai pemateri yang akan kami gunakan di pelatihan besok. Dengan logat Muna, dia menerangkan bahwa pemateri berikut materi yang sudah diperbanyak sudah menuju lokasi. Setelah itu saya pun berkabar dengan seseorang yang sedang dalam perjalanan menuju Bulukumba waktu itu.

 

Hari ini menjadi bukti bahwa signal yang dibeli itu memang ada dan nyata. Meskipun tidak secara langsung, tapi bukankah bahan bakar yang menghidupkan mesin penangkap dan pelempar signal itu kita beli. Sanggona memberi kami pelajaran yang sangat berkesan, membeli signal. Menjelag buka puasa, pemateri pun tiba di kampung yang masih terlihat hijau di sekeliling kita ini.

 

Usai buka dan makan malam bersama, satu tim dari kami pun meninggalkan Sanggona menuju Konawe Selatan untuk pelatihan selanjutnya. Kami yang masih tinggal, dalam rinai gerimis tetap menyempatkan diri untuk tarawih bersama.

 

Setelah tarawih, kami mendapat panggilan langsung dari Ibu Camat untuk mampir ke rumahnya, minum-minum teh, katanya. Seperti mendapat undangan kehormatan, kami pun langsung ke rumah beliau. Di sana kami sudah disambut oleh es kelapa muda yang berkuas sirup DHT serta dua potong barongko di setiap piring saji. Dalam hati berkata, “Wahhh kebetulan nih”.

 

Baru sebentar kami berbincang-bincang dengan Pak Camat, hujan pun turun dengan derasnya. Sepertinya cerita akan panjang. Kepada Pak Camat pun saya menanyakan tentang pemancar telekomunikasi yang harus dibeli signalnya itu. Dari suami ibu yang berdarah Bugis itu saya mendapat keterangan bahwa sebelumnya alat tersebut memiliki panel surya, tapi karena alatnya sudah rusak makanya diganti dengan mesin genset. Beliau melanjutkan bahwa tidak lama lagi akan dibangun pemancar dari provider “Si Merah” yang lebih besar, lengkap dengan panel suryanya yang bisa aktif selama 24 jam. Dengan suasana yang akrab, saya pun menyanggah, “Tidak perlu membeli signal lagi dong, Pak?” Kami pun tertawa bersama meski deru air hujan yang jatuh di seng tidak kalah riuhnya.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Membeli Signal Di Sanggona”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s