Jahe Rempah Bang Reza

Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

 

Penggalan lagu di atas dibawakan ulang oleh band yang vokalisnya hobi berkebun, terutama sistem akuaponik. Penyanyi aslinya adalah grup musik bernama Koes Plus. Lirik lagu “Kolam Susu” ini seolah menggambarkan subur dan kayanya negeri kita ini. Dari beberapa literatur sejarah pun menuliskan bahwa salah satu alasan kolonial menduduki negara Indonesia adalah karena kekayaan alamnya.

 

Selain isi buminya, Indonesia memang dikenal sebagai gudang rempah, terutama untuk komoditi cengkeh dan pala. Selain kedua komoditi tersebut, negara yang konon berlabel agraris ini juga banyak dijumpai jahe, kayu manis, sirih, serai, serta tumbuhan aromatik lainnya, baik endemik maupun introduksi.

 

Cengkeh (Eugenia aromaticum), mempunyai kandungan minyak atsiri  berupa eugenol, terutama pada bunga. Selain itu, tangkai bunga dan dun juga mengandung eugenol. Oleh karena itu, daun cengkeh bisa dimanfaatkan sebagai bahan alami untuk pengobatan mau pun pewangi. Daun cengkeh mampu melancarkan proses pernapasan dan menghilangkan lendir yang sering menghambat pernapasan. Untuk itulah daun cengkeh bagus untuk dikonsumsi bagi mereka yang memiliki masalah saluran pernapasan.

 

Jahe (Zingiber officinale), sudah dikenal dari dulu sebagai tanaman rimpang yang dimanfaatkan sebagai rempah-rempah dan obat-obatan. Senyawa zingeron dalam jahe inilah yang mampu menghangatkan tubuh bila mengonsumsinya sebagai minuman. Wedang jahe, bandrek mau pun sarabba adalah minuman yang menggunakan jahe sebagai bahan dasar. Sejauh ini, telah banyak penelitian yang mengungkap manfaat mengonsumsi jahe, seperti  obat demam dan batuk, anti peradangan, atau pun pembersih kotoran dalam tubuh.

 

Jika kita masuk ke pelosok lalu disuguhi air berwarna merah dan terasa tawar, itulah air kayu secang. Konon, sejak abad ke -17, kulit kayu secang (Caeselpinia Sappan) sudah menjadi komoditas rempah-rempah yang populer dan banyak dicari oleh orang. Senyawa polifenol dan flavanoid dalam kayu secang dapat bermanfaat sebagai antioksidan serta meningkatkan efektivitas vitamin C dalam tubuh.  Sehingga, setelah meminum larutan secang atau dalam masyarakat Bugis disebut sappang, akan memberikan kesegaran bagi tubuh.

 

Dalam kultur masyarakat Indonesia, daun salam selalu hadir sebagai penambah aroma masakan. Keluarga jambu-jambuan ini memang dekat dengan masyarakat kita. Syzygium polyanthum juga banyak dipercayai oleh orang-orang Yunani dan Romawi yang melambangkan kebijaksanaan, kedamaian dan perlindungan. Komponen penting dalam daun salam adalah eugenol dan metil kavikol. Asam urat, gangguan ginjal serta diabetes adalah penyakit yang digadang-gadang mampu dikendalikan oleh si daun salam ini.

 

Sewaktu masih duduk di sekolah dasar, ada teman kelas saya yang mimisan. Waktu itu, ibu guru menyuruh saya mengambil beberapa lembar daun sirih. Daun sirih itu lalu digulung dan dimasukkan ke dalam lubang hidung teman saya. Kata ibu guru, daun sirih bisa mengobati mimisan.

 

Dalam daun sirih, ditemukan berbagai macam kandungan zat yang penting untuk kesehatan seperti tiamin, riboflavin, niasin, karoten, dan vitamin C. Bahkan daun sirih juga mengandung kalsium yang cukup tinggi sehingga sering dipercaya bisa membuat gigi tidak mudah berlubang dan rapuh. Tentunya sangat banyak manfaat yang bisa diperoleh dari daun sirih (Piper betle) ini.

 

Bagaimana jika semua bahan di atas tergabung dalam satu gelas minuman? Bagaimana rasanya dan apa manfaat yang diperoleh tubuh?

DSC01800
Jahe Remah yang tersaji dalam gelas benig.

Malam itu, udara terasa gerah, orang Jawa bilang sumuk. Bersama dengan tim, kami diarahkan untuk makan malam di Teras Beken Bang Reza, Kendari. Sambil menunggu teman yang lain, kami disilakan untuk memesan minuman. Hampir di setiap tempat makan, menu minumannya itu-itu saja, kalau bukan jus ya teh atau kopi. Mata saya tertuju pada menu baru yang bertuliskan “Jehe Rempah”. Saya sendiri belum tahu jelas apa saja yang ada dalam minuman itu. Saya pun penasaran dan memesan minuman tersebut.

 

Pilihan saya sepertinya tepat, tidak lama setelah minuman disajikan, hujan turun dengan derasnya. Hangat jahe, aroma cengkeh dan daun sirih berpadu dengan aroma daun salam. Warna merah seperti teh dari kayu secang membuat minuman menarik untuk dicicipi.

 

Teman saya, Pak Edi pun penasaran dengan rasanya ketika saya berpindah meja seraya membawa minuman yang masih paruh gelas. Dia pun memesan dengan tidak menggunakan gula. Jahe segar punya saya memang ada rasa gulanya.

 

Menikmati minuman dengan berbagai kandungan bahan yang bermanfaat memang menyehatkan. Belum lagi aroma terapis yang ditimbulkan tentu menenangkan ketika dihirup. Gemercik air yang jatuh dari tepi atap rumbia seolah membawa kita pada kondisi relaksasi.

 

Penasaran dengan minuman jahe rempah? Silakan datang ke Teras Beken Bang Reza, di Kota Kendari.

 

Advertisements

Author: Enaldini

Lelaki yang jadi buruh tani, belakangan baru suka menulis. Suka club bola tempat Paolo Maldini berkiprah. Traveler gadungan yang pada prinsipnya, "Barangkali kita perlu duduk dan minum kopi bersama di depan tenda."

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s