Malam Kesembilan Ramadan Di Uluiwoi

Langit masih menyisakan sedikit semburat jingga dari senja yang merona. Kendaraan 4WD (Four Wheel Drive) berwarna putih tapi penuh lumpur pun terparkir di depan rumah pak lurah. Dari seberang lapangan sepak bola di sebelah barat, satu per satu jemaah magrib beranjak keluar dari masjid. Meskipun hanya melewatkan dua potong kue pia  seukuran nastar tanpa minum di kerongkongan sebagai pembatal puasa, bersama teman kami tergesa-gesa melangkahkan kaki menuju masjid.

 

Di sebelah barat masjid, sekira 40 meter, masih tampak susunan kursi dan wadah-wadah yang terletak di atas meja prasmanan. Belakangan saya tahu dari fasilitator lapangan kalau tadi ada buka puasa bersama dengan pemerintah kabupaten. Dalam hati saya bersenandika, “Waduh, kita terlambat tibanya, lewat deh panganreang gretong”.

 

Di lapangan sepak bola ibu kota kecamatan itu memang masih banyak kendaraan yang terparkir. Meskipun samar namun saya masih bisa membedakan beberapa di antaranya berpelat merah. Suara genset seolah menggantikan dering jangkrik dan serangga malam lainnya. Secara kasat mata, kita bisa melihat perbedaan di antara rumah yang satu dengan yang lainnya. Tidak banyak rumah yang terlihat terang seperti rumah yang akan kami tempati beberapa hari ke depan.

 

Sembari menunggu waktu isya dan panggilan makan tentunya, kami bersantai di beranda rumah pak lurah. Bersama dengan teman-teman fasilitator desa, kami berbagi cerita terkait kegiatan pelatihan manajemen pembibitan tanaman kakao yang akan dilakukan paling tidak satu minggu ke depan.

 

Selagi telepon seluler masih mendapatkan signal, berarti genset menara penangkap dan pelempar jaringan telepon masih aktif, tidak lupa saling berkabar dengan orang-orang terdekat. Tidak lama berselang, beberapa mobil di lapangan secara beriringan menuju ke kecamatan lain, ke arah hulu Sungai Konaweha.

 

Azan isya pun dikumandangkan, di atas langit bertabur bintang pertanda esok akan cerah.  Perut pun sudah aman hingga badan serasa menemukan energi baru. Kami bergegas ke masjid untuk salat isya dan lajut tarawih berjemaah. Di antara kedua salat itu, protokol menyebut nama Andi Meyra Nur, lengkap dengan titel di depan dan belakang namanya untuk memberi sambutannya. Kalau dipikir, yang memberi sambutan adalah penerima (warga setempat), sementara pendatang memberi sepatah kata atau sekapur sirih atau taklimat.

 

Di atas mimbar kayu yang sederhana itu,  ibu tersebut memberi taklimat yang tidak begitu panjang, sedikit lebih lama dari kultum. Intinya bahwa mewakili pemerintah kabupaten, mereka berterima kasih atas sambutan masyarakat dalam rangkaian safari Ramadan ini. Sedikit juga wanita paruh baya itu mengungkapkan rencana pembangunan di kawasan tersebut yang memang untuk sampai ke tempat ini butuh pengorbanan luar biasa. Ucapan terima kasih juga beliau utarakan kepada masyarakat atas dukungan mereka sehingga bisa terpilih menjadi pasangan kepala daerah kabupaten. Rupanya yang berdiri di atas mimbar adalah ibu wakil bupati dan rombongan yang berarak ke tempat lain tadi salah satunya bupati. Belakangan juga saya tahu kalau pasangan ini tidak memenangkan pemungutan suara di kelurahan tempat ia memberi sekapur sirih. Dalam hati terbesit “Hebat juga mereka, masih mau mendatangi tempat yang tidak memenangkan mereka, sementara akses menuju tempat ini tidak mudah. Semoga itu adalah bagian dari komitmen mereka untuk tetap membangun kabupaten yang mereka pimpin tanpa harus tebang pilih”.

 

Berada di Kecamatan Uluiwoi mengingatkan saya dengan kampung halaman sebelum pertengahan tahun 90-an. Hanya saja, jalanan di desa saya masih lebih baik. Untuk sampai di lokasi masjid yang saya tempati ini, kita masih menyeberangi sungai yang tidak berjembatan. Jika air sungai meluap, tidak ada kendaraan, terutama roda empat yang bisa sampai di kecamatan ini. Di tahun-tahun itu saya masih mengerjakan tugas sekolah menggunakan cahaya pelita berbahan bakar minyak tanah. Beruntung Tuhan menciptakan bulu hidung yang mampu menyaring dan mengendapkan asap hitam pembakaran karbon cair tersebut. Tidak heran kalau mengupil akan tampak bekas hitam di ujung jari.

 

Usai sepatah kata dari ibu wakil bupati, salah seorang dari rombongan safari Ramadan lanjut memberi ceramah singkatnya lalu memimpin salat tarawih. Pada Ramadan tahun ini, malam kesembilan ini pula lah yang menjadi tarawih berjamaah pertama saya. Suatu kemunduran juga buat saya yang tidak bisa memaksimalkan amalan di bulan yang penuh rahmat ini. Dari empat saf jemaah, saya berada di deret ketiga. Rasanya, malam kesembilan ini adalah malam pertama buat saya di Ramadan tahun ini.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s