Kelas Berkebun; Say It With Terarium

Segelas kopi hitam selalu menemani awal pagi. Dari balik terali jendela, terlihat mentari pagi mulai meraja. Semangkuk bubur ayam pun ludes dalam sekejap. Cukup gosok gigi dan cuci muka, tidak lupa mengganti pakaian. Aroma woody parfum pun sudah bisa menyamarkan diri. Seusai mengenakan sepatu dan topi hijau kesukaan, saya pun bergegas menuju kebun sebuah komunitas yang bergerak di bidang pertanian perkotaan.

 

Sesuai dengan jadwal yang telah disebar oleh admin-admin Makassar Berkebun, saya pun tidak mau terlambat untuk tiba di Jalan Cokonuri No. 74, lokasi kebun mereka. Kali ini saya mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dalam membuat terarium. Pukul sembilan lewat sedikit, saya tiba di gerbang kebun, tidak lama setelah koordinator Makassar Berkebun, Asriadi mematikan mesin motornya. Kakak Ardhe dan Daeng Manji rupanya tiba lebih awal.

397194
Eflyr Kelas Terarium dari Makassar Berkebun.

 

Mesin kendaraan pun saya matikan dan masuk ke halaman rumah yang dijadikan kebun. Dalam kebun tersebut tampak sejumlah tanaman budidaya seperti pepaya, tembakau, terong, pepermint, mexican mint, cabe, kangkung, jagung dan juga beberapa bibit kurma dalam polibag. Selain pepaya dan tembakau yang survive, lainnya terlihat kurang terawat. Gulma dan tumbuhan liar pun sebebasnya tumbuh.

 

Sambil menunggu yang lain datang, bersama-sama kami menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan nantinya. Beruntung ada Kak Ardhe dan Kak Sari yang membawa bahan-bahan membuat terarium. Satu per satu, kakak-kakak yang lain pun berdatangan. Kelas akhirnya dimulai setelah menunggu sejam dari waktu yang tertulis di eflyr.

ain
Bahan-bahan dan alat-alat pembuatan terarium. Gambar : Indah Ain

 

Saya memulai kelas dengan sedikit bergeser ke abad 18, dimana teknik penanaman hortikultura di Eropa  sedang berkembang pesat. Seorang ilmuwan London bernama Dr. Nathaniel Ward yang secara tidak sengaja menemukan sesuatu yang menakjubkan kala itu dari percobaannya. Tahun 1827, memasukkan ulat dalam botol kaca yang telah diisi lumpur, lalu botol tersebut ditutup rapat.  Beberapa waktu kemudian, ia mendapatkan lumut dan paku-pakuan tumbuh dalam botol. Kondisi botol pun tetap lembap. Meskipun tidak ada keterangan mengenai kelanjutan percobaan tersebut, tetapi penemuan itu berkembang dan dikenal sebagai Wardian case. Ini pula yang mengilhami pengembangan green house (Arifin, 2004).

 

Pada prinsipnya, dalam Wardian case terjadi siklus air dari evapotranspirasi (evaporasi dan transpirasi) sehingga media tetap lembap. Prinsip Wardian case seperti cara kerja alam dalam sistem biosfer, dimana terjadi penguapan lalu turun hujan membasahi bumi. Prinsip ini pula yang kemudian dikembangkan untuk tujuan estetika, maka lahirlah istilah terarium. Terarium sendiri ada yang menuliskan dari kata dasar terra yang berarti earth/land (bumi atau daratan). Ada juga yang menuliskan dengan kata dasar teraria (wadah berbentuk kotak yang terbuat dari kaca).

13393951_10206393067333018_7380756363762440028_n
Terarium yang sudah jadi. Gambar: @manjilala

 

Plantarium (dari kata plant) juga digunakan sebagai  istilah lain dari terarium. Ada pula yang menuliskan vivarium, dari kata dasar vivaria (place of life) yang diartikan sebagai tempat kehidupan. Tidak sampai di situ, prinsip Wardian case terus dikembangkan hingga muncul istilah paludarium dan riparium. Paludarium dari kata palus yang berarti lembah dan riparium dari kata dasar river (sungai).

 

Perihal wadah, sebaiknya terarium menggunakan wadah transparan yang terbuat dari kaca. Kelebihan wadah kaca dibanding dengan wadah lain seperti plastik adalah kemampuannya mengalirkan tetes air yang menempel di dinding kaca. Sedangkan pada wadah plastik, air tetap menempel di dinding sehingga wadah mudah berubah warna dan berlumut. Pemilihan wadah disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Untuk tanaman yang butuh tingkat kelembapan tinggi, diperlukan wadah tertutup atau penampang sempit. Sebaliknya, tanaman yang butuh kondisi kering digunakan wadah terbuka atau penampang yang lebih lebar. Semakin kecil penampang wadah semakin sulit membuat terarium.

13312890_10206392649522573_8389643700213843018_n
Wadah terarium yang terbuat dari kaca transparan. gambar: @manjilala

 

Tanaman yang akan ditanam dalam terarium sebaiknya berdaun kecil agar tidak saling menutupi, terutama jika wadahnya kecil. Hindari tanaman berbunga dalam membuat terarium karena butuh lebih banyak cahaya, kecuali untuk beberapa kaktus yang memang ditempatkan di luar ruangan. Dalam mengombinasikan tanaman, pilihlah tanaman yang memiliki kebutuhan lingkungan sama.  Secara umum, tumbuhan yang bisa ditanam di terarium adalah lichens (lumut kerak), paku-pakuan, moss, fittonia, syngonium, scindapsus, pilea, berbagai jenis kaktus, sansiviera, haworthia, peperomia, bromelia, cryptanthus, gusmenia, dan masih banyak lagi.

kelas terarium_8266
Beberapa jenis tanaman yang biasanya dijadikan terarium. Gambar: Doc. @MksrBerkebun

 

Salah seorang peserta pun bertanya, “Apakah terarium perlu disiram dan dipupuk?” Saya mencoba untuk memberi penjelasan singkat bahwa untuk tumbuh, tumbuhan juga perlu air dan makanan. Hanya saja, dengan kondisi terarium yang tertutup, kita tidak serutin menyiram seperti tanaman di bedengan.  Kita cukup mengamati kelembapan media tanamnya saja. Untuk pupuk pun demikian, cukup mengamati gejala fisik pada tanaman.

 

Alat yang digunakan dalam membuat terarium boleh memakai pepatah “Tak ada rotan, akar pun jadi”. Tidak ada corong maka gunakan gulungan kertas, terutama untuk mengatur media tanam dan aksesoris pasir. Tidak ada skop mini, gunakan sendok untuk memasukkan media ke dalam wadah. Tidak ada pinset gunakan sumpit untuk menata tanaman dan tata letak aksesoris dalam wadah. Gunting atau pisau digunakan untuk memotong atau mengurangi bagian tanaman yang tidak diinginkan, seperti akar yang berlebih. Sprayer digunakan untuk membersihkan tanaman, juga untuk menyiram. Aksesoris ditambahkan untuk meningkatkan nilai estetika dari terarium yang akan kita buat. Gunakan kuas kecil untuk membersihkan media atau pasir yang menempel di daun.

 

Gunakan media yang sifatnya porous agar menunjang drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) dalam wadah. Secara umum,  letakkan kerikil, pasir kasar atau pecahan keramik pada bagian dasar terarium. Hal ini bertujuan mengatur kelebihan air dan menampung akar seiring pertumbuhan tanaman. Selanjutnya lapisi dengan Sphagnum moss yang berfungsi menyerap dan menyimpan air. Kemudian masukkan sedikit arang sekam. Arang memiliki fungsi deodorized yang mampu menetralkan zat-zat bersifat racun atau pun bau yang kurang sedap. Setelah itu, barulah dimasukkan campuran tanah dengan kompos sebagai tempat melekatnya akar dan penyuplai nutrisi lewat akar.

13335628_1067330653345811_3858718311239602943_n
Pembuatan terarium. Gambar: Doc. @MksrBerkebun

 

Sampai di tahap ini, tanaman sudah bisa ditanam sesuai dengan tema dan skema yang kita sketsa sebelumnya. Jangan lupa padatkan media di sekitar perakaran agar bersentuhan langsung dengan bulu-bulu akar. Jika tanaman sudah tertanam, barulah ditambahkan pasir, coral, atau pun berbagai macam miniatur sebagai penghias dan pemanis terarium. Yang perlu digarisbawahi adalah tinggi media maksimal sepertiga dari tinggi wadah yang digunakan. Dengan demikian komposisi media, tanaman, dan ruang kosong masing-masing sepertiga tinggi wadah.

kelas terarium_8462
Pasri dimasukkan menggunakan corong dari gulungan kertas. Gambar: Doc. @MksrBerkebun

 

Tata letak tanaman mengacu pada konsep yang akan dituangkan dalam wadah terarium. Untuk yang ingin dinikmati dari segala penjuru, letakkan tanaman berukuran tinggi di bagian tengah. Sementara untuk terarium yang cukup dinikmati dari satu sisi, tanaman yang lebih tinggi diletakkan di bagian belakang agar semua tanaman bisa terlihat nantinya.

kelas terarium_61821
Contoh tata letak tanaman yang bisa dilihat dari segala arah. Gambar: Doc. @MksrBerkebun

 

Menjawab pertanyaan salah satu peserta mengenai peletakan , jelasnya bahwa tanaman butuh cahaya agar tumbuh normal. Terutama tanaman yang butuh cahaya penuh seperti kaktus, perlu diletakkan di dekat jendela atau diberi tambahan pencahayaan dari lampu fluorescent. Bisa juga secara periodik dilakukan pemindahan tempat untuk menyiasati kurangnya cahaya pada tanaman.

 

Perawatan yang rutin dilakukan adalah penyiraman dan pembersihan dinding wadah. Keduanya bisa dilakukan bersamaan. Caranya dengan menyemprot dinding wadah sehingga air mengalir ke bawah. Sisa air yang masih menempel bersama debu cukup dilap hingga bersih dan mengkilap. Masalah yang sering muncul pada terarium adalah daun menguning, pertumbuhan terhambat, daun seperti terbakar, serta munculnya aroma kurang sedap. Dengan mengoptimalkan kondisi lingkungan terarium, masalah tersebut nyaris tidak muncul. Buatlah tanaman tumbuh senyaman mungkin.

13346798_1067330493345827_4091702501348881653_n
Foto bersama seusai kelas, Gambar: Doc. @MksrBerkebun

Membuat terarium secara tidak langsung meningkatkan nilai jual dan estetika dari tanaman. Selain sebagai hiasan meja ruang tamu atau meja kantor, terarium juga bisa dijadikan bingkisan menarik buat orang-orang yang spesial. Kalau dulu, kita hanya kenal istrilah “Say it with flowers”, kenapa tidak kalau diganti dengan “Say it with terarium?

*Referensi: Hadi Susilo Arifin (2004), Tanaman Hias Tampil Prima, Penebar Swadaya, Jakarta.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

4 thoughts on “Kelas Berkebun; Say It With Terarium”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s