Sahur Pertama dan Keluarga

Sejak kokang senapan ditarik maka melajuhlah peluru dan berpisah dengan bedilnya untuk mencapai sasarannya. Sejak meninggalkan rumah di tahun 1999 lalu, saya pun sangat jarang pulang ke rumah. Paling tidak dua kali setahun saya menyempatkan diri untuk mudik.

 

Seperti slogan salah satu komunitas pejalan yang ada di Makassar, sebut saja Pajappa. “Hidup itu butuh hiburan dan liburan”. Dalam dua kebutuhan yang tercantum dalam kalimat itu, baik hiburan mau pun liburan, jika diperhatikan ada kata “ibu” yang terselip. Hiburan yang terbaik adalah berbagi cerita bersama ibu dan liburan yang indah adalah pulang bertemu dengan ibu.

 

Satu hal yang tidak terlepas dari sosok ibu adalah makanan. Sejak dalam kandungan, ibulah yang menyuplai makanan kita lewat tali pusar. Setelah lahir dan belum bisa makan sendiri, ibu jua lah yang memberi kita makanan lewat air susunya. Hingga bertambah usia, ibu yang selalu menyediakan makanan terenak untuk kita.

 

Sehari-hari kita boleh makan di restoran dengan panganan yang enak-enak, tapi masakan ibu lah yang juara meskipun kadang keasinan. Wajarlah jika banyak yang mendambakan untuk bersantap sahur bersama dengan keluarga, terutama ibu. Ramadan selalu hadir dengan penuh keberkatan. Ramadan menjadi momentum yang membuktikan betapa indahnya keluarga.

 

Saya selalu merindukan kepiting kari hadir sebagai makanan di sahur pertama. Bapak saya selalu tahu dimana mendapatkan kepiting dan ibu saya sudah tahu betul apa makanan yang membuat saya enggan beranjak dari tempat makan. Bahkan di saat-saat saya jarang pulang ke rumah, mereka sudah mengiming-imingi saya dengan sajian kepiting.

 

Waktu terus berjalan dan saya adalah peluru lepas yang belum menemukan bidikan. Tentunya banyak tantangan yang saya lewati, entah kah angin yang bisa saja membelokkan arah atau kah harus menerobos lapisan baja yang kuat untuk terus melaju.

 

Sahur bersama keluarga tentu bukan sekadar makan bersama. Ada nilai-nilai yang bisa menguatkan kita tatkala jauh dari mereka. Petuah-petuah yang diberikan setelah bersantap sahur pun menjadi pedoman yang kuat bagi saya untuk terus berjalan pada norma-norma yang baik.

 

Dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir, saya sudah tidak merasakan lagi sahur pertama bersama orang tua di kampung. Saya berusaha untuk memandang lebih luas tentang keluarga. Saya memandang orang-orang yang dekat baik ikatan darah mau pun bukan adalah bagian dari keluarga saya. Berantap sahur dengan mereka sudah lebih dari cukup meskipun tetap saja ada bagian yang terasa berbeda jika bersama orang tua.

 

Teringat ramadan tahun lalu tatkala saya mengantar para fasilitator desa ke lokasi tugas masing-masing. Seolah mereka dipaksa untuk bersantap sahur perdana dengan orang-orang yang baru mereka kenal. Mereka harus menerima masyarakat desa sebagai keluarga dan begitu juga sebaliknya. Ikatan emosional seperti itu sangat baik untuk mereka membangun komunikasi dengan warga desa. Saya sangat salut dengan mereka, terutama yang bersantap sahur di bawah temaram nyala lampu dari genset.

 

Saya sendiri mengupayakan untuk pulang, melewati perjalanan panjang dari kaki Lompobattang yang juga pertama kali saya tempuh. Saya memilih sahur perdana bersama keluarga saya di Kandang Naga. Ramadan tahun ini pun saya masih bersantap sahur pertama dengan para naga.

DSC017031
Menunggu pagi di Tallung. Foto: Doc. Pajappa

Saya punya keinginan untuk merasakan sahur pertama di puncak gunung. Saya sangat ingin menyaksikan fajar pagi satu Ramadan keluar dari peraduannya di horizon timur. Dalam sejuk dan sunyi, mungkin saya akan merasa lebih dekat dengan Sang Pemilik kehidupan. Semoga suatu hari kelak, saya bisa merasakannya. Bertadabur alam bersama keluarga sederhana saya, amin.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s