Koki yang Gagal Di Waktu Sahur

Sering kita berbicang-bincang dengan teman atau keluarga atau teman serumah mengenai sahur. “Apa menu sahurnya nanti?” “Mau masak apa nih buat sahur kita nanti?” “Apa dimakan, sahur nanti?”. Tentunya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah sering kita dengar, entah sekadar iseng atau pun serius.

 

Secara leksikal, sahur sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu sahar yang artinya akhir malam atau menjelang subuh. Makna gramatikal dari sahur adalah segala sesuatu yang dikonsumsi pada waktu sahar, entah kah makanan atau pun minuman.

 

Nabi Saw. sangat menganjurkan umatnya untuk makan sahur ketika mengerjakan puasa. Berikut beberapa hadist yang menganjurkan untuk sahur. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu”, (HR. Ibn Abi Syaibah, Abu Ya’la dan  al-Bazzar). Dalam riwayat lain, Beliau juga bersabda, “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada keberkahan”, (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Selain karena ketentuan di atas, tentunya secara fisik kita perlu sahur untuk menjaga stamina tubuh agar bisa beraktivitas sepanjang hari. Tidak jarang dengan alasan ini, kita rela untuk bangun lebih awal untuk menyediakan menu sahur terbaik dan bergizi. Tidak mengherankan jika setelah Ramadan berlalu, banyak di antara kita yang malah mengalami peningkatan berat badan. Apakah kamu salah satunya?

 

Saya punya pengalaman sebagai juru masak untuk sahur. Hari-hari Ramadhan tahun 2014, saya lewati lebih banyak di Ngawi. Saya sendiri memang lebih senang beraktivitas di zona dapur. Dari sahur hari pertama hingga mudik saat lebaran sisa menghitung hari, saya lebih sering menjadi penyedia santapan sahur bagi teman-teman se-base camp. Untungnya, volume pekerjaan di bulan Ramadan sudah tidak sepadat bulan-bulan sebelumnya. Tinggal merampungkan panen dan pengiriman ke pabrik dan pembayaran hasil panen ke petani dampingan.

 

Suatu hari, selepas berbuka, bersama salah seorang teman, kami pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang akan dimasak untuk sahur nanti. Masih melekat di ingatan kami membeli wortel, tomat, bawang merah, bawang putih, cabai, buncis, sawi putih, daun seledri, bawang daun, tempe dan telur waktu itu.

 

Seperti biasa, selepas tarawih, saya selalu menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak sebelum tidur. Sambil duduk di depan televisi bersama siaran favorit teman saya, Mahabarata, di tangan sudah ada pisau dapur. Saya memotong-motong dan mencacah bahan-bahan yang akan dimasak nantinya sesuai dengan porsinya. Di akhir pekerjaan, tidak lupa saya menanak nasi dengan rice cooker lalu masuk ke kamar untuk sejenak merebahkan badan.

 

Pukul 03.00 waktu setempat saya sudah bangun. Saya tahu betul karena sebelum tidur, saya selalu menyetel alarm di ponsel pada jam tersebut. Setelah cuci muka, pemantik kompor pun saya putar. Mulai dari tempe goreng hingga martabak telur sudah tersaji dengan baik di lantai depan televisi. Tidak ada meja makan di rumah tinggal kami sehingga tidak ada pembeda antara ruang makan dan ruang berkumpul, bahkan tidak jarang jadi ruang tidur pula.

 

Untuk sayur, cacahan bawang merah dan bawang putih sudah mengeluarkan aroma khasnya dalam wajan berminyak panas. Sedikit air yang saya tambahkan menimbulkan kepulan asap dan suara didihan seperti pandai besi yang mencelupkan tempahannya ke dalam air. Menyusul masuk ke dalam wajan potongan balok-balok kecil wortel kemudian potongan dadu tomat dan cacahan cabe merah keriting yang menggugah selera. Berikutnya potongan menyerong dari buncis ikut berenang dalam wajan yang semakin menguapkan aroma dari setiap bahan. Potongan sawi putih terakhir saya masukkan ke wajan karena lebih lunak.

 

Bumbu berupa saus tiram, garam dan gula pasir pun saya turunkan sambil mengaduk rata agar meresap ke dalam setiap bahan. Setelah plating, cacahan daun seledri sisa martabak telur saya tabur untuk menguatkan rasa dan aroma tumisan.

 

Saatnya membangunkan teman-teman. Jarum pendek jam di dinding pun sudah berada pada skala angka tiga dan empat. Teriakan-teriakan “Sahur… Sahur…”, lewat pengeras suara masjid pun saling bersahutan dari segala penjuru. Setelah keempat teman saya bangun dan cuci muka, dalam posisi melingkar, saya pun mengajaknya, “Ayo kita makan!”.

 

Tapi, apa yang terjadi setelah teman saya membuka penutup rice cooker? Ternyata nasinya belum tanak, padahal saya menanaknya sejak sebelum saya tidur. Rupanya, saya lupa menekan tuas penanaknya sehingga kondisinya hanya hangat sedari tadi. “Kok nasinya belum masak, Nal”, kata salah teman saya. “Waduh, sepertinya tuas penanaknya lupa saya turunkan”. Kami pun tertawa bersama sambil menunggu nasinya betul-betul tanak. Saya pun menjadi koki yang gagal di waktu sahur itu. Untungnya belum waktu-waktu injury time untuk imsak. Adakah di antara teman-teman yang pernah mengalami hal serupa?

 

Namun demikian, saya tetap suka berurusan dengan dapur meskipun saya bukan koki. Setidaknya saya bisa menjadi juru masak untuk diri sendiri dengan rasa sesuai dengan saya inginkan. Suatu hari di Ramadan berikutnya, saya mendapat dari teman kerja saya. Dalam pesan singkatnya dia menanyakan kabar dan menuliskan bahwa dia rindu masakan saya di saat sahur. Saya pun membalasnya dengan sedikit bercanda seperti ini, “Alhamdulillah, baik. Wah terima kasih, tapi nasinya gak tanak ya?”.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

6 thoughts on “Koki yang Gagal Di Waktu Sahur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s