Cokelat Pulang Kampung, Bisakah ?

Matahari begitu terik dengan langit biru nyaris tidak berawan. Barisan pegunungan Abuki seolah membentengi ruang Balai Desa Garuda, Kecamatan Padangguni, hingga tidak ada gerak udara menghembus.

 

Dalam ruang yang berdinding papan beratapkan seng, telah hadir aparatur desa dan masyarakatnya. Sesaat setelah kami tiba, protokol pun membuka acara sosialisasi program yang akan kami jalankan dua tahun ke depan.

 

Setelah sesi perkenalan dan pemaparan maksud dan tujuan program, mulailah tiap komponen dijelaskan secara detail. Masyarakat secara antusias mengikuti apa yang disampaikan oleh pembicara. Ada juga yang mengantuk. Jujur, saya pun merasa sangat gelisah. Ada sesuatu yang kurang sreg di hati, ditambah dengan suhu dalam ruang yang membuat pakaian basah keringatan, meski hanya berdiam diri. Beberapa kali saya keluar untuk mencari udara segar di bawah teduhan pohon kakao dan durian seberang jalan.

 

Kali ini, giliran Pak Tomy (tidak pakai Winata, apa lagi Soeharto). Dia mulai bertanya pada warga, “Siapa yang punya kebun kakao?” Serentak warga desa mengangkat tangannya. Lelaki bongsor berbaju merah itu pun melanjutkan pertanyaannya, “Siapa yang tadi pagi makan atau minum cokelat?” Tidak ada satu pun yang angkat tangan. Hanya beberapa orang saja yang mengangkat tangan mengonsumsi cokelat dalam rentang satu tahun. Ketika pertanyaannya diubah menjadi, “Kapan Bapak/Ibu terakhir memakan atau meminum cokelat?” Jawaban mereka adalah “Lebaran kemarin”.

aadc1
AADC (Ada Apa Dengan Cocoa)

 

Ada apa dengan cokelat? Ada apa dengan cocoa? Padahal, konsumsi cokelat Amerika dan Eropa berada pada kisaran 1 – 4 kg per tahun, kata Pak Tomy. Sementara petani kita hidup berdampingan dengan pohon penghasil cokelat yang dikenal sebagai kakao, nyaris tidak mengonsumsi produk tumbuhan penyegar itu.

 

Kalau pun ada yang mengkonsumsi cokelat, sudah tentu berbeda kualitas dengan yang orang luar makan. Biji kakao premium yang difermentasi itulah yang dikonsumsi orang Amerika dan Eropa itu. Sementara kita, bisa jadi dari biji kakao kempis sisa sortiran.

 

Mengapa harus fermentasi? Karena, tidak akan ada aroma dan rasa cokelat pada biji kakao jika tidak difermentasi, tegas pria berdarah Lampung itu. Seperti apa yang pernah saya dapatkan di bangku kuliah bahwa melalui fermentasi biji, embrio di dalamnya akan mati. Matinya embrio inilah yang mempertahankan struktur senyawa yang terkandung dalam biji. Fermentasi biji kakao akan memakan waktu selama 4 – 6 hari setelah biji dipisahkan dari kulit buahnya.

 

Sambil membahas metode fermentasi dan tata niaga kakao yang ada di Indonesia, kami menyuguhkan cokelat hangat pada warga. Cokelat yang kami sajikan adalah cokelat yang berasal dari biji kakao fermentasi. Warga pun saling berkomentar antar satu dengan yang lainnya. Seketika ada yang bertanya, “Bagaimana caranya kami membuat cokelat seperti ini?” Salah satu dari tim kami, Pak Dwi, angkat bicara. “Ibu-ibu bisa membuat cokelat secara sederhana di rumah. Caranya dengan menyangrai biji kering, sebisa mungkin yang sudah terfermentasi, sampai menimbulkan aroma cokelat. Selanjutnya, angkat dan biarkan dingin di atas nampan lalu masukkan ke dalam toples. Ambil biji sangrai sesuai kebutuhan, kupas lalu uleg hingga membentuk pasta cokelat. Pasta inilah yang kemudian ditambahkan dengan air panas, susu dan gula sesuai selera”.

aadc3
Cokelat hangat dari biji kakao hasil fermentasi.

 

Upaya ini seperti memulangkampungkan cokelat. Harapannya adalah petani bisa menikmati cokelat terenak hasil kebunnya sendiri. Dengan begitu, akan timbul dengan sendirinya bahwa bukan sekadar uang dari harga penjualan biji yang mereka harapkan, tapi kenikmatan rasa cokelat. Lebih dari itu, petani akan terdorong untuk mengoptimalkan potensi kebunnya dan tentu bagaimana pengelolaan pascapanen yang baik dan benar.

aadc4
Tanaman kakao yang telah diremajakan dan berproduksi.

 

Pada akhirnya, saya sangat memimpikan cokelat terenaklah yang bisa dinikmati oleh para petani. Sudah sewajarnya mereka memproleh manfaat cokelat dari apa yang mereka budidayakan. Bukankah suatu kebanggaan jika petani kita mampu berkata, “Sudahkah Anda minum cokelat hari ini?”

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

2 thoughts on “Cokelat Pulang Kampung, Bisakah ?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s