Pak Putu; Menghijaukan dengan Cara Gila

Langit sudah berjelaga saat kami tiba pada sebuah lorong bernama Amboipomino. Secara administratif, kawasan ini berada di Desa Amatowo, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan. Jalan yang masih tanah padat terlihat basah dan licin. Gerimis menghampiri lalu sesaat hujan deras yang tidak berlangsung lama. Jalan pun semakin licin.

 

Sadar akan kemampuan kendaraan yang kami gunakan, kami berpindah ke kendaraan teman yang sudah menunggu lebih dahulu. Gerimis masih turun dengan pelan, di kabin belakang mobil berupa bak terbuka, kami duduk dan berdiri, sudah tentu bergoyang.

 

Kiri dan kanan jalan sudah tampak hijau dengan beragam vegetasi mulai dari rumput hingga pohon. Tegakan lada yang melilit pada batang gamal berada di antara tanaman kakao. Terlihat pula pohon sengon, jati, karet, rumpun sagu, maupun cempaka (Orang Jawa menyebutnya, kantil). Pohon jambu mete dan beragam buah-buahan tentu bukan hal yang asing lagi.

 

Sekira 300 meter kendaraan melaju, terlihat sungai yang cukup dangkal yang harus kami seberangi. Rupanya di sungai itu sudah terpasang gorong-gorong sehingga kami masih mudah melewatinya. Saya yakin jika hujan turun dengan deras, debit air yang melewati sungai tentu akan menyulitkan penyeberangan kami.

 

Setelah menyeberangi sungai, jalanan tidak lebih baik dari sebelumnya. Melewati padang rumput seluas lapangan bola dan beberapa ekor sapi yang merumput, lalu jalan sedikit menanjak. Terlihat ada tiga kolam bertingkat, ditumbuhi teratai kecil dengan mata air yang tersembur dari pipa yang sengaja dipasang di tengah kolam. Terlihat juga beberapa rumpun sagu yang sudah melewati masa panen, ditandai dengan fase pembuahan yang telah usai. Tampak hanya beberapa batang saja yang berdaun, sepertinya sengaja dihilangkan. Ada juga rumpun bambu di tepian kolam, demikian juga pandan.

 

Dari tempat kendaraan terparkir, sudah terlihat rumah panggung dengan cat berwarna hijau. Terlihat juga dua pondok beratap seng, tidak jauh dari rumah hijau. Di kedua pondok tersebut tersusun kotak-kotak kayu, terlihat seperti rumah lebah. Perpaduan berbagai jenis puring dengan ragam bentuk dan warna daunnya menyemarakkan suasana sekitar. Di tepian terasering tersusun rumpun-rumpun nanas. Ada juga pakis haji, soka, kembang sepatu, kenanga, serta beberapa jenis beringin.

wgl3
Rumah Hijau yang juga sebagai tempat pertemuan jika ada kunjungan dari luar.

 

Seorang ibu yang menyambut kami sambil menggendong bakul plastik berwarna biru berisikan jagung rebus. Kami dipersilakan naik ke rumah panggung hijau tapi kami masih ingin melihat-lihat kondisi sekitar.

 

Saya berjalan menuju pondok yang berisi kotak-kotak kayu untuk mengamati lebih dekat. Sesuai dengan dugaan, kotak itu adalah kotak rumah lebah. Lebah yang digunakan adalah lebah trigona. Selanjutnya, bersama teman kami berjalan mengelilingi tanggul dan sekadar bersenyum sapa pada tiga orang yang terlihat sedang memperbaiki tanggul.

 

Oleh Pak Ismayadi, seorang peneliti senior tentang hutan sekaligus ketua umum Yayasan Sahabat Pohon Indonesia, memanggil kami. “Ayo, yang muda-muda kesini”, katanya. Di median sebuah tanggul kami disuruh untuk menganalisa informasi yang terlihat dari sudut pandang kami berdiri. Sehubungan Pak Is (panggilan, Pak Ismayadi) juga orang ekologi jadi banyak hal yang beliau bagi dengan kami. Mulai dari berbagai jenis vegetasi yang ada sampai apa peranannya dalam ekosistem tersebut.

 

Selang beberapa menit, mungkin puluhan, Pak Putu memanggil kami untuk naik ke rumah hijaunya. Pada lantai kayu beralaskan karpet yang juga berwarna  hijau itu telah tersaji kelapa muda yang siap diseruput airnya, buah jeruk, melon, jagung rebus, kue bolu dan air mineral. Setelah disilakan mencicipi, tidak tangung-tanggung langsung dua jeruk siam saya sisakan kulit dan bijinya saja.

wgl5
Suasana bincang-bincang dengan Pak Putu.

Maksud kunjungan kami ke Wana Giri Lestari ini adalah untuk mencari informasi terkait upaya-upaya penghijauan. Informasi dari banyak pihak akan memudahkan kami nantinya dalam menyusun kegiatan-kegiatan penghijauan, termasuk apa peluang dan tantangannya. Setelah salah seorang dari kami yang memang kenal dengan Pak Putu, mengutarakan maksud kedatangan kami, bincang-bincang pun mengalir.

wgl2
Rumah Hijau yang juga sebagai tempat pertemuan jika ada kunjungan dari luar.

 

I Gusti Putu Sukadana, nama lengkap Pak Putu, pun mulai berbicara. Katanya, mulai tahun 2011, seiring pengamatannya sebagai penyuluh pertanian, ada kecemasan akan terjadinya kekurangan air sepuluh tahun ke depan di sekitar tempat tinggalnya. Dari tabungannya, ia membeli tanah seluas lima hektar. Di lahan itu, ada satu mata air yang sepanjang tahun mengalir, namun debitnya akan berkurang jika kemarau datang.

 

Di atas bidang tanah itu, Pak Putu lalu menanam sebanyak 300 pohon beringin. Alasan yang paling kuat beliau memilih beringin adalah tidak adanya nilai kayu, kecuali dibuat bonsai. Dengan begitu, masyarakat tidak akan mungkin menebangnya. Belum lagi kultur masyarakat sekitar yang mengeramatkan famili Moraceae ini. Hingga saat ini, lebih dari 2000 pohon beringin sudah tertanam di hamparan seluas tiga hektar, termasuk bantuan dari pemerintah.

 

Di luar dugaan Pak Putu, mata air yang tadinya Cuma satu, kini berkembang dan menjadi sumber air bagi empat kolam yang ada. Menurut Pak Is, air serapan oleh beringin akan dirasakan manfaatnya secara luas karena menjangkau sejauh 2 km dari lokasi tumbuhnya.

 

Tidak hanya itu, lebah trigona yang memang suka bersarang di akar-akar atau pun lubang-lubang di batang beringin juga bertambah. Beberapa ekor kera yang awalnya tidak ada, sekarang hampir tiap pagi menampakkan diri. Yang paling menggembirakan adalah hadirnya burung rangkong, salah satu spesies yang sudah langka dan dilindungi.

 

Bukan perjalanan yang mudah bagi Pak Putu untuk mewujudkan idenya. Jangankan warga desa, istrinya sendiri pun menyebutnya sebagai orang gila karena menanam beringin. “Ngapain tanam beringin?, kayak bangun rumah setan saja.” Kalimat itulah yang sering terdengar di telinganya.

 

Sekarang, Pak Putu mulai tersenyum atas kegilaannya. Satu per satu warga desa mulai ikut sadar atas apa yang dilakukannya. Dari sembilan jenis beringin yang sudah dikembangkan dan ditanam dengan berbagai pola, seperti bintang, segi tiga, dan anak panah, mampu menarik perhatian tiga dari lima ratus jenis lebah trigona untuk bersarang. Sarang lebah itulah yang kemudian dipindahkan ke kotak budidaya.

 

Tuhan tidak pernah ingkar atas usaha tulus yang dilakukan manusia. dalam kurun waktu lima tahun, telah terbentuk lima kelompok petani lebah trigona. Tiap kelompok memiliki 200 – 300 kotak lebah. Asumsinya, tiap kotak akan menghasilkan madu tiris sebanyak 3 – 4 botol ukuran 600 ml. Harga madu trigona pun lebih mahal dari madu lebah apis. Masyarakat sekitar pun tergabung dalam kelompok pemerhati lingkungan Wana Giri Lestari.

wgl4
Budidaya lebah trigona

 

Lewat kegilaannya pula, Pak Putu akhirnya diundang ke istana negara oleh presiden. Berkat beringin, dia berhasil masuk sepuluh besar peraih penghargaan untuk lingkungan hidup, kalpataru. Usaha Pak Putu masih kalah gila dengan Kakek Sadiman yang menghijaukan Gunung Kidul seluas 100 hektar dengan beringin.

 

Pak Putu mungkin sudah melewati batas kegilaannya. Saatnya bagi Si Penanam Beringin ini merasionalisasikan kegilaannya itu. Dalam forum kecil sambil menyeruput segar air kelapa ini banyak memberi inspirasi. Sebagai seorang yang ahli dalam ekologi, Pak Is kembali memberi saran bagi Pak Putu untuk tetap menjaga kombinasi heterogen dari berbagai jenis tumbuhan yang ada. “Kombinasi heterogen akan menciptakan keseimbangan yang lebih kompleks”, tegas Pak Ismayadi.

 

Tidak terasa waktu semakin dekat dengan magrib. Air kelapa sudah habis hingga tetes terakhir, dua buah jeruk siam tersisa kulit dan biji, satu buah jagung manis yang direbus bersisa kelobot dan tongkol. Perut terisi, otak pun terisi, hari yang sangat mahal bagi saya. Rasa penasaran terhadap rumpun sagu yang sengaja dihilangkan pun terjawab.

 

Selagi masih ada pohon, selama itulah kehidupan akan berlangsung. Seperti kata Bang Iwan dalam lagunya –Pohon Untuk Kehidupan. “Hari baru telah datang menjelang, kehidupan terus berjalan. Pohon-pohon jadikan teman, kehidupan agar tak terhenti. Bukalah hati, rentangkan tanganmu. Bumi luas terbentang. Satukan hati, tanam tak henti. Pohon untuk kehidupan”.

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s