Kisah Tentang Sahur Di Nusa Tenggara

Tentang sahur, saya teringat Ramadan tahun 2011. Lebaran sebentar lagi, delapan hari lagi idul fitri dirayakan. Saya pun mengemasi beberapa pakaian tetapi tidak untuk pulang kampung, melainkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Kala itu, saya mendapat tugas untuk sosialisasi dan kunjungan lapang ke lokasi sentra penanaman produk pertanian yang  kata pepatah semakin merunduk semakin berisi.

 

Perjalanan yang saya tempuh cukup panjang hingga sampai di Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Dari Makassar ke Surabaya untuk mempersiapkan perangkat sosialisasi. Bersama salah seorang pimpinan, kami bertolak dari Surabaya menuju Kupang. Karena kehabisan tiket langsung ke Labuan Bajo, kami mesti terbang ke Ruteng dengan pesawat poker. Dari Ruteng yang berudara sejuk seperti Malino di Sulawesi Selatan, kami menggunakan jasa travel jalur darat menuju Labuan Bajo, ibu kota Manggarai Barat yang merupakan kawasan pesisir.

 

Di sebuah ruang pertemuan, telah menunggu perwakilan para kelompok tani dan orang-orang dari dinas terkait. Kami telat tiba sejam dari waktu pelaksanaan yang disepakati sebelumnya. Tanpa istirahat, kami pun melakukan sosialisasi mengenai teknis budidaya tanaman yang katanya lebih manja dari jenis lokalan. Dua jam berlalu dan sosialisasi pun selesai. Pimpinan saya kembali ke Surabaya dan saya masih tinggal untuk melakukan kunjungan lapang ke daerah penerima benih.

 

Saya diturunkan di sebuah penginapan di Labuan Bajo dan hanya dititipkan nomor kontak orang yang akan menemani saya untuk ke lapangan. Karena kelelahan dan panasanya udara, saya pun tertidur hingga jelang waktu berbuka. Sambil menunggu waktu berbuka, saya menyewa ojek untuk berkeliling melihat-lihat tempat di sekitar Labuan bajo. Sesekali, tukang ojek pun harus berperan ganda menjadi tukang foto.

LB6a
Menikmati senja di Labuan Bajo.

Malam harinya, saya memilih makan di Warung Padang yang berjarak sekira 50 langkah dari gerbang penginapan. Dalam pikiran saya, penginapan selalu menyediakan fasilitas sahur untuk tamunya. Setelah makan, saya langsung saja masuk kamar dan menyelesaikan dokumen-dokumen pekerjaan seharian, lalu tertidur.

 

Alarm di telepon genggam pun berdering di pukul 03.30 Wita. Hanya ada air mineral dan sepotong roti sisa semalam di meja kamar. Samar terdengar suara denting piring dan sendok. Dalam hati berkata kalau petugas penginapannya sedang menyiapkan santap sahur bagi para pengunjung.

 

Setengah jam berlalu, tidak jua ada suara ketukan terdengar dari pintu. Gundah dalam hati pun tak terelakkan. Sambil menatap layar kaca 14 inci dan mengunyah sisa roti, saya mulai mengira-ngira beberapa tindakan yang akan saya lakukan. Bukannya saya tidak mampu berpuasa walau dengan sepotong roti, tapi saya butuh banyak energi untuk beraktivitas pagi nanti.

 

Setelah berpikir dan berpikir, saya memutuskan untuk beraksi. Pintu kamar saya buka lalu mengintip ke arah ruang makan, tidak ada makanan yang terlihat disajikan di meja prasmanan. Dalam hati mulai was-was. Saya memutuskan untuk keluar penginapan dan menuju Warung Padang semalam. Jangankan makanan, lampunya saja tidak ada yang menyala. Saya bertanya pada dua orang lelaki yang saya temui untuk bertanya dimana rumah makan yang terbuka. Salah seorang dari mereka menjawab kalau tidak ada lagi tempat makan yang terbuka jam sebegini. Sambil gigit jari, saya kembali ke kamar.

 

Pikiran saya sudah terdogma bahwa tidak akan mampu melewati puasa di teriknya matahari NTT. Dari arah dapur terdengar suara seperti panci-panci yang sementara disusun yang saling bersentuhan hingga mendentang. Sekali lagi saya keluar dari kamar dan nekad menuju arah sumber suara tersebut. Terlihat dua orang lelaki yang sedang membereskan sisa santapan mereka. Saya memberanikan diri bertanya, “Di sini tidak menyediakan makanan sahur ya?” “Tidak, Mas”, jawab salah seorang dari mereka. Mungkin karena melihat wajah saya yang memang sangat butuh makan sahur atau bisa jadi karena niat baik mereka, lelaki tersebut melanjutkan ucapannya. “Kami masih ada sisa nasi, sayur dan ikan. Kalau Mas mau, silakan”, katanya. “Wah, boleh Bang, asal tidak merepotkan”, jawab saya begitu spontan. “Seadanya ya Mas”, teman yang satunya menyahut.

 

Saya pun mulai menyambut piring yang diberikan lalu membuka penutup tempat nasi berbahan stainlees. Saya melihat nasi beras merah, di sampingnya ada tumis kacang panjang dan sepotong ikan putih yang disebut Giant Travelly dalam acara mancing-mancing di tivi, yang sudah dibakar dan diberi bumbu. Dalam hati berkata “Alhamdulillah, selamat hidup saya”. Saya masih dihidangkan segelas teh manis sebagai penutup.

 

Setelah bersantap sahur yang nikmat, saya sejenak berbicang-bincang tentang siapa, dari mana dan maksud kedatangan saya yang baru pertama kali di Labuan bajo ini. Saya pun melayangkan basa-basi dengan bertanya, “Berapa, Bang?” Dengan cepat mereka benjawab, “Tidak usah Mas, memang bukan untuk dijual kok”. Alhamdulillah, rezeki anak saleh.

 

Sangat beruntung saya mendapatkan makanan untuk sahur. Perjalanan seharian menggunakan sepeda motor di bawah terik mentari, mungkin akan membuat saya terpaksa membatalkan puasa jika tidak sahur. Malam berikutnya, saya tidak ingin merepotkan mereka lagi. Saya mengambil jalur aman dengan membungkus makanan dari luar untuk sahur nanti.

 

Lebaran tinggal empat hari lagi, penerbangan begitu padat. Bagian yang mengurusi tiket  tidak mendapatkan kursi kosong yang langsung. Lagi-lagi harus melewati perjalanan panjang. Dari Labuan Bajo, saya menggunakan jalur darat ke Bajawa yang lebih dingin dari Ruteng. Di Bajawa saya masih menginap semalam lalu terbang ke Kupang usai waktu subuh. Di kupang saya masih menginap semalam lalu menuju Makassar esoknya setelah transit di Bali.

 

Perjalanan panjang di dasarian ketiga Ramadan waktu itu memberi saya banyak pelajaran. Pelajaran akan pentingnya membangun sikap yang ramah. Pelajaran bahwa Tuhan selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Dari waktu yang tersisa, saya masih bisa berlebaran dengan keluarga saya di tanah kelahiran.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s